Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Dito Sembodo


__ADS_3

Mona, seorang wanita cantik, duduk di atas pangkuannya John Murray, berkata, "Jangan memainkan remote bom terus. Aku juga butuh kau ajak bermain, Sayang" Mona adalah wanitanya John Murray. Dia sangat cantik dan seksi, namun sangatlah jahat dan kejam.


Sinar matahari menyelusup masuk ke dalam ruang kerjanya John Murray dari dinding-dinding berjendela di belakang kursi kerjanya, membuat Mona bermandikan cahaya matahari dan tampak sangat seksi.


John Murray langsung menarik tengkuk Mona untuk mencium bibir wanitanya dengan penuh gairah. Dia lalu melambaikan tangannya agar semua anak buahnya keluar dari ruang kerjanya.


John Murray lalu mengajak Mona bercinta dengan posisi Mona di atas pahanya John Murray. Saat John Murray melihat warna rambut barunya Mona yang berwarna merah, darah kelaki-lakiannya berdesir hebat. Dia menjambak rambutnya Mona dan berbisik di telinganya Mona, "Aku belum pernah berhubungan dengan perempuan berambut merah"


Kata-kata John Murray membuat Mona mengerang dan mempercepat gerakannya diringi erangan-erangan yang seksi.


Barnes dan Jude menunggu kedatangannya The Five Jays dan Duscha Igor di sebuah pondok yang letaknya tidak begitu jauh dari markas tersembunyinya John Murray.


Barnes tersenyum lega saat ia mendapatkan laporan dari Bryna kalau Batari telah berada di tempat yang aman.


Barnes lalu menelepon istrinya, "Sayang, kau di mana sekarang? Apa semua baik-baik saja?"


"Aku sudah turun dari helikopter dan mau masuk ke dalam mobil untuk menuju ke istana utama Wahyatma" Sahut Amanda.


"Oke. Kabari aku kalau udah sampai" Ucap Barnes.


"Siap. Kamu juga ati-ati, ya?! Ingat jangan nekat kalau situasinya sangat berbahaya!" Ucap Amanda dengan nada tegas.


"Oke. Aku mencintaimu" Sahut Barnes.


"Aku juga mencintaimu" Sahut Amanda.


Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan istri tercintanya, Barnes menoleh ke Jude, "Gimana senjata kita? Lengkap dan siap tempur, kan?"


Jude yang tengah memeriksa peluru sebuah pistol kecil, menoleh ke Barnes dan langsung menyahut, "Aman, Komandan"


Barnes menepuk pundak Jude dengan senyum lebar, lalu berkata, "Hei! Aku udah pensiun. Jangan panggil Komandan lagi"

__ADS_1


Jude ikutan tersenyum lalu berkata, "Bagi saya, Anda tetaplah Komandan saya"


Barnes langsung menggelarkan tawa renyahnya.


Noah mengajak Lopez dan Santo menuju ke sebuah rumah. Rumah itu sesuai dengan alamat yang diberikan oleh wanita pembawa bom.


"Rumah siapa ini, Bos?" Tanya Lopez.


"Entahlah. Kita ketuk pintunya dulu barulah kita tahu rumah siapa ini" Sahut Noah sembari mengetuk pintu.


Lopez dan Santo menatap Noah dari arah samping dengan menautkan kedua alis mereka.


Seorang wanita yang kira-kira seumuran dengan wanita pembawa bom, membukakan pintu dan berdiri di depannya Noah, Lopez dan Santo dengan wajah ketakutan dan di saat wanita itu hendak menutup kembali pintunya, Noah langsung menahannya dengan berkata, "Saya diutus Ibu Dara Sembodo untuk menjemput Dito Sembodo. Ini foto Dito dan kartu identitas saya. Saya polisi dari divisi khusus"


"Saya juga" Sahut Santo dan Lopez.


Wanita itu membuka lebar pintu rumahnya dan sambil mengembalikan foto Dito Sembodo dan kartu identitasnya Noah, wanita itu berkata, "Saya sahabatnya Dara. Nama saya Ana. Dara menitipkan Dito ke saya setiap kali ia pergi bekerja dan dia tahu kalau suami saya keberatan setiap kali Dito dititipkan di sini. Anda lihat sendiri, kami juga orang susah. Anak kami tiga dan jika ditambah dengan Dito, kami harus mengurangi jatah makan kami untuk dibagi dengan Dito"


"Maaf, berapa umur anak yang bernama Dito itu?" Sahut Lopez.


"Dito masih tiga tahun, tapi dia anak yang mandiri dan nggak suka rewel" Sahut wanita yang bernama Ana itu.


"Mari masuk dulu! Dito tidur saat ini. Saya akan bangunkan dulu" Wanita yang Ana itu mempersilakan Noah, Lopez dan Santo untuk masuk ke dalam rumahnya yang sederhana dan sempit, namun Noah langsung tersenyum dan berkata, "Kita tunggu di luar saja, Bu. Kita dari perjalanan yang sangat jauh dan kotor"


"Baiklah. Tunggu sebentar" Sahut Ibu yang bernama Ana itu.


Setelah menunggu selama lima belas menit, ibu yang bernama Ana itu keluar dengan menggendong seorang anak laki-laki yang sangat lucu dan anehnya, anak laki-laki itu langsung menghambur ke pelukannya Noah seolah ia sudah kenal lama dengan Noah. Noah terkejut dan di saat ia mendekap tubuh mungil anak laki-laki yang bernama Dito itu, Noah tertawa senang dan berucap, "Wah, Om Noah terkesan dengan sikap ramah kamu, Dito. Om Noah lega banget, kamu nggak takut sama Om Noah"


Santo menerima tas ransel yang disodorkan oleh wanita yang bernama Ana. Lalu mereka semua pamit


Giliran Santo yang menyetir mobil Jeep kesayangannya Noah. Lopez yang duduk di jok belakang nyeletuk santai, "Anak itu bukan anak Bos Noah, kan?"

__ADS_1


Noah yang memangku Dito, langsung menoleh ke Lopez dengan mendelik dan ia langsung berkata kesal, "Tentu saja bukan! Dari mana kamu punya pemikiran itu?" Noah kembali menatap Dito dan mengusap kepala Dito yang kembali tertidur dengan meletakkan kepala mungilnya di atas dada bidangnya Noah.


"Ya, maaf Bos! Biasanya anak kecil tuh takut kalau bertemu orang asing. Nah itu anak kok langsung nempel aja sama Bos. Apa Bos udah pernah bertemu dengan anak itu sebelumnya?" Tanya Lopez.


"Makasih udah mewakili aku untuk bertanya, Pez" Sahut Santo sembari terus menyetir.


Noah menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku juga nggak tahu kenapa Anak ini langsung nemplok sama aku padahal aku dan anak ini belum pernah bertemu sebelumnya"


"Berarti Bos memang bersih hatinya, karena anak kecil bisa langsung nemplok ke Bos. Anak kecil itu bisa merasakan mana orang yang bersih hatinya dan mana yang nggak" Sahut Lopez.


"Berarti kita ini termasuk yang nggak bersih hatinya? Karena, Dito lebih milih nemplok sama Komandan?" Sahut Santo.


"Elo jawab aja sendiri" Sahut Lopez dengan santainya.


Noah langsung tekekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Noah terus mengelus kepalanya Dito dan dia merasa kalau dia menyayangi Dito saat itu juga.


"Apa Nyonya Bos akan setuju kalau Bos merawat anak itu?" Tanya Lopez.


"Tari suka sama anak kecil. Aku rasa Tari akan setuju" Sahut Noah.


Di perjalanan menuju ke pondoknya yang ada di pinggir pantai X, ponsel Noah berdering dan Noah meminta tolong Lopez untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam saku kaosnya dan meminta tolong Lopez untuk mengangkat panggilan telepon itu karena Noah masih memangku dan memeluk Dito.


"Ya. Oke. Baik" Dan Klik. Lopez memutuskan sambungan telepon itu lalu memasukkan ponselnya Noah kembali ke dalam saku kemejanya Noah.


Noah dan Santo bertanya secara bersamaan, "Dari siapa?"


"Dari Nyonya Bryna. Nyonya Bryna mengatakan kalau Nyonya Bos dan Danny ada di perkebunan miliknya Nyonya Bryna yang letaknya tidak jauh dari pantai X" Sahut Lopez dengan nada santai.


Noah langsung menoleh ke jok belakang untuk menatap Lopez dan bertanya, "Kenapa Tari dan Danny bisa ada di sana?"


"Kita akan tahu setibanya kita di sana, Bos. Karena, Nyonya Bryna cuma bilang gitu aja" Sahut Lopez dengan wajah santai.

__ADS_1


Santo terkekeh geli saat Noah berucap, "Dasar gila!"


__ADS_2