Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Permainan Mengerikan


__ADS_3

Leon tampak panik saat ia berlari melintasi Amanda Dan Bryna yang masih asyik bertukar pikiran tentang cinta.


"Tunggu!" Teriakannya Bryna menahan langkah lebarnya Leon.


Leon menoleh, "Ada apa Non?"


"Lho! Aku yang seharusnya nanya. Kamu kenapa panik seperti itu?"


"Tuan Barnes dan Tuan Duscha hilang. Sudah tiga hari ini"


"Hah?!" Bryna dan Amanda ternganga sembari bangkit secara bersamaan.


"Saya akan membantu the five Jays mencari keberadaannya Tuan Barnes dan Tuan Duscha"


"Aku ikut!" Amanda dan Bryna memekikkan kata yang sama secara kompak.


Leon langsung menggelengkan kepalanya dengan kencang, "Nggak! Anda berdua harus tetap di sini. Karena di luar sangat berbahaya"


"Aku bisa sedikit bela diri Systema dan bisa menggunakan pistol. Aku bahkan dikasih pistol sama Kak Duscha. Jadi, aku bisa membantu kalian. Nih, pistolnya ada di dalam tas selempangku" sahut Amanda sembari menepuk tas selempang yang masih tersampir di pundaknya.


"Aku pemegang sabuk tertinggi taekwondo jadi, aku rasa, aku juga bisa membantu kalian" Sahut Bryna sambil menarik pergelangan yang Amanda untuk berlari menuju ke helikopter, mendahului Leon.


Leon hanya bisa menggelengkan kepala dan bergumam, "Maafkan saya Tuan Barnes kalau saya gagal menjinakkan dua singa betina titipannya Anda" Lalu Leon berlari kencang menyusul Amanda dan Bryna.


Leon langsung mengudarakan helikopter milik Barnes dan menuju ke lokasi tempat menghilangnya Duscha Igor dan Barnes Adiwilaga Darmawan.


Leon, Amanda dan Bryna langsung menyusun rencana setelah mereka berhasil bertemu dengan the five Jays karena, Duscha dan Barnes telah menghilang selama tiga hari.


Sementara itu di sebuah kamar yang berantakan dan terasa pengap juga lembab, Barnes membuka kedua kelopak matanya dengan pelan dan menyipitkan matanya untuk menangkap keadaan yang ada di depan matanya. Barnes kemudian menunduk dan mendapati dirinya terikat di atas bangku yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


Lalu suaminya Amanda Igor itu, menoleh ke samping kirinya. Dia lega melihat Duscha Igor masih bernapas walaupun keadaannya sama seperti dirinya, terikat di atas bangku yang terbuat dari kayu.


"Hei! Bangun!" Barnes berteriak kencang ke arah Duscha untuk membangunkan kakak iparnya. Barnes lalu mengumpat, "Sial! Kenap aku lupa siapa namanya? Hei! Bangun,hei!!" Barnes kembali berteriak kencang ke arah Duscha.


Duscha lalu mengangkat kepalanya yang tertunduk lemas dengan pelan-pelan dan menoleh ke kanan sambil membuka kedua kelopak matanya secara perlahan. Kemudian dengan suara lemas, ia melempar protes, "Kenapa memanggilku hei, hei? Aku punya nama"


"Karena aku nggak mau mengingat nama kamu" Sahut Barnes dengan santainya.


"Kenapa? Bagaimanapun, aku ini adalah kakak ipar kamu"


"Karena kamu sudah lancang kasih mawar putih ke Istriku" sahut Barnes dan wajahnya mulai tampak kesal.


"Hahahaha, kau lucu. Aku ingatkan lagi kalau gitu, namaku Duscha Igor. Duscha" sahut Duscha dengan wajah tak kalah kesalnya.


"Hmm" Sahut Barnes dengan acuh tak acuh.


Duscha terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Barnes masih saja acuh tak acuh terhadapnya.


"Mana aku tahu" Sahut Barnes.


"Hanya ada satu cara agar kita bisa lepas dari ikatan ini" Duscha mengangkat salah satu alisnya ke atas.


"Aku tahu. Kita salto dan benturkan bangku ini ke lantai


"Yupz, bingo! Cerdas sekali kau. Aku duluan ya"


Dan saat Duscha hendak melakukan salto untuk membenturkan bangku kayu ke lantai, pintu kamar tempat ia dan Barnes disekap, tiba-tiba terbuka lebar dan seorang wanita yang sangat cantik dan seksi melangkah masuk dengan gemulai menuju ke Duscha dan Barnes.


Kedua laki-laki tampan itu saling bersitatap lalu mengarahkan pandangan mereka ke depan dengan serentak untuk menatap sosok wanita seksi dan cantik yang berdiri menjulang di depan mereka. Wanita itu lalu berjongkok di depan Barnes dan Duscha dan bertanya, "Siapa diantara kalian yang bernama Barnes?"

__ADS_1


Barnes hendak membuka mulutnya, namun keduluan oleh Duscha. Duscha berkata lantang, "Aku. Aku yang bernama Barnes. Barnes Adiwilaga Darmawan" Barnes dan Duscha kembali bersitatap dan Barnes langsung mendelik ke Duscha ada tanya tersirat di kedua bola matanya Barnes, kenapa Duscha mengaku bernama Barnes. Dan Duscha memberi isyarat ke Barnes agar Barnes tetap tutup mulut.


"Hahahahaha. Tidak masalah jika aku tidak menemukan yang mana Barnes yang asli karena, aku akan memisahkan kalian berdua ke kamar yang berbeda. Bawa mereka!" perintah wanita itu ke anak buahnya, sembari bangkit dan tersenyum penuh arti ke Barnes dan Duscha.


Barnes dan Duscha dimasukkan ke dalam kamar yang berbeda dan di dalam kamarnya Duscha ada seorang wanita muda yang duduk di tepi ranjang tersenyum ke Duscha dengan penuh arti.


Duscha mengumpat kesal saat ikatan tangannya dilepas dan dia ditinggalkan di kamar itu bersama dengan wanita asing dalam posisi pintu terkunci rapat. "Apa maksud dari semuanya ini? Siapa kau?"


"Saya ditugaskan untuk menyiksa Anda secara fisik sampai Anda mengaku siapa Anda yang sebenarnya dan sampai Anda menjadi tidak berdaya lalu sekarat, barulah kita akan membuang Anda ke jalanan. Kita akan bermain narkoba dan bermain-main di sini" Wanita itu menepuk ranjang yang ia duduki, "Bermain dengan sangat liar"


"Sial! Aku tidak sudi memakai narkoba yang ada di meja itu dan aku tidak sudi bermain-main dengan kamu.Hatiku sudah ada yang punya dan ......."


"Saya tidak peduli, Tuan tampan. Kalau Anda tidak mau memakai narkoba itu, maka saya yang akan memakaikannya ke Anda"


"Cih! Kau hanya seorang wanita lemah. Kau tidak akan bisa mengalahkan aku" sahut Duscha dengan senyum mengejek


"Benarkah?" Wanita itu menyeringai penuh arti ke Duscha sembari bangkit dan melangkah mendekati Duscha.


Hal yang sama terjadi pada Barnes dan Barnes mulai bergidik ngeri saat wanita cantik dan seksi yang tadi membawanya ke kamar yang baru dan lebih bagus itu terus mendekati dirinya yang terus berdiri tegak dengan tangan yang masih terikat di belakang.


Wanita itu terus melangkah mendekati Barnes yang terus melangkah mundur menjauhi wanita itu. Wanita itu kemudian membuka mulut untuk berkata, "Aku akan membuat kau mengaku kalau kau adalah Barnes Adiwilaga Darmawan dan aku akan memuaskan kamu dalam permainan yang asyik sampai kau sekarat lalu kita akan membuangmu ke jalanan"


Barnes lalu teringat akan kancing kemejanya yang selalu dipasangi oleh Leon alat pelacak. Barnes menghentikan langkah mundurnya lalu berkata, "Baiklah. Aku akan menuruti permainan kamu tapi sebelumnya, tolong buka dulu kemejaku! Aku kegerahan"


Wanita itu tersenyum senang lalu ia mendekati Barnes dan sambil berkata, "Dengan senang hati, tampan" Dia membuka kancing kemejanya Barnes satu per satu dengan senyum seksinya dan klik, sinyal keberadaannya Barnes terkirim ke Leon.


Leon langsung memekik girang, "Tuan Barnes sudah ketemu. Kita ke lokasi sekarang!"


The five Jays langsung berlari mengikuti Leon.

__ADS_1


Amanda dan Bryna bersitatap dan saling melempar senyum lega. Kedua wanita cantik itu kemudian berlari mengikuti the five Jays dan Leon untuk menyelamatkan Barnes dan Duscha.


__ADS_2