Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Keras Kepala


__ADS_3

"Aku nggak matre!" Amanda menoleh ke Leon dan mendelik.


Leon tersentak kaget dan berkata, "Saya nggak mengeluarkan kata apapun lho, Non"


"Mulut kamu emang anteng tapi, pikiran kamu nggak anteng. Apaan bilang aku matre dan angkuh. Maksudnya apa?!" Amanda melipat tangan dan masih menghunus tatapan tajam ke Leon.


Leon melirik sekilas sambil terus mengemudikan mobil lalu berkata, "Maafkan saya, Non. Saya nggak sengaja mengatakan itu di benak saya. Tapi kalau nggak matre, kenapa Non membuat peraturan soal pegang ini itu dan dendanya"


Amanda menatap ke arah depan lalu berkata, "Itu karena aku buruh uang"


"Kenapa Anda butuh uang?"


Amanda menoleh sekilas ke Leon, "Semua orang hidup tuh butuh uang. Apalagi sekarang ini aku nggak kerja. Kalian seenaknya meminta pamit untukku ke Bos susu segar dan papanya Happy juga ke Cece Meylan pemilik butik baju di dekat kostku. Aku perlu uang salah satunya untuk membayar kamar kostku"


"Sudah dibayar lunas sama Tuan Barnes, Non. Jadi, Non nggak perlu uang lagi kan?"


"Justru karena itu!" Amanda tanpa sadar meninggikan nada suaranya dan saat ia melihat Leon terlonjak kaget dan mengerem mobil secara dadakan, Amanda langsung berkata, "Maaf!" dengan nada pelan.


Leon lalu melajukan kembali mobilnya saat mobil di belakangnya mulai membunyikan klakson.


Dan Amanda membuka mulutnya lagi, "Justru karena itu, aku perlu uang. Aku perlu uang untuk membayar semua hutangku pada Tuan kamu itu karena, aku nggak ingin ada. ikatan dan hutang budi sama dia. Tapi kan, aku nggak bekerja. Makanya, aku bikin peraturan kalau pegang ini itu harus bayar denda untuk bisa.menghasilkan uang"


"Tapi saya yakin, Anda nggak akan dapat uang sepeserpun Non. Karena, Tuan Barnes orang yang menjunjung tinggi tata Krama dan kesopanan. Tuan Barnes nggak akan sembarangan menyentuh seorang wanita" sahut Leon dengan nada penuh keyakinan.


"Masak? buktinya kemarin dia manggil aku. Kalau manggul tuh berarti nyentuh semuanya kan plus peluk, waaahhh! aku bisa dapat uang banyak kan kalau dia manggul aku lagi, hihihihi"


Amanda langsung terkikik senang dengan sendirinya membayangkan rupiah yang akan masuk ke kantongnya jika Barnes kembali memanggul dia.


Leon mulai berlatih untuk mengosongkan pikirannya jika ia bersama dengan Amanda dan ia hanya bisa menghela napas panjang saat itu.


Amanda lalu bertanya ke Leon, "Bos kamu dipanggil Komandan, emang pangkatnya apa?"

__ADS_1


"Mayjend. Mayjend Barnes Adiwilaga Darmawan. Keren kan, Non" Leon tersenyum lebar membanggakan pangkat yang tersemat di nama bos besarnya.


"Biasa aja" Sahut Amanda, lalu ia kembali bertanya, "Lalu pangkatnya Jake dan empat J lainnya?"


"Tuan Jake pangkatnya Kolonel dan empat Jays yang lainnya, hanya kopral" sahut Leon.


"Dan kenapa kopral yang bernama Joy, tidak menyukaiku? Dia cemburu padaku. Aneh kan, dia tuh cowok kok cemburu padaku?"


"Maaf apa Anda nggak tahu kalau kopral Joy bukanlah seorang cowok tapi cewek?" sahut Leon.


"Hah?! Dia mirip banget kayak cowok jadi aku nggak ngeh kalau ia ternyata cewek. Oh! pantas aja kalau ia cemburu padaku. Lalu, apa Bos kamu berpacaran dengan Joy selama ini?" Amanda menoleh ke Leon dengan wajah penasaran.


"Tuan Barnes hanya pernah mencoba berpacaran sekali. Itu di saat ia masih kuliah dan hanya berlangsung selama satu tahun dan setelah itu, Tuan Barnes tidak pernah berpacaran lagi sampai sekarang" sahut Leon.


"Dengan Kopral Joy?" tanya Amanda.


"Bukan" sahut Leon.


"Kita sudah sampai, Non. Silakan turun!" sahut Leon.


"Tapi, kau belum jawab pertanyaanku"


"Maaf, soal ini saya diperintahkan oleh Tuan untuk tidak mengatakan lebih banyak lagi kepada siapa pun"


"Dasar menyebalkan" Amanda berucap sambil melepas sabuk pengamannya dan melangkah turun dari dalam mobil. Amanda masuk ke dala. tempat kursus dan Leon membuka jendela mobil untuk menunggu Amanda selesai kursus, selama satu setengah jam ke depan.


Joy terus cemberut selama menjalankan misi. Dia terserang badai kecemburuan yang sangat dahsyat menerima kenyataan kalau Komandannya telah menikah. Joy benar-benar mencintai Barnes sejak ia menjadi bawahannya Barnes dua tahun yang lalu karena, Barnes telah berulangkali menyelamatkan nyawanya.


Joy dan timnya yang sedang melakukan pengintaian di sebuah gudang tua diharuskan untuk selalu waspada dan tidak boleh lengah sedikit pun.


Jorge yang diam-diam menaruh hati pada Joy, terus mengamati tingkah laku pujaan hatinya itu dan akhirnya di waktu yang tepat, ia bertanya, "Kenapa kau uring-uringan setelah sarapan di rumahnya Komandan dan kenapa juga setelah itu kau cemberut terus sampai detik ini? Apa yang telah membuatmu kesal?"

__ADS_1


"Sssttt! kita harus fokus dan tidak boleh mengobrol" Joy mencoba menghindari pembicaraan serius soal perubahan sikapnya di hari itu karena, ia tidak ingin siapa pun tahu kalau ia jatuh hati pada sang komandan.


Leon menghela napas panjang dan merasa.lega bisa terpisah dari Amanda. Dia sungguh tersiksa saat.ia berada.di dekat Amanda karena, Amanda bisa mengetahui semua yang terlintas di pikirannya. "Sungguh wanita yang mengerikan dan sangat aneh. Tapi, Bos sangat mencintainya. Jadi, di sini siapa yang lebih aneh, Bos Barnes atau Non Amanda?" Leon berucap sambil mengusap kasar rambutnya. "Bahkan berkat Non Amanda, aku jadi tahu kalau kopral Joy menyukai Tuan Barnes secara.diam-diam selama ini tapi, aku simpan aja soal ini, nggak usah aku sampaikan ke Tuan Barnes nanti malah menambahi beban Tuan"


Setengah jam berlalu dengan cepat dan Amanda kembali masuk ke dalam mobil. Setelah melihat Amanda memakai sabuk pengamannya, Leon segera melajukan kembali mobilnya menuju ke sebuah mall yang cukup besar dan baru sekali itu, Amanda menginjakkan kaki ke Super Mall sejak ia diasuh oleh Omnya.


"Mari kita turun, Non!"


"Katakan dulu untuk apa.kita ke sini?"


"Tuan Barnes memerintahkan saya membawa Anda ke sini ya tentu saja untuk berbelanja, iya masak mau mancing, Non" Leon mulai kesal dengan sikap keras kepalanya Amanda.


"Aku nggak butuh belanja. Aku nggak punya duit banyak untuk belanja di sini"


"Tuan Barnes lihat baju hanya sedikit dan hampir tidak layak pakai. Lalu tas dan sepatu Anda juga sudah butut. Anda juga butuh alat tulis dan laptop untuk menunjang kursus Anda"


"Aku nggak mau. Aku nggak mau hutangku bertambah pada Bos kamu. Yang kemarin aja yang lima ratus juta rupiah yang ia pakai untuk menebusku aja belum bisa aku cicil" sahut Amanda.


"Tapi, Non"


"Pulang. Kita pulang aja atau aku akan teriak" Amanda melotot ke Leon dan dengan sangat terpaksa Leon melajukan mobilnya kembali menuju ke kediamannya Barnes.


"Aku mau nanya lagi. Kenapa Bos kamu bisa sangat kaya raya? apa.dia korupsi?"


Leon langsung mengerem mobil dan menoleh tajam ke Amanda, "Jaga bicara Anda! Tuan Barnes orang yang sangat terhormat dan bermartabat dan Anda jangan sembarangan memfitnahnya!"


Amanda tersentak kaget dan langsung memundurkan wajahnya. Amanda lalu berucap, "Maaf! aku kan cuma nanya"


Leon menghela napas panjang lalu berkata, "Tuan Barnes cucu konglomerat terkenal,.Tuan Moses Elruno dan karena ia cucu sulung laki-laki, ia memegang saham terbesar di grup Elruno. Belum lagi, ia dipercaya oleh Papanya yang adalah seorang pengusaha sukses untuk memegang dan mengelola salah satu anak cabang perusahaan milik Papanya. Itulah kenapa Tuan Barnes sangat kaya raya"


"Oh begitu ya. Maafkan aku, tadi aku sudah berkata ngawur" Amanda tersenyum ke Leon dan Leon mendengus kesal dan kembali melajukan mobil menuju ke kediamannya Barnes.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Leon langsung melaporkan kalau Amanda menolak diajak berbelanja di sebuah mall. Barnes lalu memerintahkan Leon untuk membelikan baju, tas, sepatu, alat tulis dan laptop untuk Amanda dan dengan sangat terpaksa, Leon melihat sepatu butut Amanda yang lumayan bau untuk melihat ukuran sepatu itu sambil bergumam, "Tuan, kenapa Anda bisa jatuh cinta pada wanita semacam itu, saya kok merasa kasihan pada Anda ya, Tuan"


__ADS_2