
"Bryna?! Kau?! Kenapa kau ada di sini?" kedua mata Jake melotot lalu mulutnya ternganga melihat istri cantiknya berdiri di depannya dengan bersedekap.
"Kenapa bertelanjang dada, Tuan Jake?" Bryna tersenyum tipis ke Jake.
"Tentu saja aku bertelanjang dada. Aku baru saja membersihkan kolam renang dan.......sial! Apa yang kau lakukan di sini?" Jake menarik lengannya Bryna dan ia bawa masuk Bryna ke ruang kosong yang baru saja ia bersihkan. Ruangan itu berada di sisi selatan teras depan dan akan dipakai menjadi gudang peralatan olahraga sang pemilik rumah.
Jake mengunci ruangan itu dan mendelik ke Bryna, "Apa yang....."
Bryna melompat memeluk Jake dan langsung mencium bibirnya Jake untuk melepas kerinduannya.
Jake menikmati ciuman itu. Setelah cukup puas berciuman dengan istri yang sangat ia rindukan, dia mendorong pelan tubuhnya Bryna dan menatap Bryna dengan penuh tanda tanya.
Bryna mengusap bibir Jake yang penuh dengan noda lipstick merah maroon Bryna pakai di siang itu sambil berucap, "Aku sengaja mendekati si empunya rumah ini dan berhasil berbisnis dengannya karena aku tahu, kamu bertugas menyamar di keluarga ini"
Jake terkekeh geli lalu meraup wajah tampannya yang berkulit kecoklatan lalu ia berkata, "Aku lupa kalau Istriku adalah seorang wanita yang sangat cerdas dan selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau"
"Kau tidak suka melihatku, ya? Kau tidak menyukai kejutanku? Ini sikap kami setelah tiga bulan kita tidak bisa bertemu dan berkomunikasi sama sekali, The Greatest Jake?" Bryna menjejakkan kakinya dengan kesal di lantai lalu melancipkan bibirnya di depan Jake.
Jake terkekeh geli. Lalu ia menarik pinggang istrinya dengan lengan kekarnya dan tangan kirinya terangkat untuk mengusap.rambut hitam lurusnya Bryna yang selalu dipotong dengan model oval pendek di bawah telinga.
"Aku senang sekali kamu ada di sini. Saking senangnya sampai jantungku hampir berhenti" Jake mencium keningnya Bryna dan Bryna menepuk dadanya Jake dengan masih melancipkan bibirnya.
Jake mengelus rambutnya Bryna lagi sambil berucap, "Kalau aku cuti panjang setelah ini, kita akan memiliki banyak waktu untuk berduaan dan aku ingin melihat rambut kamu panjang. Biar bisa mengelus rambut kamu sambil bilang Sayang agak lamaan dikit" Jake lalu mengecup bibir lancipnya Bryna.
Bryna terkekeh geli lalu menyusupkan wajahnya di lehernya Jake dan berbisik di sana, "Kita punya waktu dua puluh lima menit sebelum si pemilik rumah pulang"
"Hah?! Di sini?"
__ADS_1
"Iya" Bryna berucap di atas kulit lehernya Jake dan seketika itu juga Jake merasakan gairah yang menggebu dan ia langsung mencari bibinya Bryna dan kembali berciuman. Jake lalu mengangkat pinggul Bryna untuk ia gendong dan dengan masih mengajak Bryna berciuman, Jake melangkah ke sebuah kardus yang ada di pojok ruangan kosong itu. Dia kemudian merebahkan Bryna di sana dan melakukan penyatuan raga mereka di sana.
Barnes dan Amanda berdiri di depan pintu kamar yang akan ditempati oleh Amanda selama tiga bulan ke depan sebagai penerjemah bahasa Mandarin.
"Apa di Selasar ini ada CCTV?" Amanda bertanya ke Barnes dengan memasang senyum usilnya.
Barnes menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Nggak ada. Kenapa?"
Amanda melebarkan senyumannya lalu ia menarik Barnes untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintu kamar, mendorong Barnes hingga punggung Barnes memebntur daun pintu dan mengajak Barnes berciuman di sana.
Barnes melangkah kembali ke ruang kerja bos wanitanya yang berhati dingin dan kejam, dengan terus mengusap bibirnya. Barnes terus mengusap bibirnya dengan ibu jarinya sendiri sembari mengulas senyum bahagia dan bergumam lirih, "Amanda bisa brutal juga ternyata. Tapi, aku suka dan gila! Aku ketagihan nih dengan kebrutalannya Manda"
Barnes mengerem langkahnya di depan pintu besar ruang kerja bos wanitanya lalu ia ketuk sebanyak tiga kali. Barnes kemudian membuka pintu dan melangkah masuk setelah mendapatkan sahutan, "Masuk" dari dalam.
"Dua jam lagi kita akan bertemu dengan klien kita. Apa kau sudah bilang begitu ke penerjemah tadi?"
"Sudah, Bos" Sahut Barnes.
Barnes langsung berdiri canggung dan panik. Dia takut kalau bosnya menangkap tentang dia dan Amanda. Barnes langsung mematung di depan bosnya dan tampak sangat canggung.
"Kenapa kau jadi canggung dan tegang kayak gitu? Kau melakukan suatu kesalahan, Jacob Rivers?"
Barnes langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tegas
"Lalu kenapa sikap kamu aneh dan wajah kamu memerah? Kamu sudah mulai menyukaiku, ya?"
Barnes kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tegas.
__ADS_1
"Lalu apa?!" Suara soprannya Hellena langsung melengking, memekakkan kedua telinganya Barnes dan Barnes langsung menjawab asal, "Saya tadi mencomot gorengan sebentar dan tanpa saya lihat, ternyata ada cabe rawit di dalam gorengannya. Makanya wajah saya jadi seperi ini karena kepedesan dan belum sempat minum"
"Oh! Lain kali kalau mau makan tuh lihat-lihat dulu jangan asal comot!" Hellena kembali menundukkan wajahnya untuk melihat berkas-berkas yang ada di atas mejanya dan Barnes menghela napas lega.
Hai!Hatiku! Jangan kirim warna merah ke wajahku, kalau aku berciuman dengan Istriku lagi lain kali, oke?! Bikin jantungan aja kau. Barnes bergumam kesal di dalam hatinya.
Dua jam berikutnya, Amanda dan Hellena duduk di depan kliennya Hellena yang datang dari Tiongkok dan Barnes berdiri di sebelahnya Hellena dengan sikap tegak dan sempurna.
Barnes tidak memahami bahasa yang diucapkan Amanda dan kliennya Hellena yang adalah seorang pria muda, berumur dua puluh delapan tahun, dan sangat tampan.
Klien itu bernama Allen Lau dan terus memandangi wajah Amanda hingga membuat darah Barnes mendidih karena cemburu.
Dan Barnes mengepalkan kedua tinjunya saat ia mendengar kliennya Hellena berkata ke Amanda, "Wo xi huan Ni" (Saya menyukai Anda)
Karena, Barnes tahu arti kata itu.
Amanda tersenyum ke klien pria itu dan Hellena tertawa puas dan menepuk pundaknya Amanda, "Miss Priscilla Chan, terima kasih banyak. Berkat Anda, Tuan Allen Lau bersedia untuk berbisnis denganku"
Amanda tersenyum lebar ke Hellena dan Allen Lau, Namun tidak dengan Barnes. Barnes merapatkan bibir dan semakin mengepalkan kedua tinjunya.
Saat Amanda pamit ke toilet, tanpa sepengetahuannya Hellena, Barnes menyusul Amanda.
Barnes menunggu Amanda di depan toilet wanita dan saat Amanda keluar, Barnes lanagung menarik Amanda masuk ke sebuah ruangan. "Kenapa kau tersenyum saat pria brengsek itu mengatakan kalau ia menyukaimu?"
"Kau bisa berbahasa Mandarin juga, Tuan Jacob Rivers?" Amanda tersenyum senang melihat kecemburuan di kedua mata suaminya.
"Aku cuma tahu kata Wo ai ni dan Wo xi huan ni" Barnes masih memasang wajah cemburunya.
__ADS_1
Amanda menangkup wajah Barnes dan berucap, "Kita sedang menyamar saat ini jadi, jangan gampang cemburu! Aku udah baca semua pikiran. Hellena dan pikiran Allen Lau. Dan aku rasa tidak perlu menunggu tiga bulan lagi, kita bisa membekuk Hellena dan semua antek-anteknya" Amanda lalu menepuk pelan kemudian mencium pipi kanan suaminya dan melenggang keluar dari ruangan itu mendahului Barnes.
Barnes hanya bisa mematung sesaat di dalam ruangan itu dan bergegas keluar setelah ia menyelesaikan lamunannya.