Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Barnes Kesal


__ADS_3

"Habis ini kita mandi terus ke hotel bertemu dengan Leon dan the five Jays" ucap Barnes sambil mengusap sudut bibirnya Amanda yang terkena kecap manis. "Kamu masih sama seperti Amanda kecil. Kalau makan belepotan kayak gini"


Amanda tersipu malu dan menundukkan wajahnya.


"Pengantin baru ya?" tanya salah satu pengunjung warung bubur ayam yang duduk di bangku yang bersebelahan dengan bangkunya Barnes dan Amanda.


Barnes menoleh ke seorang Ibu berusia sekita enam puluh tahun yang duduk berhadapan dengan seorang Bapak yang berumur sekitar enam puluh lima tahun.


Barnes menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke ibu tersebut.


"Pantesan masih mesra dan penuh rona-rona di wajah. Kalau udah lima tahun aja, kalian akan mulai dingin dan cuek karena kesibukan kalian masing-masing" Ibu tersebut tersenyum ke Barnes.


"Hush! Maafkan Istri saya ya!? Istri saya ini memang ceriwis, hehehehe" Bapak yang duduk di depan Ibu tersebut, tersenyum canggung ke Barnes.


"Tidak apa-apa, Pak. Tapi, maafkan saya jika saya ingin meluruskan pernyataan Istri Anda tadi. Walaupun saya dan Istri saya belum merasakan lima tahun pernikahan kami tapi, kami yakin emm, lebih ke saya yang yakin kalau saya akan selalu hangat dan perhatian pada Istri saya" Barnes tersenyum ke Ibu tersebut yang masih menatapnya.


Ibu tersebut langsung membuka suara, "Lihat saja nanti. Kalau sampai di lima tahun pertama pernikahan kalian, Istri kamu menangis maka ingatlah wajahku ini"


"Hush!" Suami dari Ibu yang bertumbuh tambun dan berambut putih itu kembali menghardik istrinya.


"Saya akan pastikan kalau saya tidak akan pernah membuat Istri saya menangis" Barnes mulai menggeram kesal dan Amanda langsung mengelus punggung tangan suaminya dan suami dari Ibu yang super ceriwis itu langsung menarik istrinya untuk pergi meninggalkan warung bubur ayam tersebut.


"Tapi Pa! Dia ngeyel" sahut Ibu tersebut dan suaminya langsung berkata, "Hush! Kamu yang tidak sopan dan ngeyel" sambil terus menarik istrinya untuk segera pergi meninggalkan warung bubur ayam.


"Kenapa kamu nggak ngalah saja sih tadi?" Amanda menatap serius ke Barnes.


Barnes merengut, "Habisnya Ibu tadi seenaknya bilang kalau kita akan saling cuek nantinya. Enak aja. Tidak semua pernikahan itu sama"

__ADS_1


Amanda mengelus punggung tangannya Barnes, "Iya, iya. Aku yakin pernikahan kita akan selalu cerah ceria"


"Kenapa nggak bilang Sayang lagi? Kita sudah menikah dan aku serius dengan pernikahan kita jadi, kita harus punya panggilan khusus. Kita saling manggil sayang" Barnes menatap serius ke Amanda.


"A....aku belum terbiasa dan......."


"Jika tidak manggil sayang, maka akan kena hukuman, dicium biar ingat" Barnes mengerling jahil dan Amanda langsung berucap, "Baik, sayang. Iya sayang"


Barnes langsung tersenyum semringah.


Ketika mereka bangkit dan keluar dari warung bubur ayam itu, mereka tiba-tiba dikelilingi lima orang laki-laki berbadan tegap dan kekar. Pimpinan dari kelima lelaki berbadan kekar itu berkata, "Serahkan Nona Amanda dengan baik-baik maka kita nggak akan menyakiti kalian"


Barnes menggeram, "Jangan mimpi kalian! Aku tidak akan pernah menyerahkan Istriku"


"Maka hadapilah kami!" sahut pimpinan dari gerombolan itu.


Barnes tersenyum sinis dan berkata, "Dengan senang hati" Barnes menoleh ke Amanda dengan dan berkata, "Pegang terus ujung kaosku! Percayalah padaku dan jangan pernah kau lepaskan!


Baku hantam tanpa adanya senjata pun terjadi dan Barnes berhasil melumpuhkan kelima laki-laki bertubuh kekar itu dalam waktu yang cukup singkat. Barnes lalu meletakkan segepok uang kertas berwarna merah lalu menoleh ke pemilik warung bubur ayam, "Ini uang untuk ganti meja dan bangku yang rusak" Lalu Barnes segera menarik Amanda untuk pergi dari warung bubur ayam itu.


Amanda terus menatap Barnes. Kenyataan bahwa Barnes adalah sosok pria yang tangguh, bertanggung jawab dan berjiwa pahlawan sudah cukup menggetarkan seluruh jiwa Amanda dan melunglaikan tulang-tulangnya Amanda.


Amanda bisa merasakan tangan Barnes yang menggenggam tangannya bergetar. Amanda berlari mengikuti Barnes sambil bertanya, "Kenapa tanganmu bergetar?"


Barnes menoleh sambil berlari, "Aku takut kalau kamu kenapa-kenapa. Kamu nggak papa, kan? Ada yang luka?"


Amanda menggelengkan kepalanya sambil tetap berlari dan gelengan kepalanya Amanda sedikit meredakan rasa khawatirnya Barnes.

__ADS_1


Sesampainya di rumah dinas Omnya Amanda, Barnes memerintahkan Amanda untuk berlari masuk ke dalam dan berkemas. Sementara itu, Barnes menunggu di halaman depan untuk berjaga-jaga sembari menelepon Jake, "Jemput aku dan Amanda sekarang juga! Tempat ini tidak aman lagi. Kami baru saja diserang"


Jake menutup ponselnya dan segera mengajak anak buahnya untuk menjemput Komandan dan Nyonya mereka. Leon pun segera meluncur setelah Barnes meneleponnya.


Semua datang ke kediamannya Omnya Amanda. Dan dari hasil meeting dadakan mereka, mereka memutuskan untuk tinggal di rumah dinasnya Omnya Amanda sehari lagi sampai situasi di luar tenang barulah mereka pulang lusa.


Leon dan Jake berpendapat bahwa rumah dinasnya Omnya Amanda yang berada di tengah perkampungan lebih aman dibandingkan hotel ataupun penginapan lainnya.


Barnes akhirnya menyetujui pendapatnya Jake dan Leon dan meminta Amanda memasukkan kembali kopernya ke kamar yang semula menjadi miliknya Laura.


Keputusan mereka sampai ke telinganya Tantenya anda dan membuat Tantenya Amanda Lang menyemburkan protes,"Kenapa kalian semua ke sini? emangnya ini guest house yang bisa didatangi dan ditinggal pergi begitu saja? Apa kalian tidak........."


Plak! Bunyi dua gepok uang berwarna merah terdengar kala Barnes meletakkan dua gepok uang tersebut di atas meja ruang tamu dengan kesal, "Segini cukup?"


"Untuk apa dulu nih?" Tantenya Amanda langsung mengambil dua gepok uang itu dan mulai menghitung dan mencium harumnya.


"Untuk kita semua menginap di sini selama satu hari. Besok kita akan tinggalkan tempat ini" sahut Barnes.


"Kalau untuk sehari aja, cukup, hehehehe. Kalau gini kan enak, ada uang ada layanan, hehehehe" Tantenya Amanda lalu membawa dua gepok uang berwarna merah ke dalam.


Leon dan yang lainnya menatap punggung Tantenya Amanda dengan kesal.


"Sudah ceriwis matre pula. Kasihan Om kamu" celetukan Jake membuat semuanya tertawa lirih kecuali Barnes. Barnes tampak tegang dan terus merangkul bahu Amanda. Amanda tampak pucat dan napasnya masih tersengal-sengal karena berbagai hal.


"Kau bawa masuk dulu Amanda ke kamar. Tenangkan dulu istri kamu!" perintah Jake


Barnes lalu membawa Amanda masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan langsung mencium bibirnya Amanda. Amanda tersentak kaget dan mendorong Barnes pelan sambil berucap, "Aku habis makan daun bawang tadi pas makan bubur ayam. Mulutku bau"

__ADS_1


Barnes menarik tengkuknya Amanda, "Aku tidak peduli" Dan dia kembali mencium bibirnya Amanda.


Ketegangan yang Barnes rasakan berbalut dengan daya sensual yang murni, ekspresi tak berdosa dari Amanda yang murni, membuat Barnes ingin bercinta dengan Amanda saat itu juga...............


__ADS_2