
Batari keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur. Dia membuka lemari es kecil dan menemukan telur di sana. Lalu, ia mencari rice cooker dan Danny yang ditugaskan tinggal.di rumah untuk.menjaga Batari, langsung berkata, "Anda mencari apa Nyonya Bos?"
Batari tersentak kaget dan saat ia menoleh ke belakang dia mendelik, "Bisa nggak kalau datang nggak seperti jailangkung? Ketuk meja dulu atau apa kek? Bikin kaget aja"
"Mana ada jailangkung memiliki badan gendut kayak saya" Danny langsung merengut.
Batari tergelak geli, lalu berkata, "Kamu lucu juga ternyata. Emm, aku mencari rice cooker dan nggak usah pakai bahasa formal denganku. Kita udah beberapa kali bertemu dan kita udah kenal, jadi nggak usah pakai bahasa formal"
"Oke. Aku udah masak nasi. Nggak ada rice cooker di sini karena, kalau keseringan pakai listrik di sini, maka pemadaman bergilir akan lebih sering terjadi" Sahut Danny.
"Lalu, masak nasinya pakai apa?" Tanya Batari.
"Pakai dandang" Sahut Danny.
"Dandang? Aku belum pernah masak nasi pakai dandang" Batari menautkan alisnya.
"Besok, aku akan ajari cara masak nasi pakai dandang" Sahut Danny.
"Oke. Thank you udah bersedia mengajari aku besok, hehehehe. Kalau udah ada nasi, aku minta nasi kamu sedikit untuk masak nasi goreng, boleh?" Tanya Batari.
"Boleh. Ambil aja. Nasi itu milik kita bersama. Karena, kamu mau masak nasi goreng, maka aku akan masak tumis brokoli dan nggoreng ikan" Sahut Danny.
"Nggak ada blender atau chopper juga di sini, ya?" Batari berkacak pinggang di depannya Danny.
Danny menggelengkan kepalanya dan berkata, " Adanya cobek dan ulekan. Itu ada di rak piring paling bawa cobek dan ulekan ya"
Batari menghela napas panjang sambil mengambil cobek dan ulekan dari tempatnya. Dia belum pernah mengulek dan sekarang, dia terpaksa harus menguleg. Namun, di saat ia mulai mengulek dia langsung merasa asyik dan spontan berkata, "Wah, mengulek ternyata nggak seburuk yang aku bayangkan. Ternyata, asyik juga"
Danny tekekeh geli dan menoleh sekilas.ke belakang sembari menggoyangkan spatulanya di atas wajan.
"Apa di sini ada peralatan medis? Emm, seperti obat antiseptik, pereda nyeri, pain killer, jarum suntik, kasa, dan semacamnya?"
Tanya Batari sambil terus mengulek bawang putih, bawang, merah, cabai besar dan keriting.
"Adanya cuma kotak P3K standar" Sahut Danny..
__ADS_1
"Lalu, kalau kalian terluka? Pasti kalian pernah terluka, kan? Siapa yang mengobati dan medikasi kalian?" Tanya Batari.
"Kami melakukannya sendiri. Kami ada pengetahuan dasar mengobati luka dan medikasi karena, biasanya kita jauh dari balai pengobatan apalagi rumah sakit" Sahut Danny.
"Sial! Aku kemarin lupa nggak bawa tas kerjaku. Tas kerjaku berisi peralatan medis dan obat yang sangat lengkap" Sahut Batari.
"Ada kok. Tas kerja kamu ada. Koper kecil berwarna putih,kan?" Tanya Danny.
"Ah, benar. Tapi, siapa yang membawanya?" Tanya Batari.
"Orang yang menjemput Felix kemarin utusannya Pak Barnes Adiwilaga Darmawan, Papa kamu, aku sangat ngefans sama Papa kamu. Kalau kita udah selesaikan misi kita di sini, bisakah kamu bawa aku berkenalan dengan Papa kamu? Aku juga pengen berhadapan langsung dengan Nyonya Amanda yang terkenal itu" Danny berucap sembari meletakkan sayur tumisannya di atas piring datar.
"Oke. Aku akan kenalkan kamu ke Mama dan Papaku, nanti. Pasti" Sahut Batari sembari bangkit berdiri dan membawa cobek ke dekat kompor. Batari menaruh wajan yang masih bersih di tungku kompor satunya dan mulai memasak nasi goreng.
Setelah menyelesaikan nasi gorengnya, Batari menoleh ke Danny, "bisa tolong cek kamar mandinya? Aku takut sama ular, kalajengking, cicak, tokek, kecoa, kaki seribu dan......."
"Banyak amat takutnya?" Danny langsung mengerutkan keningnya ke Batari.
"Masalah buat kamu?!" Batari langsung berkacak pinggang di depan Danny.
"Nggak masalah buatku karena kau bukan Istriku" Sahut Danny dengan santainya lalu duduk di meja makan.
"Lha kenapa?" Danny menautkan alisnya ke Batari.
"Pergi cek kamar mandinya! Tolong?!" Batari menangkupkan kedua tangan di dada. Danny mendengus kesal dan melangkah ke arah kamar mandi sedangkan Batari menunggu di atas tangga yang terbuat dari kayu di saat Danny pergi mengecek salah satu kamar mandi. Danny langsung berteriak, "Aman! Kemarilah! Nggak ada hewan apapun di sini"
Alih-alih turun, Batari malah berbalik badan dan sambil berlari kecil dia berteriak, "Aku tunggu Noah kuliah aja! Aku takut dan aku nggak percaya sama kamu!"
Danny mendengus kesal dan bergumam, "Darimana Bos dapatkan Istri seaneh itu"
Noah berada di tempat strategis untuk mengintai trailer yang diduga berisi anak-anak di bawah umur. Noah menoleh ke Santo, "Kuduga, Murray tengik itu tetap berkonsentrasi pada bisnis narkobanya. Maksudku, aku tahu, selain perdagangan manusia, narkoba adalah cara dia memperluas kerajaan bisnisnya"
"Aku rasa benar begitu, Bos" Sahut Lopez dan Santo secara bersamaan.
"Dan aku meradang geram mengetahui kenyataan dia bakalan menjual anak gadis di bawah umur. Bejat sekali dia" Ucap Noah dengan menggertakkan giginya.
__ADS_1
"Kabarnya, dia juga selalu haus akan wanita muda dan cantik, Bos. Jangan sampai dia bertemu dengan Istrimu, Bos" Sahut Lopez.
"Iya. Kau benar" Sahut Noah. "Aku akan jaga Batari dengan sangat baik"
"Tapi, sepertinya Murray nggak ada. Dia hanya mengirim tangan kanannya untuk mengurus pengirim anak-anak ini" Sahut Lopez.
Dan di saat yang dirasa tepat, Noah menyuruh Lopez melemparkan gas air mata. Dia dan Santo segera bergerak dengan terus menunduk dan memanggul senapan mereka. Lopez menyusul dari belakang dengan gerakan dan senjata yang sama.
Terjadi baku tembak seketika itu pula. Setelah beberapa jam baku tembak dan baku hantam, akhirnya semua anak-anak di bawah umur yang ada di dalam trailer berhasil diselamatkan. Namun, Noah terkena sabetan pisau marinir di bagian perutnya saat ia melawan tangan kanannya John Murray yang adalah pensiunan marinir.
Setelah menyerahkan anak buahnya John Murray ke pihak berwajib dan memastikan semua anak-anak di bawah umur yang berhasil ia selamatkan aman di tangan yang berwenang, Noah mengajak Lopez dan Santo pulang.
Di dalam mobil jeepnya, Noah mengobati sementara lukanya dengan bubuk antiseptik yang cukup perih jika terkena luka. Noah memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya cukup keras saat obat bubuk itu mengenai luka barunya. Obat bubuk berwarna putih itu sangat manjur untuk meredakan pendarahan dan mencegah infeksi.
Setelah merasa sedikit nyaman dan nyeri di lukanya sudah tidak begitu menggigit, Noah menoleh ke Lopez, "Jangan bilang ke Istriku kalau aku terluka"
"Baik, Bos" Sahut Lopez.
"Apa nantinya Istri Bos nggak tahu kalau Bos terluka?" Tanya Santo.
"Ssssshhh" Noah mendesis saat ia membetulkan letak duduknya, lalu ia berkata, "Aku akan bilang sendiri, nanti"
"Kayaknya Istri Bos membawa keberuntungan bagi Kita" Sahut Lopez.
"Kenapa begitu?" Tanya Noah.
"Karena, baru kali ini kita pulang cepat. Ini masih jam delapan malam ternyata" Sahut Lopez.
Noah tertawa lirih, lalu berkata lemas, " Tari memang membawa keberuntungan dan aku sangat beruntung akhirnya aku bisa menikah dengannya"
Sesampainya di rumah, Batari langsung menubruk Noah. Noah langsung meringis menahan sakit dan langsung menggelengkan kepalanya ke Lopez dan Santo saat Looez dan Santo menatapnya dengan rasa khawatir. Lopez dan Santo mengkhawatirkan luka di perutnya Noah.
"Kok kamu bau asem? Kamu belum mandi, ya?" Tanya Noah.
"Istri Bos takut sama ular, tikus, kecoa, kaki seribu, tokek, cicak, jadi nggak berani turun ke bawah untuk mandi" Sahut Danny dan Batari langsung menoleh ke Danny dengan mata melotot
__ADS_1
Noah tersenyum dan sambil merapikan rambutnya Batari ia berucap, "Ayo aku temani mandi! Aku akan pastikan nggak ada hewan apapun di sana"
Batari tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menarik Noah masuk ke dalam kamar mandi dan tersentak kaget, "Kau terluka?!"