Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Saat langkah Cantika sudah sampai di depan pintu rumah kecil yang cukup asri karena halaman rumah mungil itu dikelilingi banyak pohon buah seperti, pohon jambu, mangga, alpukat madu, dan pisang.


"Wah! Setelah pulang dari sini, aku mau metik mangga, ah!" Gumam Cantika sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah itu. Lalu, perempuan cantik berbola mata biru itu membuka pintu rumah yang terkunci dengan kunci cadangan rumah itu yang diberikan oleh Baskara.


Baskara memberikan kunci cadangan rumahnya Dito karena ia juga mengkhawatirkan kondisinya Dito yang selalu mengurung diri di rumah sejak Rossi meninggal dunia.


Cantika melangkah masuk dan langsung membuka lebar-lebar pintu rumah itu sambil menutup hidung saat ia mencium aroma alkohol dan makanan busuk di rumah itu.


Cantika terus melangkah diambil terusenutip hidung dan bergumam, "Ini rumah apa kandang ayam? Kenapa berantakan sekali dan baunya minta ampun, hadeeehhhh!!!"


Cantika mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan ia tidak menemukan keberadaan kolonelnya. Namun, ia mendengar ada suara orang mandi. "Aku akan bereskan rumah ini selama Kolonel masih mandi"


Dengan cekatan, Cantika memasukkan semua sampah, botol minuman keras dan kaleng minuman beralkohol yang telah kosong, beserta sisa-sisa makanan dan bungkus-bungkus makanan kecil ke dalam kantong plastik besar yang ia temukan di dapur. Lalu, ia seret kantong plastik besar itu ke halaman belakang.


Setelah kembali ke dalam, Cantika langsung mencuci semua piring dan gelas yang tidak begitu banyak sampai Cantika bergumam, "Apa selama ini Kolonel D tidak pernah makan? Kenapa hanya ada dua piring kosong dan satu gelas aja yang kotor?"


Setelah selesai mencuci semua piring dan gelas, Cantika mulai menyapu, mengelap dan saat ia mulai mengepel, terdengar suara menggelegar, "Kenapa kau ada di sini?!"


Cantika sontak mengentikan kegiatannya mengepel dan langsung memutar badan. Perempuan cantik berbola mata biru itu seketika menjatuhkan alat pel dan ternganga. Di depannya berdiri pria yang sangat ia rindukan sekaligus sangat ia benci.


Dito mengumpat kesal saat ia menyadari dirinya hanya terlilit handuk di bagian pinggang hingga turun di atas lutut dan dirinya tidak memakai masker. Dito langsung mematung di depan Cantika. Pria tampan itu tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan wanita yang sangat ia cintai dan rindukan, namun belum boleh ia miliki.


"Kau! Apa yang kau lakukan di rumah Kolonel D?" Tanya Cantika setelah berhasil mengatupkan kembali mulutnya.

__ADS_1


"Mandi" Sahut Dito dengan wajah datar.


"Kau! Apa kau Kolonel D?"


"Menurutmu?" Dito masih pelit mengeluarkan suara karena hatinya masih campur aduk saat ini.


Cantika melangkah lebar dan langsung memukul dada Dito berkali-kali sambil berteriak, "Kenapa kau tega sekali! Kenapa kau tega?!" Air mata mulai mengalir deras di kedua pipinya.


Dito langsung memeluk erat tubuh Cantika dan hanya bisa berkata, "Maafkan aku!"


Cantika kemudian membenamkan wajahnya di dada bidangnya Dito yang masih polos. wanita itu menangis sejadinya-jadinya di sana sambil terus menggumamkan kata, "Aku membencimu Dito. Aku sangat membencimu"


Dito mengusap rambut Cantika sambil berucap dengan nada sedih dan putus asa, "Iya. Sebaiknya begitu, Sayangku. Bencilah aku! Bencilah aku!"


Di detik berikutnya tanpa ragu sedikit pun, Dito memegangi pundak wanita yang sangat ia cintai dan rindukan itu, menariknya ke depan, dan memberikan ciuman bersuara keras di bibir wanita itu yang agak terbuka.


Entah siapa yang lebih kaget, Cantika atau Dito. Tapi, kenyataan berbicara bahwa Cantika yang lebih kaget kala wanita cantik berbola mata biru itu mengerjap-ngerjapkan mata dengan cepat.


Sedangkan Dito menatap lekat wajah cantik yang ada di depan matanya dengan gairah yang menggelora hebat. Gelora gairah itu membuat Dito nekat mendorong tubuh Cantika hingga punggung wanita itu membentur tembok dengan pelan dan pria tampan itu langsung menggoda bibir Cantika dengan lidahnya. Wanita itu memiliki mulut yang sangat mengagumkan, begitu penuh, lembur, dan luar biasa seksi hingga membuat pria gagah perkasa itu semakin menggila.


Cantika langsung mematung, berjinjit dan tak berdetak. Wanita itu mulai bernapas berat dan terengah memalui hidung. Melihat reaksinya Cantika, Dito tak mampu lagi menahan diri. Pria tampan itu memgangu kepala Cantika dengan dua tangan dan memosisika. kepala diri lebih dekat lagi dengan Cantika, Dito makin dalam mencium dan dengan penuh kelembutan pria bertubuh mengagumkan itu menjelajah mulut Cantika yang terasa sangat manis semanis gulali.


Cantika mengerang, bergairah dan menerima. Karena sesungguhnya ia sangat merindukan Dito. Dia selalu mendambakan ciuman dan pelukan hangat pria itu.

__ADS_1


Dito melepas ciumannya dan mengendurkan pelukannya untuk menatap Cantika. Pria itu mundur sedikit untuk memandangi wajah cantik alami wanitanya.


Mata Cantika masih terpejam, cuping hidungnya mengembang, tubuhnya bersandar ke tubuh Dito, wajahnya merona dan siap meledak.


Hanya satu ciuman dia bereaksi sehebat ini. Apa dia sangat merindukan aku? Batin Dito.


Perlahan, bulu mata tebal Cantika terangkat dan menampakkan kedua bola matanya yang membelalak, "Dito?"Cantika menatap mulut Dito dengan penuh gairah yang tidak lagi ditutup-tutupi. Setiap napas Cantika yang dalam membuat dada Cantika tampak menggoda di balik kaos katun lembut itu dan membuat perhatian Dito terus tertuju ke sana.


Lidah Cantika kemudian bergerak keluar untuk menjilat bibir atasnya, kemudian wanitaniru mundur bersandar di tembok dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kau berhenti?"


Hati Dito ingin meledak. Beberapa detik lalu, ia nyaris menuntaskan gairahnya saat ia merasakan Cantika menyerah pasrah di dalam pelukan dan ciumannya yang sangat dalam.


Namun, Dito tidak berani melanjutkan semua keinginannya. Belum. Apalagi hubungan dia dan Cantika masih terganjal restu dari Batari. Mama angkatnya itu belum memberikan restu dan dia tidak ingin bertindak lebih sebelum restu itu jatuh di atas kepalanya.


Saat Cantika ingin memeluk pinggang Dito, pria itu relfeks mendorong pelan kedua bahu Cantika sambil berkata, "Aku tidak bisa meneruskannya" Lalu, pria tampan itu berbalik badan, masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di sana.


Cantika berdiri mematung lalu dengan wajah penuh amarah, dia melangkah lebar ke kamar Dito dan mendobrak pintu kamarnya Dito. Wanita itu langsung berteriak, "Kau tidak bisa meneruskannya karena Rossi, kan? Ada hubungan apa antara kau dan Rossi? Apa kau menyembunyikan identitas kamu selama ini karena kamu selingkuh? Kamu syok dan mengalami depresi setelah Rossi meninggal dunia. Sebegitu pentingkah Rossi bagi kamu? Dan aku tidak ada artinya bagimu, hah?!"


"Selingkuh? Astaga! Bukan begitu! Lagian apa hubungan kita berdua. Apa artinya aku bagimu, hah?! Rossi tidak ada hubungan apa-apa denganku. Aku hanya merasa bersalah karena Rossi sudah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan aku. Aku sedih dan diburu rasa bersalah karena itu. Lalu, apa kau sudah mencintaiku? Apa kau sudah......."


"Dasar brengsek! Kau tidak rasakan ciumanku tadi, hah?! Aku mencintaimu Dito brengsek! Aku sungguh mencintaimu!" Cantika berteriak dengan wajah penuh air mata dan napas menderu penuh amarah.


Giliran Dito yang mematung kali ini.

__ADS_1


__ADS_2