
Ya kini Sheina terlihat begitu anggun cantik nanti mempesona.
Setelah kaki nya mulai menginjak lantai bawah.
Zahra dan Bima di buat kagum oleh kecantikan sang putri manja satu satu nya itu.
" wah putri mama cantik sekali, sekarang sudah pintar berdandan ya "
" Benarkah Ma, apa riasan Sheina sedikit ketebalan kah "
" tidak sayang terlihat sangat natural "
" Terima kasih Ma, oh iya Sheina mau izin ada makan malam bersama kolega bisnis papa di restoran bersama sekertaris Barra "
" ya baiklah mama mengizinkan nya, sana tanya papa kamu " ucap Zahra sambil menunjuk ke arah sang suami yang sudah duduk di meja makan sambil menyeduh kopi hitam nya.
" baiklah "
Sheina langsung melangkah ke arah Bima.
******
Di meja makan.
" Pa " panggil Sheina sambil berputar putar manja di depan sang papa.
Bima langsung menoleh ke arah sang putri.
" kau cantik sekali sayang mau kemana, papa tidak mengizinkan jika kau keluar tak jelas "
" ih papa... Sheina mau makan malam bersama salah satu kolega bisnis papa katanya sih dia sudah lama tak bertemu papa, maka dari itu dia mengajak makan malam bersama " jelas Sheina.
Bima sedikit mengerut kan keningnya kemudian mengingat ingat.
" pak Atmaja maksud kamu " jawab nya.
" Sheina juga tak tau pa, sekertaris Barra yang faham hehehe.... " ucap Sheina sambil tertawa nyengir.
ia tak tau kalau sang papa akan memarahinya.
" astaga... kau seorang CEO Shei, kenapa hal sepele macam ini saja kau tak tau hah " ucap Bima dengan nada sedikit tinggi.
" Pa kau memarahiku... ini baru dua hari aku mengganti kan dirimu mana aku faham " jelas Sheina dengan kedua mata yang mulai berkaca kaca.
Bima sampai lupa bahwa putri kesayangan nya itu terlalu ia manja, jadi mendengar suara yang sedikit tinggi saja Sheina sudah mulai ketakutan.
" Seharusnya kau... "
" Pa sudah " sahut Zahra yang langsung menyadari bahwa putri nya kini sudah tak baik baik saja.
" mama diam ini urusan papa dan Sheina " ucap Bima yang mulai naik darah.
" Sheina suruh sekertaris Barra kemari jika ia sudah datang " perintah nya pada Sheina yang sudah terlihat ketakutan itu.
" i... i... iiya " jawab nya terbata bata.
__ADS_1
Maafkan papa Sheina, papa harus tegas kau pewaris papa satu satunya gumam Bima.
yang merasa tak tega sudah berucap dengan nada tinggi pada sang putri.
Tiba tiba saja terdengar suara dari luar yang mulai menyahut.
" tuan " ucap Barra
membuat ketiga nya langsung menoleh.
sekertaris Barra gumam Sheina.
ketika mendapati pria tampan itu mulai menuju ke arah nya.
" sekertaris Barra " ucap Bima
" kemari kau " ucap nya lagi dengan raut wajah dingin nya.
sedangkan Zahra terdiam begitu juga Sheina yang tengah menundukkan kepalanya saat ini.
" baik tuan " jawab Barra.
Barra segera melangkah ke arah sang tuan.
" iya tuan "
" apa di kantor Sheina selalu membuat mu kesal " tanya Bima.
" ti..titi..tidak tuan " jawab Barra terbata bata sambil menundukkan kepala.
" jawab yang benar " tanya Bima lagi dengan nada sedikit meninggi.
" ucapan mu bisa di percaya " tanya pria yang sudah separuh baya itu lagi
" iya tuan "
" baiklah.. mulai sekarang laporkan semua yang putri ku lakukan di perusahaan, jangan sampai ada satu pun yang kau sembunyikan " perintah nya.
" baik tuan "
" pergilah kalian berdua, sampai kan salam ku pada pak Atmaja "
" baik tuan, kami permisi ayo nona " ucap Barra menoleh sedikit ke arah Sheina, kemudian mengajak putri atasan nya itu untuk segera berangkat.
Kenapa dia terlihat sangat cantik seperti ini, padahal hanya memakai make up tipis gumam Barra.
" hem " jawab Sheina dengan deheman ketus kemudian mengikuti langkah Barra dari belakang.
Keduanya bergegas pergi meninggalkan mansion menuju restoran yang sudah di pesan.
Sepeninggal Sheina dan Barra.
Zahra masih terdiam di tempat nya kemudian perlahan melangkah ke arah meja makan dan mulai mengambilkan sepiring nasi beserta lauk nya untuk sang suami yaitu Bima.
Zahra tak berniat sama sekali mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Hanya ada keheningan.
Bima sudah mengerti akan gelagat istri kesayangan nya yang sudah bertahun tahun menemani nya itu.
" Zahra kau marah padaku kan, maaf aku melakukan itu semua agar putri kita tegas dalam memimpin perusahaan " jelas Bima sambil menatap sang istri yang masih saja terdiam.
" ya aku tahu, tapi apa tak bisa jika bicara baik baik "
" iya maaf aku tadi terbawa emosi, sayang tersenyum lah "
" tidak usah merayu ku, kita sudah anak anak "
" apa kau ingin membuat adik untuk Sheina hem " goda Bima
" apa sih " jawab Zahra yang kemudian mengembangkan senyum pada sang suami.
*******
Restoran.
Ke empat nya saling mengobrol begitu juga Sheina gadis ceria yang gampang sekali akrab itu.
Tuan Atmaja dan sekertaris nya sepertinya sangat cocok mengobrol dengan gadis berparas cantik dua puluh satu tahun tersebut begitu juga bersama Barra, apalagi tentang pembahasan bisnis.
" Kau sangat cantik sekali Sheina, oh iya saya titip salam pada tuan Bima "
" Terima kasih tuan Atmaja, papa juga titip salam tadi kepada Anda karena sudah lama sekali tak jumpa "
" hehehe.... ternyata aku dan papa mu sama sama saling merindu rupanya "
" hehehe... iya tuan, saya belum selesai bicara saja papa sudah menebak kalau yang mengajak malam bersama adalah anda "
Tuan Atmaja tersenyum mendengar penuturan dari Sheina begitu juga Barra yang ikut menunduk nunduk menyimak kedua nya yang tengah asyik mengobrol itu.
" Dan kau sekertaris Barra kau juga sangat tampan mewarisi wajah sekertaris Revan, orang kepercayaan tuan Bima yang selalu aku acungi jempol karena kerja keras nya sebagai tangan kanan Sinaga. group semoga saja cara kerja mu juga mewarisi nya " ucap tuan Atmaja
sekilas Barra tersenyum.
" Terima kasih tuan Atmaja, saya akan berusaha keras agar bisa menjadi pengganti nya yang layak di acungi jempol seperti yang anda katakan " jawab Barra dengan wajah sedikit mengembangkan senyum. .
HEHEHE.... HEHEHE... HEHE. ..
HEHE... HEHEHE...
Ke empat nya mulai tertawa kecil dengan candaan Barra, begitu juga sekertaris tuan Atmaja yang sedari tadi menyimak obrolan ketiga nya itu.
Beberapa saat sepertinya sudah tak ada lagi pembicaraan, kedua pihak memutuskan untuk segera pulang.
" baiklah Sheina, sekertaris Barra sampai berjumpa lagi lain waktu semoga saja kerja sama antara perusahaan kita ke depan nya lebih sukses lagi "
" ya tuan Atmaja lain waktu kita bertemu lagi, selamat malam "
" selamat malam "
********
__ADS_1
Di perjalan.
Keduanya kembali hening tak seperti di restoran tadi yang begitu terlihat akrab di depan tuan Atmaja, Sheina menoleh ke arah jendela sedangkan Barra seperti biasa fokus menatap jalanan.