
Barnes, Amanda, Leon dan the five Jays sampai di depan kediaman Omnya Amanda Dirgantara. Barnes hendak menemani Amanda masuk ke dalam pekarangan rumah Omnya Amanda namun, tiba-tiba ponselnya berdering, "Maafkan aku, aku harus angkat telpon dulu. Kau masuk apa mau nungguin aku dulu?"
"Aku masuk dulu aja ya" Amanda tersenyum ke Barnes. Barnes mengelus rambutnya anda sambil mulai menerima panggilan teleponnya Amanda, sembari menenteng beberapa buah tangan, ia masuk ke dalam rumah. Mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat seolah ia memang tidak pernah diijinkan masuk ke dalam rumah itu.
Laura membukakan pintu dan terkesiap saat ia menemukan sosok Amanda yang sudah lama minggat dari rumah, berdiri kembali di depannya dengan membawa beberapa buah tangan. "Mau apa kau balik lagi ke sini! pergi!" Laura mendorong tubuh Amanda lalu membanting pintu dengan sangat keras di depannya Amanda.
Amanda menghela napas panjang. Ia berusaha untuk tetap bersabar karena, ia juga sudah terbiasa berhadapan dengan sikap ketusnya Laura. Amanda mengetuk kembali pintu itu dengan penuh sopan dan kali kedua, Tantenya yang membukakan pintu itu. Tantenya langsung berkacak pinggang dan melotot ke Amanda, "Rumah ini tidak bisa menampung mu lagi, aku juga nggak sudi mengurusmu lagi, cih! dasar gadis tidak tahu diuntung. Pergi!"
Amanda menahan daun pintu yang hendak ditutup oleh tantenya dengan kata, "Saya cuma ingin mengunjungi Om dan memberitahukan hal penting pada kalian. Saya bawakan beberapa camilan kesukaan kalian, nih" Amanda menunjukkan semua buah tangan yang ia bawa.
"Nggak butuh, cih! Pergi!' Tantenya nekat hendak menutup pintu rumahnya dan Amanda tetap menahan pintu itu. Amanda sesungguhnya sudah merasa lelah, dibenci tanpa sebab, sering didiamkan tanpa alasan yang jelas dan sering disalahkan untuk hal yang tidak pernah ia lakukan.
Tantenya Amanda mendelik, melepas daun pintu. Kemudian tangannya terangkat untuk menampar Amanda dan Amanda dengan sigap menahan tangan itu dengan kata, "Saya diam selama ini jika Tante mencaci maki saya, membentak saya, menyalahkan saya dan menghukum saya dengan cara tidak memberikan makan dan minum untuk saya. Tapi, maaf Tante, saya tidak bisa mengijinkan siapa pun bahkan Tante, memukul saya"
Barnes tiba-tiba berdiri di sampingnya Amanda dan merangkul bahunya Amanda, "Saya juga tidak akan pernah mengijinkan siapa pun menyakiti istri saya"
"What?! Istri?!" Tantenya Amanda mengalihkan perhatiannya ke Barnes.
Barnes mempererat rangkulannya di bahu Amanda dengan kata, "Iya. Amanda istri saya. Saya menebusnya dari sebuah lelang yang diadakan oleh si brengsek Praja Anggada. Jika Anda tidak mengijinkan istri saya ini masuk, maka saya akan bikin perhitungan dengan Anda karena, berdasarkan pengakuan dari Praja Anggada, Anda telah menjual Amanda ke Praja Anggada"
Wajah Tantenya Amanda seketika itu menjadi pucat pasi mendengar ucapannya Barnes. Kemudian dengan sangat terpaksa dia membuka daun pintu lebar-lebar dan mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam ruang tamu.
Amanda menaruh sekeranjang buah anggur dan apel di atas meja beserta kue dan makanan ringan lainnya yang ia bawa. Barnes membelikan semua itu untuk Amanda serahkan ke keluarga Omnya Amanda.
Tantenya Amanda kemudian duduk di depannya Barnes dan Amanda setelah pasangan suami istri itu duduk di sofa kecil yang tampak lusuh karena tidak terawat. Tantenya Amanda dan putrinya memang tidak suka bersih-bersih rumah dan hanya sibuk mempercantik diri dan berbelanja hal-hal yang tidak penting.
Tantenya Amanda bersedekap dan masih memasang wajah masam. Kemudian wanita berumur lima puluh lima tahun itu membuka suara, "Mana buktinya kalau Anda sudah membebaskan dia dari Praja Anggada dan mana buktinya kalau kalian sudah menikah!"
Barnes menyerahkan sebuah map ke Tantenya Amanda dan setelah membuka map itu dan melihatnya dengan seksama, Tantenya Amanda menyerahkan kembali map itu ke Barnes. Barnes memasukkan kembali map itu ke dalam tas kerjanya.
__ADS_1
"Dia sudah menumpang selama sepuluh tahun lebih di sini. Anda adalah suaminya, kan? Jadi, saya pikir, Anda perlu memberikan mas kawin ke saya karena, saya adalah walinya Amanda"
Tantenya Amanda berkata dengan nada santai dan wajah tanpa malu.
Dari balik kamar, Laura mengumpat kesal saat ia mengintip Amanda duduk bersanding dengan laki-laki pujaan hatinya dan bahkan anda sudah menjadi istri dari laki-laki tersebut. "Kenapa dia selalu beruntung?" gumam Laura dengan wajah cemberut.
Di saat Barnes hendak angkat bicara, Omnya Amanda masuk ke ruang tamu dengan tergopoh-gopoh dan langsung menyalami Barnes dan hampir duduk bersimpuh di depannya Barnes.
Barnes mengerutkan alisnya dan terkejut melihat sikap yang ditunjukkan oleh Omnya Amanda. Barnes langsung menarik kedua bahu Omnya Amanda dan mengajak Omnya duduk di tengah-tengah dia dan Amanda dengan tanya, "Kenapa Anda hendak bersimpuh di depan saya, Pak?"
Omnya Amanda menoleh ke Barnes sambil melekatkan kedua tangannya dan berkata, "Maafkan saya Tuan Barnes Adiwilaga Darmawan! Saya tidak mengenali Anda di awal perjumpaan kita kemarin. Saya tidak mengenali Anda sebagai cucu sulungnya Tuan Moses Elruno dan Putra dari Tuan Raja Darmawan. Maafkan saya!"
Barnes tersenyum lalu memegang tangannya Omnya Amanda dan berkata, "Tidak apa-apa Pak. Saya tidak tersinggung dan tidak menyalahkan Anda kok"
"Apa.......di......dia cucu dari pemilik Elruno grup yang konglomerat itu dan Putra dari pemilik Darmawan grup yang kaya raya itu?" Tantenya Amanda langsung melebarkan kedua bola matanya.
Sial kenapa si buruk rupa itu sangat beruntung bisa menikah dengan cucu seorang konglomerat? Dan kenapa dia bisa berubah secantik dan se-elegan itu? Dasar sial!Tantenya Amanda berkata kesal di dalam hatinya.
"Kenapa diam saja?!" Omnya Amanda membentak istrinya. Tantenya Amanda langsung bangkit dengan wajah kesal untuk membersihkan kamar tamu dan menatanya. Setelah selesai, ia masuk ke dalam kamar putri tunggalnya, "Bantu Mama menyiapkan Makan siang! Jangan hanya merias diri dan main ponsel aja kerjaanmu!"
"Nggak mau!" pekik Laura tanpa melihat Mamanya.
Mamanya Laura langsung menepuk keras bahu putri tunggal kesayangannya dengan kata, "Kau mau Papa kamu dipecat dari pekerjaannya dan kita diusir dari rumah ini karena rumah ini hanyalah rumah dinas. Kau mau tidur di jalanan hah?!"
Laura langsung menatap Mamanya sambil mengelus bahunya yang masih terasa sakit setelah ditepuk keras oleh Mamanya. Laura kemudian membuka mulut untuk bertanya, "Apa maksud Mama?"
"Si brengsek rambut merah, ponakannya Papa kamu itu beruntung sekali. Dia bisa menikah dengan cucu seorang konglomerat dan putra dari Darmawan grup. Papa kamu kan karyawan di salah satu anak cabang perusahaan besar milik Darmawan grup"
"What?!" Laura langsung melompat dari kursi, "Kenapa dia bisa seberuntung itu? Kenapa buka. aku yang menikah dengan pria tampan dan kaya raya itu, Ma?" pekik Laura kesal sambil menghentakkan kakinya di atas lantai.
__ADS_1
"Karena kamu bodoh. Bisanya cuma main game dan pacaran dengan anak kampus ingusan yang kere. Udah ayok bantu Mama masak!" Mamanya Laura langsung menarik Laura ke dapur.
Sementara itu, Barnes pamit ke Omnya Amanda, "Maafkan kami, kami pamit jalan-jalan sebentar keluar. Saya dan istri saya akan balik lagi ke sini tepat di jam makan siang, mumpung hari masih sangat pagi"
"Ah, iya. Silakan Tuan dan tolong jaga keponakan saya yang manis ini" Omnya Amanda mengelus rambutnya Amanda saat Amanda pamit, membungkukkan badan untuk menyalami dan mencium tangan Omnya.
Barnes berucap, "Pasti saya akan jaga Amanda dengan sangat baik" Dan di saat Barnes hendak melakukan hal yang sama seperti yang Amanda lakukan, Omnya Amanda langsung menahan Barnes dan berkata, "Kalau boleh, saya ingin memeluk Anda sebagai rasa terima kasih karena Anda sudah menyelematkan keponakan saya dari penderitaan dan Anda sudah bersedia memperistrinya"
Barnes langsung memeluk Omnya Amanda dengan rasa yang tulus dan Amanda tanpa sadar menitikkan air mata haru.
Barnes kemudian merangkul Amanda keluar dari kediaman Omnya Amanda dengan diiringi dua pasang mata yang menatap iri dan sinis dari jendela dapur yang menghadap ke jalan raya.
"Lihat itu, dia ke sini aja dikawal banyak orang dan lihat mobilnya, mewah sekali kan?" ucap mamanya Laura dengan nada sinis.
Laura diam saja dan memetik sayuran dengan wajah cemberut karena iri dan kesal dengan keberuntungan yang Amanda miliki
Leon telah meluncur ke kantornya Barnes dan Barnes langsung memerintahkan timnya, balik ke hotel karena ia dan Amanda ingin berjalan-jalan berduaan saja namun, Jake langsung melarangnya, "Biarkan Jude ikut untuk mengawal kalian. Igor ada di kota ini dan kalau sampai Igor tahu, Amanda juga ada di kota ini, kalian akan ada dalam bahaya besar"
"Kenapa saya? Saya masih jomblo" Jude langsung melempar protes.
"Apa hubungannya jomblo dengan mengawal?" Jake menautkan alisnya ke Jude.
Jude langsung menarik tangan Jake untuk sedikit menjauh dari Barnes,"Iya kalau mengawal pengantin baru kan, beda. Akan sangat canggung karena saya belum pernah merasakan berpacaran dan nggak tahan melihat kemesraan Komandan dan istrinya nanti" Jude mulai mewek.
Namun, perkataan dan ekspresi meweknya Jude membuat kejahilannya Jake muncul. Jake langsung menarik tangannya Jude dan berkata, "Jude bersedia mengawal kalian"
Jude mendelik ke Jake dan Jake menepuk punggungnya Jude dengan berbisik, "Ikutlah pengantin baru itu dan belajarlah keromantisan lalu cepatlah cari pacar!" Jake lalu terkekeh geli dan pergi meninggalkan Amanda, Barnes dan Jude.
Jude dengan sangat terpaksa masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Dia memutuskan untuk memejamkan mata saat ia mulai mendengar komandannya berkata, "Kau ingin ke mana istriku? Pangeranmu siap mengantarmu ke mana saja"
__ADS_1