
Sebuah bola basket yang cukup besar mengenai punggungnya Barnes. Barnes langsung berbalik badan, memungut bola basket yang terhempas ke lantai dengan cepat lalu ia menunduk untuk menatap seorang anak laki-laki bertubuh pendek dan sangat gemuk yang masih berumur sekitar sepuluh tahun, yang tengah mendongakkan wajahnya, menatap Barnes.
Barnes mendekap bola basket itu dan melotot ke anak kecil di depannya, "Kenapa main bola di area umum? Bola ini, pasti kamu ambil dari mesin permainan itu kan?" Barnes menunjuk ke mesin permainan bola basket.
Anak kecil itu menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Saya terlalu pendek untuk bisa melemparkan bola basket itu ke keranjangnya jadinya bola itu terpental dan keluar dari tempatnya. Maaf!"
"Kenapa main sendiri di sini? Mama atau Papa kamu ke mana?" Barnes masih mendekap bola basket dan masih mendelik.
Amanda berbalik badan dan mulai berkata, "Sabar! Dia hanya anak kecil"
Tapi, Barnes tidak mengindahkan Amanda. Dia terus melotot ke anak kecil di depannya.
Anak kecil itu kemudian berkata, "Saya udah besar jadi bisa main di sini sendirian sementara Mama saya berbelanja"
"Kamu pamit sama Mama kamu kalau kamu ke sini?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dengan santai lalu berkata, "Mama saya sudah tahu kalau saya pasti ke sini. Aku bosan menemani Mama berbelanja, lama dan bikin pegal kakiku. Emm, Om, bolehkah saya minta kembali bolanya?"
Barnes semakin erat mendekap bola basket itu dan mulai menceramahi anak itu, "Kamu sudah besar ya? sudah cukup besar untuk menjadi ceroboh dengan pergi sendiri ke tempat permainan yang luas seperti ini tanpa pamit ke Mama kamu, kamu mau diculik ya?"
"Saya nggak mungkin diculik karena, saya makannya banyak, Om, hehehehe" Sahut anak kecil itu sambil meringis. Amanda langsung terkekeh geli dan berjongkok di depan anak kecil itu sambil merebut bola basket yang Barnes dekap. Amanda meletakkan bola basket itu ke dalam dekapan anak itu dan berkata, "kembalikan bolanya ke tempatnya lalu balik lagi ke sini! Om dan Tante akan menjagamu!"
Anak kecil itu tersenyum lebar lalu mencium pipi Amanda dengan ucapan terima kasih dan kemudian berlari untuk mengembalikan bola basket itu ke tempatnya semula.
Amanda kembali berdiri di sampingnya Barnes setelah ia memungut tiga boneka berbentuk hewan dari atas lantai lalu mendekapnya.
Barnes mendelik ke Amanda yang tengah menatapnya dan segera menyemburkan protes, "Di....dia? Si Iblis kecil itu, berani mencium kamu di depanku?"
Amanda menatap Barnes dengan tawa ringan, "Dia anak kecil yang menggemaskan. Bukan Iblis kecil"
"Dia hampir mencelakaimu dan........."
"Sssttt!" Amanda menaruh jari telunjuknya di bibirnya Barnes sembari mengalihkan perhatiannya ke anak kecil yang masih menaruh bola basket di tempatnya semula dan kemudian lanjut berkata, "Dia berlari ke sini tuh. Lucu ya. Eh, kenapa dia berbelok ke tempat es krim?" Dia mengingatkanku pada seseorang tapi, siapa aku lupa"
Barnes menarik tangan Amanda dan menggenggamnya lalu ia berbisik, "Kalau anak kecil itu mau bergabung ke tim kita, kau harus bayar tiket masuknya! Kalau nggak, aku nggak akan ijinkan dia bergabung ke dalam tim kita"
Amanda menoleh ke Barnes dan sempat melirik tangannya yang kembali digenggam oleh Barnes lalu ia bertanya, "Aku nggak punya uang. Dompetku kan ada di dalam koper dan kopernya ada di mobil"
"Bukan dengan uang" Barnes menatap kedua bola mata jernihnya Amanda.
__ADS_1
"Lalu dengan apa?" tanya Amanda.
Barnes mengangkat tangan yang masih menggenggam tangannya Amanda. Lalu ia menepuk pipinya, "Cium di sini!"
"Hah?! Nggak mau! Banyak orang, malu"
"Cepetan! Entar si Iblis kecil itu keburu ke sini. Kalau kamu nggak mau menciumku, aku akan ke pusat informasi dan menaruh Iblis kecil itu di sana dengan penjagaannya Jude sampai Mama dari anak itu datang menjemputnya"
"Kasihan dong. Kalau kayak gitu, dia nggak akan bisa bermain lagi dan ........"
"Makanya, buruan cium!' bisik Barnes.
Amanda akhirnya mengalah. Dia berjinjit dan mencium pipinya Barnes dengan cepat.
Dengan tangan masih menggenggam tangan istrinya, Barnes merona dan menyembunyikan senyum bahagianya dengan menoleh ke arah kiri membelakangi Amanda.
Anak kecil gemuk itu tiba-tiba berdiri di depannya Barnes dan ia bertanya, "Kenapa Om senyum-senyum sendiri?"
Barnes langsung menghapus senyumannya, menatap kesal anak kecil itu dan berkata, "Bukan urusanmu!" kemudian dengan menghela napas panjang, ia menegakkan kepalanya ke depan.
Amanda langsung menoleh ke anak kecil itu dan bertanya, "Kita belum berkenalan tadi. Siapa nama kamu?"
"Kakak? Panggil Tante! Kau panggil aku Om kok manggil istriku Kakak, enak aja!" Barnes langsung melotot ke anak kecil yang bernama Aditya itu.
"Suka-suka saya dong. Mulut saya juga nih" Aditya mencebikkan bibirnya ke Barnes sambil menyerahkan satu cup es krim untuk ke Amanda.
Barnes langsung meraup kasar wajahnya dan bergumam dalam hati, wah kacau nih anak, berani-beraninya ia merayu istriku, cih!
Amanda terkekeh geli dan sambil menerima es krim pemberiannya Aditya ia berkata, "Terima kasih dan ini Boneka ini untukmu" Amanda menyerahkan satu boneka ke Aditya dan Aditya berkata, "Terima kasih Kak. Akan saya taruh di kasur dan saya ajak tidur setiap hari boneka ini"
Barnes langsung mengambil kembali boneka itu dan mendekapnya, "Enak aja! mana boleh kau ajak tidur boneka ini, nggak boleh!"
Aditya menatap Barnes dengan aneh lalu ia berbalik badan dan berlari ke kedai es krim lagi. Barnes dan Amanda mengawasi tingkah laku Aditya dengan heran. Amanda lalu menepuk bahunya Barnes, "Bonekanya ikhlas nggak sih kamu kasih ke aku?"
Barnes menoleh ke Amanda, "Ikhlas dong"
"Berarti semua bonekanya untuk aku kan? udah jadi milikku?"
Barnes menganggukkan kepalanya dengan masih mendekap satu boneka berbentuk kura-kura.
__ADS_1
"Aku kasih ke Aditya kok nggak boleh?" Amanda mulai mendelik dan membuat Barnes gelagapan untuk menjawab.
"Hmm? kenapa?" Amanda kembali bertanya dengn sorot mata tajam.
Barnes mengerucutkan bibirnya. Dia ingin mengucapkan kata kalau ia cemburu pada anak kecil tapi, malu. Akhirnya ia berkata dengan asal, "Itu karena, ia tidak membelikan aku es krim"
Amanda langsung melepas tawa renyahnya.
Aditya kembali ke Amanda dan Barnes lalu menyerahkan satu cup es krim ke Barnes, "Kita barter Om. Ternyata benar kata Mama saya, di dunia ini nggak ada yang gratis. Ish, ish,ish!" Anak kecil itu masih menyodorkan es Krim ke Barnes sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.
Barnes mendelik ke Aditya dan tampak ragu menerima kesepakatan barter itu.
"Ayok, buruan diterima es krimnya dan kasihkan bonekanya ke Aditya!" Amanda berkata tegas ke Barnes.
Barnes menerima es krim itu dengan terpaksa dan menyerahkan boneka berbentuk kura-kura ke Aditya dengan wajah cemberut.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan untuk mencoba semua permainan di wahana bermain itu sampai dua jam berlalu dan mereka bertiga, berhasil mengumpulkan lima ribu tiket sampai membuat semua yang berada di depan kasir penukaran tiket terpana. Kasirnya pun sempat nyeletuk, "Wah! kalau Anda ke sini tiap hari, bisa bangkrut Bos saya"
Amanda dan Aditya tertawa lepas dan Barnes hanya tersenyum tipis.
Tiketnya Aditya yang terlebih dahulu dihitung dan berjumlah seribu. Aditya menoleh ke Amanda, "Kakak pengen apa?"
Barnes langsung menyemburkan protes, "Kenapa kau tanya ke istriku? pilih aja yang kau mau! Lama-lama bisa kena stroke aku berdekatan denganmu"
Amanda menepuk bahunya Barnes lalu sambil terkekeh geli ia berkata ke Aditya, "Kakak pengen akuarium kaca yang ada ikan Koi. Kakak suka sama ikan"
"Pakai saja tiketku!" Barnes langsung menoleh ke Amanda dengan tajam.
Amanda mengecup pipinya Barnes, "Aku bayar lagi tiket masuk untuk memenuhi permintaannya Aditya"
Barnes menghela napas panjang dan dengan terpaksa ia memperbolehkan Aditya memberikan sebuah akuarium kaca berbentuk bulat mini yang berisi ikan Koi. Barnes terpaksa menelan kecemburuannya melihat Amanda kemudian berjongkok di depannya Aditya dan membahas ikan Koi itu dengan Aditya.
Barnes berdebat dengan hati nuraninya, Dia hanya anak kecil Barnes, nggak usah cemburu! ucap hati nuraninya. Anak kecil sih anak kecil tapi, tetap saja ia seorang cowok, Huuffttt! sahut benaknya Barnes.
Lalu Barnes menukarkan tiketnya yang berjumlah tiga ribu lima ratus. Dan menunjuk ke akuarium berbentuk persegi panjang mini yang berisi ikan mas kecil-kecil berjumlah tiga. "Bisa kan ditukarkan dengan itu?" tanyanya ke Mbak penukar tiket.
"Bisa Pak. Tapi, semuanya ditukarkan akuarium itu?"
Barnes lalu melirik Amanda yang masih berjongkok di depannya Aditya, kemudian ia berkata kembali ke Mbak penukar tiket, "Iya! semuanya untuk akuarium itu"
__ADS_1
Jude yang masih asyik melompat-lompat di mesin menari, terus terkekeh geli, memperhatikan sikap konyol Komandannya.