Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Beda


__ADS_3

"Anak kita itu mirip banget sama kamu, Ma" Ucap Noah sembari menciumi pundak Istrinya yang masih polos setelah percintaan mereka yang hebat.


Batari berucap sembari mengelus lengan suaminya yang ada di atas perutnya, "Iya. Cantika suka jalan-jalan sesuka hatinya. Semoga di perjalanannya kali ini, takdir mempertemukan dia dengan Dito, ya, Pa"


"Amin" Sahut Noah sembari mendaratkan ciuman di rambut Istrinya.


Cantika keluar dari dalam kamar ganti dengan gaun setali dengan kerah yang sangat rendah hingga memperlihatkan belahan dada yang sangat indah menggoda mata untuk selalu menatap.


Sorot mata panas Dito menyusuri gaun tersebut hingga sampai ke tumit. Kemudian bola matanya kembali naik menyusuri belahan di sisi kiri kiri gaun itu hingga sampai di pertengahan paha Cantika.


Cantika sengaja berdiri berkacak pinggang sambil menyeret kaki kirinya ke arah kiri untuk memperlihatkan pahanya yang putih menggoda sambil berkata, "Gimana? Bagus tidak aku pakai ini? Atau aku harus masuk lagi untuk nyoba gaun yang lain yang lebih seksi dari ini, Tampan?"


Dito seketika itu kesulitan menelan ludahnya sendiri dan tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan langsung membopong Cantika sambil berkata, "Nggak usah ganti baju lagi!" Lalu Dito menoleh ke anak buahnya, "Ambil semua baju yang masih ada di ruang ganti dan bayar semuanya! Termasuk gaun yang sudah ia pakai ini"


"Baik, Bos!" Sahut semua anak buahnya Dito dengan kompak.


Cantika menggelungkan kedua lengannya di leher Dito dan bertanya dengan senyum menggoda, "Hati kamu tidak berdesir saat ini?"


Dito menatap tajam wajah cantik wanita yang masih ia bopong sambil bertanya, "Kenapa emangnya kalau hatiku berdesir?"


"Kamu akan pingsan kalau berdesir terus hatinya"


"Cih! Lalu, kau akan kabur kalau aku pingsan?"


"Nggak dong. Aku akan kasih kamu napas buatan" Cantika berucap dengan wajah kesal dan nada ketus.


"Cih! Aku bukan orang penyakitan. Aku nggak butuh pingsan untuk bisa menghirup napas kamu seperti ini" Dito langsung menempelkan bibirnya ke bibir Cantika.


Cantika langsung mengigit bibir Dito. Dito mengaduh dan refleks menjatuhkan Cantika di atas jalan.


Cantika bangkit berdiri dan sambil mengelus pantatnya, ia melotot ke Dito, "Kau! Berani benar kau jatuhkan aku di jalan!"


Dito sontak berkata, "Maafkan aku! Aku tidak sengaja. Tapi, hei! Kau gigit bibirku"


"Tentu saja aku akan gigit bibir kamu yang kurang ajar itu, cih! Berani benar kau mencium bibirku tanpa ijin. Sudah berapa kali kau menciumku? Kau merusak bayangan indahku akan ciuman pertama. Dasar brengsek!" Cantika langsung meluncurkan tendangan mautnya ke Dito.


Dito menangkis tendangan maut itu dengan tangkisan dua lengan depan dada dengan telapak tangan mengarah ke depan. Dito berhasil mendorong kaki Cantika dan menyebabkan Cantika oleng dan kembali terjatuh di atas jalan.

__ADS_1


Cantika bangkit berdiri dan sambil mengusap pantatnya, ia bergumam kesal di dalam hati, sial! Kenapa selama ini aku selalu malas-malasan berlatih beladiri. Aku lebih senang berlatih menembak. Itulah kenapa sampai detik ini kau belum bisa mengalahkan dia di teknik beladiri. Sial!


Cantika mencoba menyerang kembali dan kali ini dia memilih menggunakan dua tinju andalannya.


Dito berhasil mengelak dan memilih untuk tetap bergerak agar dia bisa menghindari pukulannya Cantika dengan cepat. Dito membuat lawannya terus mengejar dan membuat lawannya terus mengarahkan tinju ke dia agar lawannya semakin kesal dan lemah.


Setiap serangan Cantika yang meleset membuat wanita cantik itu kehilangan sedikit tenaga dan wajahnya mulai kesal. Namun, dia wanita yang gigih. Pantang menyerah sebelum ia benar-benar kalah. Cantika terus menyerang Dito dengan kedua tinju andalannya.


Serangan bertubi-tubi dari Cantika membuat Dito tidak berkesempatan untuk menjauhkan tubuh dari pukulannya Maka dengan cepat Dito menggeser kepalanya sehingga membuat pukulan Cantika untuk yang kesekian kalinya meleset tanpa menimbulkan bahaya, kemudian secara tiba-tiba Dito menerjang ke wanita itu dan memberikan pukulan balasan yang ringan di perut Cantika.


Di saat Cantika membungkuk kaget, Dito kembali memanggul Cantika dan berlari menuju ke mobil sambil menepuk-nepuk pantat Cantika dan berkata, "Cewek kok jorok. Nggak bisa menjaga gaun tetap rapi dan bersih, tzk!" Dito lalu memaksa Cantika masuk ke dalam mobil Limousine mewahnya.


Cantika merengut dan bersedekap di depan Dito lalu berkata dengan mendelik, "Kau kasar! Pria paling kasar sedunia! Dan aku menyesal bertemu denganmu, Dito Zeto!"


"Lebih baik kau diam dan biarkan dia mendandani wajah kamu"


Cantika tersentak kaget dan sontak mengarahkan pandangannya ke depan. Dia melihat seorang wanita duduk di depannya dengan memangku tas makeup dan tengah tersenyum lebar.


Cantika menoleh ke Dito untuk bertanya, "Untuk apa dia di sini?"


"Merapikan rambut kamu dan mendandani wajah kamu. Nggak mau berjalan berdua dengan cewek awut-awutan kayak gitu" Dito berucap sambil memainkan ibu jarinya di layar telepon genggam.


"Bisa. Saya dari Indonesia, Nona" sahut tukang rias itu.


"Bagus. Paling nggak ada orang Indonesia selain aku yang waras di sini" Cantika melirik Dito dan Dito memilih diam dan tidak membalas ucapannya Cantika.


Lima belas menit kemudian Cantika menusukkan jari telunjuknya di bahu Dito sembari berkata, "Aku sudah selesai dirapikan"


Dito tersentak kaget dan lebih kaget lagi saat ia menoleh ke samping. Cantika tampak anggun dengan rambut dicepol mode keong besar dan ada sedikit poni panjang menjuntai di pelipis kiri Cantika. Makeup soft dengan warna bibir nude, semakin mempertegas kecantikan di wajah Cantika Putri Baron.


"Ada air liur menetes, tuh"


Dito spontan mengusap sudut bibirnya dan dia mendelik ke Cantika saat ia tidak menemukan air liur di sana.


Cantika dan penata rias itu mengulum bibir menahan senyum.


Dito lalu mengetuk pembatas jok belakang dan jok depan.

__ADS_1


Asisten pribadinya membuka pembatas itu dan bertanya, "Ada apa Bos?"


"Hentikan mobilnya sebentar. Tukang riasnya biar turun"


"Baik Bos" Angga langsung menghentikan mobil.


Saat tukang rias itu menutup pintu mobil, Dito memencet tombol dan pembatas jok depan dan jok belakang naik perlahan dan saat pembatas jok itu menutup sempurna, Dito merosot turun dari jok dan berjongkok di depan kaki Cantika.


Cantika memekik kaget, "Mau apa kamu?!"


"Memakaikan sepatu. Masak kamu pergi ke pesta pakai sandal kamar kayak gini?"


Cantika menunduk dan berkata, "Mana sepatunya? Aku bisa pakai sendiri dan ........."


"Duduk dengan diam! Kalau nggak, aku akan mencium kamu lagi? Oh! Apa jangan-jangan kamu ingin aku cium lagi, ya?!"


Cantika sontak menutup bibir dengan telapak tangan kanan dan menegakkan badan sambil berucap, "Jangan main fitnah sembarangan! Aku bisa menuntutmu!"


"Nah! Sudah selesai. Kaki kamu tampak cantik memakai sepatu ini. Pilihanku cocok untuk kamu ternyata"


Cantik menunduk untuk melihat sepatu yang dipakaikan oleh Dito dan dia tertegun. Cantika kembali teringat di masa lalu, saat Dito kakak laki-lakinya menghadiahinya sepasang sepatu dan memakaikan sepatu itu di kedua kakinya.


Cantika lalu menoleh ke Dito yang telah duduk kembali di jok, "Darimana kau tahu warna sepatu kesukaanku? Dan kenapa kau pilih model yang ini?"


"Kenapa? Ada apa dengan model sepatunya? Kau tidak suka? Aku bisa ganti dengan model yang lain. Aku beli empat model sepatu untuk kamu di butik tadi"


Air mata menetes di kedua pipi Cantika saat Cantika berucap, "Warna dan model sepatu ini, sama persis dengan warna dan model yang diberikan oleh Kakak laki-lakiku waktu aku ulang tahun. Waktu itu umurku lima tahun. Aku ingin memakai sepatu yang sama dengan Mamaku. Padahal model ini tidak cocok untuk anak kecil dan tidak ada di toko manapun. Kau tahu? Kakak laki-lakiku diam-diam memesannya"


Dito mengusap air mata di kedua pipi Cantika sambil berkata, " Jangan menangis! Makeup kamu luntur nanti"


Cantika diam membisu dan terus mengamati wajah Dito Zeto.


"Aku senang mengetahui kalau aku ternyata memiliki selera yang sama dengan Kakak laki-laki kamu itu. Aku juga senang gara-gara itu, kamu memandangi wajahku terus. Tapi, kalau kamu terus memandangi wajahku kayak gini, aku bisa nekat mencium kamu lagi"


Cantika langsung mendorong dada Dito dan menegakkan pandangannya ke depan dengan cemberut dan bergumam, "Nggak. Kau beda dengan kakak laki-lakiku. Sangat beda!"


Dito mengulum bibir menahan senyum. Lalu ia berbisik di telinga Cantika, "Tentu saja beda. Aku pasti jauh lebih tampan dan keren dari Kakak laki-laki kamu itu"

__ADS_1


Cantika sontak menoleh ke Dito dan alhasil tanpa sengaja bibirnya bersentuhan dengan bibir Dito.


Keduanya seketika mematung dan saling berpandangan, lalu keduanya mengerjapkan mata secara bersamaan.....................


__ADS_2