
Putri Amina membuang semua teh yang sudah dia racik dengan spesial dan dia sudah mencampur teh itu dengan obat perangsang itu, ke wastafel, lalu ia lemparkan cangkir teh yang terbuat dari keramik mahal ke tembok sampai cangkir itu hancur berkeping-keping seperti harinya. Akhirnya ia keluar dari kamar pangeran Arka dan berjalan ketika ia membuka pintu kamar, dia melihat pangeran Abiyu berdiri di depan pintu.
Putri Amina menutup pintu kamar dengan pelan dan dengan wajah sedih penuh dengan gurat kekecewaan, ia menatap pangeran Abiyu dan bertanya, "Pangeran, kenapa Anda berdiri di sini?"
Pangeran Abiyu mengelus tengkuknya sambil tersenyum canggung. Lalu, pangeran yang tidak kalah tampan dengan kakak tirinya itu, berkata, "Aku lihat Kak Arka tidak pulang. Jadi, emm, aku ingin mengajakmu keluar jalan-jalan untuk melepas kekecewaan kamu. Apakah kau mau?"
"Ke mana? Ini sudah malam" Sahut Putri Amina.
"Ke suatu tempat yang asyik dan tempat itu memang hanya buka di malam hari. Gimana, kau mau? Mau ya, kau kan tidak pernah pergi ke mana-mana" Pangeran Abiyu tersenyum tulus ke putri Amina.
"Kenapa Anda sangat peduli pada saya?" Tanya Putri Amina.
"Karena kita teman" Sahut pangeran Abiyu.
"Baiklah. Karena, kita adalah teman, saya mau pergi dengan Anda. Tapi, ada Nenek di depan, Nenek pasti tidak akan ijinkan kita keluar semalam ini"
"Aku sudah siapkan semuanya. Ikuti saja aku!" Sahut Pangeran Abiyu sambil berjalan mendahului putri Amina dan mengayunkan tangannya.
Pangeran, tempat apa ini?" tanya Putri Amina saat pangeran Abiyu mengajaknya masuk ke dalam sebuah klub malam mewah.
"Di sini, kamu bisa bebas mengekspresikan diri kamu" Sahut pangeran Abiyu.
Abiyu memesan private room dan mengajak putri Amina masuk ke sana. "Kamu pesan apa?"
Putri Amina yang hanya berpura-pura lugu untuk merebut hati Ratu Ambika padahal sebenarnya dia sudah terbiasa hidup liar saat ia masih berkuliah di luar negeri, tanpa ia sadari ia mengucapkan kata, "Blue Ocean Sampanye"
Pangeran Abiyu tertegun untuk beberapa detik, lalu ia tertawa terbahak-bahak, "Hahahahahaha, aku tahu kalau kamu bukanlah wanita lugu dan naif"
"Ah, sa.......saya.......emm, itu........" Putri Amina langsung menutup mulutnya dengan bibirnya dan tampak panik.
"Jangan khawatir! Aku, kan, sudah katakan tadi, kalau kamu bisa jadi dirimu sendiri di sini dan kamu tidak perlu berpura-pura di depanku lagi karena kita, teman. Rahasia kamu akan di tanganku" Sahut pangeran Abiyu.
__ADS_1
"Terima kasih, pangeran" Sahut putri Amina dengan senyum lega.
Pangeran Arka keluar dari kantornya tanpa pamit. Felix sang asisten yang sangat setia itu, ada di ruang kerjanya. Felix ketiduran dan tidak mengetahui kalau junjungannya pergi darinya. Saat Noah hendak membuka pintu mobilnya, dia dikejutkan dengan suara seorang laki-laki yang berat, namun terdengar familiar di kuping Noah, "Noah"
Walaupun dia masih dipanggil pangeran Arka oleh orang-orang yang masih ada di sekitarnya saat ini, tapi panggilan Noah membuatnya menoleh ke asal suara secara refleks.
Barnes yang nekat mendatangi perusahaan milik keluarga kerajaan Wahyatma, langsung memeluk Noah dan menepuk punggungnya Noah sambil terus berkata, "Syukurlah kau masih hidup"
Noah membeku di dalam dekapan pria yang tampak asing bagi penglihatannya itu untuk beberapa detik lamanya. Kemudian, pemuda gagah berbola mata biru itu menarik diri dengan pelan dari pelukan pria yang masih tampak asing baginya dan dia mundur satu langkah untuk mengamati pria yang berdiri di depannya yang gagah dan tampan berumur lima puluhan. Pangeran Arka yang adalah Noah, lalu bertanya, "Anda siapa?"
"Aku Barnes Adiwilaga Darmawan. Aku papanya Batari Abar Darmawan. Aku senang kalau ternyata kamu masih hidup dan kamu menikahi Batari. Selamat, ya. Jaga Tari dengan baik! Walaupun aku tahu kalau kamu masih hilang ingatan dan bingung dengan identitas kamu apakah kamu Arka ataukah Noah, tapi aku yakin kamu akan selalu menjaga dan melindungi Tari" Barnes tersenyum tulus ke Noah.
Pangeran Arka sontak memeluk pria yang ada di depannya saat ia mengetahui bahwa pria yang ada di depannya adalah papanya Batari Abar Darmawan. Barnes langsung menggemakan tawa bahagianya dan kembali menepuk punggung menantunya dengan penuh haru.
Barnes lalu melepaskan pelukannya dan bertanya, "Kau mau ke mana sekarang?"
"Saya mau ke pulau untuk menemui Batari. Tadi, Batari menelepon saya dan dia bilang kalau dia merindukan saya" Pangeran Arka yang Barnes ketahui adalah Noah Baron yang sebenarnya, langsung merona malu di depan papa mertuanya.
"Naik mobil, Om, eh, Pa" Sahut Noah yang masih memakai outfitnya pangeran Arka Bhadrika Wahyatma.
Bareng tersenyum dan berkata, "Iya benar. Kamu harus memanggilku Papa mulai sekarang!" Lalu Barnes menatap lekat menantunya untuk bertanya, "Apakah jauh tempatnya?"
"Lumayan. Memakan waktu setengah hari kalau ditempuh pakai mobil lalu menyeberang pakai kapal" Jawab suaminya Batari.
Barnes langsung merangkul bahu menantunya, "Terlalu lama. Kita pakai helikopterku saja, ayo! Aku juga ingin bertemu dengan putri kecilku yang liar kayak kucing itu"
Suaminya Batari terkekeh geli dan berucap, "Iya Papa benar. Istri saya memang liar, tapi imut kayak kucing.
Barnes yang mengemudikan helikopternya. Dua orang pria gagah dan tampan, namun berbeda generasi itu, menuju ke pulau pribadi milik pangeran Arka Bhadrika Wahyatma di jam dua belas malam karena, mereka harus menempuh perjalanan dua jam terlebih dahulu untuk sampai ke hangar pribadi milik kakeknya Barnes, Moses Elruno.
Batari yang masih menunggu di teras depan meringkuk di bangku dengan baju hangat dan selimut tebal. Dia tidak bisa tidur saat ia mendengar kata, tunggu aku, dari suami tampannya. Batari bergumam, Apa Noah beneran akan ke sini?"
__ADS_1
Noah menoleh ke Barnes, "Saya juga ingin bisa menerbangkan helikopter. Sepertinya seru"
Barnes menoleh ke Noah dengan wajah terkejut, lalu berkata, "Kamu bahkan tidak ingat kalau kamu bisa menerbangkan helikopter? Kamu bisa Noah. Besok aku akan perlihatkan ke kamu kalau kamu bisa menerbangkan helikopter. Papa yakin insting kamu akan menuntun kamu untuk menerbangkan helikopter ini besok"
"Ah, benarkah, Pa?" Noah mengerjap girang.
Barnes menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat sembari menggemakan tawa bahagianya.
Dua jam berikutnya, mereka mendarat di pulau pribadi dan anak buahnya pangeran Arka langsung bersikap waspada dan menodongkan pistol ke helikopter asing yang mendarat di pulau pribadi milik pangeran Arka Bhadrika Wahyatma.
Pangeran Arka langsung melompat turun dan berteriak, "Turunkan senjata kalian! Ini aku"
Semua anak buahnya pangeran Arka yang berjaga di garis terdepan, langsung menurunkan senjata mereka. Lalu, mereka mengawal pangeran Arka dan tamunya menuju ke vila yang mirip seperti istana.
Mobil yang disupiri oleh anak buahnya pangeran Arka memasuki gerbang dan langsung meluncur ke rumah utama. Pangeran Arka turun dengan tamunya dan Batari langsung bangkit berdiri dengan tertegun.
Barnes langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya ke Batari sebagai kode agar Batari tidak memanggilnya Papa di depan semua anak buahnya pangeran Arka yang masih berdiri tegap di antara mereka.
Batari yang cerdas langsung memahami kode papanya dan dia hanya diam mematung di depan papa dan suaminya. Padahal yang sebenarnya Batari rasakan, dia ingin berteriak sekencang-kencangnya memanggil papa dan suaminya lalu berlari memeluk kedua pria tampan yang sangat ia rindukan itu.
Pangeran Arka lalu memerintahkan semua anak buahnya untuk kembali ke garis depan dan tepat di saat semua anak buahnya pangeran Arka telah pergi, Batari langsung melompat untuk memeluk papanya dan berkata, "Makasih Papa datang ke sini untuk menjenguk Tari. Tari sangat merindukanmu, Pa"
Barnes tertawa girang sambil menepuk-nepuk punggung putri cantiknya itu.
Pangeran Arka berdeham lalu berkata, "Dan kamu tidak merindukan suami kamu?"
Batari langsung tertawa renyah, melepaskan pelukan papanya lalu ia beralih memeluk Noah sambil memekik, "Aku juga sangat merindukanmu, Suamiku"
Beberapa menit kemudian, Batari masuk ke dalam kamarnya sendirian karena, Noah diajak Barnes untuk membahas hal yang sangat penting dan rahasia.
Setelah satu jam berbincang dengan mertuanya, akhirnya Noah, masuk ke dalam kamarnya. Noah Baron yang juga adalah pangeran Arka untuk waktu yang belum diketahui sampai kapan dia akan kehilangan ingatan dan harus menjadi pangeran Arka Bhadrika Wahyatma, dengan lengan bersedekap dan pundak bersandar di dinding kamar, menatap wanita yang berbaring meringkuk di bawah selimut. Wanita itu masih tampak asing bagi penglihatannya, namun bagi insting dan hatinya, wanita itu tidaklah asing. Noah Baron yang masih dianggap sebagai pangeran Arka oleh orang-orang di sekitarnya, bergumam lirih, "Aku sangat nyaman berada di dekat kamu, Istriku, Batari Abar Darmawan. Banyak orang di sekitarku memandang dan memanggilku dengan pangeran Arka, hanya kamu yang dengan lantang menyebut kalau aku adalah Noah Baron. Kau bukan hanya cantik, unik, galak, dan liar, tapi kau juga tangguh wanitaku" Noah Baron lalu melangkah pelan untuk naik ke atas ranjang dan dia masuk ke dalam selimut untuk memeluk tubuh ramping istrinya yang tampak seksi di beberapa bagian itu, dengan penuh kerinduan. Noah Baron kemudian jatuh ke alam mimpi dengan rasa nyaman, damai, dan bahagia.
__ADS_1