
Dito berada di kamar bersama Cantika. Dia bermain dengan Cantika dengan wajah cemberut. Dia memang merindukan mamanya. Dia sudah terpisah selama lima tahun dengan mamanya. Namun, dia juga tidak ingin berpisah dengan papa Noah, Mama Batari, dan adik tercintanya Cantika.
Cantika yang manja dan cengeng justru membuat Dito semakin menyayangi Cantika.
"Kak, kenapa cemberut?" Cantika bertanya dengan wajah yang imut dan menggemaskan.
Dito menopangkan telapak tangannya di atas kepala Cantika dan dengan senyum yang dipaksakan, ia berkata, "*Nggak kok. Kakak senyum, nih"
"Barusan senyumnya, tadi cemberut kok"
Dito mengusap pipi Cantika dan berkata, "Kalau suatu saat nanti kita harus berpisah dan mungkin nggak akan pernah bertemu lagi, kamu jangan lupakan Kakak, ya?"
Cantika langsung memeluk erat tubuh Dito dan berkata, "Aku nggak mau berpisah dengan Kakak"
Dito memeluk erat tubuh Cantika dengan air mata yang terus berusaha ia tahan.
Cantika lalu melepaskan pelukannya dan bertanya dengan pijar lugu di kedua kelopak matanya, "Kita ini Kakak dan Adik. Kenapa harus berpisah? Mama dan Papa nggak akan memisahkan kita" Cantika lalu menggeleng kencang dan kembali memeluk Dito sambil berkata, "Aku nggak mau pisah sama Kakak. Aku mau selamanya sama Kakak. Selamanya"
Dito tidak kuasa lagi membendung air matanya saat ia mendapati Cantika menangis kencang di atas dadanya.
Batari terus mendekap Noah saat ia dan Noah duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya Dara Sembodo, mama kandungnya Dito Sembodo. Noah terus mengelus punggung istri tercintanya dengan perasaan kacau balau.
Sewaktu Dara melangkah masuk dengan ditemani asisten rumah tangganya, Batari tersentak kaget dan jatuh pingsan.
Noah sontak memeluk istri tercintanya dan menoleh ke Dara, "Maafkan saya, saya bawa Istri saya ke kamar dulu"
Dara tersenyum sedih dan hanya bisa mengangguk pelan.
Noah merebahkan Batari di atas kasur dengan perlahan, lalu ia mengelus pipi Batari dengan tangan kiri dan tangan kanan menggoyang-goyangkan botol minyak kayu putih di depan hidung istri tercintanya.
Batari membuka kedua matanya dan langsung menangis.
Noah menciumi wajah cantik Batari sambil berkata, "Sayang, jangan nangis terus!"
"Aku nggak mau pisah dengan Dito. Nggak mau" Batari menggeleng kencang dan air matanya terus mengucur deras.
__ADS_1
Noah memagut bibir istrinya beberapa detik lalu berkata, "Sayang, kita semua nggak ingin Dito pergi dari kehidupan kita, Tapi Dito masih punya Mama dan saat ini Mamanya ingin........."
"Aku nggak mau tahu! Aku hanya ingin Dito tetap di sini!" Batari berteriak histeris.
Noah mencium kening Batari, lalu berkata, "Oke. Kamu tidur di sini aja, ya. Nggak usah ikut keluar untuk menemui Mamanya Dito. Aku akan coba bicarakan baik-baik sama Mamanya Dito, aku akan coba meminta Dito menjadi anak kita"
Batari hanya bisa mengangguk pelan.
Noah mengecup bibir istri tercintanya lalu bergegas keluar dari kamar untuk menemui mamanya Dito.
Noah duduk perlahan di depan Dara Sembodo dan Dara langsung bertanya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, "Di mana Dito? Saya sangat merindukannya. Dito baik-baik saja, kan?"
Saat Noah hendak membuka suara, suara Cantika melengking, "Jangan bawa Kak Dito!"
Noah dan Dara menoleh kaget ke asal suara.
Noah melihat Cantika menggandeng tangan Dito.
Suami tampannya Batari langsung bangkit berdiri dan menggendong Cantika, lalu mengandeng tangan Dito. Setelah Dito duduk di depan Dara, Noah berkata, "Saya akan bawa putri saya ke kamar dulu"
Noah mendekap erat Cantika dan ia menciumi wajah Cantika dengan perasaan remuk redam sambil berkata, "Papa yang akan menemani Kak Dito. Cantika menemani Mama di kamar, ya?! Mama sedang nggak enak badan"
Cantika langsung diam dan menganggukan kepala.
"Dito nggak kangen sama Mama? Sini duduk di samping Mama. Mama ingin memeluk kamu. Mama sangat merindukanmu, Dito. Astaga! Kau tumbuh menjadi anak yang sangat tampan" Dara terus menatap Dito dengan tetesan air mata.
Dito terus menatap wajah mama kandungnya, namun ia bergeming.
"Dito, kenapa diam? Kalau gitu, Mama yang duduk di sebelahnya Dito, ya?"
Dito masih bergeming.
Dara lalu bangkit berdiri dan langsung memeluk erat tubuh putra tunggal kesayangannya.
Noah muncul di ruang tamu dan seketika mematung saat ia melihat Dito dan Dara saling memeluk dengan isak tangis.
__ADS_1
Noah meraup wajah tampannya dengan kasar dan seketika itu juga ia menyesali keputusannya membawa Dito bersamanya kala itu. Dia tidak menyangka kalau akan ada momen di mana ia harus melepaskan Dito dan momen itu membuat semuanya merasa sedih.
Noah langsung mengusap air mata yang menetes di pipinya, kemudian berdeham pelan sembari melangkah untuk duduk di depan Dara dan Dito.
Dara melepaskan pelukannya, namun tangannya masih menggenggam erat tangan mungilnya Dito. Tepat di detik itu, muncul seorang wanita dengan tas kerja berbentuk koper mungil dan pipih, duduk di sebelahnya Dara sembari berucap, "Saya pengacaranya Nyonya Dara Sembodo. Saya membawa surat dari pengadilan kalau di hari ini, Nyonya Dara Sembodo bisa membawa Dito Sembodo pergi dari sini dan mulai hari ini, hak asuh atas Dito Sembodo jatuh di tangan Nyonya Dara Sembodo selaku mama kandungnya Dito Sembodo"
Noah terhenyak kaget di sofa sembari berkata, "Kenapa mendadak begini? Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya? Kami belum siap berpisah dengan Dito secepat ini. Kami bahkan ingin membahas soal hak asuh Dito terlebih dahulu. Kami ingin menjadi orang tua asuhnya Dito. Kami mohon lepaskan Dito untuk kami. Kami sangat menyayangi Dito dan Dito juga sangat menyayangi kami"
"Iya benar. Dito sangat menyayangi Mama Tari, Papa Noah, dan Dek Cantika"
Dara tersentak kaget dan spontan menoleh ke Dito dengan tanya, "Dito nggak menyayangi Mama? Dito nggak kangen sama Mama"
"Dito bahkan lupa Mama itu Mama yang seperti apa. Dito hanya tahu bahwa Mama terbaik di dunia adalah Mama Tari. Tapi, Dito juga nggak ingin jadi anak yang tidak berbakti. Kalau memang Mama inginkan Dito, Dito akan ikut Mama"
Noah sontak menggeleng dengan cepat sembari berkata, "Dito, nggak! Mama Tari akan sedih banget kalau kamu pergi. Dek Cantika juga akan menyalahkan Papa Noah kalau kamu ..........."
"Dito juga nggak ingin pisah dengan. kalian" Dito bangkit berdiri untuk berlari dan memeluk Noah. Dito menangis kencang di atas dada bidangnya Noah.
Noah memeluk erat tubuh Dito dengan isak tangis.
Namun, keputusan pengadilan tidak bisa diganggu gugat. Dengan sangat terpaksa, Noah melepaskan Dito pergi dari rumahnya di hari itu. Namun, Noah berkata ke pengacaranya Dara Sembodo, "Saya akan ajukan hak asuh atas Dito Sembodo di pengadilan. Saya akan bertarung mati-matian di meja pengadilan melawan klien Anda"
"Baiklah. Saya menunggu Anda" Sahut pengacara itu
Noah langsung berbalik badan dan berlari ke kamar untuk memeluk istri dan anaknya sembari berkata, "Maafkan Papa. Dito harus pergi hari ini. Tapi, Papa akan rebut Dito. Papa akan berjuang mendapatkan Dito kembali"
Batari tersenyum karena ia masih memiliki harapan untuk bisa memeluk Dito kembali.
Namun, harapan tinggalah harapan. Tiga jam setelah kepergian Dito dari rumahnya, Noah mendapatkan kabar kalau mamanya Dito dan pengacaranya meninggal di dalam kecelakaan mobil, namun Dito tidak ditemukan di sana.
Dito membuka kedua kelopak matanya dan dengan mendesis kesakitan, ia bergumam, "Di mana aku dan siapa aku?"
...❤️❤️❤️❤️❤️ The End❤️❤️❤️❤️...
Terima kasih untuk dukungan teman-teman sesama author dan pembaca setia kisah ini🙏 Berkat dukungan dari kalian semua, season dua dari kisah ini bisa tamat dengan baik🙏 Akan ada season ketiga dari kisah ini, namun sabar,ya😀🙆🤗 Kisah Dito dan Cantika akan muncul di season tiga cuma kemungkinan besar tidak bisa update tiap hari🙏
__ADS_1