
Barnes menyusupkan wajahnya ke leher Amanda dan memberikan gigitan kecil di sana yang membuat Amanda secara spontan mengeluarkan suara lenguhan lirih. Amanda lalu menutup mulutnya dengan tangannya.
Barnes tersenyum di atas kulit lehernya Amanda lalu bergerak di belakang telinganya Amanda dan berbisik di sana, "Lepaskan saja suara kamu! Suara kamu seksi, Sayang"
Amanda langsung menepuk punggungnya Barnes dan berbisik, "Ada Kak Duscha. Kalau kita berisik, dia akan bangun dan melihat kita gimana?"
Aku sudah melihatnya, hiks, hiks, hiks. Duscha berkata di dalam hatinya sambil mewek dan merapatkan kedua kelopak matanya.
"Aku sangat ingin menyatu denganmu, Sayang. Tapi, sayangnya aku nggak ada pengaman dan......" Barnes menciumi wajahnya Amanda dengan gemas dan gairah.
"Uhuk, Uhuk, eheemmmm!" Duscha mengeluarkan suara batuk dan berdeham dengan sangat keras.
Amanda langsung menarik wajahnya dari wajah Barnes dan bangun. Ia duduk di tepi ranjang lalu turun dari ranjang dan berlari kecil ke kakak laki-lakinya, "Kakak sudah sadar?"
Sudah dari tadi. Batin Duscha. Lalu laki-laki tampan bermata biru itu menganggukkan kepalanya dengan lemah
"Kakak mau apa? minum? Aku akan ambilkan, ya?"
"Dia bisa ambil sendiri, Sayang" Suara Barnes langsung menggema di kamar rawat inap itu.
Amanda menoleh ke Barnes, "Kak Duscha masih lemas dan dia belum bisa.........."
Brak! Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Amanda, Duscha dan Barnes tersentak kaget dan secara spontan menoleh ke pintu secara bersamaan.
Joy muncul dengan meringis ia kemudian berkata, "Maaf" dan menutup pintu dengan sangat pelan.
Duscha tersenyum lebar melihat Joy.
"Kau habis dikejar setan, ya? Jangan kau samakan pintu itu dengan pintu markas besar kita!" Barnes mendelik kesal ke Joy.
Joy langsung berdiri tegak, bersikap sempurna di depannya Barnes dan berkata, "Siap, Komandan!"
Amanda terkekeh geli begitu juga dengan Duscha.
"Ada apa kemari selarut ini?" tanya Barnes sambil menegakkan badannya dan bersandar di ranjang.
"Jorge, Jude dan Jordy telah menemukan pabrik narkobanya Teguh. Mereka masih berjaga di sana dan saya perlu melaporkan ke Anda secara langsung, Tuan"
"Jake?"
"Kolonel sudah meluncur ke sana untuk menjaga trio Jays" sahut Joy.
"Lalu Bryna? Sial! Bryna gimana?"
"Aku di sini Barnes" Bryna muncul dari balik punggungnya Joy.
Duscha memekik senang, "Bryna! Astaga! Kau sangat mirip dengan Barnes tapi kau sangat cantik ridak seperti Barnes"
__ADS_1
Bryna dan Amanda tertawa geli dan Barnes melemparkan wadah kotak tissue yang terbuat dari kertas ke Duscha sambil menyemburkan protes, "Tentu saja aku ngga cantik, dasar brengsek kau! Jangan naksir Bryna! Bryna milik Jake"
Amanda lalu ditarik oleh Barnes untuk duduk di tepi ranjangnya dan ia langsung memeluk pinggang ramping istrinya sembari berucap, "Amanda juga repot nggak bisa mengurusmu"
Duscha menghela napas panjang sembari mengayunkan tangannya ke Joy. Joy melangkah mendekati Duscha dan Duscha langsung menggenggam tangan Joy dan membuat Joy tersentak kaget dan melotot ke Duscha.
Bryna tersenyum lebar dan berkata, "Duscha juga sudah memiliki pujaan hatinya sendiri Barnes. Jangan uring-uringan lagi!"
Joy menundukkan kepala karena malu dan Duscha langsung menoleh ke Barnes, "Aku mencintai Joy dan akan menikahinya, boleh kan?*
"Lho kok nanya ke aku. Nanya ke Joy! Dasar bodoh!" Barnes menatap Duscha dengan kesal
Amanda dan Bryna kembali tertawa geli.
Duscha lalu menoleh ke Joy, "Kau mau kan menikah denganku?"
Joy yang masih menundukkan kepalanya, menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Duscha langsung menarik Joy untuk ia cium dan Barnes langsung menyemburkan protes, "Kenapa kau menciumnya di depan kami, dasar gila!"
Joy langsung menarik wajahnya dari Duscha dan berdiri tegak dengan sikap sempurna karena malu.
Duscha menoleh ke Barnes tak kalah kesal, "Lalu apa kabarnya kamu dan Manda beberapa menit yang lalu? Dasar gila!"
Manda langsung menoleh ke Barnes dan merah wajahnya. Barnes mengelus perutnya Amanda dan berucap, "Biarkan dia ngoceh!"
Bryna tertawa lepas. Joy diam tak berani tertawa tapi, ia mengulum bibirnya lalu menundukkan kepala, Amanda langsung menoleh ke belakang dan tersenyum lebar. Barnes merah wajahnya dan dengan cepat ia melepas jarum infus dari punggung tangannya.
Amanda langsung berdiri, berputar badan, "Kenapa Mas lepas jarum infusnya? Mas belum sembuh benar"
Barnes lalu berdiri dan berkata, "Aku baik-baik saja dan aku akan menyusul Jake. Aku akan merasa bersalah kalau anak buahku kenapa-kenapa. Aku sudah menganggap mereka semua saudara kandungku"
Duscha mengumpat kesal dan melepas jarum suntiknya, "Aku ikut"
Barnes mendelik kesal ke Duscha, "Untuk apa? Lebih baik kau di sini saja bernostalgia dengan Bryna, mengenang betapa culun dan penakutnya aku di masa kecil, cih!"
Duscha melepas baju pasiennya lalu mengambil kaosnya dan memakainya sembari berucap, "Wah! Kau ternyata masih sama, gampang emosi dan pendendam ya, Brother!"
Bryna terkekeh geli lalu berucap, "Barnes memang tidak berubah sama sekali. Jadi, berhati-hatilah berada di dekatnya"
Duscha tersenyum lebar ke Bryna.
Amanda kemudian berlari kecil mendekati Barnes, menahan dadanya Barnes dengan kata, "Jangan pergi sekarang! Besok pagi aja, Mas masih belum fit benar"
Barnes mencium keningnya Amanda lalu berucap di sana, "Aku harus segera bergerak. Aku sudah fit"
Amanda hanya bisa menghela napas panjang dan berucap, "Hati-hatilah kalau gitu! Dan berjanjilah kalau kau tidak akan tertangkap kucing liar lagi! Aku akan memukul kepalamu kalau aku menemukanmu tak berdaya di bawah Kungkungan kucing liar lagi" Amanda mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Barnes mengecup bibirnya Amanda lalu berkata, "Iya aku janji"
"Dan pulang jangan membawa luka sedikit pun di badan kamu!" Amanda bersedekap dan melotot ke Barnes.
"Iya aku janji" Barnes mengangkat dua jarinya ke udara dengan wajah serius.
Amanda lalu memeluk Barnes tepat di saat pintu terbuka dan Leon melangkah masuk.
Duscha menoleh ke Joy, "Kau tidak ingin memelukku?" sambil merentangkan kedua tangannya.
Joy langsung menendang kakinya Duscha. Duscha membungkuk untuk mengelus kakinya sambil berucap, "Malangnya nasibku harus mencintai wanita seperti singa"
Joy mengulum bibir menahan tawa, begitu pula dengan Bryna.
Barnes dengan terpaksa melepaskan diri dari pelukan istrinya lalu ia berlari menuju ke pintu sembari menoleh ke Leon, "Jaga Bryna dan Manda!"
Leon menganggukkan kepalanya dan dalam hitungan detik, Barnes, Jake dan Joy telah lenyap dari kamar rawat inap itu.
Leon,Amanda dan Bryna saling berpandangan. Leon kemudian bertanya, "Kalian berdua ingin tidur di bed itu apa kembali ke pulau?"
"Kembali ke pulau saja. Kau urus dulu administrasinya"
"Saya sudah bayar lunas semuanya. Tapi, saya belum ambil obatnya Tuan Duscha dan Tuan Barnes"
"Aku akan kirim pesan text ke Dokter Darma, biar obatnya Duscha dan Barnes dikirim saja ke rumah. Ada Pak Samin kan di rumahnya Barnes?"
"Ada dan saya setuju dengan ide Anda. Oke! Kita berangkat ke pulau sekarang"
"Bagaimana dengan orang yang kau tangkap tadi?" tanya Amanda sembari melangkah lebar masuk ke dalam lift menyusul Bryna dan Leon.
Leon menunggu pintu lift menutup barulah ia berani membuka suara, "Dia sudah dibawa oleh anak buahnya Jendral wanita kenalannya Tuan Barnes. Dan belum ada kabar lagi"
"Ada yang berniat mencelakai Barnes?" tanya Bryna.
"Iya. Untungnya Nyonya Manda instingnya kuat dan bergerak cepat menangkap perawat gadungan itu" Sahut Leon.
"Wah! Berarti musuh Barnes kali ini bukanlah orang sembarangan. Kita susul Barnes saja!" Bryna menoleh tajam ke Leon.
"Aku setuju!" pekik Amanda.
"Susul apa sih? Dan setuju apa? Kalian tahu musuh Tuan Barnes bukanlah orang sembarangan, kan? Kok malah main susul dan main setuju?" Leon mendengus kesal.
"Kalau kau turuti, aku akan kasih speed boat impianmu. Kau ingin berlayar sendirian mengelilingi jagat raya di hari cutimu nanti, kan?"
"Ah! Sial! Kenapa itu sih? Ya, saya nggak bisa nolak dong, Non! Baiklah kita susul Tuan Barnes kalau gitu"
Amanda dan Bryna saling pandang dengan senyum lebar lalu mereka melakukan toss lima jari.
__ADS_1