
Cantika yang tidur miring terus bergumam, "Sial! Kenapa aku harus berakhir di sini dengan Tarzan kota yang super gila ini"
"Apa yang kau gumamkan?" Dito memeluk pinggang Cantika.
Cantika langsung memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Dito menyeringai di atas pucuk kepalanya Cantika dan dia pun memejamkan mata.
Cantika sengaja bangun di pagi buta. Dia ingin mandi sebelum pria aneh yang menculiknya, bangun.
Cantika mengangkat pelan lengan Dito, lalu turun dari tempat tidur dengan sangat pelan. Dia berusaha keras agar pergerakannya tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Setelah berhasil menapak lantai tanpa bersuara, Cantika menoleh ke belakang dan tersenyum, "Bagus. Tarzan kota itu masih ngorok" Cantika lalu berlari ke shower dan dengan santainya ia melepas baju dan mandi.
Cantika tidak mengetahui kalau seorang Dito Zeto, tidak pernah benar-benar tertidur. Dito terbiasa tidur dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Suara sekecil apapun atau gerakan semulus apapun, bisa ia dengar dan rasakan. Dito membuka kedua matanya dan melihat jam dinding, "Di jam dua dini hari begini, ngapain dia mandi?" Gumaman Dito itu, hampir tidak mengeluarkan suara.
Dito menyibak selimut dan melangkah turun dari ranjang dengan sangat pelan. Setelah kedua kakinya menapak lantai, ia menyeringai penuh arti lalu berjalan menuju ke shower dengan santai.
Dito menghentikan langkahnya persis di belakang Cantika. Ia mengamati Cantika mulai dari ujung rambut, agak lama menyusuri punggung polosnya Cantika, dan cukup lama menatap pantat yang indah. Lalu, pandangannya terus turun sampai ke kaki telanjangnya Cantika. Tanpa Dito sadari ia berkata, "Perfect"
Cantik tersentak kaget dan sontak ia berbalik badan. Bulu mata panjang yang ada di kedua kelopak mata Cantika sontak terangkat dan untuk menyembunyikan kecanggungannya, Cantika kemudian melotot dan berkata, "Bagaimana tubuhku menurut kamu?"
Gila! Kenapa aku justru bertanya seperti itu? Cantika langsung mengutuk kebodohannya itu di dalam hatinya.
Dito melangkah mendekat, cukup dekat sehingga dapat merasakan kehangatan tubuh ramping dan indahnya Cantika. Dito juga bisa merasakan getaran ketegangan yang terpancar di wajah dan sekujur tubuh Cantika.
"Kau jangan menggoda seekor Singa yang sudah lama tertidur dan jangan memancing keingintahuan pria yang belum pernah melihat hal ini sebelumnya" Dito tersenyum penuh arti di depan Cantika.
Cantika langsung menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik untuk mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk menutupi tubuh polosnya, namun dia tidak dapat menemukan apapun. Dia menyesali tindakan gegabahnya membuang asal bajunya dan kini ia melihat bajunya nyangkut di atas toilet yang letaknya cukup jauh dari tempat ia berdiri saat ini.
"Aku akan menciumku, Can. Aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku secepatnya"
__ADS_1
Cantika menatap Dito dengan menantang, "Aku akan mengizinkannya. Karena aku tahu pasti, aku nggak akan terpengaruh dengan ciuman kamu. Aku juga nggak akan pernah jatuh cinta padamu!"
Dito langsung memagut bibir Cantika. Ciuman itu begitu lama, sampai Dito tidak tahu bagaimana harus mengakhirinya.
Tanpa Dito duga, Cantika mendorong keras dada Dito dan saat ciuman mereka berdua terlepas, Cantika melangkah pongah melewati Dito sambil berkata, "Ciuman kamu tidak memengaruhi aku sama sekali"
Dito yang merasa terhina dengan ucapannya Cantika, langsung menarik lengan Cantika Samapi kening Cantika membentur dada bidangnya Dito.
Dito memeluk erat tubuh polosnya Cantika dan berucap geram, "aku, Cantika Putri Baron, memang pengalih perhatian yang hebat"
Cantika mendongak dan menatap Dito tanpa rasa takut, "Dan kau, orang gila yang tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau mau dariku"
Dito bisa merasakan debaran jantungnya Cantika, lalu ia bertanya, "Debaran jantung ini, debaran apa? Apa yang kau rasakan saat ini? Suka padaku? Atau takut?" Dito membelai rambut Cantika.
Cantika kembali mendorong keras dada Dito dan dia langsung berbalik badan untuk berlari ke kamar ganti. Dia langsung mengunci pintu kamar ganti itu. Dengan terengah-engah ia bersandar di pintu dan berkata, "Kenapa jantungku berdebar kencang tadi? Dasar jantung pengkhianat. Kenapa kau berdebar tadi?" Cantika mengelus-elus dadanya.
Dito langsung melangkah maju dan saat ia berada di bawah shower, Dito menyalakan shower dan membiarkan air dingin membasahi kepalanya.
Dito langsung masuk ke kamar ganti untuk berganti baju. Beberapa menit kemudian, Dito keluar dari kamar ganti dan langsung melompat ke ranjang untuk mengambil telepon genggamnya yang berdering sangat nyaring. "Halo?"
"Bos. Kita harus ke kota X. Ada pembukaan kelab malam kita yang baru di sana dan Anda selalu putra CEO, harus hadir"
"Oke. Siapkan private jet. Aku akan segera keluar"
"Baik, Bos"
Dito menuju ke balkon dan langsung berkata, "Kau harus ikut"
Cantika terkejut dan langsung bangkit berdiri. Cantika menjawab, "Nggak mau" Tanpa menoleh ataupun berbalik badan untuk menatap Dito.
Dito menggeram kesal, "Kau harus ikut. Kalau kau tinggal sendirian di sini, aku tidak bisa jamin keselamatan kamu"
__ADS_1
Cantika langsung berbalik badan untuk menyemburkan, "Apa maksud kamu?"
"Anak buahku semuanya pria. Di taman timur ada Zimba. Kalau Zimba tidak bertemu denganku beberapa hari, ia biasanya akan menggila karena merindukanku, dan Zimba akan nekat melompat naik ke balkon dan masuk ke kamar ini"
"Sial! Oke, aku ikut" Cantika bersedekap dan berjalan melewati Dito.
Dito mengekor Cantika dan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setengah jam kemudian, Dito dan Cantika sampai di depan mobil Limousine berwarna putih. Dito menatap dingin Cantika dan berkata, "Masuk!"
Cantika mendengus kesal dan terpaksa masuk ke dalam mobil Limousine tersebut.
"Kita akan ke mana?" Tanya Cantika saat mobil mewah itu mulai dijalankan.
"Aku harus menutup mata kamu. Kamu nggak tahan obat bius. Jadi, aku akan menutup mata kamu dengan kain ini"
"Kenapa harus ditutup?"
"Karena rute yang akan kita lalui, tidak boleh diketahui oleh orang luar macam kamu"
"Oke. Tutup saja mataku" Cantika memilih untuk menurut daripada dia dibius dan mendapatkan kejutan yang lain lagi.
Dito menutup mata Cantika dengan kain penuh dengan kelembutan. Lalu ia merangkul bahunya Cantika, meletakkan kepala Cantika di atas bahunya sembari berucap, "Rebahkan kepala kamu bahuku biar tidak pusing dan capek. Kalau mau tidur, tidurlah! Perjalanan kita masih panjang"
"Kenapa kamu lembut begini?"
"Apa ini termasuk lembut?" Tanya Dito dengan nada polos.
"Hmm" Sahut Cantika dengan nada acuh tak acuh.
"Aku senang akhirnya bisa bersikap lembut sama kamu. Karena kamu adalah wanita pertama kali yang aku temui, langsung aku sukai, dan ingin aku jadikan wanitaku satu-satunya untuk selamanya"
__ADS_1
Cantika langsung memegang dadanya dan sontak protes kepada dirinya di dalam hatinya, hei, jantung! Kenapa kau berkhianat lagi, hah?! Kenapa kau berdetak kencang lagi saat ini? Dasar kacau! benar-benar sudah kacau jantungku.