Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Pelajaran Untuk Tantenya Amanda


__ADS_3

Laura terus menatap Barnes yang duduk tepat di depannya, Dia sungguh sempurna. Tegap, gagah, tampan dan kaya. Kenapa ia tidak melirikku dan memilihku untuk ia jadikan istrinya? kenapa harus si jelek Amanda? Aku lebih cantik. modis dan seksi dari Amanda kan? kenapa ia tidak melirikku sama sekali?"


Barnes sesekali menyuapkan makanan di piringnya ke Amanda dan sesekali mengusap sudut bibirnya Amanda dengan ucapan, "Makan pelan-pelan"


Amanda menoleh ke Barnes dengan mulut penuh makanan dan tersenyum.


Laura menatap kemesraannya Barnes dan Amanda dengan sorot mata penuh dengan iri hati dan memakan makanan yang ada di piringnya dengan wajah cemberut.


Barnes lalu menatap Tantenya Amanda, "Sebentar lagi akan ada barang dikirim ke sini dan saya minta barang itu ditaruh di ruang tamu"


"Hah?! Barang apa?" tanya Tantenya Amanda.


Barnes mengelus rambutnya Amanda, "Saya tidak bisa bilang sekarang karena itu kejutan untuk istri saya"


Tantenya Amanda menghela napas diam-diam. Dia terpaksa menyetujui permintaannya Barnes karena Barnes adalah cucu dari Moses Elruno dan putra dari Raja Darmawan pemilik rumah yang ia tempati.


"Dan satu lagi, rumah ini rumah dinas kan?" tanya Barnes ke Tantenya Amanda.


"Iya benar" sahut Tantenya Amanda.


"Milik Darmawan grup kan? Rumah dinas untuk karyawan Darmawan grup yang setingkat dengan kepala cabang, benar begitu?"


"Iya benar" sahut Omnya Amanda.


"Jadi, secara otomatis saya juga berhak mengatur rumah ini, kan?" tanya Barnes.


Omnya Amanda menepuk pundaknya Barnes sambil berkata, "Tentu saja boleh. Ini rumah milik Papa Anda, milik Anda"


Barnes menatap Tantenya Amanda dengan senyum penuh arti. Lalu berkata, "Saya akan tidur di kamarnya Amanda malam ini karena saya ingin merasakan bagaimana penderitaan Amanda selama ia tidur di kamar dia yang sempit dan lembab itu tapi, mulai besok, saya ingin pindah ke kamar yang terbaik dan terbesar yang ada di rumah ini"


"Hah?! Apa?! itu.........."


"Apa Anda ingin keluar dari rumah ini? Karena setahu saya, siapa yang tidak menyetujui permintaan dari pemilik rumah ini maka ia harus keluar dari rumah ini, benar begitu, kan?" Barnes menatap tajam ke Tantenya Amanda.

__ADS_1


Amanda langsung menyentuh bahunya Barnes dan berbisik, "Jangan seperti itu! aku.........."


Barnes langsung menoleh ke Amanda dan berbisik, "Diam atau mau aku cium?"


Amanda langsung menarik tangannya dari bahu Barnes namun, Barnes langsung meraih tangan Amanda dan menggenggam tangan itu.


Amanda hanya bisa diam dan menghela napas panjang, ia tidak berani menatap Tantenya


Laura melirik genggaman tangan itu dengan sangat kesal.


"Kamar siapa yang paling besar dan mewah di rumah ini?" tanya Barnes"


"Ka.....Ka.....kamar Laura" sahut Tantenya Amanda.


" Mulai besok, pindahkan semua barang Laura ke kamar tamu dan fungsikan kembali kamar yang selama ini ditempati oleh Amanda sebagai gudang kembali dan jangan pernah dipakai untuk kamar lagi!" Ucap Barnes dengan sorot mata tajam dan sorot mata yang tidak bisa ditoleransi lagi.


"What?! kenapa begitu? Aku nggak mau pindah! Ma! Pa!" Laura langsung bangkit dan menggebrak meja makan.


Barnes menatap Laura, "Kalau ridak setuju maka, kau pergilah dari rumah ini dan tidurlah di jalanan. Masih mending aku berbaik hati memindahknmu ke kamar tamu bukan ke kamar sempit dan lembab yang selama ini dipakai oleh Amanda. Atau kau mau pindah ke kamar sempit dan lembab itu?" tanya Barnes dengan wajah dingin.


"Bagus" Barnes lalu mengajak Amanda bangkit dan berjalan menuju ke halaman belakang rumah dinas itu. Halaman belakang yang tidak begitu luas itu terdapat satu bangku panjang yang terbuat dari rotan. Barnes mengajak Amanda duduk di sana.


Amanda menoleh ke Barnes, "Kenapa kamu sekeras itu pada Tanteku?"


"Dia harus diberi perpajakan biar ia sadar" sahut Barnes.


"Watak tidak bisa diobati. Tanteku selamanya akan seperti itu. Egois dan kejam. Aku bisa mendengar semua pemikiran jahatnya tadi. Begitu juga dengan Laura" sahut Amanda.


"Yeeeeah kamu benar. Watak sulit untuk diubah tapi setidaknya, Tante kamu dan Laura akan mendapatkan sedikit pelajaran dari perbuatan buruk mereka ke kamu selama ini" sahut Barnes.


Amanda tersenyum lalu mengalihkan perhatiannya ke awan-awan.


Barnes mengikuti arah pandangnya Amanda. Di saat Barnes mengangkat tangannya pelan-pelan untuk memeluk bahunya Amanda, tiba-tiba Amanda memekik, "Lihatlah!"

__ADS_1


Barnes langsung menarik kembali tangannya dan bertanya ke Amanda, "Apa? Ada apa?"


"Lihat awan itu! Dia berbentuk kelinci, lucu ya?"


Barnes mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi untuk mencari bentuk awan yang seperti kelinci dan ia tidak menemukannya, "Mana? nggak ada yang berbentuk kelinci. Yang aku lihat hanyalah segumpal awan putih seperti kapas dan tak berbentuk, mana kelincinya?"


Amanda masih menatap awan-awan di atas, "Dan lihat yang di sana! Bentuknya seperti Pikachu" Amanda lalu menoleh ke Barnes, "Kau tahu Pikachu, kan?"


Barnes menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu. Dan kau tahu?"


"Tahu dong. Aku punya mainan pemberian dari Mikha pas aku ulang tahun, mainan itu namanya memberi makan Pikachu. Sebentar aku ambilkan dan......."


Barnes menarik lengannya Amanda ketika Amanda hendak bangkit dan meninggalkannya. Amanda terduduk kembali dan menoleh ke Barnes dengan tanya, "Kenapa menarik lenganku?"


"Aku nggak mau lihat mainan pemberian dari teman kamu itu dan aku nggak mau tahu seperti apa bentuk dari Pikachu" Barnes mulai merengut.


Amanda menautkan alisnya, "Kenapa?"


Barnes ingin meneriakkan kata, karena aku cemburu Tapi, ia malu. Akhirnya laki-laki gagah nan tampan itu hanya bisa semakin mengerucutkan bibirnya dan menatap kembali ke kawanan awan di langit cerah.


"Mikha itu baik dia ........."


Barnes langsung menoleh ke Amanda dan dengan kecepatan kilat, ia membungkam bibir Amanda dengan bibirnya.


"Ummmm" Amanda membeliak terkejut dan beberapa detik kemudian, matanya mulai meredup dan tepat di satu menit ia merasakan ciuman lembutnya Barnes, matanya menutup secara perlahan dan ia mulai membalas ciumannya Barnes dengan nalurinya bukan dengan kesadarannya


"Ah, ah, ah" Amanda.dan Barnes terengah-engah ketika mereka melepaskan ciuman mereka. Barnes lalu mengecup keningnya Amanda, "Kalau kau sebut nama Mikha lagi, aku akan membopongmu sekarang juga ke kamarmu dan aku akan........"


Amanda langsung berkata, "Iya, aku janji nggak akan sebut nama Mikha lagi di depanmu"


Amanda tiba-tiba menegang dan Barnes langsung bertanya, "Ada apa?"


"Boy datang" sahut Amanda dengan tubuh gemetar karena Amanda teringat kembali peristiwa saat ia hampir diperkosa oleh Boy.

__ADS_1


"Dia adik kandung Tanteku. Dan dia hampir memperkosaku dulu tapi, aku berhasil kabur dan pergi dari rumah ini hingga aku bertemu denganmu dan ........"


Barnes langsung bangkit dengan menggertakkan giginya.


__ADS_2