Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Pistol


__ADS_3

Ratu Ambika sudah mencium gelagat tidak baik dari cucu kesayangannya untuk itulah ia menghubungi Barnes Adiwilaga Darmawan untuk membantunya mempersiapkan diri melawan serangannya Arka Bhadrika Wahyatma. Namun, Ratu Ambika tidak marah dan tidak menyalahkan Arka. Dia memahami sikap Arka yang ingin membalas dendam kepada semua anggota keluarga kerajaan Wahyatma, karena dia menemukan kejanggalan atas kematian mamanya. Dan Arka menjadi percaya pada John Murray karena John Murray berhasil menemukan dalang pembunuhan mamanya, yakni ibu tirinya.


Arka juga menyalahkan neneknya karena dia menemukan fakta, bahwa neneknya lah yang menyembunyikan pembunuh mamanya dari dirinya. Ratu Ambika menyembunyikan kenyataan tersebut karena ia tidak ingin, Arka tumbuh menjadi anak pendendam.


John Murray adalah penjahat kelas kakap, dia suka bermain bom dan suka bergerak di bawah tanah. Dia kaya raya dari hasil narkoba dan merampok bank. Di saat dia berhasil ditangkap oleh Barnes dan timnya, dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, berkat kecerdasannya, ia akhirnya berhasil melarikan diri dari penjara. Di situlah ia membutuhkan bantuan dari pangeran Arka Bhadrika Wahyatma karena selama ia dipenjara, uangnya sudah habis.


Hubungan simbiosis mutualisme di antara Arka Bhadrika Wahyatma dan John Murray terus berlanjut karena kondisi dan situasi terus mengharuskan mereka untuk tetap seperti itu.


"Paman John Murray dulunya adalah bodyguardnya Mamaku. Setelah Mama meninggal, dia juga ikutan difitnah dan dipecat dari pekerjaannya oleh Papaku. Ibu tirku mengatakan kalau Paman John Murray berselingkuh dengan Mamaku, padahal tidak. Nenek sihir itu, Mamanya Abiyu, telah berhasil memperdaya Papaku dan mencuci otak Papaku, sehingga apapun yang diucapkannya, Papaku selalu memercayainya. Akhirnya Paman John Murray, membuat bisnisnya sendiri dan terus bergerak membangun modal yang cukup untuk bisa menggulingkan Papaku, Raja Pramana dan Nenekku, Ratu Ambika. Namun, di saat aku berumur dua puluh lima tahun, Paman John Murray dipenjara dan aku kehilangan dukungan" Arka memeluk bahu Viona sembari bercerita.


Viona mengelus tangannya Arka dan berkata, "Kalau kamu disuruh memilih antara aku atau dendam kamu? Kamu akan memilih yang mana?"


Pangeran Arka Bhadrika Wahyatma langsung diam seribu bahasa dan Viona hanya bisa menghela napas panjang.


Viona hanya bisa berdoa, semoga pertemuan Arka dan Amanda Igor Darmawan yang dia atur secara diam-diam, bisa merubah keputusannya Arka Bhadrika Wahyatma.


John Murray sebenarnya hanya memiliki satu musuh yakni, keluarga kerajaan Wahyatma, namun cara dia mencari modal dengan merampok bank, membuatnya memiliki musuh lebih dari satu. Dan dia menyimpan dendam yang sangat besar dengan orang yang memiliki nama besar, Barnes Adiwilaga Darmawan.


John Murray tidak bisa menyentuh Istri dan anaknya Barnes, untuk itu ia melakukan aksi brutal untuk memancing Barnes dan timnya keluar dari sarang dan mencarinya.


"John Murray, menculik anak gadis di bawah umur untuk dia jual ke luar negeri. Harganya fantastis dan aku rasa uang hasil penjualan anak gadis dibawah umur ke luar negeri itu untuk membiayai niatnya melakukan teror bom di beberapa titik, nanti" Ucap Noah Baron ke timnya sambil mengelap pistolnya.


Batari yang duduk di jok belakang, di sampingnya Noah, terus mengamati Noah yang masih mengelap pistol berukuran cukup besar dan berwarna hitam pekat.

__ADS_1


Santo yang duduk di jok tengah, yang sedang memaku laptop, langsung menyahut, "Kita sudah temukan keberadaan trailer yang berisi anak-anak di bawah umur itu, Bos?"


"Oke, kita ke markas kita dulu untuk menaruh barang dan bir Batari tinggal di rumah bersama dengan Danny, sementara aku, kamu, dan Lopez, langsung menuju ke trailer itu" Sahut Noah.


"Siap Bos" Sahut Lopez, Santo, dan Danny secara bersamaan.


Noah lalu menyelipkan pistolnya di ikat pinggang bagian belakang, lalu menoleh ke Batari, "Lho, kamu udah bangun, Sayang?"


Noah langsung merangkul bahunya Batari.


"Aku tidak bisa tidur. Aku dengar semua yang kamu katakan. Apa aku boleh ikut?" Tanya Batari.


Noah mengelus bahunya Batari dan sambil menggelengkan kepalanya dia berucap, "Nggak. Kita belum tahu situasi di dermaga. Akan sangat berbahaya kalau kamu ikut. Kamu tunggu aja di rumah dengan Danny"


"Iya. Aku bahkan kasih nama di pistol aku" Noah mencium pucuk kepalanya Batari dengan senyum bangga.


"Kamu kasih nama apa pistol kamu?" Tanya Batari.


"Aku kasih nama Tari" Sahut Noah sembari mendaratkan sebuah ciuman lagi di pucuk kepalanya Batari


"Kok Tari? Kenapa Tari?" Batari mendongak dan menatap wajah tampan suaminya dengan kerutan di keningnya


Noah terkekeh geli melihat ekspresi lucu di wajah istri cantiknya dan setelah mencium keningnya Batari, dia berbisik di telinganya Batari,, "Karena pistol kesayanganku ini seksi dan panas. Mirip sama kamu"

__ADS_1


Batari langsung mencubit dengan keras dadanya Noah dan Noah langsung mengaduh dan melotot ke Batari, "Kok malah dicubit?"


Batari berbisik di telinganya Noah, "Karena otak kamu kotor. Di otak kamu hanya ada kata seksi dan panas aja. Dasar!"


Noah langsung mendekap erat istri cantiknya dan setelah mencium cukup lama pipinya Batari, Dia berucap, "Itu kenyataan, Sayang. Bukan mesum"


Batari langsung mengerucutkan bibirnya di depan Noah dan Noah kembali tergelak geli.


Lopez, Santo dan Danny langsung memasang headphone mereka dan mendengarkan musik saat polusi udara kembali terdengar daro jok belakang mobil Van milik ya Noah. Sementara supir pribadinya Noah membawa Jeep mewahnya Noah dan mengikuti laju mobil Van dari belakang.


Batari masih memainkan jari jemarinya di dada Noah sambil bertanya, "Apa kamu pernah membunuh orang dengan pistol kamu itu?" Batari mendongak untuk melihat wajah tampan suaminya.


Noah mengelus bahu Batari dan setelah mencium pelipisnya Batari, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Belum pernah. Aku memang penembak jitu. Tapi, aku usahakan untuk tidak menembak di daerah vital karena, aku tidak ingin membunuh orang. Dan aku bersyukur banget, sampai detik ini, aku belum pernah membunuh orang"


"Aku juga ikut bersyukur untuk hal itu" Batari mencium pipinya Noah, lalu ia kembali berucap, "Kamu itu orangnya nggak tegaan mirip banget sama Mama kamu, tapi kenapa memilih menjadi polisi di divisi khusus?"


"Karena, aku ingin menjadi keren seperti pahlawan aku" Sahut Noah.


"Siapa pahlawan kamu?" Tanya Batari.


"Papa kamu. Om Barnes Adiwllaga Darmawan, papa mertua aku sekarang ini, adalah pahlawan aku. Aku mengagumi beliau sejak beliau menyelamatkan aku dari penculik dan sejak saat itu aku ingin menjadi seperti beliau" Sahut Noah Baron dengan senyum ceria.


Batari kembali mencium pipi suaminya dengan rasa cinta dan penuh rasa bangga.

__ADS_1


__ADS_2