Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Momen Manis


__ADS_3

Batari dikejutkan dengan kemunculan seorang anak laki-laki berumur belasan. Anak itu langsung berteriak, "Jangan pukul aku!" Saat Batari mengarahkan dia bogem mentah di depannya.


"Siapa kamu?" Tanya Batari.


"Namaku Alex. Aku lupa dengan nama keluargaku karena, Papa dan Mamaku hanyut dan aku rasa mereka sudah meninggal. Aku terdampar di pulau itu dari sejak aku masih berumur lima tahun" Sahut anak laki-laki itu


"Lalu, berapa umurmu sekarang?" tanya Batari sembari menaikan kedua alisnya ke atas dan masih dengan sikap waspada.


"Lima belas tahun" Sahut anak laki-laki yang mengaku bernama Alex itu.


"Hah?! Kamu serius? Kamu sudah ada di pulau itu selama sepuluh tahun?" Batari mendelik tak percaya.


Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan sorot mata serius dan kemudian ia berkata, "Aku serius. Aku nggak bohong"


"Lalu, kenapa aku nggak melihat kamu pas aku masih di pulau itu?"Batari menyipitkan kedua matanya di depan anak laki-laki yang mengaku bernama Alex itu.


"Karena kamu selalu ada di kamarnya Bos Reeds dan pagi hari tadi, kamu diajak Bos Reeds pergi belanja"


"Oke. Dan kamu sembunyi di kapalku ini saat Reeds membetulkan kapalku ini?" Tanya Batari.


Anak laki-laki bernama Alex itu menggelengkan kepala dan berkata, "Bos Reeds menyuruhku untuk naik ke kapal ini secara diam-diam. Karena, siapa pun yang ingin keluar dari pulau itu, akan ditembak mati oleh anak buahnya Bos Reeds. Kalau Bos Reeds, baik. Dia nggak pernah membunuh orang dan nggak pernah bersikap kasar sama orang"


"Tapi bagiku, Reeds itu orang yang dingin dan kasar, cih!" Sahut Batari.


"Bos Reeds orang baik dan nggak kasar. Buktinya, dia membiarkanmu pergi dari pulau itu tanpa terluka sedikit pun. Dan dia juga menolongku pergi dari pulau itu dengan selamat" Sahut anak laki-laki itu.


"Eh, kenapa kamu bersikap dan berbahasa tidak sopan padaku? Kita beda delapan tahun dan aku lebih tua darimu. Kenapa kamu terus memakai bahasa informal?" Tanya Batari.


"Maaf. Aku terbiasa pakai bahasa informal di pulau itu" Sahut Anak laki-laki itu.


"Oke. Aku maafkan.Tapi, kamu harus memanggilku Kakak!"


"Baik, Kakak cantik" Sahut anak laki-laki yang bernama Alex itu.


"Kakak aja, jangan pakai cantik! Dasar kamu ini, masih kecil kok udah tahu kata cantik" Batari terkekeh geli.

__ADS_1


"Karena, Kakak memang cantik dan Kakak yang paling cantik Daris sekian banyak cewek yang pernah terdampar ke pulau itu. Pantas aja kalau Bos Reeds langsung suka sama Kakak" Sahut Alex.


"Aish! Tahu apa kamu soal itu. Jangan bahas soal Reeds lagi! Lalu, apa pekerjaanmu di pulau itu?" tanya Batari


"Aku selalu berada di belakang. Membersihkan halaman belakang" Sahut Alex.


"Oke. Kita akan segera sampai. Aku akan ajak kamu ke rumah om Prince-ku dan besok, aku akan ajak kamu pulang ke Indonesia, mau?"


"Mau" Sahut Alex


"Oh, iya, aku mau tanya, kenapa semua orang di pulau itu bisa berbahasa Indonesia dan bahkan cewek aneh yang bernama Silvia juga bisa berbahasa Indonesia"


"Karena, mereka semua dari Indonesia. Bos besar, Michael Posh orang keturunan Indonesia, tapi ia lahir dan dibesarkan di Jepang, lalu mengembangkan bisnisnya di Amerika" Sahut Alex.


Batari lalu mendekatkan wajahnya ke wajahnya Alex, "Kamu juga orang Asia? Rambut kamu hitam dan kulit kamu sawo matang, hidung kamu juga nggak begitu lancip"


Alex memundurkan wajahnya dengan kesal, lalu berkata, "Aku memang pesek, tapi Kakak juga pesek"


"Bukan itu masalahnya. Masalahnya, kamu orang mana?" Batari mendengus kesal sembari menegakkan kembali badannya.


"Kalau kamu nanti tinggal di rumahku, di Indonesia, kamu harus nurut sama aku. Aku wali kamu mulai dari sekarang karena, Reeds sudah menitipkan kamu ke aku, aku harus bertanggungjawab dan membuatmu menjadi anak yang bisa dibanggakan saat Reeds menemui kita, nanti" Ucap Batari.


"Siap, Kak" Sahut Alex.


Beberapa jam kemudian, kapal miliknya Prince Adijaya Darmawan sudah menepi dan Batari langsung disambut oleh anak buahnya Prince dan segera diantar ke kediaman megahnya Prince Adijaya Darmawan.


Alex terkesima dengan penyambutan itu dan terus melongo saat ia masuk ke dalam mobil yang sangat mewah. Alex lalu menoleh ke Batari, "Kakak orang kaya raya ternyata"


"Tentu saja. Karena, aku ini Cicitnya Moses Elruno dan Cucunya Raja Darmawan" Sahut Batari.


"Siapa mereka?" Tanya Alex.


"Aku akan kasih lihat foto mereka ke kamu, nanti. Kakek dan nenek buyutku, Kakek dan nenekku, mereka orang yang sangat hebat" Sahut Batari dengan senyum bangga.


Dan setelah menginap semalam di rumahnya Prince, Batari mengajak Alex terbang ke Indonesia. Alex sangat bahagia saat ia naik pesawat terbang dan terlihat sangat norak. Batari langsung menyikut bahunya Alex dan berkata, "Jangan kau perlihatkan ke orang-orang kalau kau belum pernah naik pesawat! Atau mau aku kasih tulisan di punggung kamu, anak ini baru pertama kali Naim pesawat, mau?"

__ADS_1


Alex menoleh ke Batari dan meringis saat ia bersitatap dengan kedua matanya Batari yang tengah melotot. Lalu Alex berucap, "Maafkan aku. Aku refleks aja menjadi norak karena, memang belum pernah naik pesawat"


"Hufftttt! Sepertinya pekerjaan rumahku ke depan akan sangat berat saat berurusan dengan kamu" Sahut Batari dan Alex langsung terkekeh geli. Setelah menempuh penerbangan yang cukup panjang bersama dengan si norak Alex, Batari langsung menuju ke kamarnya dan menyerahkan Alex ke kepala rumah tangganya karena, Barnes dan Amanda belum pulang ke rumah, pasangan penuh cinta itu, masih menikmati bulan madu mereka.


Batari merebahkan dirinya di atas ranjang dan saat ia bergaul kembali dengan anak belasan tahun yakni, Alex, memorinya menjadi terarah ke masa belasan tahun dirinya dan Noah.


Batari teringat akan momen di mana Noah dengan wajah cemberut selalu menjemputnya setiap pagi ke sekolah dan selalu mengantarnya pulang sekalian belajar seni beladiri bersama dengan Batari. Batari teringat akan momen di mana dia menyebutkan protes, "Kalau kamu cemberut tiap kali menjemputku, besok nggak usah menjemputku lagi! Pagiku langsung gelap gulita melihat wajah cemberut kamu itu, Noah. Dasar menyebalkan!"


Dan Noah hanya menguap selebar-lebarnya laku berkata, "Cepat naik ke motorku! Telat nanti"


Dan setelah menerima semburan protes dari Batari, keesokan harinya, Noah masih menjemput Batari ke sekolah. Batari mendengus kesal dan saat ia hendak membuka mulut, Noah langsung meringis di depannya Batari sambil berucap, "Aku udah meringis, nih. Nggak cemberut lagi"


"Tetap aja terlihat kalau kamu terpaksa menjemput aku. Kalau kamu terpaksa menjemput aku, kenapa masih datang ke sini pagi ini?" Batari mendelik di depannya Noah.


"Karena, udah terbiasa. Motorku secara refleks tanpa aku perintah, mengarah ke sini" Noah masih meringis.


"Dasar aneh. Mulai besok, aku akan naik mobil bareng sama Bening. Nggak usah menjemputku lagi" Sahut Batari sambil melompat naik ke boncengan motornya Noah. Noah hanya diam saja tidak merespons ucapannya Batari dan esok paginya, Noah masih saja datang menjemput Batari dengan berganti-ganti ekspresi wajah, tapi bukan wajah cemberut lagi.


Batari tergelak geli dengan sendirinya di atas ranjang mewahnya saat ia mengingat momen itu. Lalu ia teringat momen di mana Noah melaporkannya yang pura-pura sakit perut karena, ia tidak mau ikut acara mencari jejak tengah malam di acara kemah Pramuka. Batari marah besar sama Noah kala itu karena, Batari benci acara mencari jejak di tengah malam karena, dia takut gelap dan takut kalau dia melihat hantu di sana. Dan saat Batari terpeleset dan keseleo, Noah menggendong Batari di punggungnya sambil berkata, "Maafkan aku. Aku ingin kamu temani di acara mencari jejak ini karena, aku nggak ingin Alexa menempel terus ke aku. Kita, kan, satu tim dengan Alexa"


"Lalu kenapa kalau aku yang menempel terus ke kamu, kamu nggak keberatan? Apa bedanya aku sama Alexa. Kita sama-sama cewek dan teman kamu" Protes Batari kala itu.


"Karena, bagiku kamu beda" Sahut Noah lirih saat itu. Dan setelah pulang dari berkemah, Noah terus ada untuk merawat kakinya Batari sampai sembuh.


Batari langsung menutup wajahnya dengan bantal saat dia mengingat momen manis itu.


Lalu dia teringat akan momen.di mana saat dia dan Noah berebut ayam goreng tepung yang hanya tersisa satu di kantin sekolah mereka siang itu. Dan Batari melompat kegirangan saat dia berhasil lebih dulu meraih ayam goreng tepung itu ke atas nampan makan siangnya.


Noah lalu duduk di depannya Batari dengan. wajah lesu. Dia dan Batari sama-sama menyukai ayam goreng tepung dan Noah terus melihat Batari menggigit ayam tepung itu. Batari lama-lama.merasa.kasihan, lalu ia mengarahkan ayam goreng tepung itu ke mulutnya Noah sambil berkata, "Kita makan bareng ayam goreng tepung ini. Kamu gigit bagian itu!"


"Tapi, ayam goreng tepung ini, kan, udah kamu gigit" Noah langsung menautkan alisnya.


"Aku nggak punya penyakit aneh dan nggak flu. Lagian bagian itu belum aku gigit. Cepat kamu gigit sebelum aku tarik lagi ayam goreng tepungnya" Batari mendelik ke Noah.


Noah langsung menggigit bagian yang goreng tepung yang ada di depan mulutnya dan dengan wajah semringah dia mengucapkan, "Terima kasih" sambil mengunyah ayam goreng tepung di dalam mulutnya.

__ADS_1


Batari tersenyum geli mengingat momen itu, lalu ia bergumam, "Andai saja kita selalu berumur lima belas tahun dan tidak pernah menjadi dewasa, kita akan selalu bahagia, Noah Baron"


__ADS_2