Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Lepaskan Aku!


__ADS_3

Pelayan wanita itu membawa Cantika ke ruang terbuka. Pria yang bernama Dito tampak duduk di ujung meja yang cukup panjang. Meja panjang itu ditempatkan di sisi kanan kolam renang yang berbentuk persegi panjang.


Cantika sontak menoleh ke pelayan wanita itu untuk protes, "Kau bilang ruang makan? Ini yang dinamakan ruang makan?"


Pelayan wanita itu menarik kursi untuk Cantika sambil berkata, "Saya hanya mengikuti perkataan Tuan, Nona"


Cantika duduk dan langsung menghunus tatapan tajamnya ke pria yang duduk jauh di ujung meja.


"Kau tampak sangat......."


"Cantik. Aku tahu" Cantika menyahut cepat dengan sedikit mengangkat wajahnya dengan pongah.


"Cobalah cicipi!"


"Kau orang yang nggak suka berbasa-basi dan berbelit-belit ternyata" Ucap Cantika demabri memotong daging iga.


"Lumayan. Walaupun masih kalah enak dengan bikinan Papaku" Ucap Cantika sembari mengunyah daging iga sapi yang sudah mendarat cantik di mulutnya.


"Lalu, kau?"


"Apa?" Cantika bertanya acuh tak acuh sembari memotong kembali daging iga.


"Kau bisa masak?" Tanya Dito sembari mengunyah.


Cantika menggeleng sambil berucap, "Nggak bisa. Papaku pinter masak dan di rumahku ada chef pribadi. Untuk apa aku harus pinter masak"


"Untuk aku"


"Apa maksud kamu?" Dito bangkit berdiri dan melangkah lebar. Saat ia sampai di belakang Cantika, ia segera menunduk dan berbisik, "Saat kau menyerahkan diri di pangkuanku dengan rela hati, nanti, aku akan membuatmu memasak untukku"


Cantika seketika itu menahan napas. Saat ia mengarahkan pisau steak ke belakang, Dengan sigap Dito melompat ke depan dan berkata dengan seringai tajam, "Kalau kau berhasil menikam aku tadi, maka Zimba akan langsung menerkam kepala kamu"


Cantika seketika membeku saat ia melirik sesuatu yang ada di sebelah kursinya Dito. "Astaga! Patung itu bergerak? Dia hidup? Dia singa sungguhan dan......kyaaaa!" Cantika langsung melompat dan Dito langsung menangkap Cantika.


Cantika mendelik ke Dito saat ia sadar dirinya ada di dalam gendongannya Dito. "Kenapa kau membopongku?"


"Kau mau aku lepaskan dan berkenalan dengan Zimba?"

__ADS_1


Cantika langsung menoleh ke singa besar yang berjalan pelan mendekati dia dan Dito. Cantika langsung menoleh ke Dito dan berkata, "Jangan turunkan aku dan bawa aku pergi dari sini!"


"Kau tidak ingin lanjut makan?"


"Astaga! Dia semakin dekat. Bawa aku pergi dari sini cepat!"


"Zimba pencemburu. Dia nggak akan rela aku membawamu pergi dan meninggalkan dia begitu saja"


"La......lalu harus gimana?" Cantika mendelik ke Dito dengan wajah panik ketakutan.


"Aku akan turunkan kamu dengan pelan dan berdirilah di belakangku! Aku akan belai kepala Zimba dulu dan bilang ke dia kalau aku akan pergi denganku sebentar"


"Emang dia ngerti bahasa manusia?"


"Dia mengerti semua ucapanku" Ucap Dito sembari menurunkan Cantika dengan pelan di atas rumput dan Cantika langsung berdiri di belakangnya Dito.


Saat singa besar itu mendekati Dito, Singa itu duduk dan Dito mengusap kepala singa itu sambil berkata, "Sayang, aku pergi sebentar. Kamu nurut sama Angga, ya?!"


Singa itu menjilat tangan Dito, lalu bangkit berdiri dan berbalik badan meninggalkan Dito.


Cantika yang melongokkan kepala di balik badan Dito langsung berkata, "Wah! Kamu hebat juga. Kamu bisa menaklukkan singa sebesar itu dan.........."


Cantika sontak berteriak dan memukul dada Dito sembari menyemburkan protes, "Kenapa kau membopongku lagi?"


"Bukankah tadi kau minta aku bawa kamu pergi dari sini dengan begini?"


"Kau?! Maksudku rasi bukan begini juga. Tapi, ah, sudahlah! Percuma ngomong sama Tarzan"


"Siapa Tarzan?"


"Seriously? Kamu nggak tahu Tarzan?"


Dito menggeleng sembari terus berjalan dan masih membopong Cantika.


"Kau lahir dan hidup di mana, sih, selama ini? Kau bahkan tidak tahu Tarzan"


"Aku lahir di mana nggak tahu. Tapi, sejak umur sebelas tahun, aku terbangun di tengah hutan belantara"

__ADS_1


"Nah, kamu itu Tarzan yang nggak tahu Tarzan" Cantika terkekeh geli dengan sendirinya.


Dito seketika bertanya, "Setiap kali melihatmu tertawa seperti itu, atau melihatmu tersenyum, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak kencang dan sekujur tubuhku terasa panas?"


Cantika sontak berdeham dan berteriak, "Turunkan aku cepat!"


Dito menurunkan Cantika dengan sangat hati-hati di atas rumput.


Mereka kemudian berdiri berhadapan dengan bersitatap.


Tatapan pria itu hitam mengental seolah menelanjanginya. Alih-alih melarikan diri, Cantika justru terbius dengan tatapan mematikan itu dan seketika ia mematung. Tubuh Cantika bergetar saat pria itu meletakkan telapak tangan kanan di dadanya, membelainya melalui bahan sutra halus gaun yang ia kenakan malam itu. Pria itu kemudian menunduk dan Cantika menolehkan kepala, lalu menjerit lirih ketika ia merasakan bibir pria itu mengusap-usap puncak dadanya lewat bahan sutra halus gaunnya.


Dengan pening di kepala Cantika memejamkan kedua matanya. Seharusnya ia berlari bukannya memejamkan kedua matanya. Seharusnya ia tidak berdiam diri saat pria itu meraba tiap jengkal lekuk tubuhnya dan mengendus lehernya.


Dito mencium leher Cantika dan setelah berucap, "Aku sangat menyukai aroma tubuh kamu, Manis" Dito mengigit leher Cantika, menghisap, lalu menciuminya.


Cantika memekik lirih dan tanpa sadar ia menjambak rambut Dito.


Suara Anga yang berdeham, membuat Cantika mendorong Dito dan berjalan lewat melewati Dito.


Dito menatap Angga dengan sorot mata siap membunuh.


Angga mengelus tengkuknya dan berkata, "Maafkan saya! Tapi, saya harus segera melaporkan hal yang sangat penting, Bos"


"Ada apa?" Dito menyugar kasar rambut lurus hitamnya untuk meredakan panas di tubuhnya yang belum ia ketahui bahwa panas itu adalah gairah.


"Petro sudah saya tangkap. Dia ada di ruang penyiksaan sekarang. Dia masih terikat di sana"


Dito menoleh ke belakang dan melihat Cantika duduk di bangku taman. Lalu, ia mengarahkan kembali pandangannya ke depan dan berkata, "Oke. Aku akan ke sana!"


Sesampainya di ruang penyiksaan, Dito berdiri tegak di depan pria yang bernama Petro untuk melemparkan tanya, "Kenapa kau berkhianat? Kau sudah membuatku datang ke sini. Sekarang katakan di mana kau sembunyikan emas batangan dan seratus kilogram ganja kering yang kau curi dari Papaku?"


"Kalau aku tidak mengatakannya, kau mau apa? Patahkan lenganku, patahkan kakiku, atau menggorok leherku?"


"Lepaskan ikatannya dan bawa ke kebun belakang!" Dito menggertakkan giginya.


Cantika bergumam sendiri sambil terus berjalan keliling tanpa arah, "Kenapa dia memiliki wajah yang sangat tampan, tapi dia kasar dan tidak bisa.menghormati wanita. Berani benar dia menggerayangi tubuhku dan mengendus leherku bahkan di menggigit leherku tadi" Cantika mengentikan gumaman dan langkahnya di depan lingkaran orang yang tengah mengerumuni seorang pria dengan wajah babak belur penuh luka.

__ADS_1


Dooooor!!!!!! Dito menembak jidat pria dengan wajah babak belur penuh luka itu dan saat terdengar bunyi bruk! Dito menoleh dan langsung mengumpat, "Sial!"


__ADS_2