
Dito membiarkan Cantika mengeksplorasi bagian depan tubuhnya mulai dari leher hingga sampai ke titik sensitifnya. Sewaktu wanita itu hendak menarik celana Dito, pria itu menahan tangan Cantika dan bergulir ke kanan untuk merebahkan Cantika.
Dito menahan kedua tangan Cantika di atas kepala Cantika sembari berkata, "Sial! Kau telah membangkitkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh bangkit saat ini"
"Ssssshhhh!" Cantika mendesis dan meronta-ronta, lalu berteriak, "Panas! Kau tahu tidak rasanya panas, hah?! Cepat hilangkan rasa panas ini brengsek!!!!"
Dito menggertakkan gerahamnya, lalu menengadah sambi berkata, "Sepertinya Angga benar. Aku seharusnya tidak menculikmu, Babe" Pria tampan itu langsung memagut bibir wanita pujaan hatinya itu dan mengajak lidah wanita itu berdansa dengan lidahnya. Ciuman itu semakin liar dan panas yang membuat Dito perlu untuk menarik oksigen lebih banyak dengan menarik bibirnya dan kembali menengadah yang diiringi erangan frustasi. Kemudian, pria itu menyusupkan wajahnya di leher Cantika dan mengigit leher itu dengan gemas sembari terus meremas lembut dada Cantika dan memainkan puncaknya. Jantung Dito kembali berdetak abnormal dan hatinya berdesir hebat.
Cantika mengeluarkan lengkingan gairah, memekik, dan melenguh yang membuat Dito kesulitan untuk menahan dirinya.
Keesokan harinya, Cantika terbangun dan langsung menunduk untuk melihat apa yang terasa berat menimpa perutnya. Wanita itu tersentak kaget saat ia menemukan tangan Dito ada di atas perutnya.
Cantika mengangkat pelan tangan itu untuk bisa menyibak selimut, karena ia merasakan ada yang aneh di dalam selimut. Wanita cantik itu menyibak selimut dan saat ia mendapati dirinya hanya memakai pakaian dalam, wanita itu sontak berteriak kencang, "Aaaaaaaaa!!!!!!" Lalu, ia menutup mulutnya dan terdiam sepersekian detik untuk menoleh perlahan ke samping kirinya Dan setelah ia menoleh ke samping kanannya, dia berteriak lebih kencang lagi, "Aaaaaaaa!!!!!"
Dito sontak membuka mata di teriakan keduanya Cantika dan langsung bertanya, "Kenapa kau berteriak kencang banget dan ......."
Alih-alih menjawab pertanyaannya Dito, Cantika menendang Dito sangat keras hingga pria tampan itu terguling dan dan akhirnya terjatuh di atas lantai.
Dito langsung bangkit berdiri dan melotot ke Cantika untuk menyemburkan "Kau kesurupan atau apa, sih?! Kenapa teriak nggak jelas dan menendangku sampai aku jatuh ke lantai!"
Cantika memegang erat kedua ujung selimut dan menatap dada telanjangnya Dito dengan nanar. Lalu, dia berusaha untuk mengeluarkan tanya, "Ki ......kita....sial! Apa yang sudah terjadi semalam?!" Cantika melotot dengan teriakan frustasi.
Dito sontak berkacak pinggang dan melepas tawa renyahnya, kemudian dia menunjuk leher, dad, hingga ke perut seraya berkata, "Kau lihat semua tanda merah yang ada di leher, dada dan perutku ini?"
"Aku lihat. Tapi, aku nggak ngerti apa kaitannya tanda itu dengan apa yang aku lihat pagi ini. Aku hanya memakai pakaian dalam dan kau bertelanjang dada. A......apa yang sudah terjadi?" Cantika menatap dalam kedua bola matanya Dito dengan gamang.
__ADS_1
"Kamu yang melakukan semuanya kemarin malam. Kamu menyergapku, melemparkan aku ke ranjang, dan duduk di atas tubuhku, lalu memberikan, sebentar ......." Dito menghentikan ucapannya untuk menunduk dan menghitung tanda di tubuh bagian depannya, lalu menatap Cantika kembali dengan berkata, "Sebelas tanda merah ini. Ini yang bisa aku lihat. Belum lagi tanda merah yang ada di seluruh leherku. Yang aku ingat kemarin, sih, kamu menggigit leherku di tiga titik dan ........"
"Bohong!!!!!! Ka.....Ka.....kau pasti bohong!!!!!! Aku gadis baik-baik. Mana mungkin aku memperkosa seorang cowok"
"Aku nggak bohong. Kau lihat saja sendiri di badan kamu! Ada tidak tanda merah seperti ini" Dito berucap dengan wajah serius.
"Balik badan! Aku akan cek tubuhku"
"Sial! Untuk apa aku balik badan? Aku sudah lihat semuanya kemarin dan ........."
Cantika melemparkan bantal sambil berteriak, "Balik badan cepat!!!!!!"
Dito menghela napas panjang dan berbalik badan dengan sangat kesal.
Beberapa detik kemudian, ia melongok dari balik pintu kamar mandi untuk menyemburkan, "Ada tanda merah satu di leherku! Dasar brengsek! Apa kau sudah melakukan itu? Jawab!!!!!"
Dito kembali menghela napas panjang lalu berbalik badan untuk berucap, "Aku bukan pria yang seperti itu. Aku nggak akan mengambil keuntungan dengan ketidaksadaran kamu kemarin. Yeeeaahh, satu tanda di leher kamu itu adalah di menit aku lepas kendali. Tapi, kemudian aku bisa menguasai kembali diriku. Aku mencintaimu, Babe. Aku sungguh-sungguh mencintaimu dan aku nggak akan merenggut paksa segel kesucian kamu"
Cantika tertegun sejenak, lalu dengan cepat ia tarik kepalanya dan ia tutup dengan keras pintu kamar mandi itu.
Dito menyugar kasar rambut lurus cepaknya sembari berucap frustasi, "Oh My God! What should I do, then? Dia benar-benar memiliki pesona yang sungguh luar biasa. Kalau seperti ini terus, cepat atau lambat bisa jebol pertahananku"
Dito kemudian meraih kaosnya untuk ia pakai sembari melangkah lebar keluar dari dalam kamar. Dito kemudian mengetuk pintu kamarnya Angga.
Saat Angga membuka pintu, Dito langsung mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar dan dia melangkah masuk sambil. berkata, "Aku numpang mandi di sini"
__ADS_1
"Tapi, kenapa Bos?"
"Kamar mandi di kamarku rasanya panas. Aku butuh ngadem di sini"
"Apa perlu saya panggilkan service room untuk membetulkan kamar mandi di kamar Bos?"
"Nggak perlu!" Teriak Dito sembari menutup pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya Angga.
"Kenapa dengan Bos pagi ini?" Angga menatap daun pintu kamar mandi itu dengan wajah penuh tanda tanya.
Cantika keluar dari kamar mandi dan bernapas lega sambil berucap, "Syukurlah pria aneh itu udah keluar. Aku butuh menghirup udara segar sebentar" Cantika berlari ke pintu keluar dan langsung berteriak kesal, "Sial! Kenapa dia mengunci pintunya?!" Cantika berbalik badan, melangkah lebar dengan cemberut dan menghenyakkan pantatnya di sofa dengan kesal. Wanita cantik itu mulai ngedumel, "Kenapa pria itu pandai sekali memainkan hatiku. Dia buat hatiku melambung dan hanya dengan hitungan detik saja, ia buat hatiku kembali kesal. Cih! Dasar pria menyebalkan. Tapi, syukurlah dia tidak membuka segel kesucianku semalam. Hmm, dia ternyata gentleman" Tanpa Cantika sadari, ia senyum-senyum sendiri.
"Apa yang membuatmu senyum-senyum kayak gitu? Apa yang kau bayangkan? Kau membayangkan badanku yang keren, ya?"
Cantika sontak menoleh ke asal suara dan langsung menyemprotkan, "Apa?! Siapa yang membayangkan perut buncit kamu itu, Cih!"
Dito sontak menarik ke atas kaos putih bermerk berwarna putih polos yang dia pakai pagi itu, dan sambil menunduk ia bertanya, "Di mana buncitnya? Mana ada perutku buncit?"
"Hei! Dasar mesum! Tutup kembali perut kamu itu. Sial!" Tanpa Cantika sadari wajahnya memerah di saat benak Cantika berkata, tubuh Dito sangat keren dan enak untuk dipandang mata.
Dito terkekeh geli dan sambil menutup kembali perutnya, ia berkata, "Dasar wanita. Selalu saja mengatakan hal yang tidak sesuai dengan apa yang ada di hati dan benaknya"
Cantika langsung menatap TV LED di depannya dan berkata, "Aku bukan wanita yang seperti itu"
Dito kembali terkejut geli dan di saat ia ingin duduk di sebelah Cantika, telepon genggamnya berbunyi dan beberapa detik kemudian, Dito meneriakkan kata, "Apa?!" Dengan wajah panik.
__ADS_1