Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Sedih


__ADS_3

Cantika terus mengajak Dito berciuman sambil merangkak naik ke atas pangkuannya Dito. Wanita cantik berbola mata biru itu mengajak lidah Dito berdansa dengan lidahnya sambil tangannya menarik ke atas kaosnya.


Dengan degup jantung yang sangat kencang, Dito langsung menarik lidahnya dari belitan lidah Cantika sambil menurunkan kaosnya Cantika.


Saat Cantika nekat menarik ke atas kaosnya, Dito langsung menahan tangan wanita itu dan menghardik, "Babe! Jangan nekat! Kita belum mendapatkan restu dari Mama Tari"


Pengaruh residu narkoba jenis baru ciptaannya Steven Chan itu memang masih sangat kuat. Residu itu masih mampu mengacaukan pikiran Cantika yang seketika begitu berhasrat menginginkan Dito. Alih-alih menuruti ucapannya Dito, wanita cantik berbola mata biru itu langsung menarik tengkuk Dito dan kembali mengajak Dito berciuman.


Di saat Cantika menyusupkan wajahnya di leher kokohnya Dito, telepon genggamnya Dito berbunyi sangat nyaring.


Cantika merangkul erat leher Dito sambil menggeram kesal, "Abaikan saja!" Lalu, bagai mendengkur, Cantika menggesekkan wajahnya di dada Dito seperti seekor anak kucing yang tengah merajuk.


"Nggak bisa, Babe. Telepon itu pasti telepon yang sangat penting karena ponselku tidak pernah kau pakai untuk keperluan pribadi"


Cantika akhirnya turun dari atas pangkuannya Dito dan langsung menjatuhkan tubuh rampingnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap.


Dito hanya melirik Cantika karena di harus segera menjawab telepon masuk dari Om Jorge. "Iya, Om ada apa?" Tanpa Dito sadari dia menjawab telepon dari Jorge dengan napas yang masih terengah-engah.


"Astaga, Dito! Napas kamu kenapa terengah-engah seperti itu? Kamu habis lari berapa putaran, hah?!"


"Banyak putaran macam obat nyamuk, Om, bikin puyeng kepala" Sahut Dito.


Cantika langsung mengangkat badan untuk tidur terlentang dan menendang pantat Dito dengan kesal.


Dito langsung menoleh ke belakang untuk menatap Cantika dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang sempurna.


"Apa?!" Cantika mendelik ke Dito dan mengeluarkan kata itu tanpa bersuara.

__ADS_1


Dito menggeleng-gelengkan kepala dan terkekeh geli.


"Hei! Kenapa kau malah terkekeh geli terus? Ada apa?" Suara Jorge di seberang sana mengejutkan Dito dan membuat Dito langsung menyahut, "Nggak apa-apa, Om. Bukan hal penting, kok. Ada apa Om nelpon saya?"


"Kau harus segera pergi dari sana. Steven Chan meluncur ke sana. Diperkirakan dia hari lagi dia sampai di tempat kamu"


"Hah?! Tapi, Cantika belum sembuh, Om"


"Nah, karena itu lah, kamu harus segera membawa pergi Cantika dari sana sebelum Steven Chan datang dan mengambil Cantika untuk selamanya. Kamu tidak bisa melawan Steven Chan sendirian dan bantuan dari Om baru bisa sampai seminggu lagi karena Om, masih ada di Jepang saat ini"


"Tapi, saya ingin bertemu Steven Chan dan......"


'Jangan pikirkan dendam kamu dulu! Pikirkan keselamatan dulu! Kamu mundur kali ini untuk menang nanti, mengerti?"


"Siap, Om! Mengerti!" Sahut Dito dengan nada tegas.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Cantika sambil duduk bersila di tengah ranjang.


"Kita harus segera pergi dari sini Steven Chan dan anak buahnya meluncur ke sini. Kita berdua tidak bisa melawan mereka"


"Oke. Aku akan bereskan barang-barang kita" Sahut Cantika sembari melompat dari atas ranjang.


"Aku akan membantumu" Sahut Dito.


Steven Chan memerintahkan supir pribadinya untuk tidak mampir ke mana-mana karena dia ingin segera berjumpa dengan pujaan hatinya. Dia ingin segera memiliki Cantika untuk selamanya. Menikahi Cantika Putri Baron dan hidup bahagia selamanya seperti seorang putri dan pangeran yang ada di negeri dongeng.


"Sial! Akhirnya aku sendiri yang harus turun ke lapangan. Tunggu aku cintaku, Cantika. Pangeran berkuda kamu akan segera datang untuk meminang kamu" Gumam Steven Chan sambil bersedekap di jok belakang mobil mewahnya.

__ADS_1


Baru saja meluncurkan mobil sedan mewah yang diberikan oleh Noah Baron selama setengah jam, Cantika kembali mengalami sakau. Cantika tiba-tiba kejang dan dengan panik, Dito segera meminggirkan mobil dan bergegas melepaskan sabuk pengamannya dan sabuk pengaman Cantika, kemudian dia memeluk erat Cantika sambil menjejalkan sapu tangannya ke dalam mulut Cantika agar wanita itu tidak menggigit lidahnya ketika mengalami kejang-kejang.


Dito terus memeluk erat Cantika sembari sesekali mengelus rambut indahnya Cantika yang selembut sutra sambil terus bergumam, "Ayo Babe! Jangan menyerah! Kamu bisa! Kamu pasti bisa! Kamu wanita hebat, Babe!"


Cantika mulai menangis, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dalam jumlah yang luar biasa banyak dan dari kejang-kejang, wanita itu berubah menggigil dan dia memeluk Dito dengan sangat erat dan tangisannya semakin menghebat.


Dito ikutan menangis dan di sela isak tangisnya Dito berucap, "Maafkan aku, Babe. Aku dengan terlambat waktu itu. Maafkan aku kamu harus mengalami semua ini"


Jorge dan Santo langsung menyelesaikan urusan mereka di Jepang dengan cepat dan setelah itu, mereka berdua pulang ke tanah air. Jorge menghubungi Noah Baron dan berkata, "Kau ikut misi ini, nggak? Kau tega meninggalkan Batari sendirian di rumah selama sebulan penuh?"


"Misi apa, kok, sampai butuh waktu sebulan penuh?" Tanya Noah sembari menyelimuti tubuh polosnya Batari. Dia dan Batari habis bergulat panas di atas ranjang dan hanya menghabiskan satu ronde karena keduanya berada dalam keadaan yang tidak begitu fit saat ini.


"Steven Chan harus segera diringkus. Kalau nggak, dia akan semakin menggila dan semakin kuat" Sahut Jorge.


"Oke. Aku ikut. Aku harus bikin perhitungan sama orang itu karena dia telah membuat Batari menjadi seperti sekarang ini" Sahut Noah.


"Lalu Batari?"


"Tari pasti akan ijinkan aku untuk pergi. Dia juga sangat dendam dengan orang yang bernama Steven Chan itu"


"Oke. Kapan kau akan ke markasku?" Tanya Jorge kemudian.


"Besok" Sahut Noah.


"Oke. Aku tunggu kedatangan kamu"


Setelah Batari jatuh tertidur karena kelelahan menahan rasa sakit di atas ambang batas sakitnya, Dito mengambil pelan sapu tangannya dari dalam mulut Cantika. Setelah ia letakkan sapu tangan itu di dasboard mobil, Dito mengusap air mata di pipi Cantika dan karena kaca mobil sedan mewah itu kaca reflektif, Dito berani mengganti bajunya Cantika yang basah kuyup terkena keringat dengan baju kering yang bersih. Setelah selesai mengganti baju kekasihnya, Dito kembali memeluk Cantika dan memutuskan untuk melajukan mobil kembali saat Cantika sudah bangun. Dito memandangi wajah cantik kekasihnya dengan sedih, sangat sedih. Dia benar-benar ingin segera bertemu dengan Steven Chan dan bikin perhitungan dengan pria kejam itu.

__ADS_1


"Dia sangat cantik. Luar biasa cantik. Dia juga hebat dan baik hati. Itulah kenapa aku langsung jatuh cinta pada pertama. Cantika Putri Baron, kau makhluk Tuhan paling sempurna di dunia ini dan aku harus memilikimu" Gumam Steven Chan sambil menyeringai lebar.


__ADS_2