Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Barnes dan Amanda


__ADS_3

"Kau yakin tidak ingin menemui istrimu dulu? Manda tidur sedari tadi di kamarnya" Duscha bertanya seperti itu untuk meyakinkan Barnes bahwa Amanda ada di kamar dan bukan berada di tempat lain di luar sana.


Barnes menatap tajam ke Duscha sebelum ia masuk ke dalam mobil Jeep mewahnya. "Nggak. Aku nggak ingin mengganggunya. Biarkan dia beristirahat dengan baik. Jaga Istriku!" ucap Barnes lalu ia masuk ke dalam mobilnya dan Jake langsung menginjak gas.


Duscha tertawa lebar dan berkata pada dirinya sendiri, "Barnes ternyata sangat naif dan bodoh. Dia mudah sekali memercayai orang lain"


Barnes berkata di dalam hatinya, Aku akan mencari tahu sendiri jawabannya. Karena aku yakin, Manda nggak ada di kamarnya dan aku nggak ingin tampil bodoh dengan berpura-pura percaya pada tipuanmu Duscha, Cih! Aku nggak sebodoh yang kau kira.


"Turunlah! Aku masih ada urusan" Barnes menoleh tajam ke Jake.


Jake melepas sabuk pengamannya, membuka pintu mobil lalu melompat turun Begitu Jake menutup kembali pintu mobil itu, Barnes langsung menekan gas kembali dan meninggalkan Jake dan timnya begitu saja.


Jake mengumpat kesal kemudian berteriak, "Gila kau Barnes!"


Jorge bertanya, "Kita tunggu Komandan di dalam dulu? Atau kita pergi sekarang tanpa Komandan?"


"Kita tunggu Barnes dulu" Jake lalu melangkah masuk ke dalam kediaman pribadinya Barnes.


Jake langsung masuk ke dalam kamar dan tersentak kaget saat ia menjumpai Bryna tertidur lelap di ranjang. Jake melepas jaketnya lalu bergegas membersihkan diri di kamar mandi dan setelah keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan kaos oblong, bercelana kolor, ia mendekati ranjang. Dia menatap Bryna cukup lama dengan berdiri di samping ranjang dan bersedekap.


Jake tersentak kaget dan mundur satu langkah saat Bryna tiba-tiba membuka mata dan menatapnya.


"Hai" Jake menyapa Bryna dengan canggung.


Bryna bangun lalu duduk di tepi ranjang dan masih terus menatap Jake. Bryna tersenyum tipis, "Setelah lama kita tidak berjumpa, kau hanya mengucapkan kata, hai?"


Jake masih bersedekap dan berdiri di depannya Bryna dan berkata, "Apa kabar?"


"Hentikan basa-basi kamu Jake!" Bryna bangkir dan berjalan menuju ke lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral dingin. Setelah meminum beberapa teguk air mineral dingin tersebut, Bryna memutar badan, "Kau tidak merindukan aku?"

__ADS_1


Jake menghela napas panjang lalu berucap, "Kalau aku katakan itu, kau tidak akan terbebani?"


Bryna langsung melempar botol air mineral yang ia pegang begitu saja lalu ia berlari ke arah Jake. Ia kemudian melompat, mengalungkan lengannya ke leher Jake dan mengunci bibir Jake dengan bibirnya.


Jake gelagapan untuk sepersekian detik tapi, kemudian ia bisa menguasai keadaan dan mulai membalas ciumannya Bryna. Jake mencium lembut bibir ranumnya Bryna yang kenyal bagaikan buah Cherry dan terasa sangat manis bagaikan gulali itu dengan intens dan semakin menuntut. Dia lalu mengangkat tubuhnya Bryna dan ia lemparkan pelan tubuh rampingnya Bryna di atas ranjang.


"Apa yang kau inginkan Bryna?" Jake bertanya dengan suara serak menahan gairah yang mulai membuncah.


"Aku menginginkanmu Jake. Aku nggak mau menipu diriku sendiri lagi. Aku menginginkanmu sepenuhnya karena aku sesungguhnya mencintaimu" sahut Bryna.


"Kau yakin? Bagaiman dengan amarahmu, kecemburuanmu, kebencianmu padaku?" tanya Jake yang masih menahan lututnya di kedua sisi tubuhnya Bryna.


"Aku tidak pernah membencimu. Dan aku sudah tahu siapa wanita yang dulu mencium kamu di kencan pertama kita. Maafkan aku yang sudah salah paham padamu" Bryna mengangkat tangan untuk menarik keras kaosnya Jake sampai Jake jatuh di atas tubuhnya Bryna.


"Tapi, aku masih kecewa padamu dan kau harus menghiburku" Jake menyeringai jahil.


Bryna langsung membungkam bibirnya Jake dengan bibirnya dan mereka semakin bergerak liar dan panas di atas ranjang.


Barnes bergumam, "Semoga intuisiku kali ini benar dan........" Napas Barnes tercekat di tenggorokan saat ia melihat bahwa memang benar Amanda yang ada di dalam kamar itu. Barnes lalu melihat ke nakas, ada hidung palsu yang terbuat dari lilin tergeletak asal di sana beserta dengan wig berwarna hitam.


Barnes menahan rasa geramnya karena Amanda melanggar perintahnya. Barnes lalu naik ke atas ranjang, tidur di sebelahnya Amanda, memandangi wajah Amanda lalu meletakkan lengannya di atas pinggang rampingnya Amanda dengan pelan.


Barnes bisa melihat ada sisa air mata kering di pipinya Amanda dan ia bergumam lirih, "Kenapa kau menangis? Siapa yang telah membuat kamu menangis?" Barnes lalu mengusap pipinya Amanda dan gerakannya Barnes membuat Amanda terbangun.


Amanda tersentak kaget dan saat ia hendak berteriak, dengan sigap Barnes membungkam mulutnya Amanda.


Amanda menggigit tangannya Barnes dan saat Barnes menarik tangannya sambil mengaduh lirih, Amanda melompat turun dari atas ranjang dengan sikap waspada.


Barnes bangun dan melangkah mendekati Amanda dengan tatapan heran lalu ia bertanya, "Kenapa kau menggigitku?"

__ADS_1


"Berhenti!" Amanda memekik lirih dan Barnes langsung menghentikan langkahnya untuk mendekati Anda karena ia takut Amanda akan nekat berteriak jika ia melanjutkan langkahnya.


"Dasar laki-laki mata keranjang! Tidak setia! Mesum! Anda masuk ke kamar wanita tanpa ijin dan wanita ini bukanlah Istri Anda! Anda sadar itu?!" Amanda geram karena cemburu pada dirinya sendiri.


Barnes hampir saja melepaskan tawa gelinya ke udara bebas melihat kepolosannya Amanda. Lalu ia bertanya setelah ia berhasil menguasai diri untuk tidak tertawa lepas, "Bagaiman kau bisa tahu kalau aku sudah punya Istri? Aku tidak pernah mengatakannya dan see! Di jari manis kananku tidak ada cincin nikah"


Amanda menatap Barnes dengan gugup dan ia berkata dengan cepat dan asal, "Insting saja. Mana mungkin laki-laki gagah dan tampan seperti Anda, belum menikah"


"Lalu kenapa kau semarah itu? Apa kau cemburu?" Barnes hampir saja tidak bisa lagi menguasai tawanya saat ia kembali melangkah pelan ke arah Amanda.


Amanda berkata, "Stop! Atau saya akan berteriak"


Barnes mempercepat langkahnya dan saat ia berada di jarak untuk bisa menjangkau Amanda, dia langsung merengkuh Amanda dan memeluknya erat dengan kata, "Teriak saja Manda sayangku!"


"An.....Anda, emm, mak.....maksud saya, Ka....kamu tahu......."


"Iya" Barnes mengecup bibirnya Amanda dengan wajah gemas.


"Se......sejak kapan?"


"Sejak kau menabrakku tidak sengaja tadi" Barnes kembali mengecup bibirnya Amanda dan semakin mempererat pelukannya.


"Ja......jadi, kau memandangiku terus tadi, karena kau sudah tahu kalau itu aku?"


"Iya" Barnes mengecup lagi bibir istrinya lalu berkata, "Kenapa kau tidak menuruti kata suamimu? Kenapa kau ada di sini menantang bahaya?"


"Ka.....karena aku bisa" Amanda berucap sambil meronta pelan mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan eratnya Barnes.


Namun, Barnes semakin mengencangkan pelukannya dan berkata, "Aku rasa aku harus memberikan hukuman yang sangat berat pada Istri kecilku yang suka ngeyel ini"

__ADS_1


Barnes menatap kedua bola matanya Amanda dengan sangat tajam..............


__ADS_2