
Cantika berhasil menghabiskan tiga mangkok bakso, sepiring nasi, dan masih meraih semangkuk penuh pangsit kuah. Wanita cantik itu mengarahkan satu sendok berisi satu buah pangsit ke Dito, "Mau?"
Dito menggelengkan kepala, "Aku sudah kenyang"
"Aku habiskan kalau gitu"
"Iya, habiskan saja. Aku heran ke mana semua makanan yang kamu makan. Kenapa makan sebanyak itu dan aku lihat kamu hobi banget makan, tapi badan kamu tetap kurus"
"Sssttt! Kalau makan nggak boleh banyak ngomong!"
Dito langung diam dan menyomot tahu goreng untuk ia makan.
"Tapi, kalau makan tanpa ngobrol, kok, rasanya gimana gitu" Dito tiba-tiba nyeletuk sambil mengunyah tahu goreng.
"Kasih aja tebakan" Sahut Cantika tanpa mengangkat wajahnya dari mangkuk yang berisi penuh pangsit kuah.
"Oke. Kebetulan aku punya tebakan. Apa persamaan tukang sate sama tukang bakso"
"Apa?" Cantika menyahut tanpa mengangkat wajahnya karena ia masih asyik menunduk menikmati pangsitnya.
"Tebak dulu, dong! Nggak seru kalau kamu nggak nebak dulu jawabannya" Sahut Dito sambil mengerucutkan bibirnya.
Cantika mengangkat wajahnya sedikit untuk menjawab tebakannya Dito, "Sama-sama cowok. Soalnya Kang Sate dan Kang Bakso. Kalau cewek jadinya Teteh Sate dan Teteh Bakso"
"Kamu cerdas juga, ya. Jawaban kamu masuk juga tuh, hahahahahaha"
"Lalu, apa jawaban kamu?"
"Nggak usah aja. Sepertinya jawabanku nggak lucu. Lebih lucu punya kamu" Sahut Dito sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kasih tebakan harus kasih jawabannya dong!" Cantika langsung menegakkan kepalanya dan melotot ke Dito.
"Iya, oke. Jawabannya adalah sama-sama nggak jualan soto, hehehehehe"
__ADS_1
Krik,krik,krik,krik, Cantika menatap Dito tanpa senyum dan tawa.
"Garing, kan? Nggak lucu, kan?"
Cantika langsung menganggukkan kepala dan kembali menunduk untuk melanjutkan makannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Iya, sih. Dari dulu emang kamu yang lebih lucu dari aku. Itulah kenapa aku selalu gemas sama kamu" Dito langsung mengacak-ngacak rambut cepaknya Cantika dan Cantika sontak mengangkat kepala untuk menatap Dito dan menggeram, "Dito! Jangan acak-acak rambutku!
"Kenapa? Dulu kamu suka banget aku acak-acak rambut kamu
"Itu karena aku masih kecil. Sekarang beda! Cantika masih melotot ke Dito.
Belovi kembali ke markasnya Steven Chan dan langsung berkata, "Maaf, aku gagal. Cantika ternyata tidak selemah yang aku bayangkan. Cewek itu ternyata sangat tangguh"
"Cih! Menangkap satu cewek aja kamu gagal!" Steven Chan langsung menarik pergelangan tangan Belovi dan membanting Belovi dengan kasar di atas ranjang lalu, ia langsung mengajak Belovi bercinta habis-habisan sebagai hukuman untuk Belovi karena wanita itu sudah gagal menjalankan misi yang pria itu berikan.
Dito melirik jam di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dan pria tampan itu langsung berkata ke Cantika yang masih duduk di sebelahnya sembari memakan kacang rebus dan menonton televisi, "Kamu tidak balik ke camp?"
"Nggak. Aku mau tidur di sini malam ini"
"Aku sudah kirim pesan text ke Baskara. Aku bilang kalau kamu teler berat dan butuh dirawat malam ini"
"Hah?! Sejak kapan kamu pandai mengarang cerita?"
"Sejak dengar semua cerita kamu barusan" Sahut Cantika dengan santainya sembari mengunyah kacang rebus di dalam mulutnya.
Dito langsung menghela napas panjang, "Babe, kamu tahu,kan, kalau hanya ada satu ranjang kecil dan sempit di sini. Mana bisa kau menginap di sini. Lagian kasurnya tipis dan keras. Kamu nggak akan nyaman. Balik aja ke camp, gih"
"Kenapa nggak bisa? Aku sudah terbiasa tidur di ranjang sempit dan kasur keras waktu aku tinggal di asrama" Sahut Cantika tanpa menoleh ke Dito.
Dito langsung meraup kasar wajah tampannya dan berkata, "Kau masih saja keras kepala"
"Hmm" Sahut Cantika dengan santainya sambil masih menikmati kacang rebus dan menonton televisi yang tengah menayangkan pertandingan bola.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan tidur di bangku ini. Kamu tidurlah di kamar nanti" Sahut Dito kemudian.
"Aku nggak mau tidur terpisah. Aku ingin tidur sama kamu. Kalau kamu tidur di bangku ini maka aku pun akan tidur di bangku ini" Cantika langsung duduk bersila di atas bangku dan menghadap ke Dito.
"Hah?!" Babe, kau masih ingat dengan jelas ucapanku, tadi, kan? Mama kamu, emm Mama kita, aduh salah lagi! Mama angkatku, Mama Tari, belum memberikan restu ke kita. Selama Mama Tari belum memberikan restu ya, aku tidak akan menyentuh kamu"
"Kamu sudah menciumku tadi. Menciumku dengan liar dan panas" Sahut Cantika dengan santainya.
"Sial! Itu beda, Babe. Menyentuh itu, emm, anu, maksudku adalah........sial! Kamu tahu lah apa maksudku dengan kata menyentuh itu"
"Bodo amat! Aku pokoknya ingin menempel terus sama kamu malam ini. Itu karena aku kangen banget sama kamu Kak Dito ku sayang" Cantika menangkup wajah tampannya Dito dengan gemas.
Dito hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah. Kau pengen tidur di mana? Di bangku ini apa di kamar?"
"Di kamar saja. Di sini dingin" Sahut Cantika.
"Oke. Kita ke kamar sekarang. ini sudah malam" Dito bangkit berdiri sambil mematikan televisi dan berjalan menuju ke kamar mendahului Cantika.
Cantika langsung mengekor Dito dengan wajah cerah ceria.
"Ma, sepertinya Cantika juga mencintai Dito. Lebih baik kita restui mereka berdua. Toh, mereka juga bukan saudara kandung dan kita juga belum mengadopsi Dito. Kalau mereka berpacaran, itu bukan hubungan terlarang, Ma" Noah memeluk tubuh polos istrinya setelah percintaan panas mereka terselesaikan dengan indah
Batari memainkan jari telunjuknya di atas dada bidang suami tampannya sambil berucap, "Mama masih belum bisa menerima kalau anak-anak Mama saling mencintai. Mereka seharusnya tetap saling sayang sebagai Kakak dan adik. Bukan sebagai sepasang kekasih"
"Ma, bukankah seharusnya kita senang. Cantika jatuh cinta sama Dito. Sama cowok yang sudah kita kenal dengan baik karakternya. Cantika jatuh cinta sama cowok yang baik dan bisa kita percaya penuh karakternya. Daripada Cantika dapat cowok lain yang nggak jelas wujudnya"
Batari langsung memejamkan mata dan memilih untuk tidak menjawab ucapan suaminya.
Noah hanya bisa memeluk erat tubuh istri tercintanya dengan helaan napas panjang dan bergumam lirih, "Iya, baiklah. Kamu masih perlu sedikit waktu lagi untuk memikirkan hal ini" Setelah mendaratkan ciuman penuh cinta di kening Batari, Noah pun memejamkan mata dan jatuh ke alam mimpi.
Sementara itu, Dito diserang ketidaknyamanan saat Cantika lelap tertidur dan mendekapnya dengan erat kayaknya mendekap sebuah guling.
Glek! Untuk kesekian kalinya pria tampan itu kesulitan menelan air liurnya saat dada hangatnya Cantika menggesek dadanya dan bibir ranum Cantika menempel di pipinya, namun dia tidak boleh berbuat apa-apa. Dia harus menahan diri dan gairahnya karena ia tidak ingin mengkhianati prinsipnya sendiri. Dia tidak akan menyentuh Cantika sebelum restu dari Batari jatuh di atas kepalanya.
__ADS_1
Dito langsung menutup wajah tampannya dengan telapak tangan kirinya yang masih bebas sambil menggeram lirih, "Astaga! Berat banget cobaan ini! Hiks, hiks, hiks"