Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Terima kasih


__ADS_3

Leon menerima telepon dari keluarganya Barnes yang ada di Amerika. Lalu, ia menyerahkan ponselnya ke Amanda saat Chery, mamanya Barnes Adiwilaga Darmawan mencari Amanda.


"Tante, selamat malam" sahut Amanda.


"Kok Tante? Manggilnya Mama dong, kamu kan istrinya Barnes" Suara lembut keibuannya Chery mendarat manis di pendengarannya Amanda.


"Ah! Iya, Ma. Maafkan Manda kalau kurang sopan" Sahut Amanda dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Mana ada kurang sopan. Malah Mama yang nggak sopan karena Mama, nggak bisa pulang ke sana untuk menyelamati pernikahan kalian dan menemani kamu menjaga Barnes saat ini"


Leon memberikan isyarat ke Amanda kalau dia ke bawah sebentar untuk membeli kopi dan Amanda menganggukkan kepalanya ke Leon.


Amanda tersenyum, "Mama kan jauh dan sibuk, Ma. Mas Barnes baik-baik saja kok. Untungnya Mas Barnes cepat mendapatkan penanganan medis"


"Kata Leon, kamu yang menolong Barnes. Terima kasih ya, Sayang" sahut Chery.


"Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang Istri, Ma"


"Mama tenang sekarang ada kamu yang menjaga Barnes. Mama nitip Barnes, ya? Kalau bandel jewer aja!" sahut Chery.


"Saya yang lebih bandel kayaknya Ma, hehehehe"


Chery tertawa renyah lalu berkata, "Mama tutup dulu teleponnya. Secepatnya Mama akan cari waktu untuk mengajak Papa dan Prince adik ipar kamu untuk balik ke Indonesia"


"Baik, Ma. Salam buat Papa dan Prince"


"Terima kasih Sayang" Sahut Chery.


Klik! Sambungan ponsel itu pun terputus. Amanda tersenyum bahagia, ia lega ternyata mama mertuanya baik dan hangat banget orangnya. Jauh banget dari bayangannya. Amanda selama ini, selalu membayangkan mamanya Barnes, galak dan dingin seperti Barnes.


Sementara itu, bahaya juga muncul di rumah sakit, mengancam keselamatannya Barnes Adiwilaga Darmawan dan Duscha Igor.


Seorang perawat dengan setelan baju berwarna hijau pupus, memakai penutup kepala yang berwarna senada dan memakai masker di wajahnya, masuk ke dalam kamar rawat inapnya Barnes dan Duscha. Saat Amanda lengah.

__ADS_1


Amanda merasakan ada hal yang aneh dan saat ia menoleh ke belakang, ia mencurigai gerak-gerik perawat laki-laki tersebut dan langsung menyusul masuk, "Saya tidak meminta perawat untuk datang ke sini"


Perawat yang hendak menyuntikkan cairan ke selang infusnya Barnes menoleh kaget lalu mematung.


Amanda mencium adanya ketidakberesan, untuk itulah ia langsung berlari dan dengan sigap menarik tangan kanan perawat itu yang memegang harum suntik. Kemudian ia pelintir tangan perawat yang mencurigakan itu ke belakang sampai jarum suntik terjatuh di atas lantai. Amanda lalu menarik paksa perawat itu keluar dari dalam kamar rawat inap suami dan kakak laki-lakinya tanpa kata-kata.


Leon tersentak kaget dan dengan membawa dua cup kopi hangat, dia bertanya, "Ada apa ini? Siapa dia?"


"Sa...saya hanya ingin menyuntikan obat ke selang infus lalu Nyonya ini memelintir tangan saya ke belakang dan menarik paksa saya keluar dari dalam kamar" Sahut laki-laki dengan baju perawat itu.


Leon meletakkan dua cup kopi di atas meja sofa yang ada di depan pintu kamar rawat inapnya Barnes lalu ia mengambil alih memelintir tangan perawat itu, "Saya akan bawa dia ke security. Anda masuklah ke dalam dan kunci pintunya!"


Amanda menganggukkan kepalanya ke Leon lalu memutar badan untuk membuka pintu, melangkah masuk kembali ke kamar rawat inap suami dan kakak laki-lakinya. Dia kemudian duduk di kursi yang ia letakkan di tengah-tengah bed suaminya dan kakak laki-lakinya.


Amanda tersentak kaget dan langsung menoleh ke kiri. Ia bergegas bangkit saat ia mendengar suara suaminya bergumam lirih memanggil-manggil namanya.


"Ada apa, Mas? Yang sakit yang sebelah mana?" Tanya Amanda sambil mengelus-elus dada bidang suaminya.


Barnes secara spontan menggenggam tangan yang ada di atas dada bidangnya lalu membuka lebar kedua kelopak matanya dan langsung memeluk Amanda, "Terima kasih kamu ada di sini untukku, Sayang"


"Bryna?" tanya Barnes. "Kau sudah bertemu kan dengan Bryna. Sekarang Bryna di mana?"


"Iya Mas, aku sudah bertemu dengan Bryna. Bryna aman. Dia pulang diantar Jake" sahut Amanda.


"Syukurlah. Aku sangat merindukanmu, Sayang" Barnes berucap sambil mengelus-elus rambut merahnya Amanda.


"Aku juga sangat merindukanmu" Sahut Amanda sambil menarik diri dari pelukan suaminya untuk menatap wajah tampan suaminya.


Barnes tersenyum, mengelus pipi istrinya dengan punggung tangannya, kemudian berkata, "Naiklah ke bed! Aku ingin tidur sambil memeluk kamu malam ini"


Amanda menoleh ke kiri lalu menoleh ke Barnes, "Ada Kak Duscha di sini"


Barnes mengangkat sedikit kepalanya lalu meletakkan kembali kepalanya di atas bantal sembari berucap, "Kenapa dia ada di sini?"

__ADS_1


"Aku memang sengaja meminta kalian ditempatkan di dalam satu kamar biar aku gampang menjaga dan merawat kalian" sahut Amanda.


"Dia tidur kayak orang mati. Jadi, aku rasa tidak masalah jika kau naik ke bed. Aku sangat ingin tidur sambil memeluk tubuhmu, Sayang" Barnes menatap Amanda dengan sorot mata memelas dan penuh harap.


Amanda terkekeh geli lalu ia naik ke atas bed sambil berkata, "Sebelum punya bayi kecil, harus manjain bayi gede dulu, ya?"


Barnes terkekeh geli dan sambil menggelungkan lengan kekarnya di atas pinggang ramping istrinya ia berkata, "Bayi kecil? Bayi kecilnya siapa?"


Amanda yang telah merebahkan diri di atas bed dengan posisi miring dan berhadapan dengan suaminya, mengerutkan dahinya lalu berkata, "Kok bayi kecilnya siapa sih, Mas? Ya tentu saja bayi kecil kita. Apa kau tidak menginginkan bayi kecil kita muncul di tengah-tengah kita, Mas?"


Barnes memandangi wajah cantik istrinya lalu berkata, "Aku masih belum rela berbagi. Aku masih ingin memilikimu seutuhnya dan hanya untukku"


Amanda tersenyum lebar lalu mengangkat tangan untuk mengusap lembut pipi suaminya, "Bayi kecil adalah buah cinta kita, Mas. Kok nggak mau berbagi sih?"


"Iya aku tahu. Tapi, kalau nanti ada bayi kecil di antara kita, waktu kamu akan tersita banyak sekali untuk mengurus bayi kecil kita. Kamu akan kecapekan di malam hari dan aku?" Barnes mengerucutkan bibirnya.


Amanda terkekeh geli, "Kamu bahkan cemburu dengan anak kita, Mas? Apa kamu tidak ingin punya anak?"


"Ingin. Tentu saja ingin tapi, tidak dalam waktu dekat. Setelah masalah Teguh selesai, aku ingin menggelar pesta resepsi pernikahan kita terlebih dahulu. Aku ingin menyematkan cincin nikah di jari kita. Kita kan belum punya dan belum memakai cincin nikah, kan? Lalu, aku juga masih ingin pergi bulan madu denganmu. Kalau tiba-tiba ada bayi kecil, kan repot"


Amanda terkekeh geli lalu berucap, "Mama kamu barusan nelpon. Aku bicara sama Mama kamu dan ternyata Mama kamu, baik dan hangat ya, Mas"


"Mama kita. Mamaku juga mama kamu"


Amanda tersenyum bahagia mendengar ucapannya Barnes, "Iya. Aku bersyukur banget sekarang aku punya Mama yang hangat dan baik banget"


Barnes tersenyum lalu bertanya, "Kalau nanti kita bulan madu, kau ingin ke mana?"


"Ke mana aja asal ada kamu, Mas" sahut Amanda.


Barnes langsung mencium bibir istrinya. Ciuman itu semakin dalam dan semakin menuntut.


Duscha Igor yang sebenarnya sudah sadar, Kembali memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat saat ia menoleh dan kedua manik birunya, menangkap kemesraannya Amanda dan Barnes.

__ADS_1


Gila! Apa mereka tidak bisa melihat aku ada di sini? Batin Duscha kesal.


__ADS_2