Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Rindu


__ADS_3

Noah dan Batari tanpa mereka sadari kembali ke dalam ruang tunggu VVIP sambil bergandengan tangan.


Mereka melepaskan tautan tangan mereka saat Barnes berdeham dan Amanda tersenyum lebar penuh arti.


Bening menatap Batari dan Noah dengan pandangan datar tanpa ekspresi, karena dia menahan pikiran negatif menyelonong masuk ke pikirannya. Dia takut kalau Amanda membaca pikirannya.


Barnes memeluk Amanda dengan penuh sayang lalu ia mencium bibirnya Amanda sebelum ia pergi naik pesawat. Amanda dan Batari berpisah untuk sementara waktu dengan kekasih hati mereka.


Kejutan menghadang mereka di dalam perjalanan pulang. Dua buah mobil Van berwarna hitam mengeblok jalan di depan secara dadakan dan membuat Amanda membanting setir ke kiri agar tidak menabrak mobil Van tersebut.


Amanda mengernyit dari dalam mobil saat ia melihat banyak pria besar berotot kekar keluar dari dalam mobil Van tanpa membawa senjata apapun


"Ma, siapa mereka?" Tanya Batari.


"Entahlah. Kalian tunggu di dalam mobil biar Mama yang turun" Amanda membuka sabuk pengaman dan setelah ia turun dari dalam mobilnya dia segera menutup kembali pintu mobilnya dengan keras sambil berteriak, "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?"


Salah satu dari kesepuluh pria berbadan kekar itu berteriak dari tempatnya berdiri, "Serahkan anak yang bernama Bening"


"Kenapa kalian menginginkan Bening?" Amanda berkata sembari melangkah ke depan secara perlahan.


"Itu bukan urusan kamu. Bos kami hanya menyuruh kami membawa anak yang bernama Bening"


"Aku nggak akan biarkan kalian membawa anakku" Amanda menggeram dan ia mulai memasang kuda-kuda andalannya.


"Kalau begitu kami terpaksa akan membuatmu terluka parah kalau kamu nggak mau menyerahkan Bening"


"Cih! Sepuluh orang aja nggak akan bisa melukaiku. Maju kalian semua!" Amanda berteriak dengan wajah garang dan tanpa rasa takut.


Bening menoleh ke Batari, "Kenapa mereka menginginkan aku? Aku takut, Tari" Bening mencekal lengan bawahnya Tari dengan wajah panik dan tubuh gemetar.


Batari mengelus punggung tangannya Bening lalu ia melepaskan tangan Bening dari lengannya, sambil berkata, "Aku akan turun bantuin Mama. Kamu diam di mobil dan kunci mobilnya begitu aku turun. Aku dan Mama nggak akan biarkan mereka membawamu pergi dari kami"


Bening menganggukkan kepalanya masih dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar.

__ADS_1


Batari berhasil menjatuhkan satu lawan dan langsung menempelkan punggungnya ke punggung mamanya dengan kata, "Aku akan membantu Mama"


"Oke. Kita lumpuhkan mereka dengan cepat dan kita cari tahu siapa yang menyuruh mereka lancang ngeblok jalan kita"


Dan dalam hitungan tidak sampai lima belas menit, Batari dan Amanda berhasil melumpuhkan semua lawan mereka dan Amanda berhasil mendapatkan sebuah nama dari dalam batok kepala salah satu dari gerombolan pria berbadan kekar dan berwajah sangar itu.


Jorge dan Jordy segera turun dari motor mereka dan berlari mendekati Amanda, "Maaf kami terlambat Bu Bos. Kami isi bensin dulu tadi. Siapa mereka?" Tanya Jordy.


"Michael Kors yang menyuruh mereka. Kau tangani mereka, ya, aku akan antarkan anak-anak pulang terlebih dahulu. Kasihan Bening ketakutan tuh" Sahut Amanda.


"Baik Bu Bos" Sahut Jorge dan Jordy secara bersamaan.


Setelah menjebloskan kesepuluh pria berbadan kekar suruhannya pria bernama Michael Kors, Jorge, Jude, menghubungi teman mereka untuk berkumpul di markas.


"Apa?! Lalu gimana? Apa Amanda dan anak-anak terluka?" Barnes langsung menegakkan badannya karena kaget.


Noah menoleh ke Barnes dan ikutan menegakkan badannya sambil menunggu Barnes selesai berbicara di ponsel.


"Syukurlah" Sahut Barnes. "Aku akan pulang lusa dan kita akan bikin perhitungan dengan Michael Kors" Tambah Barnes.


Barnes mematikan ponselnya dan saat ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya, ia menoleh ke Noah.


"Ada apa, Om? Apa Tante dan Tari baik-baik saja?" Noah langsung melontarkan tanya dengan wajah penuh dengan kekhawatiran.


Barnes menyandarkan badannya ke jok pesawat lalu tersenyum dan kemudian berkata, "Ada yang menghadang Manda dan anak-anak, tapi Manda dan Tari berhasil melumpuhkan lawan mereka tanpa terluka. Kamu tenang aja, Manda dan Tari jago bela diri dan masih ada The Five Jays yang menjaga mereka, jadi mereka akan selalu baik-baik saja" Barnes menepuk pundaknya Noah dengan senyum bangga.


"Syukurlah" Noah langsung menghembuskan napas lega dan kemudian bertanya, "Siapa yang nekat menyuruh orang untuk menghadang mobilnya Tante?"


"Michael Kors" Sahut Barnes.


"Siapa dia, Om?" Tanya Noah.


"Dia seorang mafia. Dia sahabatnya Praja Anggada. Praja aku buat bangkrut bisnis perdagangan wanita di bawah umur dan Praja bunuh diri di penjara. Mungkin karena itulah dia dendam sama aku. Nah, yang jadi pertanyaan adalah, kejadian Praja Anggada udah lama banget, kenapa dia baru muncul untuk menantang aku? Lalu, dia juga menginginkan Bening, aneh, kan?"

__ADS_1


"Iya, Om, aneh banget" Sahut Noah.


"Lusa aku akan balik dan aku akan bikin perhitungan dengan Michael Kors" Sahut Barnes.


Begitu sampai di Amerika, Noah tidak sabar untuk melakukan panggilan VC (Video Call) dengan Batari. Noah lupa menyadari adanya perbedaan waktu di antara dia dan sang pujaan hati. Di Amerika jam 12 siang, di Indonesia jam 12 malam. Batari membuka ponselnya dan berkata, "Halo" dengan mata yang masih merem.


"Lho kok jam dua belas siang masih bobok?" Noah bertanya dengan lugunya dan Batari langsung membuka kedua matanya dan membeliak kesal, "Jam dua belas siang apa?! Ini jam dua belas malam, Noah!"


"Oh, iya" Noah langsung menepuk jidatnya dan kemudian ia terkekeh geli dengan sendirinya, lalu kembali berkata sambil menatap senang layar ponselnya yang menampakkan wajah pujaan hatinya, "Maaf, aku lupa kalau ada perbedaan waktu di antara kita, tapi aku justru merasa beruntung karena bisa melihat wajah kamu pas tidur. Kamu sangat menggemaskan kalau tidur kayak gitu dan kelihatan lebih cantik daripada pas bangun"


Batari langsung menyemburkan protes, "Jadi, kalau bangun aku nggak cantik?"


"Soalnya kalau bangun, kamu tuh ceriwis dan nggak bisa diam, jadi kurang cantiknya" Sahut Noah dengan senyum geli.


"Noah! Awas aja ya, mulai dari sekarang aku akan hitung berapa kali kamu ngejahilin aku dan saat kamu pulang nanti, aku akan membalas kamu" Batari mendelik ke Noah.


"Hahahahahaha, tuh, kan, kalau melek kamu suka mendelik, jadi berkurang cantik kamu, hahahahahaha, Eh, tapi, kamu akan membalas aku dengan cara apa?" Noah menatap sendu layar ponselnya.


Batari mengerucutkan bibir membentuk sebuah ciuman lalu menempelkan bibirnya di layar ponsel, kemudian ia tarik kembali bibirnya untuk menatap Noah dan berkata, "Dengan ciuman, mau?"


Noah langsung mematung, lalu berkata, "Kamu jahat banget membalas aku dengan siksaan kayak gini"


Batari menautkan alisnya, "Siksaan? Dicium kok kamu bilang siksaan, sih?"


"Iya kamu menyiksa aku. Aku jadi rindu banget sama kamu, aku ingin memeluk kamu saat ini juga" Noah langsung merengut di depan layar ponselnya.


Batari terkekeh geli melihat wajah Noah di layar ponselnya, lalu ia berkata, "Kamu jelek kalau merengut kayak gitu. Udah jangan cemberut terus! Tiga tahun itu cepet. Kamu sendiri kan yang bilang"


"Sial! Senjata makan tuan, nih. Aku kena siksaan dari ucapanku sendiri" Noah kembali merengut


Batari tertawa lepas lalu ia menguap dengan sangat lebar kemudian mengucek-ngucek matanya.


Noah langsung berkata, "Oke, kamu udah sangat ngantuk tuh. Tidur gih, mimpiin aku, ya?! Karena, aku juga akan mimpiin kamu. Mmuuuuaaahh" Noah mencium wajah Batari yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


Batari juga mencium layar ponselnya lalu tersenyum da. setelah mengatakan kata cinta dan rindu, kedua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu, mematikan ponsel mereka secara bersama.


__ADS_2