Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Dasar Gila!


__ADS_3

Dito bersitatap dengan kedua bola mata birunya Cantika. Dia segera menyerahkan pistol ke Angga sambil berkata, "Singkirkan dia!" Tanpa mengalihkan pandangannya dari dua bola mata biru nan indah itu.


Angga dan anak buahnya Dito berlalu pergi sembari menyeret jasad pria malang itu.


Dito melangkah pelan mendekati Cantika sambil berkata, "Tenang dan jangan ikut campur!"


Cantika sontak menyemburkan, "Kau gila! Kau membunuhnya? Kau tidak takut hukum?" Cantika meraup wajah cantiknya, lalu kembali berucap, "Kau bahkan membunuhnya dengan santai seperti menembak seekor hewan liar di hutan sana"


Dito menghentikan langkahnya tepat di depan Cantika dan Dito langsung memeluk Cantika.


Cantika mendelik dan menggeram, "Kenapa kau memelukku?"


"Untuk berjaga-jaga. Siapa tahu sebentar lagi kamu jatuh pingsan"


"Cih! Aku ini calon polisi. Aku udah terlatih mendengar suara pistol dan yeeaahhh, walaupun aku belum pernah melihat jasad dan darah beneran, aku udah siap mental untuk itu. Yang membuatku kaget adalah, kau membunuh pria itu dengan santainya. Kau tidak takut dihukum dan masuk penjara?"


Dito tertawa keras, tetapi tidak ada kerlip riang di matanya yang sedang menatap ke bawah, ke kedua bola mata biru Cantika, "Kau tidak takut mendengar suara tembakan dan tidak takut melihat darah. Tapi, kau takut melihat aku masuk penjara?" Dito menarik tubuh Cantika sampai tubuh ramping itu melekat di tubuhnya.


"Jangan kepedean! Aku tidak sedang mengkhawatirkan kamu. Aku hanya heran, ada ya, manusia menembak manusia dengan santainya"


Dito mendaratkan ciuman lembut di belahan rambut Cantika dan berkata di sana, "Di negara ini, di wilayah ini, polisi dan hukum tidak berani menjamah kekisruhan yang ada antar mafia"


"Kau, seorang mafia?" Cantika bertanya dengan mendorong pelan dada Dito dan mendongak untuk melihat wajah Dito.


Dito mengangguk dan dia mengamati rambut Cantika terlihat begitu berkilau dan mengilat, seperti madu yang bercampur dengan cahaya bulan.


Dito menurunkan mata dan dia melihat tubuh Cantika juga terlihat indah dan terasa padat di bawah jari jemarinya, liar dan menggoda, namun feminin.


Gesekan gaun Cantika di dadanya membuat Dito mendengar suara desir lembut di hatinya. Ingin rasanya Dito melepaskan gaun itu dan melepaskan apa yang ada di dalam gaun itu secara perlahan, selapis demi selapis, untuk melihat tekstur dan warna kulit Cantika dan membandingkannya dengan kulitnya sendiri.

__ADS_1


Aroma tubuh Cantika terasa manis sekaligus memabukkan seperti buang anggur bercampur dengan wangi lemon yang samar-samar mengirimkan godaan ke semua indra perasanya Dito. Dito sangat ingin menyentuh telinga Cantika dengan hidungnya dan mengendus setiap jengkal lekuk tubuh Cantika.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa wajahmu memerah dan cuping hidung kamu kembang kempis kayak gitu? Jangan berpikiran macam-macam!" Cantika mendorong Dito dan saat wanita cantik itu berhasil melepaskan diri dari pelukan pria tampan itu, dia berkacak pinggang dan mendelik.


Dito menarik pinggang Cantika, mengangkat salah satu tangannya dan meraih tangan Cantika untuk ia lingkarkan pada lehernya. Lalu, tangan yang satunya lagi ia pakai untuk menggenggam erat tangan Cantika yang masih menggantung.


Jari-jari Cantika tidak dilipat, merentang di antara jari-jari Dito dan menuruni telapak tangan Dito yang kasar.


Dito merona malu dan sontak berkata, "Aku hidup di hutan dan bekerja keras selama ini. Jadi, wajar kalau telapak tanganku kasar"


"Dan karena kamu, sering menggunakan senjata tajam juga pistol"


Saat Dito menunduk ingin mencium bibir Cantika.


Cantika menahan dada Dito sambil berkata, "Tolonglah, Dito, jangan! Bukankah kau bilang kalau kau tidak akan menyentuhku sebelum aku setuju menyerahkan diriku dengan rela hati di pangkuan kamu?"


Cara Cantika memanggil namanya membuat Dito tersenyum dan mengurungkan niatnya mencium bibir Cantika. Ditambah lagi dengan cara Cantika memiringkan kepalanya, membuat gairah untuk mencium Cantika lenyap dan berubah menjadi keinginan yang sangat kuat untuk memeluk Cantika erat-erat dan melindunginya. Dito kemudian melepaskan Cantika dan sambil terus menatap Cantika, ia berucap, "Jangan terlalu lama berpikir! Cepatlah kau serahkan dirimu ke pangkuanku. Karena, keberadaanmu mulai membuat ke kewaspadaanku lengah dan itu membuat komunitasku berada di zona merah"


Cantika tersentak kaget saat ia menurunkan gaunnya sampai ke mata kaki, pintu kamar terbuka dan dia melihat Dito menutup pintu, menguncinya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Cantika.


Cantika sontak menarik kembali gaunnya dan mendekapnya di dada, lalu ia berlari ke kamar ganti sambil berteriak, "Kenapa main masuk aja?! Kenapa nggak ketuk pintu dulu?"


Dito membuka pintu ruang ganti tepat di saat Cantika berdiri elegan dalam balutan pakaian dalam yang seksi. Dada Dito terlihat naik turun dengan cepat dan matanya terus menatap tubuh Cantika dalam balutan pakaian dalam nan seksi itu


Cantika sontak berteriak dan langsung memakai kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya dan dia berbalik badan sembari berteriak, "Kenapa kau masuk ke sini?! Keluar! Aku akan berganti baju dan ........"


"Aku ingin melihatmu" Dito berkata dengan santainya.


Cantika kembali berputar badan untuk mendelik dan menyemburkan, "Keluar! Atau aku akan........."

__ADS_1


Dito menarik Cantika masuk ke dalam pelukannya dan berkata, "Aku bilang aku ingin melihatmu! Gantilah baju! Aku hanya ingin melihatmu dan nggak akan menyentuhmu"


Dito lalu melepaskan Cantika.


Dada Cantika sontak naik turun karena amarah. Dia langsung menarik tangan Dito, membuka pintu dan melempar Dito keluar dari ruang ganti, lalu dengan cepat ia mengunci pintunya.


Dito mematung di depan pintu kamar ganti dan berteriak, "Cepat atau lambat kamu akan memperlihatkan semuanya ke aku dengan rela hati!"


"Dasar gila!" Sahut Cantika dari dalam ruang ganti.


Cantika lalu keluar dari dalam ruang ganti dan dia sontak terkejut saat ia baru menyadari, kamar luas dengan interior mewah itu, tidak memiliki kamar mandi yang tertutup. Dia baru menyadari kalau di sisi selatan ranjang, terdapat shower dan di sebelah kiri shower terdapat bathtub.


Cantika menunjuk ke shower sambil bertanya, "Ka.....kalau mandi harus di situ?"


Dito yang duduk di sofa single di sisi Utara ranjang, mengangguk santai.


"Ta.....tapi mana bisa begitu? Hanya ada shower dan bathtub. Tidak ada pintu dan bahkan tidak ada gordyn untuk menutupi, yeeaahhh kau tahu maksudku"


"Aku tinggal di kamar ini sendiri selama ini. Jadi, aku bikin kamar mandi terbuka seperti itu. Aku ini pria yang suka kebebasan dan mandi pun aku tidak suka di dalam kungkungan dan........."


"Apa ada kamar mandi di dekat kamar ini yang ada di luar kamar ini?"


"Ada. Tapi, kau harus berjalan cukup jauh. Kau tahu seberapa jauh itu"


Cantika menarik selimut dan melangkah lebar menuju ke sofa. Dito langsung melompat turun dari ranjang untuk membopong Cantika dan melemparkan Cantika ke kasur sambil berkata, "Kalau kau pindah dari ranjang ini, aku terpaksa mengikatmu lagi"


"Aku nggak pernah tidur seranjang dengan seorang pria. Tolong biarkan aku tidur di sofa"


"Nggak! Aku nggak akan biarkan kamu tidur di sofa"

__ADS_1


Dengan wajah cemberut dan kesal, ia tidur di ranjang dan langsung memunggungi Dito.


Dito memeluk Cantika dari arah belakang saat ia melihat Cantika sudah terlelap.


__ADS_2