
Dito langsung menunjukan kartu identitasnya saat ia sampai di TKP sambil bertanya ke petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu rumah tetangganya Dito yang berada di blok D, "Ada apa?"
"Kenapa komandan pasukan khusus bisa ada di sini? Anda kenapa bawa bayi, Komandan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan petugas kepolisian itu, Dito justru menyemburkan, "Ada apa?" Komandan tampan itu menanyakan pertanyaan yang sama dan memberikan penekanan kali ini.
"Rumah ini sepetinya dirampok dan ada dua mayat di dalam" Sahut petugas kepolisan yang masih tampak muda dan masih culun.
"Tolong gendong sebentar bayi ini. Namanya Mikha. Kalau ia menangis panggil Mikha, Mikha sambil senyum, maka Mikha akan berhenti menangis. Aku akan cek ke dalam rumah sebentar" Dito langsung meletakkan Mikha ke lengan petugas kepolisan yang berbadan cungkring dan berwajah culun itu.
Pemuda berbaju dinas kepolisian dengan pangkat yang masih belum tinggi, memeluk erat bayi laki-laki lalu ia memandang bayi yang dititipkan padanya itu dengan pelan. Dia takut kalau bayi itu melihatnya dan menangis. Petugas kepolisian itu langsung menghela napas lega lalu berkata, "Ah, syukurlah bayi ini udah merem. Aku nggak perlu menghiburnya kalau dia nangis tiba-tiba"
Dito terkejut setengah mati saat ia berjongkok di depan jasad laki-laki, "Dia adalah orang yang membawa bom dan aku kejar sebulan yang lalu. Kenapa dia bisa ada di sini? Dia anggota ******* dan nggak mungkin dia ada di perumahan elite. Lalu, siapa wanita ini? Kalau dilihat dari pakaiannya, wanita ini adalah warga biasa. Apa wanita ini Istrinya?"
Dito kemudian bangkit berdiri dan mengamati seluruh penjuru rumah mewah berlantai dua yang desain interiornya mirip dengan rumahnya. "Ada banyak kejanggalan di sini" Gumam Dito sambil bersedekap.
Sementara itu, Cantika bangun dan berjalan pelan keluar dari kamarnya setelah ia memakai piyamanya. "Kenapa Dito lama banget? Apa Mikha rewel?"
Cantika masuk ke kamar bayi dan langsung mengerutkan kening, "Dito dan Mikha, kok, nggak ada? Lalu, kenapa pintu balkon dibiarkan terbuka lebar begini?" Cantika menghela napas panjang dan saat ia menutup dan mengunci pintu balkon, ia melihat ada mobil Van berhenti di depan rumahnya dan itu bukan mobil Van yang berisi anak buahnya Dito ataupun anggota timnya.
Cantika langsung melesat berlari ke kamarnya Aurora. Wanita cantik itu mendengus kesal, "Dito dan Mikha juga nggak ada di sini. Apa dia ajak Mikha ke lantai bawah? Sial!" Cantika langsung membopong Aurora dan memasukkan Aurora ke ruang rahasia setelah itu ia bergegas membopong Marsha dan memasukkan Marsha ke ruang itu juga. Setelah menarik tas berbentuk lumba-lumba dan rak buku menutup sempurna, Cantika berlari ke kamarnya untuk mengambil pistol.
Saat Cantika keluar dari kamarnya ia dikejutkan dengan cekalan di tengkuknya dan istri Dito Zeto itu mendesis pelan saat orang yang mencengkal tengkuknya membenturkan keningnya ke tembok. Dengan cepat Cantika mengangkat kedua kakinya menempel ke tembok dan menjejakkan kedua kakinya di tembok untuk bisa bersalto sampai ke belakang tubuh pria itu dan dengan cepat keadaan berbalik. Wanita cantik istri Dito Zeto mencengkal tengkuk pria tinggi besar berotot di depannya dan mengarahkan pistol di pelipis orang itu sambil mendorong pria itu sampai masuk ke kamarnya. Cantika menutup pintu kamar dengan tumit kakinya samb bertanya, "Siapa kau?"
__ADS_1
"Bunuh saja aku! Bunyi pistol kamu akan membawa kelima temanku yang masih memeriksa lantai bawah naik ke sini dan menghajarmu habis-habisan" Sahut pria itu.
Cantika langsung memukul pundak pira itu dengan pistolnya dan seketika pria berotot yang belum pernah Cantika jumpai sebelumnya jatuh pingsan di lantai kamarnya Cantika.
"Oke, dia akan pingsan selama setengah jam. Jadi, aku harus cepat bertindak menghabisi lima orang yang ada di........."
Ceklek!
Mendengar pintu dibuka pelan, Cantika dengan sigap mengarahkan ujung pistolnya ke depan dan wanita cantik itu langsung menghela napas panjang, mengunci kembali pistolnya, dan berlari memeluk suaminya yang masih menggendong Mikha.
Cantika lalu melepaskan pelukannya dan menatap Dito untuk bertanya, "Ada lima orang lagi di bawah dan........"
"Aku sudah melumpuhkan semuanya" Sahut Dito.
"Hmm. Anak ini pemberani. Dia tidak menangis sama sekali saat aku mengajaknya melawan kelima pria brengsek yang berani mengusik keluargaku"
Cantika menggelengkan kepalanya lalu bertanya kembali, "Kau darimana?"
"Maafkan aku. Aku tadi keluar sebentar karena melihat di blok D ada mobil polisi dan ambulans datang. Saking terkejutnya aku keluar dengan masih mengendong Mikha. Rora dan Marsha?"
"Mereka aman. Aku masukkan mereka ke ruang rahasia" Sahut Cantika.
Dito mencium pipi Cantika lalu berkata, "Istriku memang hebat"
__ADS_1
Cantika mencebikkan bibirnya dan langsung meraih Mikha dan membawa Mikha ke kamar bayi. Dito berjongkok di depan pria yang berhasil dilumpuhkan istrinya dan masih pingsan di lantai kamarnya. "Dia punya tato yang sama dengan jasad laki-laki yang aku lihat di rumah yang ada di blok D tadi. Apa-apaan ini? Apa ini berarti mereka benar-benar sudah mengincar aku dan keluargaku? Brengsek! Berani benar kalian mengusik keluargaku! Akan aku buru kalian sampai habis!" Dito menggeram dan mengepalkan kedua tinjunya.
Setelah anak buahnya datang dan membawa pergi keenam pria berotot yang sudah berani masuk ke rumah Dito Zeto dan Cantika, Dito menoleh ke istri cantiknya lalu mengusap pelan pelipisnya Cantika sambil berkata, "Kening kamu berdarah, Sayang" Dito lalu membopong istrinya dan berjalan ke kamarnya sambil berkata, "Maafkan aku! Gara-gara aku kamu terluka seperti ini"
Cantika mengecup bibir Dito dan berkata, "Hei! Aku ini Cantika. Luka kecil seperti ini biasa bagiku. Jangan lembek jadi cowok! Kau ini komandan pasukan khusus, Dito Zeto"
Dito mencium pelan luka di kening Cantika lalu berkata, "Aku akan obati luka kamu. Tapi ada bayarannya"
Cantika mengerutkan keningnya dan tersenyum nakal laku bertanya, "Setelah malam panjang dan melelahkan ini kau masih bisa melanjutkan olahraga malam kita di ranjang?"
Dito membenturkan pelan keningnya di kening Cantika lalu ia tersenyum dan berkata, "Bukan itu bayarannya. Dasar otak mesum"
Cantika terkekeh geli lalu bertanya, "Lalu apa bayarannya?"
Dito merebahkan Cantika dengan pelan di ranjang lalu mengambil kotak obat sambil berkata, "Besok pagi kamu menginap di rumah Papa sampai aku selesai menumpas habis berandalan-berandalan ni"
Cantika langsung duduk bersila di tengah ranjang dan saat Dito duduk di tepi ranjang, wanita cantik itu berkata, "Aku akan ikut denganmu. Aku akan........"
"Nggak boleh!" Dito menggelengkan kepalanya dengan mantap.
"Kenapa nggak boleh? Apa karena aku bukan dari pasukan. khusus?"
"Bukan karena itu tapi karena kamu adalah ibu dari anak kita. Aku nggak mau membahayakan kamu dan anak kita. Lagipula sekarang ini kita diberi tanggung jawab momong Mikha dan Marsha" Dito berucap sembari mengoleskan salep luka dengan pelan di kening istri cantiknya.
__ADS_1
Cantika akhirnya mengalah dan setelah menghela napas panjang, wanita cantik itu berkata, "Baiklah"