
Saat Aurora hendak menendang wajah gadis asing yang baru saja Aurora temui kerena gadis itu berani mengklaim papa kesayangnnya menjadi Om Dito dan pahlawannya, Dito langsung menahan kaki Aurora lalu Dito membungkukkan badan untuk mengangkat tubuh Marsha ke atas pangkuannya.
"Nah, dengan begini kalian bisa saling kenal dan dilarang saling melotot pakai ngotot!" Dito menatap Marsha dan Aurora secara bergantian.
Cantika terkejut geli dan merangkul ketiganya dari arah belakang sambil berkata, "Rora, ajak teman baru salaman, dong"
"Nggak mau!" Aurora langsung bersedekap dan melengos.
Dito tersenyum geli melihat sikap putri tercintanya. Lalu, pria tampan itu berkata, "Katanya kamu pengen punya teman di rumah. Marsha akan jadi teman kamu. Lihatlah! Marsha sudah mengulurkan tangan, nih, ayo disambut dong"
Aurora menoleh pelan ke Marsha. Namun, Aurora masih bersedekap dengan wajah cemberut.
"Rora? Papa nggak akan membacakan kamu buku dongeng lagi kalau kamu bersikap tidak sopan seperti ini. Ayo sambut ukuran tangan Marsha, lalu ajak Marsha bermain"
"Aku mau berteman dan bermain dengannya kalau dia nggak merebut Papa dariku"
__ADS_1
"Aku nggak akan merebut Papa kamu. Om Dito tetap Papa kamu, tapi ijinkan aku menyayangi Om Dito karena Om Dito adalah pahlawanku" Sahut Marsha.
Dito dan Cantika tesentak kaget mendengar ucapannya Marsha. Dito tersenyum haru menatap Marsha dan spontan berkata, "Om bukan seorang pahlawan, Marsha. Sudah menjadi tugas dan kewajiban kita semua untuk saling tolong menolong"
"Makasih, Om, Tante, Dan Rora" Sahut Marsha.
Aurora tiba-tiba tersenyum dan menyambut ukuran tangan Marsha. Lalu, Aurora mengajak Marsha turun dari atas pangkuannya Dito dan langsung mengajak Marsha berlari kencang ke halaman belakang sambil berteriak, "Aku akan ajak kamu bermain perosotan!"
Dito tergelak geli, lalu pria tampan itu menarik lengan istri cantiknya sampai istri cantiknya itu terjatuh di atas pangkuannya.
"Dengan ini" Dito langsung memagut bibir Cantika dan mengajak istrinya berciuman cukup lama sambil memainkan tangannya di area favoritnya.
Tanpa Dito sadari, Cantika membawa kursi roda masuk ke dalam kamar. Dito menyadari kalau dirinya berada di dalam kamar saat Aurora mengunci pintu.
Dito melepaskan ciumannya dan menoleh ke belakang, "Wah, Istriku cekatan juga, ya. Dia bisa berciuman sambil membawaku masuk ke kamar dan tak lupa mengunci pintunya"
__ADS_1
"Mumpung anak-anak bermain di halaman belakang, aku akan memandikanmu"
"Mandi plus-plus, boleh?"
"Apa kau bisa?"
"Bisa, dong. Kakiku saja yang sakit. Semua anggota badanku yang lainnya sehat dan adik kecilku, wah! Sehat dan fit banget, dong" Dito menyeringai penuh arti dan Cantika sontak tergelak geli dan menepuk keras dada Dito sambil berkata, "Dasar Dito mesum"
"Lho, kamu yang duluan menggodaku, Sayang.
"Iya, aku akui kalau aku yang duluan menggoda kamu maka ayo kita.lanjutkan kegiatan saling menggoda kita di kamar mandi" Sahut Cantika sembari mendorong kursi rodanya Dito.
"Wah! Siap delapan enam Nyonya Komandan" Teriak Dito dengan tawa renyah yang disambut tawa gelinya Cantika.
Sepasang suami istri itu kemudian memadu kasih di dalam bathtub dengan penuh kerinduan dan cinta yang membara.
__ADS_1