
Leon kemudian muncul kembali ke ruang keluarga ketika semua pekerjaannya telah selesai. Dan sepeninggalnya si pemilik butik, Leon meminta tolong Pak Temon membantu Amanda dan dia membawa semua baju, tas yang berisi pakaian dalam ke kamar ganti yang ada di dalam kamarnya Amanda. Sedangkan ke sepuluh kotak sepatu ditaruh di rak sepatu yang berada di teras depan.
Teras depan rumahnya Barnes sangat luas dan terdapat dua lemari kaca untuk tempat sepatu dan satu rak kecil memanjang untuk menaruh sandal kotor dan sandal bersih. Setiap orang yang hendak masuk ke dalam rumahnya Barnes, harus mengganti alas kaki mereka dengan sandal yang bersih yang khusus disediakan sang pemilik rumah untuk para tamu.
Dan pak Temon langsung memasukkan ke sepuluh kotak sepatu ke dalam salah lemari kaca yang masih kosong yang menjulang tinggi karena, lemari kaca yang satunya lagi telah penuh dengan sepatu dinas, sepatu resmi,.sepatu olahraga dan sepatu santainya Barnes Adiwilaga Darmawan. Barnes memang suka mengoleksi sepatu.
Sementara itu Amanda termangu di depan meja belajarnya. Sudah ada laptop keluaran terbaru dengan merk terpercaya, alat tulis yang sangat lengkap dan ponsel baru yang tampak sangat mahal. Amanda mengusap laptop itu lalu membuka kardus ponsel sambil bergumam, "Baru kali ini aku punya laptop dan ponsel baru dan sangat mahal" air mata pun tanpa diminta, menetes dari kedua bola mata jernihnya Amanda.
Amanda bergumam di sela isak tangisnya, "Aku belum pernah diperlakukan sebaik ini sejak aku diasuh oleh Omku. Aku tidak pernah merasa seberharga ini menjadi seorang manusia sejak aku hidup atau atap dengan Tanteku dan hatiku tidak pernah merasa sehangat ini sejak aku tumbuh besar bersama sepupuku. Kenapa Komandan Barnes begitu baik padaku? Apa benar aku sahabat di masa kecilnya? Tapi, kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?"
Amanda lalu menaruh kembali ponsel yang masih licin dan berbau harum khas barang yang masih baru itu di atas meja belajarnya yang juga baru. Amanda lalu merebahkan kepalanya dengan posisi miring di atas meja belajar itu lalu mendesau dan kembali bergumam, "Tapi, aku belum sepenuhnya percaya sama makhluk yang namanya laki-laki kecuali Mikha, temanku. Aku harus tetap waspada. Apalagi Komandan Barnes, isi kepalanya sama sekali tidak bisa kubaca"
Angan Amanda Kembali melayang di hari saat ia melarikan diri dari rumah Omnya. Di sore hari, Amanda dikejutkan dengan kedatangan adik kandung dari tantenya. Seorang pria yang lumayan tampan tetapi doyan judi dan main wanita itu adalah adik satu-satunya dari tantenya Amanda yang bernama Boy. Amanda bergidik ngeri saat ia bersitatap dengan kedua bola mata menjijikkan dari Boy karena dari kedua bola mata itu, Amanda bisa mendengar isi kepala pria itu. Pria itu ingin menidurinya di tengah malam.
Amanda segera bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah ia selesai mencuci piring dan gelas. Amanda segera memasukkan baju-bajunya secara asal ke dalam tas besar tidak lupa ia memasukkan pula rompi masa kecilnya. Amanda memakai tas yang khusus dipakai untuk bepergian jauh, tas itu kata Omnya, peninggalan dari Mamanya Amanda. Gadis yang sebenarnya cantik jika terawat dengan baik itu, kemudian memasukkan uang tabungannya secara asal ke dalam tas selempang lalu menaruh tas besar dan tas selempang di luar, di bawah jendela kamarnya yang tidak berteralis.
Di saat Amanda akan naik ke jendela itu, Boy membuka pintu kamarnya Amanda tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan dengan menyeringai, Boy berlari dan langsung menarik tubuh Amanda ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Tanpa mengeluarkan kata, Amanda sudah tahu apa yang Boy hendak lakukan. Amanda meronta dan berteriak, "Lepaskan aku! Tolong!"
Boy lalu menghempaskan tubuh Amanda di atas kasur dan menindihnya, "Berteriaklah sekencang-kencangnya! Om kamu masih lembur di kantor, sepupu kamu masih kencan di luar sana dan Tante kamu, kakak Perempuanku, dia nggak peduli padamu, hahahahaha"
Boy lalu mengelus pipinya Amanda, "Kau cantik juga kalau dilihat lebih lama. Kau mampu membangkitkan gairahku dan aku ingin memilikimu. Jangan khawatir, setelah kita menyatu malam ini, aku akan menikahimu" Mata Boy menggelap penuh gairah saat ia menurunkan ritsleting celananya.
Amanda menggigit keras-keras bibir Boy saat bibir Boy nekat menyambar bibirnya dan saat Boy menarik wajahnya karena kesakitan, Amanda langsung menendang pusaka Boy memakai lututnya dengan sangat keras. Boy terjengkang ke belakang dan di saat Boy terjatuh di atas lantai, Amanda langsung berdiri dan melompat ke bangku yang dia pasang di depan jendela kamarnya lalu melompat keluar lewat jendela kamarnya kemudian melesat pergi, berlari sekencang-kencangnya dari rumah Omnya. Tanpa mengucapkan pamit kepada Omnya, Om yang masih ia hormati.
Amanda menginap di rumahnya Mikha malam itu. Mikhael Pambudi, teman Amanda sedari TK dan juga teman Barnes itu, hanya memiliki seorang Ibu karena ayahnya sudah meninggal terserang penyakit kanker dan Ibunya Mikha yang berprofesi sebagai dokter hewan, sangat menyayangi Amanda. Di pagi hari buta, Mikha yang sudah kuliah di kota metropolitan, kemudian membawa Amanda ikut dengannya ke kota yang tidak pernah tidur selama dua empat jam penuh itu. Di kota besar itu, Amanda dicarikan kamar kost yang sederhana tapi tidak buruk dan pekerjaan di sebuah butik oleh Mikha. Pemilik butik itu adalah sahabat ibunya Mikha.
Sore berganti petang. Amanda menunggu di meja makan setelah ia selesai belajar memasak ca kangkung sama pak Temon karena, Leon mengatakan ke Amanda kalau bos besarnya ingin memakan ca kangkung masakan istrinya. Amanda merebahkan kepalanya dengan posisi miring di atas meja makan dan mendesau, "Kenapa ia lama sekali pulangnya? keburu dingin ca kangkungnya dan........."
Tap, tap, tap, tap, tap, Amanda langsung menegakkan badannya, bangkit dan berlari ke ruang tamu saat ia mendengar derap langkah kaki banyak orang dan mendengat teriakan, "Rebahkan dulu Komandan di atas sofa!"
Amanda tertegun sejenak melihat Barnes bahunya bersimbah darah lalu ia segera berlari mendekat dan berjongkok di samling kepalanya Barnes, "Apa yang terjadi?"
"Nyonya maaf, minggir dulu! Saya akan obati lukanya Komandan" Joy berdiri di dekat sofa sambil membawa kotak P3K.
__ADS_1
Amanda langsung berdiri dan bertanya dengan panik, "Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit? kenapa diobati sendiri? dan Kenapa suamiku bisa terluka?"
Semua yang ada di ruang tamunya Barnes tertegun melihat emosinya Amanda.
Dan hanya Jake yang berani mengeluarkan kata, "Kita habis dari dokter, Nona berambut merah yang super galak dan Joy hanya akan memeriksa dan membersihkan luka kecil yang ada di perutnya Barnes maka minggirlah!"
Amanda langaung merebut kotak P3K dari tangan Joy lalu mendelik, "Aku nggak akan ijinkan kamu melihat perut suamiku dan harusnya kalian yang minggir, aku ini istrinya"
Jake hendak menyemburkan protes dan Barnes segera angkat bicara, "Pergilah kalian semua! Biar istriku yang membersihkan luka di perutku"
Semuanya pergi meninggalkan Amanda dan Barnes dengan santai kecuali Joy yang terus menoleh ke belakang melihat kebersamaan Amanda dan Komandannya dengan sorot mata penuh kecemburuan.
Barnes bersitatap dengan Amanda dan Barnes segera membuka kancing kemejanya satu per satu sambil berkata, "Aku senang kamu panik tadi. Aku senang kamu mengkhawatirkan aku" Barnes tersenyum ke Amanda.
Amanda yang belum pernah melihat senyum Barnes dewasa, menjadi tertegun dan bergumam di dalam hatinya, Gila! kenapa dia menjadi setampan ini kalau tersenyum.
Deg, deg, deg, jantung Amanda langaung berdegup dengan kencang saat ia melihat kemeja Barnes tersibak sempurna memperlihatkan keenam tonjolan otot perut yang sangat indah. Amanda mematung dan terus menatap otot perut itu dengan diringi bunyi kencang degup jantungnya
__ADS_1