
Amanda tampak ketakutan dan terus meronta berusaha melepaskan diri dari pelukannya Barnes namun, tidak berhasil.
Barnes lalu menggendong Amanda dengan cara menyampirkan tubuh Amanda di atas pundaknya seperti karung beras dan sambil melangkah lebar ia berkata, "Aku akan menghukum kamu tapi, tidak di sini"
"Barnes!" Amanda memekik lirih, "Jangan bawa aku pergi! Aku belum mendapatkan keseluruhan bukti kejahatannya Teguh dan ini namanya penculikan!"
"Aku tidak peduli. Aku akan terima semua konsekuensinya besok" sahut Barnes dengan nada kesal.
"Turunkan aku, Barnes!" Pekik Amanda sambil memukul-mukul punggung Barnes dengan kedua tangannya
Plak! Barnes memukul sangat keras pantatnya Amanda sampai Amanda tersentak kaget dan mengaduh pelan. Barnes lalu berkata, "Turuti suami kamu atau aku akan bertindak sangat kejam padamu nanti!?"
Amanda langsung membeku dan menyerah pasrah, menuruti perintah Barnes. Barnes melemparkan segepok uang pada satpam penjaga gerbang belakang kediamannya Jendral Teguh untuk membukakan gerbang belakang rumah itu dan untuk menutup mulut penjaga itu dari semua yang penjaga itu lihat di malam penuh kejutan tersebut
Barnes melangkah keluar dengan santai dan masih memanggul tubuh Amanda di atas pundaknya. Barnes menurunkan Amanda di depan pintu mobil dan dengan wajah garang ia berkata tegas, "Masuk!"
Amanda masuk dengan diam dan di sepanjang perjalanan pun Amanda tidak berani membuka suara.
Barnes beberapa kali tampak menghela napas kesal dan tidak berniat untuk mengeluarkan suara.
Dia benar-benar marah padaku. Apa ya hukuman yang akan ia berikan nanti? batin Amanda.
Setelah sampai di rumahnya, Barnes kembali memanggul Amanda dan langsung melangkah lebar masuk ke dalam kamarnya Amanda. Ia menutup pintu kamar dengan tumitnya lalu mengunci pintu kamar itu. Ia melempar tubuh Amanda dengan pelan di atas ranjang dan bersedekap menatap Amanda dengan tanya, "Apa kau menyesali perbuatanmu?"
Amanda menganggukkan kepalanya dengan pelan karena ia mulai merasa ketakutan melihat wajah garangnya Barnes. Lalu Amanda berkata lirih, "Maafkan aku!"
"Aku menerima permintaan maaf kamu tapi, aku akan tetap menghukum kamu!" Mata Barnes menelusuri seluruh tubuh Amanda mulai dari wajah sampai ujung kakinya Amanda. Lalu ia mengungkung tubuh Amanda dengan rubuhnya. Ditekannya mulutnya pada mulut Amanda. Bibir Amanda membuka. Barnes langsung menyusupkan lidahnya dan gelora mereka berdua bergejolak kala lidah mereka bersentuhan. Ciuman mereka semakin dalam dan Barnes mulai membuka paksa dressnya Amanda hingga terdengar suara kain robek.
__ADS_1
Barnes lalu membuka seluruh kancing kemejanya dengan cepat dan langsung menyusupkan wajahnya ke leher indahnya Amanda. Dia menggigit leher itu beberapa kali hingga membuat tubuh Amanda bergetar nikmat.
Tangan Barnes meluncur ringan di tubuh istrinya dan acap kali berhenti untuk menikmati setiap lekukan yang ada dan berhenti lama di sebuah lembah yang sangat ia rindukan.
Ketika mengangkat kepalanya, Barnes melihat dua gundukan indah yang masih terbungkus kain tipis berenda yang menyangga kedua gundukan itu dan Barnes bertanya dengan suara berat, "Kapan kau memiliki selera yang sangat bagus soal pakaian dalam, sayangku?"
Amanda hanya bisa menjawab pertanyaannya Barnes dengan lenguhan menggoda.
"Ya Tuhan......Kau membuatku gila, Manda" Barnes menggertakkan giginya, mendesis, dicarinya kedua tangan Amanda lalu ia lingkarkan di tengkuknya. Amanda wajahnya bersemu merah dan seketika itu pula ia merasakan wajahnya panas.
Namun, Barnes tidak melihatnya. Barnes memejamkan mata untuk mencurahkan perhatiannya ke permainan jarinya di lembah kenikmatan. Setelah beberapa saat, dibukanya kedua matanya. Barnes mengambil napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan-pelan sambil melayangkan senyum penyesalan karena telah menyiksa Amanda dengan kenikmatan yang hampir tidak bisa ditolerir lagi oleh tubuhnya Amanda. Dilepaskannya tangan Amanda yang kemudian terkulai menjauh dan melemas dari tubuhnya. Lalu Barnes berucap, "Kita akan pelan-pelan saja. Sudah cukup aku menghukum kamu"
Amanda mengangguk lemah karena ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berbicara.
Barnes lalu berdiri untuk melepas ikat pinggangnya dan melepas cantolannya, namun sejauh itulah yang ia lakukan. Mata Barnes tidak pernah berlalu dari keindahan lukisan Sang Maha Kuasa yang ada di depannya.
Kedua tangan Barnes lalu meremas lembut pinggangnya Amanda. Ditariknya wanita itu agar berdiri di tepi ranjang lalu ia menggesekkan wajahnya di kedua gundukan kenyal, bibirnya bergerak melintasi gunung kembar itu dan tangannya menarik pinggul Amanda lebih dekat. "Aku suka wangi kamu, sayang. Dan aku tidak ingin berada jauh dari wangi kamu"
"Aku menginginkanmu" Tanpa melepaskan tatapannya dari wajah ayu istrinya, Barnes membuka ritsleting celananya. "Bersiap-siaplah!"
Jake menghentikan gerakannya saat ia merasakan sesuatu yang aneh. Dia menatap Bryna dan berbisik, "Kau masih perawan?"
Bryna mengumpat kesal, "Jangan pikirkan itu! Jangan berhenti Jake, teruskan!"
"Tapi, kau yakin?" Jake memandangi wajah Bryna dengan tatapan serius.
"Aku sangat yakin"
__ADS_1
"Kau tidak akan membenciku setelah ini?"
"Jake! Lakukan atau aku akan membunuhmu!" pekik Bryna kesal.
Jake kembali mengumpat kesal dan meneruskan aksinya dengan kata, "Jika kau kesakitan, katakan saja! Dan aku akan menghentikannya"
Bryna menarik tengkuknya Jake dan membungkam mulut Jake dengan mulutnya untuk meredam rasa sakit yang mulai ia rasakan dan untuk menahan jeritannya, ia mengajak lidah Jake bermain-main dengan lidahnya.
Sementara itu, Amanda mulai bereaksi hebat terhadap sentuhan Barnes. Ia melenguh keras seiring dengan napas Barnes yang terengah-engah saat ia menyatu dengan Amanda. Dengan wajah sayu, Amanda memanggil lirih nama Barnes dan mencengkeram bahunya Barnes. Sementara jari-jari Barnes terus menjelajah. Sedetik kemudian kamar itu dipenuhi suara rintihan, lenguhan, dan teriakan indah yang tidak harmonis karena Barnes keluar lebih dulu.
Barnes kemudian bergerak kembali dan berkata, "Aku akan menunggumu keluar sayang"
Dan setelah suara kepuasan meluncur mulus dari mulutnya Amanda, Barnes mengecup keningnya Amanda lalu menyelimuti Amanda.
Ketika Barnes memakai kembali kemeja dan celana panjangnya, Amanda bertanya, "Kau mau ke mana?"
"Lembur untuk mulai beraksi menangkap Jendra Teguh. Tidurlah! Aku akan segera kembali" Barnes tersenyum penuh cinta ke Amanda. Amanda membalas senyumannya Barnes dengan senyum cantiknya.
Barnes keluar dari dalam kamar Amanda bertepatan dengan keluarnya Jake dari dalam kamarnya pula. Kedua laki-laki tampan itu bersitatap dengan heran karena keduanya masih terengah-engah dan tampak berkeringat.
"Apa yang kau lakukan?" Barnes saling melempar tanya secara berbarengan.
"Lupakan! Kita temui anak buah kita untuk mulai membahas penyergapan kita besok!" Sahut Barnes.
"Kau berolahraga malam-malam, ya?" tanya Jake.
"Amanda ada di sini" Sahut Barnes dengan santainya. "Aku membawanya pulang dari rumahnya Jendral Teguh tadi"
__ADS_1
"Hah?! Kok bisa? jadi, Amanda itu pengasuhnya Darren?" Jake memekik kaget.
Barnes menganggukkan kepalanya dan Jake langsung meraup wajahnya.