
selang Lim sebelas menit kepergiannya Dito, Cantika mengalami sakau. Dia bergetar hebat dan berusaha melepaskan tangan dan kaki dari jerat borgol. Badannya menggigil di saat keringat mengucur deras. Hingga pada akhirnya di menit ke enam puluh lima, Cantika jatuh pingsan tepat di saat Dito membuka pintu kamar.
"Astaga! Babe! Kamu sakau pas aku pergi, ya?" Dito langung melompat ke ranjang untuk melepas borgol di tangan dan kaki Cantika. Lalu, pria tampan dan gagah itu mengganti baju Cantika yang basah dengan baju bersih dan kering. Kemudian setelah merebahkan Cantika dengan benar di atas bantal, Dito mengobati luka lecet yang cukup parah di pergelangan tangan dan kaki Cantika.
Dito kemudian merengkuh tubuh Cantika ke dalam pelukan hangatnya dan dia menciumi Cantika dengan isak tangis. Pria tampan itu berbisik lirih di tengah isak tangisnya, "Kenapa kamu harus mengalami ini semua? Aku yang memiliki banyak dosa di dunia ini tapi ke apa justru kamu yang harus mengalami siksaan duniawi semacam ini, Babe"
Dito akhirnya ketiduran dengan posisi kepalanya rebah di atas perut ratanya Cantika. Dan di keesokan harinya, posisi tidurnya Dito masih tetap sama.
Cantika terbangun dan saat ia merasakan ada sesuatu di atas perutnya, wanita cantik berbola mata biru itu langsung menunduk dan seketika tersenyum dan berkata, "Selamat pagi, Dito" Lalu, wanita itu mengusap lembut kepala Dito dengan senyum penuh cinta.
Dito berdecak pelan lalu membuka mata dan langsung bersitatap dengan bola mata indah pujaan hatinya, "Selamat pagi, Cintaku" Cantika tersenyum ke Dito.
Dito langsung bangun dan memeluk Cantika sambil berkata, "Kamu selamat. Syukurlah kamu baik-baik saja pagi ini. Maafkan aku. Semalam aku pulang telat, huhuhuhu" Dito menangis tergugu di dada Cantika.
Cantika mengusap kepala Dito sambil berkata, "Aku sepertinya sudah sembuh. Aku tidak merasakan adanya pikiran aneh dan tubuhku tidak Tremor lagi. Aku sepertinya sudah sembuh, Dito"
Dito langsung mengajak wajahnya dari dada Cantika dan saat Cantika mengusap air mata di kedua pipi Dito, pria itu bertanya, "Benarkah?"
"Hmm. Aku yakin seratus persen kalau aku sudah sembuh. Terima kasih sudah merawat, menjaga, dan mendampingi aku sampai aku sembuh, aku mencintaimu Dito. Sangat mencintaimu"
Dito langsung mencium bibir Cantika dan kedua sejoli itu kemudian berguling-guling di atas ranjang sambil terus berciuman. Ingatan Dito akan Steven Chan membuatnya terpaksa melepaskan bibir ranumnya Cantika untuk berkata, "Kita harus bergegas pindah tempat. Aku yakin saat ini Steven Chan mengejar kita lagi saat ia tidak menemukan kita di pondokku"
"Kita tidak mandi dulu?"
"Iya, mandi dulu, tapi jangan lama-lama"
"Siap, Mister Polisi"
Beberapa jam kemudian mereka berhadapan di sebuah kedai sederhana dan menikmati soto pesanan mereka. Setelah menandaskan teh hangat mereka, Dito dan Cantika melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Tepat saat mereka meninggalkan trotoar dan masuk ke jalan besar, Dito berkata, "Jangan bergerak dan jangan berkata apa-apa untuk lima belas menit ke depan, Babe. Aku serius"
__ADS_1
Cantika membuka mulut untuk membalas ucapan Dito, tetapi setelah melihat kerutan di kening Dito, dia membatalkannya.
Namun, rasa penasaran di diri Cantika membuat Cantika akhirnya melemparkan tanya, "Ada apa? Ada masalah apa?"
Dito hanya menoleh sekilas ke Cantika dengan wajah kesal karena Cantika ngeyel mengeluarkan suara dan bergerak.
Cantika seketika merengut, lagi-lagi hendak mengeluarkan suara untuk bertanya, tapi dia takut Dito marah.
Sambil melirik kaca spion, Dito berkata, "Kita dibuntuti, Babe. Aku masih berusaha lepas jarak pandang mereka. Jadi diam dan jangan bergerak!"
Cantika langsung tahu bagaimana harus bersikap. Dia tidak langsung menoleh ke belakang walaupun dia sangat penasaran siapa yang membuntuti dia dan Dito. Perlahan tanpa kentara, Cantika bersandar ke jok mobil untuk melepaskan ketegangan di tengkuknya.
Cantika kemudian menegakkan kembali kepalanya dengan perlahan dan menoleh pelan ke Dito.
Sadar Cantika tengah mengamatinya, Dito berbelok ke tikungan, di benak Dito tidak ada tujuan ke tempat tertentu. Dia hanya ingin lepas dari buntutan itu.Dito kemudian berteriak secara tiba-tiba, "Berpegangan erat-erat, Babe. Jika aku tidak bisa lepas dari mereka, aku terpaksa menghentikan mobil dan membunuh mereka semua"
Glek! Cantika menelan air liurnya dengan cepat saat ia mendengar kata membunuh. Wanita itu kemudian bertanya hati-hati ke Dito, "Apa kamu pernah membunuh orang?"
"Apa kamu takut menghadapi sedikit pertumpahan darah, Babe?"
"Jadi, apa masalahnya?"
"Aku hanya takut kamu kena masalah ke depannya kalau kamu pernah membunuh orang"
"Belum. Aku belum pernah membunuh orang"
"Syukurlah"
"Tapi, jika hari ini kita tidak bisa lepas dari pandangan mereka, maka hari ini adalah perdana bagi seorang Dito Zeto membunuh orang"
Cantika langsung membeku dan keheningan seketika hadir di tengah mereka.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Dito berbelok tajam dan menambah kecepatan. Saat laju mencapai seratus kilometer per jam, Cantika berpegang erat sambil berkata pelan, "Oke, ini terlalu cepat, Dito. Mungkin ini bukan sesuatu yang bisa aku ........."
"Pegangan, Babe!" Pekik Dito di saat pria itu berbelok lagi, memasuki jalan bebas hambatan dan keluar sembilan belas kilometer Kemudian. Ia memasuki gudang jerami tua yang terbengkalai dan kosong. Pria tampan itu memarkir mobil di sana, mengeluarkan pistol dan menunggu dengan sikap waspada tingkat tinggi. Di sampingnya, Cantika juga sudah mengeluarkan pistol, duduk tak bergerak, dan napasnya tertahan.
Cantika menarik napas tajam, nyaris tercekat, "Dia sudah tidak ada?"
"Aku pikir begitu. Tapi kita akan menunggu di sini sebentar untuk meyakinkan"
Masih terbelalak, Cantika memandang berkeliling sambil bertanya, "Kau mengenal tempat ini, Dito? Daerah apa ini?"
"Tidak" Dito memperhatikan wajah Cantika. Hidung mencuat, bulu mata panjang berwana hitam, bibir tipis agak penuh yang sangat menggoda, dan bola mata biru. "Indah"
Cantika langsung menoleh tajam ke Dito, "Apa yang kau bicarakan?"
"Kau" Dengan menggunakan pistol, Dito menunjuk pelan tubuh Cantika.
"Aku? Aku kenapa?"
"Kau indah, Babe. Dan bibir kamu......" Dito memandangi bibir Cantika.
Cantika languang mencibir dan berkata, "Oh, Dito yang malang. Apa kau tergoda saat ini? Apa kau ingin menciumku saat ini?"
"Setelah dipacu adrenalin barusan, iya, aku tergoda ingin mencium kamu, Babe"
"Lalu, kenapa kamu tidak lakukan sekarang juga?"
"Karena aku takut membuatmu tidak nyaman, Babe"
"Kenapa tidak nyaman?"
"Aku takut jika aku mencium kamu saat ini juga, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku penuh gejolak saat ini, Babe"
__ADS_1
"Lakukan saja! Aku akan membuat diriku sendiri merasa nyaman"
Dito seketika membeku dan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya beberapa kali di depan Cantika.