Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Terdesak


__ADS_3

"Di mana Barnes?" Tanya Jake.


"Tuan Barnes ada.di hotel di dekat sini" sahut Leon.


"Sial! Ternyata mereka masih ada di dalam hotel tapi, kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaannya mereka?" tanya Jake.


Bryna mendelik ke Jake.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jake.


"Kau bisa masuk lalu keluar dari dalam hotel itu dengan selamat, dengan leluasa tapi kenapa Barnes dan Duscha tidak bisa? Kau punya pacar ya di hotel itu atau kau main wanita di sana?" Bryna meninggikan nada bicaranya dan semakin melotot ke Jake.


Jake meraup kasar wajah tampannya lalu menggenggam tangan Bryna, "Dengar! Aku tidak bermain wanita. Sungguh! Sumpah! Aku juga heran, kenapa aku dibiarkan leluasa keluar masuk dari dalam hotel itu?"


"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Bryna.


"Sumpah! Aku nggak bohong, Babe!" pekik Jake kesal.


"Mungkin karena mereka tahu Barnes dan Kak Duscha bukanlah orang sembarangan" Sahut Amanda.


Barnes memajukan kepalanya ke depan untuk ia benturkan ke kepala wanita berkutek hijau itu, namun gagal. Wanita itu berhasil melompat mundur dan tertawa mengejek, "Kau tidak akan bisa mengalahkan aku, tuan tampan. Kedua tangan kamu masih terikat di belakang tubuh kamu dan jika kamu hanya mengandalkan kepala kamu, itu bodoh namanya, hahahaha! Saat kau nekat masuk ke hotel ini tanpa kartu anggota, kau mencari mati"


"Siapa Bos kamu?! Siapa pemilik hotel ini?! Apa Teguh pemiliknya?!" Barnes mulai berteriak kesal ke wanita itu.


Wanita itu tidak menggubris pertanyaannya Barnes karena ia tengah asyik mengisi sebuah jarum suntik dengan cairan bening. Lalu ia menoleh ke Barnes saat jarum suntik sudah terisi dosis dari cairan bening yang ia butuhkan. Ia berjalan gemulai ke arah Barnes sambil terus menyentil ujung tabung jarum suntik itu untuk menghilangkan gelembung yang ada di dalamnya.


Dan akhirnya Amanda, Bryna, Leon dan the five Jays sampai di depan hotel di mana terdapat sinyal keberadaannya Barnes yang berkedip-kedip sangat kuat di sana.

__ADS_1


"Tuan Barnes ada di kamar sebelah selatan. Di basement" Leon berkata sambil menatap layar ponselnya.


"Kita masuk lewat mana? biar tidak ketahuan?" tanya Jordy.


"Iya. Aku takut kalau aku ketahuan masuk tanpa ijin lalu aku disekap dan tidak bisa keluar lagi dari sana selamanya, hiihhh!"" Sahut Jorge sambil mendekap tubuhnya sendiri dan menggigil ngeri.


Semua menoleh ke Jorge dan Jude langsung menyemburkan protes, "Kau cowok atau cewek sih? Cemen banget, cih!"


Semua langsung terkekeh geli melihat ekspresi lucunya Jorge saat Jorge mendengar celotehannya Jude.


"Kita cari di halaman belakang saja! pasti ada celah untuk masuk ke basement" Joy melompat turun dari dalam mobil dan diikuti oleh semuanya termasuk Amanda.


Barnes mendelik, "Mau kau apakan jarum suntik itu? Apa isinya?"


"Nggak usah tahu isinya apa, tuan tampan. Yang pasti, aku akan membuatmu berfantasi indah dan aku akan membantumu bermain indah di dalam fantasi itu dengan cairan ini" Wanita itu terus melangkah mendekati Barnes yang terus melangkah mundur.


Barnes mengumpat kesal karena tangannya masih terikat di belakang dan ia gagal melepaskan ikatan itu. Barnes terus melangkah mundur sampai punggungnya membentur tembok. Barnes langsung berteriak, "Berhenti! Sial! Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku. Kau tidak akan nekat bermain dengan pria beristri,kan?"


"Aku setuju kalau tidak pakai jarum suntik. Aku takut dengan jarum suntik" Barnes mencoba untuk mengukur waktu dan terus mencari celah untuk bisa lepas dari wanita gila dengan jarum suntiknya itu.


"Hahahahahaha" Wanita itu mendongakkan wajah cantiknya ke langit-langit kamar dan melepas tawanya. Kemudian ia menatap Barnes kembali, "Aku justru lebih menyukai pria yang sudah beristri. Karena, pria beristri lebih berpengalaman dan lebih mengasyikkan jadi, aku nggak usah lagi mengajarinya bagaimana cara untuk bisa bermain dengan asyik dan panas, hahahahahaha!"


Barnes mengangkat kakinya dan berhasil menendang pergelangan tangan wanita itu dan berhasil membuat jarum suntik yang dipegang oleh wanita yang tampak mengerikan di mata Barnes itu sampai sampai terlempar di kolong ranjang.


Wanita itu menggeram kesal, "Kau cukup menyusahkan juga ya, tuan tampan. Kenapa kau tidak menurut saja, hah?! Toh kau juga akan merasakan enaknya nanti"


"Cih, enak apanya?! Dasar gila!" Barnes berteriak geram ke wanita asing dengan lingerie merah berkancing dan berpita besar itu.

__ADS_1


Saat wanita itu berjongkok dan berusaha meraih jarum suntik yang masih tertutup rapat ujungnya dan terlempar di kolong tempat tidur, Barnes mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar itu, namun ia tidak menemukan satu jendela dan satu celah pun untuk melarikan diri, bahkan toilet pun tidak tersedia di dalam kamar itu.


Sial! Kenapa kamar sebagus ini nggak ada toiletnya? kalau ada toiletnya aku kan bisa berlari ke toilet dan mengunci diri di dalam toilet sampai Leon datang. Batin Barnes.


"Kau tidak akan bisa menendang yang ini" Barnes menoleh kaget dan jleb! jarum suntik itu berhasil menusuk lehernya Barnes dan cairan bening di dosis nol koma lima mililiter lolos dengan sempurna, masuk sepenuhnya ke dalam tubuhnya Barnes.


Barnes menendang perut wanita itu dan jarum suntik tertarik lepas dari leher kokohnya Barnes, namun terlambat, cairan yang ada di dalam jarum suntik tersebut sudah masuk ke dalam tubuhnya Barnes.


Wanita itu berdiri dengan senyum seksi sembari membuka satu per satu kancing lingerie panjangnya, lalu melepas pita yang terpasang di depan lingerie seksi itu dengan seringai mengerikan dan bruk! Lingerie itu melorot bebas dari tubuh seksinya dan jatuh di atas lantai. Dan dengan tubuh polosnya, ia menunggu cairan bening yang ia suntikkan di tubuh laki-laki tampan di depannya, bereaksi.


Barnes membeliak kaget lalu secara spontan ia memejamkan kedua kelopak matanya dengan berteriak, "Pakai kembali baju tidur kamu! Kenapa kau tidak punya martabat sama sekali?! Kau tidak peduli dengan sebuah privasi? hah!"


"Hahahahaha. Sebentar lagi kau akan menyerangku, untuk apa aku memakai sehelai kain di tubuhku? Percuma,kan? hahahahaha"


"Sial!" Barnes tiba-tiba mengumpat kesal saat ia merasakan tubuhnya memanas, lalu berubah menggigil kedinginan dan keringat secara perlahan, namun pasti meluncur ke bawah dari pelipis dan tengkuknya Barnes.


Barnes masih memejamkan kedua kelopak matanya dan berteriak, "Aaarrrghhhhh! Berikan penawarnya! Aku akan membayarmu lebih dari yang diberikan oleh Bos kamu! Cepat berikan penawarnya!"


"Hahahaha! Saat aku melihat ketampanan dan otot indah di perut kamu, aku sudah tidak tertarik lagi dengan uang. Aku lebih tertarik menikmati tubuh kamu dan permainan indah kita nanti, tuan tampan"


"Sial! Dasar wanita gila!" Barnes berteriak frustasi dengan mata yang masih tertutup rapat karena ia tidak ingin menodai kedua bola matanya untuk menatap sosok polos dari wanita iblis yang ada di depannya.


"Satu........dua........tiga..........empat.......lima. Kau sudah siap, tuan tampan" Wanita itu meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada bidangnya Barnes lalu mulai menggerakkan jari jemarinya di sana, terus turun secara perlahan menuju ke titik sensitifnya Barnes.


Barnes mengerang frustasi. Tubuhnya menikmati sentuhan itu karena pengaruh cairan bening yang tadi dimasukkan ke dalam tubuhnya dan sudah berkuasa penuh di akal sehatnya tapi, hati nuraninya menolaknya karena ia tidak ingin mengkhianati istrinya untuk bermain gila dengan wanita lain walaupun itu di luar akal sehatnya.


Barnes mendongakkan wajahnya ke atas, terengah-engah lalu berkata dengan suara bergetar hebat, "Tolong hentikan!"

__ADS_1


Wanita itu semakin menggila, ia mulai membuka cantolan di ikat pinggangnya Barnes dan membuka ritsleting celananya Barnes. Hal serupa juga dialami oleh Duscha.


Kedua laki-laki tampan itu, hampir menyerah di bawah kendali wanita asing yang terus mendesak mereka untuk terus mengikuti permainan panas yang ditawarkan dengan sangat manis dan menggoda.


__ADS_2