Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Hangat


__ADS_3

Nehemia Baron menatap tajam seorang wanita cantik yang berdiri di depannya.


"Siapa kamu?" Tanya Nehemia Baron.


"Cih! Kau sudah tidur denganku dan masih nanya siapa aku?" Wanita itu tersenyum sinis ke Nehemia Baron.


Nehemia Baron tersenyum mengejek, lalu berkata, "Aku memang playboy. Aku punya banyak stok wanita untuk aku kencani di luar sana. Tapi, aku nggak bodoh. Aku hapal wajah mereka semua dan aku hapal semua nama mereka, karena aku nggak mau kejadian seperti ini menimpaku. Kau akan katakan kalau kau hamil, kan? Dan kau akan bilang kalau itu anakku? Aku akan ajari kamu cara menghemat waktu yang benar, Nona! Katakan saja kau ingin uang berapa! Aku akan berikan, lalu aku akan menelepon polisi. Dasar brengsek!" Nehemia kemudian melotot ke wanita muda itu dan menggebrak meja kerjanya.


Wanita muda yang semula berdiri tegak langsung bergetar lututnya dan ia memilih untuk berbalik badan untuk berlari meninggalkan ruang kerjanya Nehemia Baron.


"Cih! Punya nyali ciut aja udah berani mendatangiku dan mencoba memerasku"


Asisten pribadinya Nehemia yang bernama Heru, tergopoh-gopoh masuk ke ruangannya Nehemia untuk berkata, "Maafkan saya, Bos! Wanita itu menerobos masuk saat saya masih sibuk mengangkat telepon"


"Hmm. Nggak papa. Dia udah pergi dengan sendirinya" Nehemia berucap sembari meneruskan pekerjaannya.


"Anda tidak keluar malam ini untuk berkencan?" Heru menautkan alisnya saat ia melihat Nehemia masih asyik membaca berkas.


"Aku malas keluar malam ini" Sahut Nehemia tanpa mengangkat wajahnya dari berkas yang ada di depannya.


"Baiklah kalau begitu, Tuan. Saya akan tunggu Anda di mobil" Sahut Heru.


"Hmm" Sahut Nehemia tanpa melepaskan pandangannya dari berkas yang ada di depannya.


Saat Heru menutup pintu ruangannya, Nehemia mengangkat wajahnya dan bergumam, "Bagaimana aku bisa berkencan dengan saat hatiku masih terasa sangat pedih melihat Kak Tari akhirnya menikah dengan Kak Noah"


Di saat semuanya tengah asyik bakar-bakaran dan bercanda ria menikmati hasil bakar-bakaran mereka, Telepon genggamnya Noah dan Barnes berbunyi sangat nyaring di waktu yang hampir bersamaan.


Noah mencium pelipisnya Batari, lalu bangkit berdiri untuk mengangkat panggilan yang masuk ke dalam telepon genggamnya.


Barnes mencium pundaknya Amanda dan ikut bangkit berdiri untuk mengangkat panggilan yang masuk ke dalam telepon genggamnya.


Dito mengajak Lopez dan Danny bermain bola di pinggir pantai. Karena terlalu bersemangat, Dito menendang bolanya cukup jauh. Saat Dito hendak berlari mengambil bola itu, Danny langsung menghadang dan menggendong Dito sambil berkata, "Biarkan bolanya hilang. Kita main pasir aja sekarang. Kita lomba bikin istana. Siapa yang paling bagus istananya, dapat hadiah cokelat"


Seorang pria mengambil bola yang menggelinding ke arahnya. Dan dengan menggeram kesal ia bergumam, "Sial! Kenapa Dito nggak jadi berlari ke sini untuk ambil bola ini? Huuffttt! Kapan aku bisa menculik Dito dengan sukses kalau penjagaannya seketat ini?"


"Siapa yang punya cokelat?!" Batari berteriak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Lopez!" Sahut Danny dengan berteriak kencang.


"Aku jago bikin istana pasir. Aku mau ikut" Batari langsung bangkit berdiri dan berlari mendekati Dito, Danny dan Lopez.


Bryna dan Amanda ikutan bangkit berdiri dan berlari menyusul Batari sambil berteriak riang, "Aku juga mau ikut!"


Batari menoleh ke Lopez, "Kapan kau beli cokelat?"


"Pas jemput Dito. Aku selalu nyetok cokelat untuk energi karena kalau tanpa cokelat aku lemas. Untuk itulah kenapa kalau stoknya mulai menipis,.aku langsung beli lagi sebelum habis total" Sahut Lopez.


"Belum kadaluwarsa, kan, cokelatnya?" Tanya Batari kemudian.


"Ya belum lah!" Lopez mendengus kesal.


"Kesal, ya, kena interogasi Bu Dokter, pffftt!" Danny mengulum bibir menahan geli.


Lopez mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Kesal banget dan sakitnya tuh di sini" Lopez memukul dadanya dan semuanya sontak tertawa lepas melihat tingkah konyolnya Lopez.


The Five Jays, Duscha dan Santo, menyusul Noah dan Barnes.


"Kita harus bergerak sekarang. Jorge, Jude dan Jordy, kalian mendapat tugas mendampingi Noah menyusup ke salah satu kapal pesiar untuk menjadi petugas bertopeng yang menyiapkan anak-anak gadis di bawah umur yang dipekerjakan menjadi pemuas napsu laki-laki dewasa" Barnes langsung membuka suara.


"Berarti aku dan Barnes yang mendapat tugas memantau kalian" Sahut Jake.


"Semua ke Jerman?" Tanya Duscha.


"Iya, tapi tanpa Istri kita. Kecuali Joy, Istri kamu" Sahut Barnes.


"Kapan kita berangkat?" Tanya Duscha.


"Besok pagi" Sahut Barnes.


"Lalu, bagaimana dengan Tari, Dito, Bryna, dan Manda kalau kita harus berangkat ke Jerman besok pagi. Berarti mereka harus kita pulangkan malam ini juga?" Duscha kembali bertanya.


"Nggak perlu malam ini. Kasihan kalau harus mengganggu keceriaan mereka. Biarkan mereka puaskan keceriaan mereka malam ini. Kita pulangkan mereka besok pagi" Sahut Barnes sambil menoleh ke pinggir pantai.


"Lalu, siapa yang mengawal mereka sampai rumah?" Tanya Duscha.

__ADS_1


"Mereka bukan wanita biasa. Mereka bisa jaga diri mereka sendiri dengan baik dan aku yakin, mereka juga bisa menjaga Dito dengan baik pula. Tapi, kita akan tetap kawal mereka sampai ke bandara dan setelah kita pastikan aman, barulah kita berangkat ke Jerman" Sahut Barnes.


"Aish! Kenapa di antara aku dan Barnes, kamu, tuh, selalu ceriwis?" Jake menatap Duscha.


"Kenapa, masalah biar Elo?" Duscha menoleh ke Jake dengan tanda tanya di wajahnya.


"Nggak. Cuma risih aja" Jake berucap sembari melangkah pelan untuk mendekati Bryna.


Duscha mendengus kesal, lalu berteriak ke Jake, "Awas aja kalau kau ceriwis nanti, aku akan balas ngatain kamu!"


Jake menoleh ke Duscha untuk mencebikkan bibirnya dan Duscha sontak berlari mengejar Jake dan Joy menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam geli, "Dasar bocah tua nakal!"


Di saat semuanya tengah asyik bercanda ria sembari membuat istana pasir, Noah secara diam-diam menculik Batari. Noah membawa Batari ke balik tebing. Noah mengajak Batari duduk di tepi tebing lalu ia memeluk Batari, mengelus punggung Batari. Noah lalu mencium Batari dan mencium Batari lagi, kali ini lebih lama. "Kau membuatku gila, Tari"


"Dan kau membuatku panas setengah mati" Sahut Batari dengan napas menderu.


Noah terkekeh geli di atas bibir tipisnya Bayari, lalu ia berucap, "Aku sangat mencintaimu" Noah kembali mencium Bayari dan ciuman Noah yang berikutnya cukup lama untuk menghangatkan udara dingin di sekitar pantai. Noah begitu tenggelam di dalam ciuman itu sehingga ia lupa ingin mengatakan sesuatu ke Batari.


Batari bisa merasakan keresahan di diri Noah, dia menarik bibirnya untuk bertanya, "Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"


Noah menempelkan keningnya di kening Batari dan dengan napas terengah-engah, pria tampan berbola mata biru itu berkata, "Aku harus pergi ke Jerman besok. Maaf aku ingkar janji kali ini. Aku tidak bisa bulan madu lebih lama lagi sama kamu. Maafkan aku!"


Batari menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak papa. Tugas kamu lebih penting"


"Sial! Aku begitu menginginkanmu saat ini juga, Sayang" Noah menyusupkan wajahnya di leher Bayari dan tangan yang mengelus punggungnya Batari menegang.


"Di sini?"


"Hmm" Sahut Noah sembari menurunkan ritsleting dressnya Batari yang ada di bagian belakang.


"Tapi, ini di luar, Sayang. Kalau ada yang lihat gimana?"


"Nggak bakalan ada yang lihat kalau kita masuk ke air" Noah mengajak Batari masuk ke air dan Batari sontak berteriak, "Noah! Kau gila! Dingin banget, nih?"


"Aku akan menghangatkanmu" Noah langsung membungkam bibir Batari dengan bibirnya.


Batari bergumam di antara bibirnya Noah, "Untung tebingnya tidak terlalu tinggi dan airnya hanya setinggi mata kaki"

__ADS_1


Noah berucap sembari terus menciumi bibir Batari, "Tidak sedalam cintaku padamu" Noah mempererat pelukannya dan memperdalam ciumannya


__ADS_2