Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Bersiap Duel


__ADS_3

Tok,tok,tok, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya Amanda sebanyak tiga kali membuat Amanda secara refleks mendorong tubuhnya Barnes dan memekik lirih, "Sembunyi lah!"


Barnes menautkan alisnya.dan ikutan berkata lirih, "kenapa aku harus sembunyi? Aku tidak takut pada siapa pun di dunia ini dan......."


Amanda menghela napas panjang berbarengan dengan lakunya menarik tangannya Barnes dan memasukkan Barnes ke dalam lemari pakaian super jumbo yang tertanam di sisi barat kamarnya tanpa persetujuan dari Barnes..


Barnes menahan tangannya Amanda, "Pakai jaketku!" Barnes melepas jaket denim berwarna biru yang ia kenakan lalu memakaikan jaket itu ke Amanda.


Amanda memandang wajah Barnes dengan penuh tanda tanya.


"Kau pakai baju yang sangat seksi. Aku tidak ingin siapa pun di balik pintu itu melihat dan menikmati kesempurnaan tubuh Istriku. Aku nggak rela" pekik Barnes lirih dengan sorot mata dan nada bicara yang sangat tegas sembari mengancingkan semua kancing baju yang ada di jaket denimnya.


"Baiklah dan jangan pernah keluar dari sini! Apapun yang terjadi, oke?!"


Barnes menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu karena ia masih belum memahami situasinya.


Tok, Tok, tok, suara ketukan pintu kembali terdengar. Amanda mendorong tubuh Barnes masuk ke dalam lemari pakaian super jumbo itu dan segera menutup pintu lemari super jumbo itu sembari meneriakkan kata, "Tunggu sebentar! Aku baru keluar dari kamar mandi!"


Duscha tersenyum lebar penuh cinta di balik pintu dan sesekali ia mencium buket mawar putih yang ia dekap.


Amanda berlari kecil untuk membuka pintu kamarnya. "Kak Duscha? Ada apa perlu apa?"


Barnes yang memiliki pendengaran setajam burung hantu, menautkan alisnya saat ia mendengar kata kakak meluncur keluar dari mulutnya Amanda.

__ADS_1


Duscha menatap jaket denim yang Amanda kenakan dan ia pun kemudian bertanya, "Kenapa kamu pakai jaket? Kamu sakit?" Duscha menyentuh keningnya Amanda dengan wajah penuh kekhawatiran.


Amanda memegang kedua ujung jaket denim yang ia pakai lalu ia menjawab pertanyannya Duscha Igor, "Nggak sakit kok, Kak. Cuma, agak dingin aja, hehehehe"


Duscha tersenyum lega dan menarik tangannya dari keningnya Amanda,"Tapi, jaket siapa yang kau pakai? Kenapa kedodoran kayak gitu?" Duscha berucap sembari mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam kamarnya Amanda dengan sorot mata menyapu seluruh sudut kamarnya Amanda untuk menangkap sesuatu atau seseorang yang mencurigakan. Namun, Duscha menemukan seluruh sudut kamarnya Amanda aman dari sesuatu yang mencurigakan.


Amanda berlari kecil untuk berdiri kembali di depannya Duscha saat ia melihat Duscha melangkah menuju ke lemari pakaian dan Amanda segera menahan langkahnya Duscha dengan berkata, "Ini jaket Om-ku. Entah kenapa bisa ada di dalam koperku" Amanda memamerkan deretan gigi putihnya ke Duscha.


Duscha meletakkan buket mawar di atas meja lalu kedua tangannya ia pakai memegang kedua bahunya Amanda dan ia tersenyum, "Aku akan belikan banyak jaket untukmu besok. Kamu sepertinya mulai merasa kedinginan di awal musim penghujan ini. Maaf jika Kakakmu ini kurang perhatian" Tangan kanan Duscha terangkat untuk mengelus rambut keriting berwarna merah milik Amanda yang tampak indah setelah mendapatkan perawatan khusus. Setelah seminggu rambut Amanda yang sempat diluruskan kembali mengeriting.


"Selama ini, Kakak udah sangat perhatian sama Manda kok. Bahkan perhatiannya Kakak terkadang sangat berlebihan. Terima kasih, Kak" Amanda mengulas senyum manis untuk kakak laki-laki yang selalu memberikan perhatian penuh dan kasih sayang berlebih kepadanya.


Duscha menundukkan wajahnya lebih dalam untuk menatap lebih dekat wajah cantiknya Amanda sembari berkata, "Karena kamu pantas untuk disayangi" Duscha lalu melepaskan bahunya Amanda. Laki-laki super tampan itu kemudian menoleh ke buket mawar putih yang teronggok di atas meja sembari berkata, "Aku tadi lewat di depan butik bunga terus aku ingat kamu. Aku lalu mampir ke buket bunga itu" Duscha mengalihkan pandangannya ke wajah cantiknya Amanda dan kembali berkata, "Kamu suka mawar putih, kan? Aku belikan satu buket mawar putih untuk adik kesayanganku, tuh!" Duscha menunjuk mawar putih yang ada di atas meja.


Amanda mengambil mawar putih itu, dia cium beberapa kelopak dari mawar putih yang sangat harum dan indah itu lalu ia menatap Duscha, "Terima kasih, Kak. Kenapa Kakak bisa tahu kalau aku suka mawar putih? Selama ini tidak ada orang yang tahu kecuali almarhum Mamaku"


Barnes terbakar cemburu. Dan kecemburuan itu membuat ia dengan tanpa berpikir panjang, membuka, membanting pintu lemari lalu melompat keluar, kemudian berdiri tegak, menatap ke depan untuk melihat laki-laki yang terus Amanda panggil dengan sebutan kakak dan untuk melihat seperti apa rupa laki-laki yang telah lancang membelikan satu buket mawar putih untuk Istrinya.


Amanda tersentak kaget dan langsung memekik, "Kenapa kau keluar?!"


"Siapa dia?" Barnes dan Duscha saling tunjuk dengan pandangan mata mereka mengarah ke Amanda.


Amanda tampak kebingungan untuk menjawabnya dan Duscha langsung menoleh ke Barnes dan melancarkan tinju secara dadakan dan dengan sigap Barnes bisa menghindar dan melompat mundur ke belakang beberapa langkah

__ADS_1


Sial! Aku aja nggak tahu kalau Manda suka mawar putih. Dasar bocah brengsek! Akan aku cincang kau! Batin Barnes terasa sangat ngunu meledak terbakar amarah.


Duscha Igor dan Andrei Igor adalah keturunan Rusia. Duscha dibesarkan oleh Andrei Igor kemudian diasuh oleh asisten pribadinya Andrei Igor yang merupakan mantan dari pasukan elite Rusia yang bernama Spetnaz. Asisten pribadinya Andrei Igor melatih dan mendidik Duscha Igor untuk menguasai teknik bela diri Systema sedari kecil. Untuk itulah, ia segera memasang kuda-kuda ala teknik bela diri Systema.


Systema adalah salah satu seni bela diri aliran keras berasal dari Rusia. Systema adalah keterampilan wajib yang harus dimiliki oleh kalangan atas pasukan elite Rusia yang bernama Spetnaz. Hal ini disebabkan karena keahlian ini dibutuhkan untuk melumpuhkan musuh dengan cepat dan tidak membuang-buang waktu. Serangan yang dipelajari dalam ilmu bela diri ini adalah fokus ke semua bagian vital tubuh. Duscha mempelajari Systema sedari kecil dan ia akan dengan sangat mudah menemukan banyak teknik untuk mengunci dan membanting lawan. Dibutuhkan badan yang besar dan stamina kuat untuk menguasai teknik-teknik Systema dan Duscha sangat memenuhi syarat untuk itu.


Duscha memamerkan beberapa gerakan Systema di depan Barnes dengan wajah bangga.


Barnes yang memiliki wawasan sangat luas, bisa segera mengenali gerakan yang ditunjukkan oleh laki-laki asing di depannya dan ia berkata, "Kau menguasai Systema ternyata"


Duscha menyeringai dingin, "Kenapa, kau takut?"


Amanda berteriak, "Hentikan kalian semua! Tolong jangan berkelahi!"


Barnes dan Duscha menoleh sekilas ke Amanda sambil meneriakkan kata, "Diam!"


Amanda tersentak kaget lalu mematung.


Barnes dan Duscha kembali bersitatap.


Barnes menyeringai dan berkata, "Aku sangat ingin menjajal Systema dari dulu. Majulah! Aku tidak takut sama sekali" Barnes berucap tegas seperti itu sebenarnya untuk menyembunyikan ketidakpercayaan dirinya sendiri saat ia akhirnya berhadapan dengan gerakan bela diri Systema yang cukup mematikan. Namun, Barnes Adiwilaga Darmawan yang memiliki kecerdasan cukup tinggi dan telah dididik di dunia militer, siap melawan laki-laki asing yang telah lancang memberikan mawar putih pada istrinya.


Postur tubuhnya Barnes dan Duscha Igor sangat jauh berbeda. Tinggi Barnes yang hanya 175 cm tinggi rata-rata pria di Asia, membuat Barnes tampak kecil di depan Duscha yang memiliki tinggi badan 187 cm.

__ADS_1


Amanda seperti melihat seorang anak kecil melawan seorang raksasa.


Ketika Amanda melangkah maju untuk mencegah pertarungan terjadi, Duscha langsung melesat dan menyerang Barnes......................


__ADS_2