
Bunyi debaran jantung saling beradu lekat dan pemiliknya masih saling mengingkari karena gengsi. Suami istri yang baru terikat pernikahan kontrak beberapa hari itu, berdansa dengan sekuat hati untuk tidak saling bersitatap dan hanya berkonsentrasi pada musik dan gerakan kaki saja.
Barnes mengutuk dirinya sendiri karena dia telah memilihkan gaun malam untuk istrinya karena, pesona Amanda berbalut gaun malam nan seksi dengan warna memikat itu, menjadi bumerang baginya dan berhasil mengacaukan segala nalar sehatnya malam itu. Hampir saja Barnes kehilangan daya untuk tidak mencium bibirnya Amanda.
Tiba-tiba, Amanda berbisik ke Barnes dengan tubuh gemetar, "Ada yang ingin membunuhku. Ada seorang pria dengan pemikiran seperti itu, aku mendengarnya di antara ratusan suara di pikiran para tamu undangan pesta ini"
Barnes segera berkata, "Rangkulkan lenganmu ke leherku!" ucap Barnes sambil memencet kancing bajunya dan membisikkan sesuatu di sana.
Amanda langsung mengikuti perintahnya Barnes. Begitu Amanda merangkulkan kedua lengannya di leher kokohnya Barnes, komandan tampan suaminya Amanda segera melepas jasnya lalu ia pakai jas itu untuk menutupi belahan di gaun malamnya Amanda lalu Barnes ikatkan kedua lengan jas itu ke pinggangnya Amanda
Amanda menunduk untuk melihat belahan di gaun malamnya telah tertutup jasnya Barnes dengan apik. Amanda terkejut ketika Barnes tanpa meminta ijin dari Amanda, membopong tubuh kurusnya Amanda begitu saja dan berlari menuju ke sebuah lift yang tampak ramai. Barnes sengaja mencari keramaian untuk menyembunyikan keberadaan dia dan Amanda dari pengawasan seseorang yang berniat membunuh Amanda malam itu.
Amanda masih merangkul leher kokohnya Barnes dengan kedua lengannya lalu ia berbisik, "Sepatuku masih ada di lantai dansa. Apa kita tidak perlu mengambilnya terlebih dahulu?"
Barnes menatap Amanda, "Tidak perlu"
"Tapi, bukankah sepatu itu sangat mahal? Yeeaahh, aku memang nggak pernah beli sepatu dan nggak pernah pakai sepatu hak tinggi tapi, kata orang-orang di luar sana, sepatu itu mahal jika nyaman dipakai dan tidak bikin kaki lecet. Dan sepatu yang aku pakai tadi, nyaman kupakai dan kakiku tidak lecet berarti mahal, kan?" Amanda menatap lekat-lekat kedua bola mata Barnes
"Lebih mahal nyawa kamu daripada sepatu itu" Sahut Barnes singkat sambil melangkah masuk ke dalam lift bersama keenam ibu-ibu yang menuju ke lantai 7. Seorang ibu muda menoleh ke Barnes yang masih membopong Amanda, "Anda ingin ke lantai berapa? biar saya pencetkan nomernya. Saya lihat, Anda tidak berniat melepaskan istri Anda"
Kelima ibu-ibu yang lain tersenyum lebar ke Barnes dan Amanda dengan sorot mata jenaka seolah ingin mengutarakan candaan namun, karena tidak saling kenal, maka rombongan ibu-ibu itu hanya bisa melempar senyum lebar ke Amanda dan Barnes.
__ADS_1
Amanda merona malu lalu ia mendesiskan kata, "Turunkan aku!"
Namun, Barnes bergeming dan berucap ke ibu muda itu, "Lantai sepuluh, please"
"Baiklah" Ibu yang tampak paling muda di antara kelima ibu yang lainnya itu langsung memencet nomer sepuluh.
"Kalian pengantin baru?" tanya ibu muda itu.
"Benar" sahut Barnes dan Amanda hanya bisa tersenyum canggung ke rombongan ibu-ibu itu dengan berbisik ke Barnes, "turunkan aku!" Amanda kembali mendesis.
Barnes menatap ke Amanda dan menggelengkan kepalanya, "Kamu nggak pakai alas kaki. Lantainya dingin jadi, aku nggak akan menurunkan kamu sampai kita masuk ke kamar kita, Sayang"
Di lantai tujuh semua ibu-ibu itu keluar dari lift dengan anggukkan kepala dan senyum Barnes dan Amanda dan salah satu dari ibu-ibu itu berpesan, "Jaga baik-baik pernikahan kalian, ya?!"
Pintu lift akan menutup rapat namun, berhasil ditahan oleh tangannya Jorge. Dan masuklah the five Jays ke dalam lift dan Jude langsung berkata, "Kami akan melindungi kalian. Maaf kalau kami datang terlambat"
Jake tertegun menatap Amanda dan bertanya, "Kenapa si rambut merah, cantik banget malam ini?'"
"Turunkan mata kamu Jake! Jangan pandangi istriku lebih lama lagi!" Barnes langsung menggeram kesal dan Jake langsung berkata, "Hehehehe, maaf"
"Benar kata Mister Jake, Nyonya cantik banget malam ini" sahut Joy dengan senyum terpaksa karena, jauh di lubuk hatinya, dia masih belum rela, pujaan hatinya, Komandan tampannya, menikah dengan seorang perempuan yang menurut dia, aneh dan tidak kompeten
__ADS_1
"Terima kasih" Sahut Amanda dengan senyum yang terpaksa pula karena ia tahu, Joy tidak pernah menyukainya.
Lift berhenti di lantai sepuluh dan Barnes segera bergegas menuju ke kamar Super VVIP yang sudah dipesankan oleh Leon saat ia memencet kancing bajunya untuk berbisik kalau Amanda berada di dalam bahaya dan ia berniat menginap di hotel The Rain malam itu. Leon segera mengirim SOS ke the five Jays yang berjaga-jaga di luar hotel dan segera memesankan kamar super VVIP di lantai sepuluh, nomer 108. Kamar itu adalah kamar favoritnya Barnes saat komandan tampan dan gagah itu harus terpaksa menginap di hotel The Rain.
Barnes memasukkan Amanda ke dalam kamar hotel lalu ia dan the five Jays memeriksa keadaan kamar itu dan semua kemudian bisa bernapas lega saat tahu kamar itu steril dari segala alat penyadap dan alat berbahaya lainnya.
Amanda terkesan dengan sikap profesional yang ditunjukkan oleh Barnes dan the five Jays. Pintu kamar itu diketuk oleh seseorang dan Jake segera membukakan pintu ketika ia tahu, Leon yang datang setelah ia melihat ke titik hitam kecil yang menempel di pintu.
Leon membawakan baju ganti untuk Amanda dan Barnes. Amanda meraih tas yang dibawa oleh Leon dan bergegas ke kamar mandi untuk berganti baju.
Jake lalu berkata ke Barnes, "Aku dan teman-teman akan tidur di kamar sebelah dan akan bergantian jaga malam. Kau nikmatilah waktu berduaan dengan si merah, hehehehe" Jake menepuk pundak Barnes lalu bergegas mengajak teman-temannya keluar dari kamarnya Barnes. Dan Barnes hanya bisa menggeram kesal.
Barnes menoleh ke Leon yang masih berdiri tegak di depannya, "Masih ada yang ingin kau sampaikan?"
Leon tersentak kaget lalu berucap, "Ah! nggak ada Tuan, saya permisi. Saya ada di kamar sebelah jika Anda membutuhkan saya" Leon segera kabur dari kamarnya Barnes.
Komandan tampan itu kemudian berbalik badan dan langsung mengumpat kesal dan mengutuk Leon karena, Leon membawakan baju ganti untuk Amanda berupa dress dengan bahan tipis dan panjangnya di atas lutut dengan kerah lumayan rendah berbentuk V.
Barnes lalu meraup kasar wajah tampannya dan bergegas ke kamar mandi untuk mengguyur kepalanya dengan air dingin. Barnes lalu bergumam lirih, "Kenapa aku berasa seperti pengantin baru yang habis ngejalanin resepsi pernikahan dan hendak melaksanakan malam pertama dengan istriku di kamar hotel ini, ya? sial! pikiran macam apa ini?" Barnes langsung memukul sendiri kepalanya dan berlama-lama mengguyur kepalanya dengan air dingin.
Amanda masuk ke dalam selimut untuk menutupi dress tipis dan mini yang dia pakai malam itu sambil bergumam, "Malam ini akan jadi malam yang sangat panjang bagiku"
__ADS_1