Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Kamar Asing


__ADS_3

Amanda ditaruh di jok paling belakang dari mobil Van berwarna putih. Situasi di sekitar rumah dinas pamannya Amanda yang sepi di siang menjelang sore hari itu memudahkan ketiga laki-laki asing tersebut untuk membawa Amanda pergi dari sisinya Barnes.


Sang supir melongok ke rear mirror-vision dan segera menyemburkan protes ke temannya, "Kenapa kau bawa juga akuarium mungil itu?"


"Ini tadi ada di dekat kopernya Nona jadi, aku bawa juga. Siapa tahu penting"


Sang supir hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan temannya yang duduk di sebelah jok kemudi terkekeh geli dan berkata, "Kalau saja ranjangnya bisa dibawa, dia akan angkat dan bawa juga ranjangnya"


Laki-laki yang memangku akuarium mini milik Amanda hanya bisa mendengus kesal mendengar celotehan temannya.


"Sial!" Barnes langsung berlari ke kamar tempat Amanda menjalin mimpi dan melongo saat ia mendapati istrinya tidak ada di atas ranjang dan tidak ada di seluruh penjuru kamar itu. Barnes dengan cepat berbalik badan dan berlari ke kamar mandi. Dia mengernyit ketika ia mendapati kamar mandi kosong.


Barnes melangkah kembali ke ruang makan dengan napas menderu dan wajah pucat karena panik.


"Ada apa? kenapa wajahmu sepanik itu?" tanya Jake yang telah bangun dari pingsannya namun, masih berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi pelipisnya karena, pening yang sangat hebat masih mendekapnya.


"Di mana Istriku? dia nggak ada di kamar dan tidak ada di kamar mandi"


"Jude coba kau lihat di teras belakang! Jorge kau tengok teras depan dan Joy, kau coba tanya ke Mak Lampir di mana si rambut merah!" ucap Jake dengan cepat sambil sesekali mendesis karena rasa pening yang begitu hebat masih berdenyut di kepalanya.


Barnes menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa mual yang ia rasakan karena tanpa berpikir panjang ia berlari cepat karena mengkhawatirkan Amanda, di saat pening masih bersemayam kepalanya dan hal itu memberikan efek mual yang cukup parah di menit berikutnya. Barnes bergegas berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana.


Ketika Barnes keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap mulutnya dengan punggung tangannya, Joy dan Jude menatapnya dan berkata dengan kompak, "Nyonya sepertinya hilang"


"Nggak mungkin!" Barnes kembali diserang rasa panik.

__ADS_1


Jake menepuk-nepuk pelan pundaknya Barnes lalu berucap, "Tenanglah! mungkin si rambut merah sedang berbelanja ke pasar dan........."


"Nggak! itu nggak mungkin. Amanda sangat ketakutan tadi setelah kejadian pengeroyokan di warung bubur ayam jadi, dia nggak mungkin berani keluar rumah sendirian" Barnes menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sial! kau benar Brother" Sahut Jake.


"Berarti Nyonya beneran hilang?" sahut Jude.


"Kenapa kita bisa tertidur secara bersamaan" celetuk Jordy.


"Sial! bawa kemari dua wanita menyebalkan itu! aku akan interogasi mereka" Barnes duduk dengan wajah memerah karena geram.


Jordy segera berbalik badan untuk menarik keluar Tante dan sepupunya Amanda dari dalam kamar. Beberapa menit kemudian, Tantenya Amanda dan Laura duduk di depannya Barnes dengan keringat dingin yang secara perlahan membasahi tengkuk mereka. Mereka tidak berani menatap Barnes.


"Yon, kau cek makanan yang kita makan tadi dan minumannya! Aku curiga ada hal aneh di dalam makanan dan minuman yang kita makan tadi"" perintah Barnes ke Leon


The five Jays dan Barnes menyorot kedua wanita menyebalkan yang mereka endus memiliki andil di balik pingsannya mereka semua dan di balik hilangnya Amanda.


"Katakan di mana Istriku!"


"A....aku tidak tahu" sahut Tantenya Amanda dengan masih menundukkan wajah cantik nan sadisnya Perempuan di depannya Barnes memang memiliki karakter wajah yang bengis seperti nenek sihir di cerita dongeng dan itu mewakili kebusukkan yang ada di dalam hatinya.


"Kau mengaku saja dan aku akan memberikan keringanan hukuman untukmu dan putrimu itu. Atau kau akan pilih pilihan kedua, aku akan bawa kau ke markasku dan aku akan cek kebenaran cerita kalian lewat lie detector?" Barnes masih mengarahkan tatapannya secara tajam ke Tantenya Amanda yang masih menautkan tangan di atas meja dan masih menundukkan wajah sadisnya.


Tantenya Amanda memberanikan diri untuk mengangkat wajah lancipnya secara perlahan dan ketika ia bersitatap dengan sorot mata tajamnya Barnes, dia menundukkan wajahnya kembali dan berbisik pelan, ,"A....apa yang terjadi jika kita diperiksa dengan alat itu, lie detector?"

__ADS_1


"Simple aja. Jika alat itu menyatakan kalian berbohong maka aku akan menyiksa kalian karena kalian telah berani membuat kami pingsan dan menyebabkan Amanda hilang" Barnes mulai menyatukan gerahamnya dan terdengar suara gertakan gigi yang cukup menyeramkan di kedua telinga Tantenya Amanda.


"Tuan, makanan dan minumannya mengandung zat kimia GHB yakni obat tidur yang sangat kuat dan berbahaya. Beruntung kita semua memiliki fisik yang kuat jika tidak, kita bisa berada di ujung maut" sahut Leon sambil terus menatap tajam Tantenya Amanda dan Laura.


"See! Obat tidur itu tidak mungkin berjalan masuk ke dalam rumah ini dengan sendirinya dan aku lihat tadi, tidak ada orang asing yang masuk ke sini jadi, mengakulah!" pekik Barnes dengan amarah yang meledak.


Laura mengangkat wajahnya dan menatap Barnes dengan kata, "Kami juga terdiri tadi. Tanya ke anak buah kamu tuh!"


Barnes menoleh ke Joy dan Joy langsung membuka mulut, "Kalian memang kedapatan tidur di atas meja di kamar kalian tadi"


"See!" pekik Laura dengan wajah tanpa rasa takut dan tanpa rasa bersalah.


Barnes masih menatap Joy dan Joy kembali membuka mulut, "Tapi, makanan yang kalian makan lain. Kalian memakan mie instant dan minuman kalian pun lain. Kalian minum air putih"


Barnes langsung mengalihkan pandangannya ke Laura dan bangkit, "Seret mereka ke markas!"


"Tung......tunggu!" pekik Tantenya Laura


Laura mulai menangis dan badannya gemetar ketakutan begitu pula dengan Tantenya Amanda namun, air mata di kedua pelupuk mata Tantenya Amanda kalah dengan tekadnya untuk menyelamatkan hidup dia dan putrinya.


"Tidak ada kesempatan lagi untuk kalian. Seret mereka!" Barnes berteriak penuh dengan amarah.


Tantenya Amanda dan Laura menjerit ketakutan dan memohon untuk dilepaskan namun, Barnes tidak menggubrisnya.


Amanda terbangun di sebuah kamar yang sangat mewah. Dia segera bersyukur kepada Sang Khalik yang masih menganugerahkan napas hidup dan kesehatan untuknya. Amanda langsung terduduk di atas kasur super mewah itu dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar luas nan mewah bernuansa merah maroon itu. Amanda mengernyit saat ia bersitatap dengan sebuah foto keluarga yang terpasang di tembok kamar itu.

__ADS_1


"I.....itu Mama. Lalu siapa laki-laki dan siap bayi mungil berambut merah yang berada di dalam gendongan Mama itu? Apa itu adikku?" Amanda lalu mendesis karena saat ia mencoba untuk berpikir lebih keras, rasa pusing yang hebat langsung mencengkeram kepalanya.


"Kamar asing ini, kamar siapa?" bisik Amanda ke dirinya sendiri.


__ADS_2