
Cantika terbangun dan sontak duduk tegak bersandar di ranjang saat ia melihat Dito tengah duduk di atas kursi. Wanita itu langsung menyemburkan, "Kenapa kau ada di sini?!" Sembari menunduk untuk mengecek bajunya. Gadis ayu yang masih sangat muda itu bernapas lega saat ia menemukan dressnya masih utuh melekat di tubuh rampingnya.
Dito terus menatap Cantika dengan sorot mata tajam sambil memainkan ibu jari di atas bibirnya.
Cantika kembali menatap Dito untuk menyemburkan, "Berhenti menatapku sepeti itu! Keluar!!!!"
Dito menyeringai, "Kita satu kamar. Aku sangat capek untuk sekadar bangkit berdiri apalagi kalau harus melangkah keluar dari kamar ini. Lagian kamar ini aku yang bayar. Kalau kamu keberatan kita satu kamar, kamu aja yang keluar sana"
"Kau!!!!!" Cantika sontak berkacak pinggang dan duduk bersila di tengah ranjang untuk melototkan kedua matanya ke Dito.
"Kau sangat seksi kalau sedang marah kayak gitu. Tapi, redupkan amarahmu sebelum aku menerkam kamu karena gemas, saat ini juga"
Cantika menyipitkan kedua matanya dan menggeram kesal. Tiba-tiba Cantika menunduk untuk melihat perutnya saat terdengar suara Krucukkkkk cukup keras. Lalu, Cantika menarik selimut untuk menutupi wajah malunya sembari bergumam ke perutnya, "Hei! Kenapa kau berbunyi di saat yang tidak tepat?"
Dito mengulum bibir menahan tawa, lalu pria tampan itu berucap, "Mandilah! Setelah mandi aku akan ajak kamu makan lalu jalan-jalan menikmati keindahan kota ini"
"Kamu keluar dulu!" Cantika berteriak dari balik selimut.
Dito sontak terbahak-bahak, lalu ia berkata, "Aku, kan, sudah bilang tadi kalau aku sangat capek dan malas untuk sekadar bangkit berdiri"
Cantika sontak berteriak, "Dasar menyebalkan!" Sembari menarik selimut dan berlari ke kamar mandi.
Saat ia sudah mengunci pintu kamar mandi, Cantika memasukkan selimut ke dalam keranjang yang dikhususkan untuk kain kotor, lalu wanita cantik itu tertegun di depan meja rias. Ada sebuah dress berwarna hitam dengan motif kuncup bunga melati kecil-kecil. Cantika mengelus lipatan dress sembari bergumam lirih, "Dia manis banget menyediakan baju ganti untukku di sini. Hei, hatiku! Ini bukan saatnya terkagum-kagum nggak jelas! Pria itu tidak pantas untuk kau kagumi"
Satu setengah jam kemudian, Cantika keluar dari dalam kama mandi dan Dito sontak bangkit berdiri untuk berkata, "Kau sangat cantik, Babe"
Cantika berkacak pinggang dan langsung berkata, "Berhenti manggil aku Babe! Aku bukan Babe kamu"
Dito memilih diam dan berjalan melintasi Cantika sambil berkata tanpa menoleh ke Cantika, "Kalau laper, ikut aku sekarang juga jangan mematung terus!"
Cantika sontak mengekor Dito sambil berkata, "Dengan senang hati"
__ADS_1
Dito yang memimpin langkah di depan, mengulum bibir menahan geli dan berucap di dalam hatinya, dia memang super unik dan aku sangat menyukainya. Nggak! Aku rasa aku sudah sangat jatuh cinta padanya.
Cantika berdiri tertegun di tengah ruangan. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan pandangannya berakhir di wajah Dito.
Dito langsung bertanya, "Ada apa? Kau cari apa?"
"Kenapa hanya ada satu meja dan dua kursi di sini? Dan kenapa di pojok situ ada pemain band lengkap?"
Dito tersenyum lalu berkata, "Aku hanya ingin berduaan denganmu. Aku udah booking ruangan paling eksklusif di restoran ini khusus untuk kita berdua. Lalu, pemain musik di sana kau kan lihat apa fungsi mereka setelah kau selesai makan, nanti. Sekarang duduklah! Bukankan kamu sangat lapar saat ini? Perut kamu bunyi krucuk terus dari tadi.
Cantika langsung berlari kecil untuk duduk dan langsung menyomot satu kue yang disajikan di atas nampan. "Hmm! Enak banget kue ini" Cantika lalu menyomot satu kue lagi dan mengunyah kue itu sambil manggut-manggut. Lalu, ia bertanya ke Dito, "Untuk apa bunga mawar dan lilin ini?"
"Untuk mengusir serangga" Sahut Dito dengan wajah kesal.
Cantika terkekeh geli dan berucap, "Kau bisa melucu juga, ya?"
Dito tersenyum dan berkata, "Berhenti bicara saat makan! Kau bisa tersedak nanti dan makan yang banyak, jangan tergesa-gesa! Kita punya banyak waktu dan tidak akan ada satu orang pun yang akan mengganggu kita saat ini. Jadi, makanlah dengan santai"
Cantika menepuk-nepuk pelan perutnya dan sambil menggelengkan kepala ia berkata, "Aku sudah sangat kenyang. Terima kasih untuk makanannya"
"Sebenarnya rugi juga menculik kamu. Selera makan kamu sangat besar ternyata"
"Maka pulangkan aku sekarang juga! Kalau nggak, kau bisa bangkrut memberi aku makan sebanyak ini setiap hari" Cantika menatap Dito dengan senyum memohon.
"Hanya tiga bulan memberimu makan, aku tidak akan bangkrut dan jatuh miskin"
"Kalau gitu, aku akan mengaku. Aku sudah jatuh cinta padamu" Cantika berucap dengan wajah pura-pura serius. Cantika berpikir bahwa Dito akan memulangkan dia setelah ia mengaku jatuh cinta pada pria aneh itu.
Dito sontak terbahak-bahak.
"Hei! Berhenti tertawa dan pulangkan aku! Bukankah kau ingin aku jatuh cinta padamu, kan? Sekarang aku sudah jatuh cinta padamu"
__ADS_1
Dito mengentikan tawa lepasnya untuk berkata, "Bukan kata jatuh cinta yang aku minta. Tapi, kau menyerahkan diri kamu dengan rela hati di atas pangkuanku. Kau paham dengan maksudku, kan?"
Sial! Kenapa susah banget untuk bisa melarikan diri dari pria aneh ini. Batin Cantika.
"Sekarang bangkit dan berdirilah!"
"Untuk apa?"
"Bukankah kau ingin tahu apa fungsinya ada pemain band di pojok sana?"
Cantika bangkit berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.
Dito berucap, "Kemarilah! Mendekatlah ke sini! Jangan khawatir! Aku tidak akan mencelakai kamu"
Cantika melangkah pelan mendekati Dito dan sontak memekik kaget saat Dito mengaitkan lengan di pinggangnya dan menariknya sampai tubuhnya menempel di tubuh Dito.
Saat Cantika membuka mulut hendak menyemburkan protes, Dito langsung berkata, "Aku hanya ingin mengajakmu berdansa. Anggap saja aku minta bayaran atas semua makanan yang telah kamu makan dengan dansa"
Cantika menghela napas panjang dan terpaksa mengiyakan permintaannya Dito. Toh hanya berdansa. Apa salahnya. Batin Cantika.
Namun, kata apa salahnya langsung disesali oleh Cantika. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar-debar dan perutnya terasa seperti digelitikin sayap kupu-kupu saat Dito memeluknya erat dan mendaratkan bibir di belahan rambutnya.
Seketika itu, Cantika mendorong tubuh Dito dan berkata, "Sudah cukup dansanya"
"Kenapa? Kau takut kalau terus berdansa, kau akan menyerahkan diri kamu seutuhnya malam ini juga?"
"Bukan karena itu! Aku tidak begitu pandai berdansa. Lebih baik kita jalan-jalan saja. Bukankah kau tadi akan mengajakku jalan-jalan?"
Dito menjentikkan jari dan pemain band langsung menghentikan permainan mereka. Pria tampan itu kemudian menggandeng tangan Cantika dan saat Cantika membiarkannya, Dito langsung mengajak Cantika melangkah sembari berkata, "Oke. Kita jalan-jalan saja"
Dito kemudian berkata di dalam hatinya, ternyata tidak semua wanita menyukai makan malam dengan bunga, lilin, dan dansa.
__ADS_1