
Seorang pria tampan yang tingginya tidak jauh beda tiba-tiba muncul di depan Cantika.
"Kau siapa?"
"Aku chef pribadinya Dito Zeto. Aku sahabatnya Dito dan sudah merintis bisnis kafe ini dari nol bersama dengan Dito dan Angga. Dito modalnya, aku resepnya, dan Angga tukang promosi" Sahut pria tampan itu.
Ish! Tampan, sih, tampan, tapi, kok, lola. Aku tanya dia siapa,kok, nggak bilang nama malah ngelantur nggak jelas. Cantika terkejut sendiri dengan pikirannya dan pria tampan itu langsung bertanya, "Kenapa kau malah tertawa? Bagian mana dari ceritaku yang terdengar lucu?"
"Nggak ada! Aku cuma ketawa sendiri. Siapa nama kamu?" Akhirnya Cantika bertanya dengan lebih blak-blakan.
"Namaku, Doni. Hanya Doni karena aku yatim piatu dan Bos Dito yang mengangkat aku dari kehidupan mengerikanku waktu aku masih di panti asuhan.
Ish! Pria ini memang suka bercerita. Aku nggak nanya juga. Batin Cantika dan wanita itu kembali terkejut geli dengan sendirinya
"Kamu habis makan apa?" Tanya Doni.
"Kenapa kau tanya begitu?"
"Karena kau ketawa terus dengan sendirinya. Itu tanda-tanda orang salah makan"
"Ish! Ngawur! Aku nggak salah makan. Aku cuma, emm, bersemangat tinggal di sini dan mengenal orang baru yang unik kayak kamu dan Nana. Kalian dia pribadi yang unik. Kamu suka bercerita dan Nana pendiam. Kalian sepasang kekasih, ya?"
"Hah?! Apa kau seorang cenayang?" Doni langsung membeliak kaget.
"Benar berarti? Ah! Aku memang mbahnya cenayang, hahahahahaha" Cantika berucap sambil menepuk bahu Doni.
"Wah! Kau bukan hanya cantik tapi juga pandai meramal" Ucap Doni tanpa memakai bahasa formal. Dia merasa sudah mengenal Cantika selama belasan tahun karena pembawaan Cantika yang santai dan mudah bergaul.
Cantika kembali terkejut geli. Lalu, wanita itu berkata, "Sudah berapa lama kalian berpacaran? Berapa jarak umur kalian?" Ucap Cantika sembari mengikuti langkah Doni menuju ke lantai satu tempat yang dipakai untuk memasak dan membuka kafe di sore hari.
"Baru aja. Baru setahun ini kami berpacaran. Aku lebih tua setahun dari Nana"
"Oh! Tapi, Nana terlihat lebih tua dari kamu. Apa karena dia selalu serius dan nggak pernah senyum?" Bisik Cantika.
Doni tekekeh geli dan berkata, "Nana memang lebih dewasa pemikirannya daripada aku. Itulah kenapa aku jatuh hati padanya. Walaupun dia lebih muda dari aku, tapi dia bisa memberi perubahan positif di hidup aku. Aku bisa lepas dari narkoba juga berkat Nana"
"Wah! Hebat juga dia. Kamu harus segera melamarnya kalau gitu. Wanita seperti itu harus kamu ikat secepatnya lalu kamu pertahankan sampai akhir hayat kamu" Ucap Cantika dengan wajah serius.
"Bagaimana denganmu? Berapa lama kamu pacaran dengan Bos Dito? Jarak umur kalian berapa?"
"Entahlah aku tidak pernah hitung berapa lama aku jadian dengan Dito karena nggak ada kata, kalau kita jadian. Ngalir aja. Kalau jarak umurku dengan Dito cukup jauh. Tapi, ideal kata orang. Aku lebih muda lima atau enam tahun, ya, dari Dito, aku lupa, hehehehe"
"Oh" Sahut Doni sambil mengeluarkan dua macam daging dan dua jenis keju bersama banyak pelengkap seperti, mentimun, daun mint, dua bua lemon, dan lima buah tomat.
__ADS_1
"Kau mau masak apa dengan semua bahan itu?"
"Kau akan lihat nanti" Sahut Doni. "Kau bisa masak?" Tanya Doni kemudian.
"Bisa" Sahut Cantika.
"Masak apa?" Tanya Doni.
"Masak air dan mie instant" Sahut Cantika dengan santainya.
Doni sontak tertawa terbahak-bahak dan berkata di sela tawa renyahnya, "Itu bukan masak namanya"
"Lho, masak itu, kan, menumpangkan sesuatu di atas kompor, kan, lalu menyalakan kompor, kan?"
"Nggak seperti itu juga kali" Sahut Doni sambil membumbui daging sapi dengan irisan lemon, lada, garam, dan sedikit minyak wijen.
"Di kamusku memasak itu,ya, seperti itu" Sahut Cantika dengan santainya sambil menyomot buah anggur dan memakannya.
"Yeah. Terserah kamu saja"
"Kamu mengenal Dito dengan sangat baik, ya?" Tanya Cantika kemudian dengan wajah penuh antusias.
"Iya. Aku, Bos Dito, dan Angga sudah seperti saudara kembar. Kamu saling bantu dan saling curhat. Tidak ada rahasia di antara kami" Sahut Doni sambil memanggang daging sapi yang sudah ia bumbui di atas api sedang.
"Bos Dito tidak pernah bilang dia suka wanita yang seperti apa. Tapi, dia selalu memandangi foto gadis cilik yang ada di dompetnya. Aku rasa itu kau"
"Iya. Benar. Gadis kecil itu aku"
"Ya, berarti cewek yang Bos sukai, ya, kamu. Karena Bos Dito tidak pernah punya cewek sebelumnya"
"Benarkah?" Tanya Cantika dengan wajah riang.
"Iya. Bos Dito tidak pernah berpacaran. Bos hanya berpacaran dengan kamu"
Cantika berasa melambung ke udara mendengar ucapannya Doni.
"Aku merindukan Dito saat ini. Tapi, dia tidak bisa aku telpon dari tadi"
"Bos emang gitu. Kalau dia ada di lapangan, dia mematikan ponselnya" Sahut Doni.
"Oh! Kapan matangnya masakan kamu?"
"Kenapa? Kau sudah lapar?"
__ADS_1
"Hmm. Bersembunyi kayak gini malah membuatku stres dan pengen makan terus"
Doni langung tertawa mendengar ucapan lugasnya Luna.
Setelah melompat turun bersama dengan Angga dan ke sepuluh anak buah pilihannya, Dito menyuruh anak buahnya menyebar. Lalu, ia dan Angga melangkah masuk ke bagian bangunan yang lembab dan gelap. Bau lapuk dan jamur langsung menusuk hidung Dito dan Angga.
"Kenapa kita tidak langsung masuk lewat pintu depan?" Angga langsung menyemburkan protes.
"Karena itu berbahaya dan karena Om Jorge, Om Santo, dan Papa Noah ada di ujung lorong ini. Kita akan menemui mereka dulu sebelum kita beraksi secara gila-gilaan" Sahut Dito.
"Sial!" Sahut Angga dengan mendengus kesal. "Aku benci kelembaban"
"Sial! Kau bilang lembab kenapa malah membuatku merindukan Cantika"
Angga sontak tertawa ngakak selebar-lebarnya
"Dasar gila!" Sahut Dito dengan mendengus kesal karena saat ini dia justru sangat ingin bercinta dan hanya ingin bercinta dengan Cantika. "Sial! Aku sangat merindukan Cantika"
"Itu derita Elo, Bos. Kenapa juga kau membawa kita lewat lorong ini"
"Sial! Kalau kamu nggak nyerocos yang nggak-nggak aku nggak akan merindukan Cantika"
"Hahahahahaha. Nasib orang yang baru pacaran, ya, kayak gini. Rindu terus, pengen nempel terus. Kalau udah pacaran lebih dari satu tahun aku aku, ya, santai aja" Sahut Angga dengan bangganya.
"Ya, ya, ya, kamu menang banyak dari aku dalam hal memperoleh cewek. Kau memang playboy kelas kakap aku akui itu. Salut, salut" Sahut Dito.
Angga sontak tertawa ngakak kembali dan saat ia dan Dito sampai di ujung lorong, Angga menghentikan tawanya dan langsung memeluk Santo sambil berkata, "Apa kabar, Om?"
Sedangkan Dito langung memeluk Noah dan berkata, "Cantika aman, Pa"
"Aku tahu itu" Sahut Noah.
Jorge langsung memekik kesal, "Kenapa nggak ada yang meluk aku, nih!"
Semuanya langsung menoleh ke Jorge dan terkekeh geli.
Setelah mengobrol santai sebentar, mereka langsung membahas cara menerobos masuk gedung utama milik Steven Chan.
"Aku sudah suruh ke sepuluh penembak jituku ke titik-titik penting dan ke sepuluh tim Scorpio-ku ke belakang dan kita semua akan menerobos masuk lewat pintu depan"
"Setuju, om. Anak buahku sudah aku sebar di daerah sekitar sini" Sahut Dito.
"Oke. Ayo kita mulai masuk" Sahut Jorge dengan tidak sabar.
__ADS_1