
Amanda diharuskan duduk di kursi kayu berukuran mewah berbahan kayu jati yang tampak elegan dengan bantalan kursi dari spon berbalut beludru merah nan mewah. Kursi itu ditempatkan di tengah-tengah panggung dengan sorot lampu warna-warni mengarah ke kursi elegan itu, untuk menambah kesan mahal siapapun yang duduk di atas kursi itu.
Amanda duduk di kursi itu dengan mata tertutup kain satin berwarna merah senada dengan gaun malam seksi. Gaun malam yang membalut tubuh kurusnya Amanda, transparan berwarna merah membara, dari bahan satin, dengan belahan sangat rendah di dada dan panjang gaun malam seksi itu sampai di atas lutut dan si sisi kirinya terbelah hampir ke pangkal paha.
Setelah duduk dan diberi arahan untuk duduk dengan pose seksi dan menggoda, penutup matanya Amanda yang terbuat dari kain satin berwarna merah menyala itu dibuka.
Amanda mengerjapkan kedua matanya karena, silau. Amanda memicingkan matanya untuk mencoba mengembalikan semua daya kerja pupil matanya dan ia bisa melihat jelas ketika daya kerja pupil matanya kembali normal. Amanda melihat ada seratus jendela berwarna hitam yang mengelilinginya. Amanda tidak bisa melihat apa atau siapa yang berada dibalik jendela kaca berwarna hitam itu namun, orang yang berada di balik jendela berwarna hitam itu bisa melihat Amanda dengan sangat jelas.
Barnes langsung berdiri dan menggedor kaca jendela yang tampak transparan di depannya ketika ia melihat Amanda dipertontonkan ke banyak orang dengan gaun malam yang sangat seksi dan minim bahan.
Jake langsung menarik kerah jasnya Barnes sehingga Barnes kembali terduduk di kursinya. Barnes mendelik ke Jake dan langsung menyemburkan amarahnya, "Kenapa dia harus dilelang? kenapa dia harus dipertontonkan ke banyak orang dengan baju yang seperti itu, sial!" Barnes lalu bangkit dan Jake berhasil mencekal pergelangan tangannya Barnes untuk menahan langkahnya Barnes dengan melempar tanya, "Mau ke mana?"
"Aku akan membawanya segera dari panggung sialan itu dan aku akan membumihanguskan tempat terkutuk ini!" Barnes berteriak dengan nyala api kemurkaan yang mungkin lebih panas dari api neraka yang membalut lekat kedua bola matanya Barnes. Seluruh tubuhnya Barnes bergetar, kedua tangannya terkepal dan dadanya naik turun tak beraturan saat amarah yang begitu membara, menguasai hatinya.
"Apa kau tahu di mana letak panggung itu?" Jake berkata tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan tangannya Barnes.
Barnes menggelengkan kepalanya.
"Kau bawa senjata api atau senjata tajam?"
Barnes kembali menggelengkan kepalanya.
Jake lalu menarik tangannya Barnes ke tempat duduknya Barnes lalu berkata, "Maka ikutilah lelang ini! acara akan segera dibuka, lelang akan dimulai dalam hitungan, satu, dua dan ti........."
__ADS_1
Suara merdu dari si pembawa acara memotong ucapannya Jake, "Saya buka lelang untuk gadis manis yang masih perawan ini dengan harga awal lima puluh juta rupiah" ucap dari pembawa acara lelang terkutuk itu.
Harga awal yang dibuka oleh si pembawa acara sesuai dengan instruksi dari Praja Anggada. Karena, angka lima puluh juta rupiah adalah deretan angka yang cukup fantastis yang telah Praja Anggada bayarkan ke Tantenya Amanda Dirgantara untuk membeli Amanda Dirgantara. Namun, Praja Anggada meradang saat ia menemukan sosok Amanda Dirgantara tidak sesuai dengan ekspektasinya dan harga lima puluh juta rupiah itu terlalu mahal untuk gadis kurus, kucel berambut jelek seperti Amanda Dirgantara.
Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya Amanda karena, ketakutan namun, ia harus menahan air mata. Selain itu, kucuran keringat juga ditimbulkan oleh lampu warna-warni yang disorotkan ke arahnya. Lampu itu terasa panas dan membuat Amanda kegerahan.Adanya keringat di sekujur tubuhnya Amanda justru membuat tubuh Anda tampak berkilau diterpa lampu warna warni yang tersorot ke arahnya dan membuat Amanda semakin tampak seksi menggoda sehingga membuat seseorang di ruang nomer satu menyalakan lampu dan menggemakan suaranya, "Aku mau gadis itu dengan harga seratus juta rupiah"
Amanda semakin bergidik ngeri saat ia mendengarkan semua isi kepala orang di balik kaca gelap itu. Semua berpikiran kotor dan menjijikkan.
Jake tanpa sadar berucap, "Dia berambut aneh dan sangat kurus tapi, lumayan menggoda dan........"
Barnes menggertakkan giginya dan langsung meraih mikrofon yang ada di meja sebelahnya sekaligus menyalakan lampu, "Aku beli gadis itu lima ratus juta rupiah!"
Jake sontak membeliakkan kedua bola matanya lalu menoleh ke Barnes, "What?! kamu serius? gadis itu terlalu kurus untuk harga segi.........."
Barnes menoleh ke Jake dengan sorot mata mematikannya dan Jake langsung berucap, "Oke, sori! Dia itu gadismu dan aku tidak boleh menghina atau memujinya, kan? oke, fine!"
Barnes kembali menyalakan lampu dan meraih mikrofon, "Jangan lukai dia dan cepat tutupi badannya dengan jas kamu! Aku tidak sudi gadis yang sudah aku bayar dengan mahal, dipertontonkan seperti itu"
Pembawa acara itu tampak kebingungan.
"Cepat tutupi tubuh gadis itu dengan jas kamu!" pekik Barnes dengan penuh ketidaksabaran
Pembawa acara tersebut kemudian meletakkan mikrofon yang dia pegang di atas lantai panggung, ia kemudian membuka jasnya dan di saat ia hendak memakaikan jas itu ke Amanda, Barnes segera memekik, "Jangan sentuh dia! kasih saja jas kamu ke gadis itu, biar dia pakai sendiri jas itu!"
__ADS_1
Pembawa acara itu lalu menyodorkan jasnya ke Amanda. Amanda menerima jas itu dan memakainya untuk menutupi gaun malam seksi yang membalut tubuhnya.
Lalu pembawa acara itu kembali memegang mikrofon dan berkata, "Wah! Tuan di ruang VVIP nomer enam posesif juga, ya, hahahaha, saya suka. Saya persilahkan Tuan yang berada di ruang VVIP nomer enam untuk menuju ke lift khusus yang ada di lorong sebelah Utara ruangan Anda, pencet nomer lima, Anda akan dipandu oleh seseorang yang akan menjemput Anda setelah Anda sampai di lantai lima tersebut.
Tangan Amanda dipegang oleh seorang pria bertubuh kekar dan hendak ditarik masuk ke dalam. Barnes memegang mikrofon dan menyalakan lampu kembali, untuk berkata, "Lepaskan tangan kotor kamu dari wanitaku! biarkan dia berjalan masuk sendiri"
Pria berbadan kekar itu langsung melepaskan pergelangan tangannya Amanda dan mempersilahkan Amanda berjalan masuk ke dalam dengan sendirinya.
Jake hanya bisa tersenyum lebar dan menggeleng-nggelengkan kepalanya. Barnes segera bangkit dan keluar dari ruangan VVIP terkutuk itu dan berlari masuk ke lift untuk segera menuju ke lantai lima.
Ting! pintu lift terbuka dan dua orang laki-laki bersenjatakan pistol, menuntun langkah Barnes menuju ke ruangan paling ujung yang berhadapan dengan lift tersebut
Barnes masuk dan langsung disambut suara tawa membahana dari seorang laki-laki gemuk, pendek dan botak yang memakai topeng berwarna putih.
"Terima kasih Tuan, kau sudah menyelamatkanku dari kerugian yang sangat besar. Silakan duduk dan mari kita mulai transaksi pembayaran kita"
Barnes menatap penuh kebencian ke laki-laki gemuk, pendek dan botak yang ada di depannya.
Aku akan memburu kamu setelah ini, aku akan menangkapmu dan membuatmu membusuk di penjara setelah ini karena, kau sudah berani mengusik Amanda. Batin Barnes.
Barnes membayar lima ratus juta rupiah dengan lunas dan lancar memakai kartu saktinya yang berwarna hitam legam. Kartu hitamnya Barnes menggelitik laki-laki bertopeng yang duduk di depannya Barnes untuk bertanya, "Siapa Anda sebenarnya? kenapa Anda bisa memiliki black card edisi khusus ini?"
"Aku hanyalah pebisnis biasa" sahut Barnes dengan raut wajah dingin.
__ADS_1
"Hahahaha, Anda paket komplit dan idaman para wanita. Anda tampan, rendah hati dan kaya raya tapi, kenapa justru membeli gadis kurus kering dan berambut aneh itu. Kenapa ......."
Braaakkk! tanpa Barnes sadari ia menggebrak meja........