
Malam ini Sheina merasa bingung tak karuan dimana hatinya benar benar dag dig dug, tubuh nya yang di balut lingerie tipis berwarna pink yang sempat ia pakai kemarin kini kembali ia kenakan lagi untuk yang kedua kalinya.
Tetapi malam ini sedikit berbeda.
Tubuhnya yang sudah wangi dengan wewangian yang di sukai Barra telah ia balurkan ke seluruh tubuhnya, malam ini pula Sheina benar-benar ingin memenuhi keinginan Barra, keinginan dimana semua suami pada umum nya dalam suatu hubungan pernikahan.
Sejenak ia melupakan suatu penyakit yang akan membunuh nya perlahan.
Yang ada di benak Sheina saat ini hanyalah kebahagiaan Barra.
Ya hanyalah Barra seorang.
Gadis cantik itu mulai mengguling guling kan tubuh nya di atas ranjang, ia bingung apa yang harus perbuat dengan dengan penampilan sexy yang melekat di tubuh indah nya saat ini.
Sedangkan Barra masih melanjutkan pekerjaan kecil di dalam ruang kerja nya.
Sheina kembali bangun dari ranjang, ia mulai mondar mandir tak jelas sedangkan kedua tangan nya sudah terasa dingin sedari tadi membayangkan sesuatu di otaknya, dimana malam malam panjang akan ia lalui bersama Barra.
Ya kali ini keinginan sang suami posesif nya itu akan segera terwujud,
keinginan dimana Sheina benar-benar hanya miliknya.
" Aku harus bagaimana sekarang, mandi, keramas, sikat gigi, luluran, parfum sudah, minum obat sudah, ah obat ku kan tak ada hubungan nya "
ucap nya sambil mondar mandir sesekali Sheina merapikan penampilannya meskipun kini sudah terlihat sempurna apalagi di mata Barra.
Mungkin sang suami tak akan berkedip melihat penampilan Sheina yang terlihat sexy dengan balutan lingerie kemarin.
Dimana bagian dada nya yang menyembul keluar itu,
tetapi kali ini Sheina tak berniat menutupi nya meskipun sebenarnya ia sungguh malu.
" Sebaiknya aku pura-pura tidur saja, ah iya kenapa sedari tadi aku tak memikirkan hal sepele itu hehehe....." ucap nya sedikit tertawa.
Dengan segera Sheina melompat ke atas ranjang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut putih tebal nya.
__ADS_1
*
JEG... GLEK....
Pintu kamar di buka oleh Barra, dan pandangan nya langsung tertuju ke arah ranjang yang terlihat seperti gundukan tanah, ya itu kelakuan istrinya. Sheina.
Bibirnya sedikit mengembangkan senyum.
Kemudian menggeleng geleng kan kepala nya pelan.
Aku tau kau pasti pura-pura tidur di dalam selimut itu gumam nya.
Lagi lagi bibir nya mengembangkan senyum, kemudian Barra melanjutkan langkah nya ke arah ranjang.
Ia segera naik, dan perlahan tangan nya mulai menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Sheina.
SRETTTT......
Selimut tebal putih itu sudah tergeletak menyedihkan di atas lantai.
" Sayang " ucapnya berbisik di telinga sang istri yang masih dengan drama nya itu.
Sheina langsung merinding tetapi kedua mata nya masih terpejam.
Apa yang harus aku lakukan, bagaimana ini astaga... astaga....astaga gumam nya.
Sheina perlahan sedikit menggeliat pelan, mengerjapkan kedua matanya seolah olah ia pura-pura terbangun dari tidur nya.
" uwahh...." menguap kecil.
" sayang " ucap nya.
" kau terbangun sayang " tanya Barra ia tahu Bahwa istri nya masih drama di hadapan nya untuk menutupi rasa malu nya.
" ee'em " sambil mengangguk anggukkan kepalanya polos
__ADS_1
Membuat Barra tambah gemas melihat nya.
Sambil selingi senyuman jahat di kedua ujung bibir nya.
" kau tertidur atau pura pura tertidur hem " goda Barra dengan nada pelan tetapi terdengar menyindir.
" hehehe.... sayang aku malu "
" Shuutttt.... jangan katakan itu lagi sayang " ucap Barra dengan tangan nya yang mulai menyusup ke dalam lingerie pink yang Sheina kenakan.
Sejenak gadis cantik itu menelan ludahnya, merasakan tangan kekar sang suami yang mulai travelling kemana mana, ia seolah dibuat merinding dag dig dug tak karuan.
" Sayang a..... " ucap Sheina terhenti ketika bibir tipis miliknya sudah di ***** oleh bibir Barra.
Ya bisa di bilang itu ciuman, tetapi ciuman bibir yang sedikit membawa sensasi berbeda.
Sedangkan tangan Barra kini tengah sibuk dengan aktivitas nya bermain di kedua gundukan milik sang istri, membuat polos itu mulai mendesah di sela sela ciuman panas nya bersama Barra.
Barra tersenyum.
Perlahan tangan itu beralih ke area inti milik Sheina, lagi dan lagi membuat sang istri kembali mendesah pelan.
Membuat miliknya menegang tak karuan di bawah sana.
Sesaat Sheina melepaskan ciuman itu.
Menatap kedua bola mata Barra seolah menunggu suatu jawaban.
" Aku akan melakukan nya dengan sangat pelan " ucapnya membalas tatapan sang istri penuh kasih sayang sambil menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik Sheina.
Kemudian tersenyum pada wajah cantik itu.
Sheina perlahan kembali menganggukkan kepalanya pelan.
Barra lagi lagi kembali tersenyum, dengan segera ia menjalankan aksi nya melakukan apa yang harus ia lakukan dalam sebuah malam, malam yang begitu panjang bersama Sheina.
__ADS_1