
Ceklek! pintu kamar di mana Amanda tengah asyik menatap dan menikmati bingkai foto yang membingkai gambar apik dari wajah-wajah bahagia dan tampak penuh cinta itu, terbuka lebar kedua daun pintunya.
Seorang pria tampan melangkah masuk dan Amanda langsung melompat dari atas kasur melangkah mundur sambil mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa dia pakai sebagai senjata perlindungan diri tapi, di kamar itu hanya ada sebuah koper dan akuarium ikan yang tampak familier baginya.
Amanda terus melangkah mundur dan di saat punggungnya membentur tembok kamar super mewah itu, Amanda melotot dan berteriak, "Berhenti! Jangan dekati aku!"
Pria tampan itu langsung mengerem langkahnya dan mengulas senyum ke Amanda.
Amanda mencoba menjernihkan pikirannya,.mengusir rasa takut yang ada di benaknya agar dia bisa mendengar apa isi kepala dari pria tampan yang masih berdiri tegak di depannya dan masih mengulas senyum.
Beberapa detik berikutnya Amanda membeliak dan langsung menyemburkan tanya, "Aku adikmu? what! lelucon sialan apa ini?"
"Ternyata benar" Pria tampan itu berkata singkat dan kembali mengulas senyum di wajahnya yang sangat tampan.
"A....apa yang benar?" tanya Amanda dengan mata yang masih melotot dan masih bersikap waspada seperti seekor landak yang menunjukkan duri-durinya.
"Kau bisa membaca pikiran orang lain.Menarik. Sangat menarik" sahut pria tampan itu.
"Jelaskan! Semua yang ada di pikiranmu itu, jelaskan sekarang juga! Amanda mulai berteriak frustasi saat ia mengetahui pikiran pria tampan itu terus mengatakan kalau dia adalah adik perempuan dari pria asing yang sangat tampan itu.
"Duduklah! kalau berdiri terus kau akan capek karena ceritanya sangat panjang. Kalau kau ingin aku mulai bercerita maka duduklah!"
Amanda bergeser ke kiri dengan sikap waspada dan mulai duduk di atas bangku yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang menghadap ke Amanda lalu ia berkata, "Aku kakak laki-lakimu. Di foto itu," Laki-laki tampan itu menunjuk ke dinding lalu kembali berucap, "Yang ada di dalam gendongan wanita Asia yang sangat ayu itu, adalah kamu. Kamu waktu masih berumur satu tahun dan yang merangkul wanita Asia yang sangat aku kagumi kecantikannya itu adalah Papa kita, Andrei Igor dan namaku Duscha Igor, umurku tiga puluh tahun"
"I....itu ba....bagaimana mungkin bisa terjadi?"
__ADS_1
"Mama kamu dan kamu berhasil diselamatkan oleh sahabat dari Papa kita yang bernama Axel Dirgantara. Axel Dirgantara adalah tentara dari divisi khusus yang sedang menyamar sama seperti Mama kamu kala itu"
"Ke...kenapa Mama dan aku perlu diselamatkan waktu itu?"
"Karena Papa kita Andrei Igor diburu dan akhirnya terdesak jadi, sebelum Teguh sialan itu membunuh istri dan putrinya, dia meminta sahabatnya yang bernama Axel Dirgantara untuk menyelamatkan anak dan istrinya"
"La ....lalu Papa kita, emm, maksudku Tuan Andrei Igor, apa yang terjadi padanya?"
"Dia dibunuh dengan kejam dan sadis oleh Teguh sialan itu"
Amanda langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya.
"Aku kemudian diasuh oleh asisten kepercayaannya Papa dibawa lari ke Tiongkok jadi kita terpisah. Maafkan Kakak kalau Kakak telat menemukanmu" sahut Duscha Igor.
"Jadi, aku bukan putri dari Papa Axel Dirgantara?"
Duscha menggelengkan kepalanya.
"Cantik. Kamu sangat cantik cuma tidak terurus dengan baik selama ini. Maafkan Kakak"
"Tapi, tetap saja kita beda. Kecuali warna rambut kita. Warna rambut kita sama. Bola mata kita pun beda. Punyamu......"
Panggil Kakak! Coba panggil aku dengan sebutan Kakak"
"Ka.....kakak"
Duscha bertepuk tangan dengan riang lalu berkata, "Boleh aku memelukmu? Aku sangat merindukanmu Dek"
"Sebentar! Masih ada banyak pertanyaan di benakku. Kenapa bola mata Kakak biru sedangkan punyaku hitam dan........"
__ADS_1
"Mama kamu orang Asia. Itulah kenapa bola mata kita lain"
"Maksudnya apa? Mamaku? Jadi, Mama kita beda?"
"Hahahaha" Duscha menggemakan tawanya lalu berucap, "Kau bukan hanya cantik tapi juga cerdas ternyata. Aku putra angkatnya Papa Andrei Igor. Aku putra dari anak buahnya Papa Andrei Igor yang mati dibunuh oleh pria-pria berseragam bodoh di luar sana. Itulah kenapa aku sangat membenci pria berseragam"
"Oh! Aku ikut prihatin mendengarnya" Seketika itu lunturlah rasa takut di hati Amanda kepada pria tampan yang terus tersenyum di depannya. "Lalu siapa Teguh sialan yang kamu katakan tadi? Siapa Teguh sialan yang telah membunuh Papa kita?"
"Dia direktur utama divisi khusus kepolisian"
"Be....berarti Jendral Teguh yang sekarang adalah........"
"Pembunuh Papa kita" sahut Duscha Igor.
Amanda tertegun dan bertanya, "Jendral Teguh juga yang membunuh Mamaku dan Papa Axel Dirgantara?"
Duscha terkejut dan berkata, "Hebat juga kemampuanmu dalam membaca pikiran orang. Iya benar. Setelah ia mengetahui kalau kamu adalah putri kandungnya Andrei Igor dan mengetahui keberadaan Mama kamu, dia memburu kalian dan dia pula yang menabrak sendiri mobil yang dikendarai Pak Axel Dirgantara beserta Mama kamu dan kamu waktu itu. Beruntungnya kamu masih hidup. Kamu diselamatkan oleh salah satu penduduk di sana tepat beberapa menit sebelum mobil Pak Axel Dirgantara meledak"
Amanda bergetar tubuhnya mendengar cerita itu dan Duscha segera bangkit lalu memeluk Amanda. Amanda terisak sembari bertanya, "Kenapa butuh waktu lama bagi Teguh sialan itu untuk menemukan keberadaannya Mama?"
"Karena Mama kandung kamu dan Papa Axel Dirgantara kamu itu, berada di kubu yang berlawanan dengan Teguh. Mereka berada di yayasan yang berbeda dan memiliki atasan yang berbeda pula kala itu dan karena tugas rahasia Mama kamu, maka pihak Teguh tidak ada yang tahu siapa istri dari Andrei Igor karena Papa Andrei Igor juga tidak pernah menampakkan istrinya ke publik terkait misi rahasia Mama dan Papa Axel kamu. Dan setelah Papa Andrei meninggal, Papa Axel kamu menikahi Mama kamu dan memberikan nama Dirgantara ke kamu jadi, kamu beserta dengan Mama kamu, aman dari endusan Teguh selama beberapa tahun" Duscha berucap sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya Amanda.
"Kenapa Teguh sialan itu sangat membenci Kedua Papaku dan Mamaku bahkan aku pun ingin dibunuhnya?"
"Entahlah. Aku juga masih terlalu naif waktu itu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, aku terus memburu Teguh dan sebelum aku membunuhnya, aku ingin menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang kau ucapkan barusan ke Teguh"
Amanda menarik diri dari pelukannya Duscha dan bertanya, "Kenapa kau bunuh utusan yang kau kirim untuk membawaku sewaktu aku berada di hotel The Rain?"
Duscha mengusap kepalanya Amanda, "Bukan pihakku yang menyuntikkan racun ke orang itu tapi, salah satu dari anak buahnya Teguh yang menyuntikkan racun itu ke leher orang itu tanpa sepengetahuan orang yang aku utus itu"
__ADS_1
Amanda kemudian mematung dengan tanya di benaknya, Teguh adalah atasannya Barnes dan the five Jays. Barnes sangat mengagumi, menyayangi dan menghormati atasannya itu. Apa yang akan Barnes lakukan jika ia tahu kalau atasan yang sangat ia unggulkan dan sayangi selama ini telah membunuh kedua Papaku dan Mamaku bahkan berniat membunuhku dan masih memburuku?