Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Mencuri Ciuman


__ADS_3

Dito tersenyum tanpa ada yang tahu. Dia hanya pura-pura pingsan, karena ia merasa nyaman menyusupkan wajahnya di atas dada Cantika.


Dito bergumam di dalam hatinya, rasanya hangat dan nyaman sekali. Aku jadi malas bangun, nih.


Namun, harapan Dito sirna. Di saat ambulans datang, petugas medis langsung menarik dengan hati-hati tubuh Dito dari atas tubuh Cantika dan memindahkannya ke atas bed dan Dito langung dibawa lari masuk ke dalam ambulans.


Cantika memaksa masuk ke dalam ambulans dan Angga terpaksa memperbolehkan Cantika masuk ke dalam ambulans setelah ia menangkap kedipan mata Dito.


Sial! Ternyata Bos hanya pura-pura pingsan. Batin Angga dengan wajah kesal.


Cantika yang jarang menangis kecuali saat ia melihat drama Korea, memegang tangan Dito sambil terus bergumam, "Kamu harus selamat! Jangan mati! Kalau kamu mati, aku takut kamu kalau kamu jadi hantu dan menghantui aku terus. Kamu, kan, tahu aku takut hantu"


Dito yang masih pura-pura pingsan dan masih memejamkan kedua matanya, sontak mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! Dia mendoakan aku jadi hantu. Dia hanya khawatir dihantui aku kalau aku jadi hantu daripada mengkhawatirkan keadaanku saat ini. Sebenarnya hati dan pikiran cewek ini terbuat dari apa, sih?


Saking kesalnya, tanpa Dito sadari, ia membuka kedua matanya dan sontak terkejut dengan sendirinya saat ia bersitatap dengan kedua bola mata birunya Cantika.


"Hei! Syukurlah kau sadar. Terima kasih nggak jadi hantu. Aku........."


Dito kembali menutup kedua bola matanya karena kesal mendengar kata hantu dan Cantika sontak menautkan kedua alisnya dan bergumam, "Kok dia merem lagi?" Cantika lalu menempelkan telinganya ke dada Dito dan menegakkan kembali kepalanya sambil berucap, "Detak jantungnya kuat dan kencang. Dia akan baik-baik saja"


Cewek ini gila atau apa, sih? Dengan santainya ia menempelkan telinganya di dadaku. Huffftttt! Bikin jantungku berdetak nggak karuan, nih. Dasar cewek nggak punya hati! Batin Dito kesal.


Cantika terus menggenggam tangan Dito dan bergumam di dalam hatinya, apa aku sepenting itu di hatinya? Kenapa dia jadi ceroboh demi aku? Kenapa dia berlari begitu saja tanpa memikirkan keselamatannya demi aku. Apa dia benar-benar mencintaiku?


Sesampainya di rumah sakit, Dito langsung dibawa ke kamar bedah. Cantika dilarang masuk. Angga dan semua anak buahnya mendekati Cantika. Angga langsung bertanya, "Gimana kondisi Bos?"


"Bos kamu ada di dalam. Sedang menjalani pembedahan. Katanya ada otot yang robek" Sahut Cantika.


Operasi berjalan cepat dan saat Dito dibawa masuk ke dalam kamar VVIP ruang sakit tersebut, Cantika tengah dikawal anak buahnya Dito ke kantin. Wanita itu kelaparan.


Dito menoleh ke Angga, "Di mana Cantika?"


"Dia makan di kantin dan ditemani dua orang anak buah kita, Bos"


Tiba-tiba terdengar suara cempreng, "Hai! Aku datang. Aku bawakan kue untuk kamu. Kamu mau, kan? Soalnya kamar sebagus apapun, makanan di rumah sakit tetap sama. Nggak enak, hehehehehe. Nih, makan, ya, aku suapi"


Angga sontak mendelik dan merebut kue dari tangan Cantika, "Jangan sembarangan kasih makan ke Bos! Kita belum konsultasi ke Dokter, makanan apa aja yang boleh dan nggak boleh dimakan oleh Bos"

__ADS_1


"Aku pikir kue itu boleh dimakan" Cantika berucap dengan mengerucutkan bibir.


"Nggak! Kita tunggu Dokter visit dulu"


"Tinggalkan aku dan Cantika, Ngga!" Perintah Dito.


"Tapi, Bos.........."


"Tolong! Emm, kamu pesan kamar lagi aja sana. Pesan yang ada di sebelah kamar ini, untuk tempat istirahat kamu dan anak buah kita"


"Baik, Bos" Sahut Angga. Lalu Angga menoleh tajam ke Cantika sambil berucap, "Jangan bikin Bos celaka lagi"


"Siap delapan enam" Sahut Cantika dengan senyum jenaka dan Angga hanya bisa mendengus kesal lalu pergi meninggalkan kamar rawat inapnya Dito Zeto.


Cantika lalu duduk di tepi ranjang dan dengan senyum tulus ia berucap, "Terima kasih sudah menyelamatkan aku. Aku akan membalas budi dengan sangat baik setelah ini"


Dito langsung mengulas senyum jahil dan berkata dengan berdesis, "Ssshhhh! Sakit, nih"


Cantika yang masih merasa bersalah, langsung berkata dengan panik, "Apakah benar-benar sakit?"


"Kenapa nggak dikasih obat anti nyeri, sih?"


"Kau tahu soal obat?"


"Cuma tahu sedikit. Mamaku, kan, seorang dokter" Sahut Cantika.


"Ssshhhh! Sakit banget, nih" Dito kembali berdesis dan meringis lebar.


"Kata Mama, cara terbaik untuk meredakan nyeri seseorang adalah dengan ........"


"Ciuman" Sahut Dito dengan cepat.


"Woooooo! Dasar otak mesum! Ciuman aja yang ada di pikiran kamu" Cantika mendengus kesal.


"Lalu, apa dong?" Dito ikutan mendengus kesal saat triknya untuk mendapatkan ciuman dari Cantika, gagal total"


"Dengan cara digenggam tangannya dan dielus pelan punggung tangannya" Cantika berucap sembari mempraktekannya.

__ADS_1


Dito seketika itu mematung. Dia mendapatkan sekelebat bayangan seorang wanita yang dia panggil Mama, tengah mengelus punggung tangannya. Sayangnya wajah wanita itu tidak nampak jelas.


"Enak, kan?"


Dito spontan mengangguk dan tersenyum ke Cantika.


"Sekarang pejamkan mata kamu dan bernapaslah dengan teratur"


Dito mengikuti semua instruksinya Cantika dan hanya di dalam hitungan detik, pria tampan dan gagah itu jatuh ke alam mimpi.


Cantika menatap Dito dan sambil tersenyum ia bergumam lirih, "Ternyata ia memiliki bulu mata yang lentik. Dia juga tampak seperti seorang malaikat kalau tidur pulas begitu. Ah! Tampan sekali pria ini"


Cantika lalu memasukkan tangan Dito ke dalam selimut dan dia bangkit berdiri untuk merapikan selimut Dito. Wanita itu kemudian mencium bibir Dito karena dorongan insting. Wanita berumur dua puluh tahun itu sontak memekik kaget dengan sendirinya, "Sial! Kenapa aku mencuri ciuman?"


Wanita itu kemudian mengusap bibirnya dan berjalan berjingkat menuju ke sofa untuk merebahkan tubuh lelahnya di sana


Lima belas menit kemudian, Cantika yang masih terjaga mendengar suara Dito mengigau. Cantika langsung melompat dari sofa dan berlari mendekati bed-nya Dito.


Cantika mengusap keringat di kening Dito dan tiba-tiba Dito membuka kedua matanya dengan napas terengah-engah.


Cantika langsung mengusap pelan dada Dito dan berucap, "Aku ada di sini. Jangan takut! Aku ada di sini. Apa yang kau impikan sampai kamu ngigau, keluar keringat sebanyak ini dan bangun dengan napas terngah-engah?"


Dito tersenyum jahil dan berkata, "Aku bermimpi kamu mencuri ciuman"


"Apa?! kamu tidur tadi. Ba... bagaimana bisa kamu tahu kalau aku........" Cantika langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri


Dito tersenyum geli dan berkata, "Berarti benar, kan? Aku nggak mimpi ternyata"


"Mana ada benar? Kamu itu mimpi tadi. Pikiran kamu ke ciuman terus, jadi mimpinya juga yang aneh-aneh. Kamu hanya mimpi. Mana ada aku mencuri ciuman, cih!"


Dito kembali tersenyum geli, lalu berucap dengan nada pelan, “I find it hard to believe”


"Bodo amat! I don't even care. Percaya syukur nggak percaya, syukurin Lo!" Cantika berucap dengan mencebikkan bibirnya dan Dito langsung terkekeh geli kemudian pria tampan itu mendesis saat luka tembak di punggung atasnya terasa nyeri.


Cantika langsung panik dan di saat wajah Cantika mendekat, Dito langsung menarik tengkuk Cantika dan mencium bibir Cantika dengan penuh kelembutan.


Di saat jantung keduanya berdetak abnormal dan hati mereka berdesir hebat, suara seorang pria tiba-tiba menggema di kamar VVIP itu, "Astaga! Anda belum boleh melakukan aktivitas berat sepeti itu, Tuan Dito Zeto!"

__ADS_1


__ADS_2