Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Amanda Sampai di Kediamannya Barnes


__ADS_3

Maaf episode sebelumnya yang di-update, karena kesalahan sistem, episode yang saya buat di novel The Thing About Violet, malah terlempar masuk ke novel ini🙏 Maaf sudah membuat readers kebingungan 🙏 Inilah episode selanjutnya di novel ini, selamat menikmati🙏


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Gebrakan Barnes di meja mengagetkan semua anak buahnya Praja Anggada dan secara otomatis, mereka langsung mengacungkan Laras pistol mereka ke Barnes.


Barnes bergeming dan tidak merasa gentar dengan banyaknya Laras pistol yang terarah kepadanya. Laki-laki tampan cucu dari Moses Elruno itu lalu berucap dengan wajah dingin ke laki-laki gemuk, pendek, botak dan bertopeng itu, "Jangan menghina wanita yang sudah aku pilih atau kau akan mati!"


Praja Anggada justru ciut nyalinya melihat kobaran amarah di kedua bola matanya Barnes. Lalu ia mengangkat tangannya dan menyuruh semua anak buahnya untuk menurunkan pistol mereka. Lalu Praja Anggada tertawa terbahak-bahak lalu berucap, "Kau mengancamku? memangnya siapa kau?"


"Kau lihat sendiri kode di black card-ku, cari tahu lewat itu siapa aku sebenarnya!" Barnes berucap dengan wajah mengeras tanpa senyum sama sekali.


Praja Anggada menuruti permintaan dari laki-laki tampan yang duduk di depannya dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah. Lalu Praja Anggada terlonjak kaget saat ia menemukan siapa pemilik dari black card edisi khusus itu. Praja lalu menatap laki-laki di depannya, "An.......Anda cucunya Tuan Moses Elruno?" Praja lalu bangkit dan memutari mejanya dan di saat ia hendak memeluk Barnes. Barnes dengan sigap bangkit dan melangkah mundur sambil berkata, "Jangan menyentuhku!"


Praja menghentikan langkahnya dan berkata, "Saya memiliki hutang budi pada Tuan Moses Elruno. Tuan Moses Elruno pernah menyelamatkan saya dari kematian"


"Dan saya menyesali hari di mana kakek saya menyelamatkan nyawa kamu" Barnes berucap dengan nada penuh kebencian.


"Anda tidak kenal siapa saya, kenapa Anda membenci saya? Paling nggak, ijinkan saya mengetahui siapa nama Anda?!"


"Hentikan obrolan kita sampai di sini! Antarkan gadis tadi ke alamat ini! Barnes mengambil secarik kertas, menuliskan alamat dengan cepat lalu menyerahkan robekan kertas kecil itu ke Praja Anggada. Lalu Barnes membuka suaranya kembali, "Ingat harus diantarkan dengan terhormat! jangan menyentuhnya, jangan menyakitinya dan jangan melecehkannya! Kalau sampai hal itu terjadi........"

__ADS_1


"Oke Tuan muda Elruno. Saya akan mengindahkan perintah Anda demi rasa hormat saya pada Kakek Anda"


Barnes hanya menatap Praja Anggada di dalam kebisuan lalu ia berputar badan dan pergi meninggalkan tempat terkutuk yang telah membuat napasnya terasa sesak.


Barnes lalu kembali ke ruang VVIP-nya dan mengajak Jake pulang. Jake terpaksa menuruti Barnes dan meninggalkan keasyikannya menikmati tubuh para gadis muda nan cantik yang dilelang selanjutnya.


Mereka masuk ke dalam mewah yang mereka sewa dari Alice dan Jake langsung melempar tanya saat mobil melaju, "Di mana gadis yang kau beli tadi? nggak kamu bawa serta? atau kau nggak jadi membelinya?"


"Aku meminta Praja untuk mengantarkan Amanda ke rumah pribadiku, warisan dari Kakekku" sahut Barnes sambil terus fokus menyetir tanpa melirik ke Jake sama sekali.


Jake dan Barnes kembali ke kediamannya Alice guna mengembalikan setelan mahal dan mobil yang mereka sewa dan memutuskan untuk tidur bermalam di sana karena, Barnes terlanjur membayar dua kamar sewa untuk dia dan Jake.


Jake menerima godaan nakalnya Alice lalu ia menarik Alice masuk ke dalam kamarnya. Jake mencumbu Alice dengan liar dan bercinta dengan wanita yang sangat seksi dan cantik itu dengan gairah menggebu-nggebu.


Sementara itu Amanda mulai dibawa oleh Praja Anggada sendiri dengan membawa ketiga anak buahnya. Praja memperlakukan Amanda bak ratu saat itu, berbeda dengan perlakuan Praja Anggada sebelumnya. Amanda bernapas lega kala ia mendengar pikiran yang ada di Praja Anggada normal adanya dan tidak ada niat buruk atasnya begitu pula yang Amanda dengan dari pikiran ketiga anak buahnya Praja Anggada. Amanda merasa tenang dan ia memutuskan untuk tidur karena, malam semakin larut dan ia merasa sangat lelah.


Sorot matahari yang menembus kaca jendela mobil, membelai hangat wajahnya Amanda dan membuat anda terbangun dari mimpinya dengan sendirinya.


Praja menoleh ke Amanda dan tersenyum, "Kau sudah bangun ya? sekarang turunlah!"


Amanda menoleh ke Praja Anggada dengan penuh tanda tanya, "Ke....kenapa saya harus turun di sini? sa...saya di mana?"

__ADS_1


"Ini kediaman pria yang sudah membelinya semalam jadi, turunlah! kita sudah sampai dari sejam yang lalu. Aku sudah pegal nih dan cukup sudah kesabaranku untuk terus bersikap baik padamu, turunlah cepat! Tuh, asistennya sudah menunggu di depan gerbang dari tadi"


"Sa....saya nggak mau turun. Sa...saya nggak kenal dengan orang itu dan......."


"Ah sial!" Praja mengumpat sambil membuka pintu mobilnya lalu melompat turun untuk menemui asisten si pemilik rumah mewah itu dan langsung menyemburkan kata, "Kau seret lah wanita aneh dan keras kepala itu dari dalam mobilku karena, aku sudah berjanji pada Tuan kamu untuk tidak menyentuhnya"


"Kalau Anda ridak boleh menyentuhnya apalagi saya, saya juga tidak memiliki keberanian untuk menyentuhnya" sahut asisten pribadinya Barnes dengan nada datar dan wajah polos.


"Aish, sial!" Praja langsung mengelus kepalanya yang botak dan berkata, "Kau seret dia turun atau aku tembok aja dia sekarang dan aku akan transfer kembali uang Bos kamu dan selesai sudah, daripada aku pusing"


Asisten pribadinya Barnes terpaksa melangkah menuju ke mobilnya Praja lalu ia membuka pintu mobil sebelah kanan dan dia langsung bersitatap dengan Amanda Dirgantara.


Untuk sejenak asisten pribadinya Barnes tertegun, ia terus terang terkejut karena, Amanda Dirgantara yang ada di hadapannya berbeda jauh dengan Amanda Dirgantara yabg digambarkan oleh Bos besarnya selama ini.


"Hei brengsek! cepat bawa dia turun dari dalam mobilku! kok malah bengong?" pekik Praja kesal.


Asisten pribadinya Barnes berkata di dalam benaknya, "Maafkan saya, Tuan! saya harus memanggul.wanita Anda" Lalu pria kepercayaannya Barnes itu menatap ke Amanda Dirgantara yang segera menyemburkan kata, "jangan panggul saya!" dengan melotot.


Asisten pribadinya Barnes kembali tertegun dan bertanya, "Kenapa Anda bisa tahu kalau saya akan memanggul Anda?"


"Hei! sekarang kenapa malah mengobrol? hadeeeeh cepat bawa wanita itu masuk ke kediaman tuan kamu! Aku udah capek nih nungguin kalian"

__ADS_1


Asisten pribadinya Barnes langsung berkata maaf ke Amanda dan segera memanggul Amanda sambil berlari masuk ke dalam kediaman megah milik bosnya karena, Amanda terus meronta, memukuli punggungnya dan berteriak, "Lepaskan aku!"


__ADS_2