
"Kenapa Steven Chan menginginkan aku? Apa dia pernah berurusan dengan Kakek dan Papaku?" Tanya Cantika di dalam mobil.
"Entahlah. Tapi, informanku yang aku tanam di rumah sakit mengatakan kalau Steven Chan meluncur ke rumah sakit dan dia menginginkanmu karena kamu keturunannya Barnes dan Noah"
"Kapan informan itu menemui kamu? Aku tidak lihat ada orang yang........"
"Nih" Dito memberikan secarik kertas kecil ke Cantika.
Cantika menerima kertas itu dan menatap Dito dengan ekspresi kebingungan.
"Kertas itu menempel di bawah piring. Saat kau memeluk aku, aku ambil kertas itu dan membacanya dengan cepat"
"Oooo, begitu ceritanya" Sahut Cantika dengan manggut-manggut.
"Aku memeluk kamu tadi alasannya adalah, aku nggak ingin kamu tahu. Tapi, kamu menolak mengganti bajuku tadi jadi terpaksa aku ......."
Cantika langsung membungkam mulut Dito saat ia melihat Angga menoleh sekilas ke jok belakang.
Cantika kemudian mendelik dan berbisik ke Dito, "Jangan bicarakan soal ganti baju di sini! Ada Angga"
Dito menarik tangan Cantika dan menggenggamnya, kemudian pria itu berbisik, "Lalu, kita bicarakan di mana? Di kamarku nanti? Sekalian kita lanjutkan lagi ciuman kita yang tertunda tadi?"
Cantika menarik tangannya untuk bersedekap dan mendelik ke Dito sambil berucap, "Ini bukan drama, jadi nggak akan ada ceritanya berkelanjutan, cih!"
Dito sontak menggelegarkan tawanya dan Angga sontak menyahut, "Ada apa, Bos?"
"Nyonya muda kamu, nih, bikin aku ketawa melulu"
"Hei! Siapa yang kau maksud Nyonya muda di sini? Kita bahkan belum menikah dan......."
"Kau ingin menikah sekarang juga? Oke. Ngga! Kita ke kantor pencatatan sipil dan ......."
"Siapa yang mau nikah! Dasar gila!" Cantika langsung cemberut dan mengalihkan pandangannya ke Dito.
Dito kembali menggelegarkan tawanya.
Angga melongok ke rear-mirror vision dengan berita di depan hatinya, Bos sering tertawa saat ia bersama dengan wanita itu. Kalau gitu, aku akan dukung Bos mengejar wanita itu sampai dapat. Karena wanita itu, mampu menjadikan Bos, manusia yang terlihat normal dan benar-benar terlihat hidup.
"Kalian berani melarangku menggeledah rumah sakit ini?".Steve Chan mendelik ke beberapa staf rumah sakit itu dan satpam yang ada di depannya.
"Ini rumah sakit. Anda lebih baik pergi dan jangan bikin. keributan. Kami nggak bohong. Pasien yang bernama Dito Zeto sudah keluar dari rumah sakit ibu. Dia pulang paksa" Ucap salah staf rumah sakit itu.
"Kalian berani melawan aku? Kalian tahu siapa aku? Tahu tidak?!" Steven Chan berteriak sambil menggebrak meja pendaftaran pasien rawat jalan.
__ADS_1
"Tahu. Anda adalah pemilik kota ini"
"Maka menyingkirlah kalian dan biarkan aku geledah rumah sakit ini!" Steven Chan melompat-lompat kesal dengan wajah memerah penuh amarah.
Akhirnya seluruh satpam dan seluruh staf rumah sakit tersebut dengan sangat terpaksa mengijinkan Steven Chan dan semua anak buahnya untuk menggeledah seluruh penjuru rumah sakit luas yang berlantai dua itu.
"Ini di mana?" Tanya Cantika. "Ini rumah kamu" Cantika masih bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah besar berlantai satu dengan halaman yang sangat luas dan terdapat banyak pohon buah di sana yang masih nampak berbunga di musim semi.
"Ini rumah darurat milikku. Aku membelinya tanpa sepengetahuan Papaku dan daerah sini daerah tersembunyi.Susah sinyal. Jadi, aman untuk kita bersembunyi sementara dari Steven Chan"
"Kenapa kamu tidak langsung membawaku kemari kemarin?"
"Kau tahu sendiri, kan, jaraknya sangat jauh dari kota"
"Ooooooo. Di mana dapurnya?"
"Di sana. Ayo aku tunjukkan" Dito menggandeng tangan Cantika dan pria itu mengulum senyum senang saat ia melirik Cantika membiarkannya.
"Ini dapurnya dan ........." Dito tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu Cantika.
Cantika sontak memeluk pinggang Dito dan menempelkan punggung tangannya ke kening Dito, "Astaga! Badan kamu panas banget"
"Kenapa dingin banget?" Dito memeluk erat pinggang Cantika.
Angga yang tengah memberikan pengarahan anak buahnya di depan bangunan rumah di halaman belakang, sontak melesat berlari masuk ke dalam bangunan utama.
"Ada apa? Bos kenapa?" Angga menarik Bosnya, menggelungkan tangan Dito di leher, lalu memapah Dito dengan pelan menuju ke kamar.
Cantika mengekor sambil berkata, "Dia tiba-tiba rebah di bahuku dan waktu aku sentuh keningnya, panas banget dan tubuhnya gemetar kedinginan"
"Sial! Bos terlalu lama duduk dalam perjalanan jauh ini. Dan Ini semua karena kamu. Kalau Bos nggak tertembak, Bos bisa melawan The Black Shadow dengan mudah tanpa harus melarikan diri ke sini"
"Maaf!" Cantika mengekor sambil menundukkan wajahnya.
Angga merebahkan Dito dengan pelan di ranjang dan Cantika langsung berkata, "Aku tahu caranya menangani pasien demam.Tinggalkan aku dan Dito! Kamu selesaikan dulu perkejaan kamu"
"Oke. Tapi, jangan memperparah kondisinya Bos!"
"Iya, iya! Aku beneran tahu cara meredakan demam dengan mudah"
Setelah mengompres kening dan tengkuk Dito dengan air hangat beberapa kali dan dirasa demam di tubuh Dito sudah mereda, Cantika berkata ke Dito dengan lembut, "Kamu harus minum obat kamu. Tapi, kamu harus makan dulu. Aku buatkan makanan sebentar untuk kamu, ya?"
Dito mengangguk pelan.
__ADS_1
Cantika langsung berlari keluar dari dalam kamar itu dan langsung melesat ke dapur.
Sesampainya di dapur, Cantika menuju ke lemari es dua pintu dan saat ia membuka lemari es itu, ia tercengang, "Wah! Banyak sekali bahan makanan dan buah-buahan di sini?"
Cantika kemudian tertegun di depan. lemari es sambil bersandar ke pintu lemari es yang terbuka dengan bergumam, "Aku, kan, nggak bisa masak. Sial! Kenapa aku bilang mau masak tadi. Emm, apa masak sop ayam aja yang simple dan masak nasi. Kalau masak nasi pakai rice cooker aku sih jago, hihihihi"
Cantika lalu mengambil beberapa lembar daging ayam fillet, lalu mengambil dua buah wortel, satu buah tomat, dan memasukkannya ke dalam panci. Setelah menutup pintu lemari es, dia meletakkan panci berisi ayam, wortel dan tomat yang di wastafel untuk ia cuci dan potong-potong nanti, setelah ia menanak nasi
Setelah menekan tombol cooking di rice cooker, ia menuju ke wastafel untuk mulai mencuci ayam dan sayuran. Dia meletakkan semua bahan itu di atas meja dan mengambil bawang Bombay, mengupasnya, mencuci dan saat ia meletakkan bawang bombay itu di talenan, ia bergumam, "Bentuk potongannya seperti apa, ya? Mama! Kenapa aku selalu malas belajar masak sama kamu, hiks, hiks, hiks. Aku nggak tahu cara motong semua ini. Huaaaaaaa!!!!!" Cantika berteriak kesal dengan cukup keras.
Dito di kamar sontak bangun karena terkejut dan pria tampan itu langsung melepas kain dari kening dan tengkuknya sambil mendengarkan lebih seksama suara yang dia dengar barusan berasal dari mana.
"Lalu, Cantika memotong bawang Bombay dengan asal dan mengeluarkan suara yang cukup keras juga, karena ia memotongnya dengan kesal. Kesal pada dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa soal masak memasak.
Cantika lalu mengisi panci dengan air dan merebusnya. Dan sambil menunggu air itu mendidih, dia menatap wortel yang ada di talenan dan sambil melotot ke wortel itu, ia berkata, "Kau mau aku potong model gimana? Panjang atau kotak-kotak? Arrrgghhh! Kenapa memasak sop aja bikin kepalaku pusing"
Akhirnya dengan kesal, Cantika memotong-motong wortel berbentuk kotak-kotak kecil dan kembali membuat berisik, glodhak, klunthing, dia menjatuhkan talenan kecil dan pisau kecil di lantai. Lalu, terdengar suara, dok, dok, dok, dok! Saat ia memotong-motong wortel.
Saat ia menoleh dan melihat air di panci sudah mendidih, dia memasukkan bawang Bombay, lalu saat ia memasukkan potongan ayam fillet ke dalam, ia berteriak sangat kencang karena tangannya terciprat air mendidih, "Aduh! Panas banget! Sakit, sakit, Sakiiitttt!!!!!"
"Kau mau masak atau mau latihan beladiri di sini? Dari tadi teriak-teriak dan menimbulkan suara berisik. Lalu, astaga! Kau mau meledakkan dapurku? Kenapa berantakan sekali dan kenapa kau nyalakan apinya sebesar itu? Minggir!" Dito sontak berlari ke kompor untuk mengecilkan apinya.
Cantika minggir ke pojokan dan menatap Dito dalam diam.
Dito lalu mengaduk isi panci untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Lalu, ia menoleh ke Cantika, "Bawangnya enggak kamu tumis dulu?"
Cantika menggeleng dalam diam.
"Kau tidak bisa masak, ya?"
Cantika mengangguk dalam diam dan Dito langsung menepuk jidatnya sambil berkata, "Astaga! Gagal sudah impianku mendapatkan Istri yang cantik, putih dan pinter masak"
"Kalau gitu, nikah aja sama Rice Cooker" Ucap Cantika dengan nada dingin dan wajah cemberut.
Dito hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Tunggulah di ruang makan. Aku yang akan masak"
"Kau bisa masak?" Cantika bertanya dengan ekspresi kaget
"Hmm. Sebenarnya aku heran saat ini. Yang jadi pasien sebenarnya siapa? Yang harus bed rest siapa?"
"Hei! Aku sudah berniat memasak dan sudah berusaha"
Dito diam tidak menyahut dan Cantika langsung berjalan menuju ke ruang makan sambil bergumam, "Kenapa sikapnya sulit sekali ditebak. Dengan gampangnya dia marah, senyum, ketawa, dan marah lagi. Dasar cowok gila!"
__ADS_1