Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Terikat


__ADS_3

Anak buahnya Steven Chan mengobrak-abrik kafe untuk melepaskan kekesalan mereka karena mereka tidak menemukan keberadaannya Cantika di sana.


Dito kemudian mengambil semua kunci dari atas akas sambil bergumam, ""Salah satu kunci pasti kunci pintu kamar ini. Aku harus mengunci cewek gorila ini segera sebelum ia tersadar dari pingsannya dan membahayakan bagi lingkungan sekitar" Pria super tampan itu kemudian berlari keluar dari dalam kamar itu dan langsung mencoba semua kunci untuk mengunci pintu bergaya geser kamar itu.


Setelah berhasil mengunci kamar berbahaya itu, Dito memasukan gerombolan kunci ke dalam saku celananya dan memutuskan untuk berjalan ke Selasa sebelah kanan.


Dito berjalan penuh kewaspadaan dan bergumam, "Semua aku tidak bertemu dengan gorila cewek lagi. Hihhhhhh! Mengerikan. Ternyata ada juga di dunia ini cewek seagresif dan mengerikan seperti itu" Dito bergidik ngeri dengan sendirinya.


"Sial! Aku sangat merindukan Cantika saat ini" Gumam Dito kemudian"


"Sial! Kamu masih pakai jubah mandi, tuh" Doni melirik ke Cantika.


"Emang kenapa? Yang penting aku pakai baju, kan?"


"Sial! Kalau Bos Dito menemukan kamu seperti itu dan yang membawa kamu seperti itu adalah aku, aku bisa......."


"Tenang aja! Aku akan melindungi kamu" Cantika menoleh ke Doni dan meringis.


Doni sontak menggelengkan-gelengkan kepalanya dan kembali mengumpat, "Sial!"


Dito sampai di ujung selasar dan belok ke kiri karena ternyata Unjung Selasar yang dia pilih itu buntu.


Dito mengerem langkahnya saat ia melihat siluet orang. dan di saat Dito mengumpat kesal sambil menoleh ke belakang, sebuah tongkat tumpul menghantam wajahnya.


Beberapa jam kemudian, Dito terbangun dengan posisi terikat. Kedua tangan di punggung. Dia menunduk dan terkejut setengah mati saat ia melihat dirinya bertelanjang dada dan celana panjang lainnya turun sampai lutut. dan kedua kakinya yang selonjor terbuka lebar.


"Akhirnya kau siuman juga, Tampan. Aku ikat kamu dengan nilon yang kamu pakai untuk mengikat aku tadi"

__ADS_1


Suara wanita yang terdengar tidak asing di telinganya membuat Dito sontak menoleh ke asal suara dan langsung memekik kaget, "Kau! Kenapa kau bisa lepas dari ikatanku dan keluar dari kamar itu? Aku sudah kunci kamar itu dan......"


"Aku wanita tangguh dan tidak bodoh. Satu pukulan tidak akan membuatku pingsan"


"Jadi, kau pura-pura pingsan tadi? Sial! Berapa lama aku pingsan?" Dito menyesali kebodohannya.


"Hahahahaha. Seorang Dito Zeto bisa lengah juga. Kau pingsan selama lima jam lebih" Sahut Wanita itu.


"Sial!" Dito kembali mengumpat kesal.


Dengan menggunakan nilon, Belova mengikat kedua pergelangan kaki Dito ke tiang penyangga tempat tidur yang disekrup ke dinding.


Dito seketika bergidik ngeri saat ia melihat seringai dari wanita itu dan refleks meronta keras ingin melepaskan diri dari ikatan itu. Saat itulah pria gagah dan tampan itu merasakan dirinya bergairah dan benar-benar tegang. Dito sontak menunduk menatap dirinya sendiri, kemudian menengadah kembali dengan penuh kebencian.


"Ya Tuhan, sakit apa yang aku rasakan saat ini?" Gumam Dito saat dirinya merasakan sakit kepala yang sangat menusuk bercampur rasa lelah yang luar biasa seperti habis berlari sebanyak seribu kali mengelilingi lapangan bola, dan sekujur tubuhnya gemetar karena kebutuhan mencapai puncak.


Posisi Belova yang sangat menggairahkan itu membuat Dito refleks memalingkan wajahnya sambil mengumpat kesal.


Belova meraba dada Dito, kemudian meraba bagian bawah sambil berkata, "Akhirnya kau sadar kalau aku ini sangat menggoda, kan? Aku bertanya-tanya saat ini, mampukah kamu melawan godaanku"


Dito menoleh tajam ke Belova dengan penuh kebencian, "Apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuhku, brengsek?!"


Dito terkesiap kaget saat Belova membungkuk dan memainkan jari telunjuknya di bagian bawah. Punggung Dito refleks melengkung ke belakang dan napasnya mendesis.


"Aku suka ekspresi kamu. Kamu terlihat lebih macho dan tampan. Sangat tampan" Belova berkata sembari memosisikan diri untuk berlutut di antara kedua punggung Dito dan membungkuk untuk membelai tubuh Dito dengan pipinya.


"Hentikan!" Dito berusaha berontak, meronta, dan menolak Belova, tetapi pria tampan itu hanya bergerak beberapa sentimeter saja dari wanita cantik dan seksi itu. "Kau membuatku muak! Menyingkirlah dariku!" Dito berteriak histeris dan menunduk ke wanita itu.

__ADS_1


"Tapi," Belova menggenggamnya dengan tangan kanan yang terasa lembut sekaligus panas, "Kau sangat tegang karena aku"


"Aku tegang karena kau telah memasukkan sesuatu ke dalam tubuhku bukan tegang karena kamu, dasar wanita brengsek! Nggak akan pernah aku tegang karena kamu! Menyingkirlah dariku!"


"Aku sudah memiliki kamu. Mana mungkin aku melepaskan kamu. Aku akan bermain sepuasnya dengan kamu sebelum aku membalaskan kematian saudara kembarku"


"Steven Chan tidak akan menyukai ini. Kalau dia tahu wanitanya telah berkhianat maka......."


Belova menjilat bibir Dito dan Dito terkesiap kaget, "Apa yang kau lakukan?! Berani benar kau jilat bibirku, hah?!"


Belova terkejut geli dan berucap, "Steven Chan masih sibuk mengurusi teman-teman kamu yang sudah memporak porandakan markas ini"


"Steven Chan pasti mencariku. Dia dan aku adan urusan yang tertunda. Maka lepaskan aku! Aku akan lupakan urusan kita dan memberikan hukuman yang ringan ke kamu pas kamu tertangkap dan diadili nanti. Aku juga akan menjamin hidup kamu ke depannya, oke?"


Belova terus menatap wajah tampannya Dito dan hanya memberikan senyum lebar.


"Kau setuju, kan? Lepaskan aku sekarang juga!"


"Ssstttt!" Belova meletakkan jari telunjuk ke bibir Dito dan Dito sontak mengibaskan kepalanya agar telunjuk itu lepas dari bibirnya. Belova lalu menyusupkan wajahnya di leher Dito dan berbisik, "Diamlah! Biarkan aku lakukan hal yang bisa membuat kamu mencapai nirwana tingkat tujuh. Membumbung tinggi penuh kenikmatan"


Dito mencoba meronta dan memberontak kembali, namun percuma. Belova memeluk Dito dengan cukup erat dan wanita itu kembali membungkuk untuk mencium dada Dito.


Dito kembali mendesis dan berteriak dengan suara serak, "Hentikan! Aku mohon hentikan!" Aku akan berteriak sekencang-kencangnya agar Steven Chan tahu kalau aku ada di ruangan ini"


Belova menarik wajahnya dari dada kekarnya Dito dan sontak tertawa terbahak-bahak, "Hahahahahaha! Berteriaklah sekencang-kencangnya! Ruangan ini kedap suara. Nggak bakalan ada yang bisa mendengarkan suara kamu. Ini ruangan favoritnya Steven Chan saat ia mencicipi gadis belia pilihannya. Steven Chan suka menculik gadis-gadis di bawah umur untuk ia jual ke luar negeri. Kalau ada gadis yang ia suka ia akan cicipi dulu di ruangan ini"


Sial! Semoga ponselku masih aktif waktu aku pingsan nanti dan semoga saja ponselku ada di ruangan ini sehingga siapa pun di luar sana, entah Om Jorge, Om Santo, Angga, Mama, Papa, atau Doni dan aku rasa Doni sudah sampai di sini, bisa menemukan aku di sini dan menyelamatkan aku dari wanita gorila yang sangat mengerikan ini. Batin Dito.

__ADS_1


__ADS_2