
Dito memaksa diri untuk mundur. Dia masih belum bisa bergerak sebebas yang ia inginkan kalau dia mengingat Mama Tarinya.
Cantika memperhatikan dengan mata lebar yang penasaran. Mereka sudah berciuman dengan liar dan panas. Dan Dito berdiri di depan tubuhnya yang polos berkilauan. Kenapa pria itu justru menarik diri dan mundur ke belakang.
Mengingat Cantika baru saja mengalami mimpi buruk terkena sakau yang sangat berat dan hampir merenggut nyawanya.Juga mengingat janjinya pada Mama Tari, Dito mengendalikan diri sebisa mungkin.
Cantika menggigit bibir, tetapi tidak mengucapkan apa-apa saat ia melihat Dito melilitkan handuk di pinggang dan berbalik badan meninggalkannya.
Cantika lalu memakai jubah mandi dan bergegas menyusul Dito.
Cantika melihat Dito duduk di tepi ranjang dengan wajah gusar. Dito tengah memikirkan semua yang ingin ia lakukan kepada dan bersama Cantika.
Cantika duduk di samping Dito dan bertanya, "Kenapa? Apa yang kau pikirkan?"
"Aku tidak bisa mengkhianati Mama Tari. Aku berjanji akan menjagamu dengan baik. Mana boleh aku mengambil kesempatan untuk......."
"Aku merasa terbuka saat ini"
Dito menatap Cantika dan bertanya, "Apa maksud kamu?"
"Aku merasa terbuka dan ingin kau memenuhi diriku sepenuhnya dengan cinta kamu malam ini. Ayolah kamu nggak bodoh. Kamu pasti tahu apa yang aku maksud" Cantika mengerling nakal.
Dito menatap Cantika lebih dalam dan berkata dengan suara serak menahan gairah, "Kau tidak takut melihat Mama kecewa sama kita?"
"Kita saling mencintai apa yang aku takutkan. Nggak ada yang aku takutkan di dunia ini selama kita masih bersama seperti ini. Hanya saja kau menatapku seperti ini menerkam aku saat ini dan aku sedikit takut" Cantika kembali mengerling nakal.
"Aku tak ingin melewatkan apa pun malam ini, Babe" Dito membungkuk dan mengecup perut Cantika. "Kau cantik, Babe. Sangat sempurna. Kecantikanmu aku yakin telah membuat para bidadari di kahyangan sana merasa iri"
Cantika tersenyum dan kedua pipinya merona malu.
__ADS_1
Dito tersenyum dan berkata, "Kau semakin menggemaskan dengan rona merah alami di pipi kamu itu" Dito mengecup perut Cantika lagi. "Aku tidak akan berhenti, Babe kalau aku sudah memulainya"Dito meregangkan tubuh samping Cantika dan mengecup dada wanita itu. "Aku akan terus bergerak sampai kau tidak berdaya lagi, Babe" Dito mengerakkan jemarinya sambil mengamati wajah Cantika, ia memainkan tangannya di lembah kenikmatan.
Pinggul Cantika terangkat, "Tidak! Jangan berhenti!" Wanita cantik itu terdengar agak memekik.
"Aku senang kau berkata seperti itu, Babe" Dengan lembut, Dito membuka jubah mandi yang dipakai oleh Cantika lalu ia meraba seluruh kulit indahnya Cantika. Saat wanita cantik berbola mata biru itu terkesiap, Dito membungkuk dan mengecup bibirnya, lembut, intens, dan secara perlahan merubahnya dengan ciuman penuh hasrat yang membuat Dito semakin menginginkan Cantika.
"Sial! pasukan kedua pengawalnya Steven Chan benar-benar sulit ditaklukan" Ucap Noah sambil membebat luka di lengan kirinya akibat terkena gesekan peluru.
"Untung saja peluru itu hanya lewat dan tidak bersarang di lengan kamu. Makanya jangan nekat! Kita sudah tua sekarang ini, ingat itu!" Sahut Jorge.
"Siap, Om! Tinggal tersisa satu mobil, kita pasti bisa menggulingkannya. Tancap gas lagi, Om!"
"Oke!" Teriak Jorge.
"Dasar gila semuanya!" Teriak Santo dari jok belakang mobil.
"Terus tancap gas. Jangan lihat ke belakang! Kita hampir sampai ke helikopter dan kita akan naik helikopter untuk menjemput bidadari Cantikku" Sahut Steven Chan dengan seringai khasnya.
Di dalam kamar yang asing, namun bersih dan wangi, Dito melihat Cantika tengah berbaring dengan mata birunya yang membara, rambut kecoklatan pendek yang sudah mulai sedikit memanjang itu tampak berantakan di bantal, sepasang kaki terbuka lebar dan napasnya terngah-engah. Dito merasa hampir berada di surga dunia. Pria tampan itu hanya memiliki satu pemikiran yakni, ia sangat menginginkan wanita ini. Tidak! Dia tidak saja menginginkan wanita ini. Dia membutuhkan wanita ini. Lebih dan lebih lagi. Sekali saja rasanya tidak cukup bagi dirinya.
Cantika mencengkeram bahu Dito, dan kuku-kuku wanita itu yang belum sempat dipotong, menancap ke kulitnya Dito.
Dito menyukai itu. Astaga, hampir tak ada yang tidak ia sukai pada diri Cantika. Bahkan keras kepala dan kecerobohannya Cantika membuatnya bergairah
"Astaga* Tiba-tiba Cantika berbisik sambil menengadah, tubuhnya mengejang, bergetar.
Dito menyadari bahwa Cantika sebentar akan mencapai puncak dan bukan hanya takjub itu pun semakin memacu gairah di dalam diri Dito. Saat wanita cantik berbola mata biru pujaan hatinya itu mencapai puncak, pinggulnya bergerak di tangan Dito, panas menguar dari tubuhnya. Dito mencium bibir Cantika untuk menelan erangan wanita itu. Dito menikmati setiap suara dan gerakan yang Cantika keluarkan.
Bahkan setelah Cantika tenang, Dito terus menahan tangannya, dengan gerakan yang sekarang melambat, tetapi belum ingin lepas dari Cantika.
__ADS_1
"Astaga" Cantika berkata lagi, kali ini dengan lemah.
Dito tahu Cantikan membutuhkan waktu sejenak, tetapi ia sudah tidak bisa menahannya lagi untuk lanjut menyerang di ronde kedua penyatuan raganya dengan wanita yang sangat ia cintai.
Dengan napas tersengal, Cantika berbisik di telinga Dito, "Dito?"
Dito langsung berpaling dan mencium bibir Cantika yang terbuka dengan ciuman ringan dan lembut. Dito kemudian mengigit pelan dagu Cantika, lalu ke dada wanita itu. Ia ingin menyantap Cantika sepenuhnya.
Sambil menjambak lembut rambut Dito, Cantika berkata, "Ku pikir aku butuh waktu sejenak.
Ucapan Cantika bagai sambaran petir bagi Dito di saat dirinya penuh antusias dan bergairah. Dito sontak berkata, "Maaf, Babe. Aku tidak bisa berhenti" Dito tidak bisa menunggu sedetik pun. Pria tampan itu kemudian menggoda Cantika dengan lidahnya, menggigit lembut perut Cantika yang rata dan kencang, dan terus turun........."Dito!" Cantika memekik kaget.
Dito tersenyum senang di saat ia menjelajahi lembah kenikmatan dengan ibu jari dan menyapukan lidahnya.
Melihat Cantika menikmatinya dan semakin melenguh tak berdaya, Dito kembali naik untuk memagut bibir wanita itu dan membungkam lenguhannya.
Aku harus bergerak lebih cepat sebelum mereka sampai ke sini. Batin Dito sambil terus bergerak di atas Cantika.
Dito membuka kedua kaki Cantika dan langsung melesak masuk.
"Astaga! Dito!" Cantika memekik kaget dan Dito langsung membungkam mulut Cantika dengan bibirnya sambil terus bergerak liar tanpa bisa dikendalikan lagi.
Cantika seolah terbang ke langit ketujuh merasakan Dito berada di dalamnya dengan penuh cinta dan hasrat.
"Aku hampir sampai, Sayang. Aku hampir sampai........arrrrrrghhhh!!!!!" Sesaat setelah mengerang panjang dan menengadahkan kepalanya ke atas, Dito kemudian menjatuhkan kepalanya di dada Cantika. Sambil tersenyum puas pria itu kemudian berguling sambil memeluk Cantika dan menarik selimut sambil berkata, "Tidurlah, Babe! Maaf kalau aku terlalu liar. Apa aku menyakitimu?"
"Tidak. Aku menyukainya. Sangat menyukainya"
Dito tersenyum dan dengan masih terengah-engah, Dito mencium kening Cantika dan berkata, "Tidurlah!"
__ADS_1