
Keesokan harinya, di jam setengah empat pagi, Cantika membuka mata dan langsung menopang kepalanya dengan telapak tangan yang bersiku di atas bantal untuk memandangi wajah Dito. Lalu, dengan tangan kiri, dia menyentuh pelan alis Dito yang ada di sebelah kanan, lalu turun ke bulu mata dan bergumam lirih, "Sial! Kenapa bulu mata dia lebih lentik dan tebal daripada bulu mataku? Dia pantasnya jadi dancer bukan polisi atau mafia dengan bulu mata setebal dan secantik ini, hihihihi" Kemudian, jari telunjuk wanita cantik itu menyusuri hidung Dito, "Dia juga punya hidung lancip yang sempurna"
Setelah cukup lama memandangi wajah tampan kekasihnya itu, Cantika mengecup pipi Dito dan saat ia hendak bangkit bangun, Dito tersenyum dan langsung menarik wanita cantik itu untuk ia rebahkan di atas tempat tidur.
"Kyaaaaa! Apa yang kau lakukan?!" Cantika berteriak dan segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan saat tubuh Dito berada di atas tubuhnya dan wajah Dito berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Kenapa kau menutup mulut kamu?"
"Aku belum sikat gigi. Lepaskan aku! Aku mau sikat gigi dan bikin sarapan dulu"
Dito menarik kedua tangan Cantika untuk ia naikkan di atas kepalanya wanita itu dan langsung berkata, "Kamu harus bertanggung jawab karena sudah memandangi wajahku dan menggumamkan kata-kata aneh tadi"
"Kata-kata aneh apa?" Cantika langsung mengulum bibirnya karena dia masih belum percaya diri membuka mulut lebar-lebar di saat ia belum gosok gigi.
"Soal bulu mata cantik dan dancer?"
"Pfftttt!" Cantika yang masih mengulum bibir sontak menahan tawa.
Dito langsung menggelitik pinggang kiri Cantika dengan tangan kanannya yang bebas sambil berkata, "Kau bahkan berani menertawakan aku, hah?!"
"Dito! Lepaskan aku! Geli! Hahahahahaha! Iya, aku minta maaf, lepaskan aku! Jangan gelitikin lagi, Dito!"
Dito langsung menghentikan gelitikannya untuk bertanya, "Sejak kemarin, aku dengar kamu manggil aku, Dito, Dito, Dito. Nggak pakai sebutan Kakak. Kenapa?"
"Karena kamu bukan Kakak aku lagi. Kamu sekarang adalah pacarku"
"Benarkah? Begitu, ya? Lalu, siapa yang sudah mengakui kamu sebagai pacarku? Emang kita udah jadian? Kapan kita udah jadian?" Dito menatap wajah cantik kekasihnya itu dengan sorot mata jahil.
Cantika sontak mendelik, "Hei! Kamu sudah membuka segelku. Kamu sudah nyatakan cinta ke aku dan Aku sudah katakan cinta ke kamu. Bukankah itu artinya kita sudah menjadi sepasang kekasih sekarang ini? Dito! Apa maksud kamu, apa kau....... hmmpppt!"
Dito langsung membungkam bibir Cantika dengan bibirnya saking gemasnya melihat ekspresi imut di wajah cantik kekasihnya itu.
Dito mencium bibir Cantika dengan penuh damba. Bibir itu sudah menjadi candu bagi bagi seorang Dito Zeto. Di dua detik awal, Dito melakukan single kiss, ia menghisap bibir wanita itu, lalu mengubahnya menjadi French kiss yang melibatkan lidah. Pria tampan itu terus menghujamkan lidahnya kemudian mengajak lidah lembut Cantika berdansa dengan lidah liarnya.
Cantika mengerang dan melenguh pasrah hingga akhirnya wanita itu harus membuka mata dengan perasaan kesal saat Dito menarik diri.
"Kenapa? Apa yang salah? Aku kurang lihai dalam berciuman atau napasku bau karena aku belum gosok gigi?"
__ADS_1
Dito menjentikkan jarinya di kening Cantika dan saat Cantika mengaduh kaget, Dito langsung berkata, "Kita harus berhenti di saat kita masih bisa menahan diri. Terutama aku. Aku takut jika aku lanjutkan, maka aku akan menerjang batas dan melanggar prinsipku sendiri" Lalu, Dito melompat turun dari atas ranjang dan sambil berlari kecil keluar dari dalam kamar, Dito berteriak, "Tidurlah kalau kamu masih ngantuk! Aku yang akan bikin sarapan. Lagian masakan kamu nggak enak!"
Cantika merasa tersinggung dengan ucapan Dito yang mengatakan kalau masakannya tidak enak. Wanita cantik itu langung bangun dan melompat dari atas ranjang untuk mengejar Dito sambil berteriak, "Kita lomba aja kalau gitu!"
Dito tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang untuk bertanya, "Lomba apa?"
"Bikin sarapan. Tapi, nggak boleh sama masakannya" Cantika mengangkat kedua alisnya ke atas dengan wajah menantang.
"Oke. Lalu, kamu mau masak apa?" Tanya Dito.
"Nasi goreng"
"Oke. Aku akan masak omelet aja biar cocok kalau digabungkan dengan nasi goreng. Seperti kita yang cocok kalau digabungkan, hehehehe"
Cantika langsung terkekeh geli mendengar selorohannya Dito itu.
Beberapa menit kemudian dapur di rumah Dito menjadi sangat berisik di jam empat pagi. Cantika yang memang tidak pernah masuk dapur, menguleg bumbu nasi goreng di atas cobek yang terbuat dari batu alami dengan kesal sehingga menimbulkan suara yang sangat berisik.
Dito melirik Cantika dan sambil menggoreng omeletnya, Dito berkata, "Kalau kamu nguleg bumbu dengan cara memukul-mukul cobek kayak gitu, kapan halusnya, tuh, bumbu"
Dito hanya bisa menghela napas panjang lalu diam membisu.
Setengah jam kemudian, Cantika menyajikan nasi goreng hasil masakannya dan Dito yang sejak lima belas menit yang lalu duduk di depan meja makan langsung berucap, "Yeeeaayy! akhirnya jadi juga masakannya Cantika"
"Hmm! Nggak usah lebay! Ayo buruan cicipi!"
Dito langsung meringis dan bertanya dengan hati-hati, "Kalau aku makan nasi putih dan omeletku aja, boleh, kan?" Saat pria tampan itu melihat nasi goreng hasil masakannya Cantika berwarna cokelat kehitaman.
"Kenapa? Karena tampilan nasi gorengku nggak oke, jadi kamu ragu mencicipinya? Penampilan tidak menjamin rasanya. Ayo buruan cicipi! Kalau tidak dicicipi bagaimana kita bisa tahu siapa yang menang, Dito?!"
"Tapi, tetap saja itu kelihatan aneh dan.........Hap!" Dito spontan menutup mulutnya saat satu sendok nasi goreng berhasil diloloskan oleh Cantika masuk ke dalam mulutnya.
Dito lalu menarik keluar sendoknya dan mengunyah nasi goreng yang ada di dalam mulutnya dengan ekspresi aneh.
"Gimana, enak, kan? Kenapa ekspresi kamu aneh? Nggak enak, ya?"
"Kamu cicipi dulu omeletku! Baru lah kita kasih penilaian ke masakan kita masing-masing" Dito tersenyum lebar.
__ADS_1
Cantika langsung memasukkan secuil omelet ke dalam mulutnya dan spontan berkata, "Ini enak banget, Dito!"
"Aku tahu. Aku sudah mencicipinya tadi. Sekarang kau cicipi sendiri nasi goreng kamu!"
"Aku makan nasi putih dengan omelet saja. Kamu yang habiskan nasi gorengnya" Sahut Cantika dengan ekspresi tak berdosa dan Dito sontak mendelik dan menggeram kesal, "Cantika Putri Baron!"
Setelah menyelesaikan sarapan, Cantika bangkir berdiri untuk duduk di atas pangkuannya Dito.
Dito sontak menautkan kedua alisnya, "Kau mau apa, Babe?"
Kasih hadiah sang juara. Masakan kamu lebih enak dari masakanku. Cantika lalu mengajak Dito berciuman dan berhenti untuk bertanya, "Kita harus segera bersiap dan pergi ke camp"
Dito mengusap pipi Cantika dan berkata, "Kamu balik ke camp dulu! Kalau kita balik ke camp secara bersamaan, nggak enak sama yang lainnya"
"Kamu nggak ingin mereka tahu kalau kita sudah jadian, ya?"
"Saatnya belum tepat. Mama Tari belum memberikan restu. Kalau Mama Tari tahu kita mendeklarasikan hubungan kita di saat restu belum kita dapatkan, Mama Tari akan kecewa dan sedih. Aku nggak ingin melihat Mama Tadi sedih dan kecewa"
"Oke. Aku setuju. Nanti, pas off day aku akan pulang ke rumah dan membujuk Mama untuk menyetujui hubungan kita"
"Hmm" Sahut Dito.
"Aku mandi dulu"
"Hmm" Dito tersenyum penuh cinta ke Cantika.
Satu jam kemudian, Dito sampai di camp dan saat ia memimpin apel pagi, pria tampan itu celingukan karena ia tidak menemukan Cantika di dalam barisan. Dito langsung menoleh ke Baskara, "Di mana Cantika?"
"Lho, bukankah kemarin Cantika merawat kamu? Aku kira kalian akan datang bareng"
"Jadi, dari tadi Cantika belum sampai sini?" Dito mulai panik.
"Belum" Sahut Baskara dengan ekspresi wajah yang mulai panik.
Tiba-tiba telepon genggamnya Dito berbunyi cukup nyaring dan saat Dito mengangkat panggilan masuk dari nomer tak dikena itu, terdengar suara seorang wanita, "Datang ke sini sendirian kalau kamu ingin pacar kamu selamat, Dito Zeto. Alamatnya akan aku kirim via pesan text setelah ini" Dan terdengar bunyi klik, tanda panggilan telepon itu telah diakhiri.
Dito sontak berlari meninggalkan aula dengan wajah panik dan merah padam penuh amarah setelah ia menatap layar ponselnya dan mengabaikan teriakannya Baskara yang terus memanggil-manggil namanya.
__ADS_1