
Noah memasukkan bawang putih, bawang merah, cabai keriting ke dalam blender sambil bergumam lirih, "Dia masih sama. Bahkan lebih cantik dan tampan matang dibandingkan dengan enam tahun lalu. Dan akhirnya, doaku terkabul, aku bisa mencium kembali wanginya. Wangi yang sangat aku rindukan dan wangi yang membuatku selalu ingin hidup lebih lama lagi"
Noah menarikan spatula kayunya di atas nasi goreng rumahan biasa dan ia mengecilkan api kompor untuk membuka lemari es dan melihat persediaan telur di lemari es. Polisi rahasia yang sangat gagah dan tampan itu kemudian tersenyum saat melihat telur di lemari es masih ada stok cukup banyak. Dia akhirnya memasak telur dadar untuk menghiasi nasi gorengnya.
Sebulan sekali, Noah menyuruh anak buahnya menyeberang ke pulau tetangga untuk berbelanja kebutuhan mandi, sayur mayur, beras, daging, telur, dan bumbu dapur.
Noah menjulurkan badannya dari jendela dapur untuk memetik bunga Subang Nenek, bunga liar kecil yang berwarna kuning dan bisa dimakan untuk mengobati sakit gigi. Namun, Noah memetik bunga liar kecil berwana kuning yang cantik itu, bukan untuk dia makan dan bukan untuk mengobati giginya yang tidak sakit. Dia memetik bunga itu untuk menghiasi nampan yang akan dia bawa ke kamar.
Noah berkacak pinggang sebentar untuk menatap nampan itu, lalu ia bergumam, "Untuk apa aku kasih dia bunga? Toh dia nggak pernah menganggapku ada selama ini. Dia selingkuh dan memutuskan aku dengan sangat kejam" Noah lalu memungut bunga kecil berwarna kuning itu dan melemparkannya begitu saja keluar jendela. Kemudian dia membawa nampan itu ke kamar.
Noah membuka pintu kamarnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya dia pakai untuk menyangga nampan yang di atasnya tertata rapi sepiring nasi goreng biasa dengan irisan telur dadar dan teh. Untuk menutupi keberadaan tanaman narkoba dan gudang penyimpanan senjata ilegal, di bagian luar pulau itu ditanami tanaman teh dan kopi.
Noah menutup pintu kamar dengan tumit belakang kaki kirinya lalu melangkah mendekati Batari. Noah meletakkan nampan di atas pangkuannya Batari sambil berkata, "Makanlah! Seadanya dulu"
Batari menatap Noah dan bertanya, "Kau tidak meracuni aku, kan? Atau kau taruh obat tidur di teh ini?"
Noah mengangkat kedua bahunya sambil berkata, "Kalau kamu ingin tahu, makan dan minumlah!" Sembari berputar badan untuk berjalan ke lemari pakaian satu pintu yang ada di sudut selatan kamarnya.
"Noah, eh, Reeds, kenapa kau mengacuhkan aku?" Batari bersedekap dengan wajah kesal dan kekesalannya itu membuatnya mengabaikan perutnya yang meronta-ronta ingin segera diisi. Apalagi nasi goreng dengan irisan terlur dadar dan teh yang masih hangat, melambai-lambai menggoda indra penciumannya Batari.
Noah yang juga adalah Reeds, membawa kaos miliknya yang cukup panjang dan melangkah kembali ke ranjang, "Pakailah kaosku dulu. Aku akan ajak kamu pergi beli baju dan dalaman setelah kamu sarapan. Kaosku ini akan jadi dress di tubuh mungil kamu itu. Aku keluar dulu. Berjaga di depan pintu"
"Aku butuh mandi. Di mana kamar mandinya?"
"Makanlah dulu. Aku akan antarkan kamu ke mandi" Noah lalu melangkah keluar dari dalam kamar, menutup pintu kamar dan bersandar di tembok di sebelah pintu kamarnya dengan menaikkan satu telapak kakinya ke tembok dan bersedekap.
Anak buah Noah menghampiri Noah dan bertanya, "Sudah berapa ronde, Bos?"
__ADS_1
Noah menatap anak buahnya dengan tajam dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ah, maafkan aku, Bos. Cuma nanya dikit aja, kok langsung melotot. Bos, kita sudah sembunyikan Speedboat wanita cantik yang ada di dalam kamarnya Bos. Lalu, apa rencana Bos selanjutnya?"
"Itu urusanku. Pergi sarapan sana, ganggu aja!" Noah mendelik ke anak buahnya dan anak buahnya itu langsung meringis dan pergi meninggalkan Noah.
"Emm, dia nggak asyik lagi sekarang. Dia nggak bisa diajak ngobrol dan nggak bisa lagi diajak bercanda. Tapi, dia pandai masak sekarang. Nasi goreng dan teh bikinannya ini, enak banget" Batari meletakkan Nampan di atas lantai lalu bangkit berdiri untuk memakai kaosnya Noah dan benar apa kata Noah, kaosnya Noah menjadi dress mini di tubuh mungilnya.
Batari lalu mencari sepatu sneakersnya dan setelah ia memakai sepatu itu, dia membuka pintu dan menoleh ke kiri, tidak ada Noah di sana, lalu ia menoleh ke kanan barulah ia menemukan keberadaannya Noah. Batari menepuk bahunya Noah sambil bertanya, "Kita berangkat beli baju sekarang aja! Aku risih kelamaan memakai kaos kamu" Batari membetulkan letak kaosnya Noah dan Noah langsung mengalihkan pandangannya ke luar saat ia melihat Batari tampak seksi memakai kaosnya dan saat pikirannya mulai ngawur membayangkan Batari tidak memakai pakaian dalam karena, dia sudah merobek pakaian dalamnya Batari.
Noah lalu berjalan mendahului Batari dengan kata, "Ikuti aku!" Tanpa menoleh ke belakang.
Batari sontak berlari kecil menyusul langkah lebar dan cepatnya Noah.
Batari dan Noah naik kapal kecil bermesin yang sudah cukup jelek kondisinya. Batari tampak ragu melompat ke dalam kapal itu dan Noah langsung berkata, "Kapal ini emang udah jelek, tapi kondisi mesinnya masih sangat bagus. Aku dan anak buahku sering memakainya untuk menyeberang ke pulau sebelah sana dan aman" Noah mengulurkan tangannya untuk membantu Batari, tapi Batari mengabaikan tangannya Noah dan melompat masuk ke dalam kapal tanpa bantuannya Noah.
Noah menjawab singkat, "Kau sudah tahu, kan"
"Aku tidak tahu" Sahut Batari dengan nada kesal.
"Aku bilang apa tadi?" Noah berucap tanpa menoleh ke Batari.
"Beli baju" Sahut Batari.
Noah kemudian diam dan tidak memberikan sinyal ingin mengobrol panjang lebar dengan Batari.
"Kenapa diam sekarang? Kau tahu, Noah, kau sama sekali beda. Kau tidak asyik lagi. Aku tahu kita akan beli baju, tapi ke mana?"
__ADS_1
Noah mengangkat kedua bahunya ke atas tanpa mengeluarkan satu kata pun.
"Dasar menyebalkan! Kau sangat brengsek sekarang ini, kau tahu itu? Kenapa kau menghilang tanpa kabar? Kau tidak pernah mengirim email lagi ke aku dan tidak pernah melakukan panggilan VC lagi ke aku?"
Noah duduk di samping mesin kapal agak jauh dari tempat Batari duduk. Ia memilih memunggungi Batari karena, dia tidak kuat melihat keseksian Batari di dalam balutan kaosnya. Lalu Noah berkata tanpa menoleh ke belakang, "Tanya ke diri kamu sendiri, Kenapa aku seperti itu"
Batari mendengus kesal dan memekik kencang, "Aku benci kamu! Sangat membencimu sekarang ini, Noah Baron! Camkan itu!"
Noah menghela napas dan dengan masih memunggungi Batari, ia bertanya, "Kalau kamu membenciku, Kenapa kau masih memakai kalung dan cincin pemberian dariku?"
Batari melirik semua jari jemari di tangan kanan dan kirinya Noah, dia tidak menemukan ada cincin yang sama dengan yang ia pakai, melingkar di semua jari jemarinya Noah. Batari tidak mengetahui kalau Noah menjadikan cincin berukiran N❤️B menjadi liontin di kalung rantai yang dia sembunyikan di balik kaosnya.
Batari diam membisu dan memilih bersedekap daripada menjawab pertanyaannya Noah.
Noah menghempaskan kekesalannya dengan sangat keras ke udara bebas dan kembali bertanya tanpa menoleh ke belakang, "Kenapa kau diam?"
"Aku merasa tidak wajib menjawab pertanyaan kamu. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa, kan?" Batari berucap sembari menatap punggungnya Noah dengan kesal.
Noah mendengus kesal dan berkata lirih, "Iya. Terserah kamu aja"
Mereka akhirnya berhasil sampai ke pulau seberang dengan selamat. Setelah mengikat kapalnya dan membayar biaya parkir kapal, Noah mengajak Batari berjalan ke pasar. Batari tiba-tiba berteriak, "Tunggu Noah, eh Reeds! Aku lupa bawa dompetku. Dompet dan ponselku ada di Speedboat dan........."
"Hanyut" Noah berkata sambil terus berjalan ke depan.
Batari berlari kecil menyusul Noah dan berkata setelah ia berhasil mensejajari langkahnya Noah, "Hanyut? Semuanya? Lalu, aku tidak bisa kasih kabar ke Om Prince kalau aku baik-baik saja"
"Aku sudah kirim pesan dengan ponsel pribadiku yang aku sembunyikan rapat-rapat di suatu tempat. Aku bilang ke On Prince, kalau kamu bersamaku saat ini, dalam kondisi segar bugar dan ceriwisnya minta ampun"
__ADS_1