
Silvia mengajak Nehemia makan siang bersama dan seperti biasanya, Nehemia menolaknya dengan alasan sibuk.
Silvia menggeram kesal dan sambil melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya Nehemia ia bergumam, "Lihat saja nanti. Kalau Tari menghilang untuk selamanya, kau tidak akan pernah menolakku lagi"
Nehemia Baron tanpa sengaja menyenggol gelas minumnya saat ia mengambil berkas. Nehemia tertegun menatap gelas itu dan dia refleks menelepon papa dan mamanya untuk menanyakan apakah mereka baik-baik saja. Setelah mendapatkan jawaban bahwa mama dan papanya baik-baik saja, ia menelepon kakaknya, "Kak, Kakak di mana?"
"Maaf, adikku yang tampan, Kakak nggak bisa bilang Kakak di mana saat ini. Karena, Kakak merasa semua tembok punya telinga" Sahut Noah Baron.
"Kakak baik-baik saja, kan?" Tanya Nehemia Baron dengan nada penuh dengan kekhawatiran.
"Hmm! Maaf Kakak tutup dulu telponnya, ya. Nanti, Kakak hubungi lagi kalau keadaan sudah aman" Klik! Noah mematikan ponselnya dan menjejalkan ponsel itu ke saku belakang celananya.
Nehemia termangu sejenak. Ia ragu di saat otaknya menyuruh dia menghubungi Batari. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, Nehemia akhirnya menelepon Batari. Amanda yang menjawab panggilan telepon itu, "Iya, Hemi, ada apa?"
"Maaf, Tante. Apa Kak Batari ada di rumah? Emm, saya ingin membahas sesuatu dengan Kak Batari" Sahut Nehemia dengan perasaan yang semakin tidak enak. Dia tiba-tiba mengkhawatirkan Batari.
"Tari dan Dito menghilang di teras belakang rumah Tante Bryna-nya. Kami sedang mencarinya, nih" Sahut Amanda.
Nehemia terhenyak di kursi kerjanya yang besar dan empuk. Lalu, ia segera berkata, "Saya akan ke sana sekarang juga, Tante. Saya akan bantu mencari Kak Tari" Klik! Nehemia menjejalkan ponsel ke dalam saku jasnya sembari berlari keluar dari dalam ruang kerjanya yang nyaman.
"Dia wanita yang sangat cantik. Aku bergairah tadi saat membopongnya" Ucap salah satu dari anak buahnya The Rat sambil terus menyetir mobil Van.
Temannya menyahut, "Iya. Dia memang cantik. Sangat cantik. Tapi, kita jangan menyentuhnya sebelum Bos memberikan perintah"
Anak buahnya The Rat yang berada di balik kemudi, menatap rear-mirror vision dan spontan mengumpat kesal, "Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjamahnya. Lihatlah! kenapa dia pakai celana sependek itu dan pahanya, astaga! Pahanya sangat mulus dan putih banget"
Temannya mendelik, "Jangan melihat ke belakang terus! Fokuslah menyetir dasar otak mesum!"
Nehemia Baron bergegas keluar dari dalam mobil sport keluaran terbaru dan berlari kencang masuk ke dalam kediamannya Jake dan Bryna.
"Apa sudah ketemu, Tante?" Nehemia berdiri di depan Amanda dan Bryna dengan napas terengah-engah.
Amanda dan Bryna menggelengkan kepala mereka secara bersamaan dengan wajah penuh dengan kekhawatiran.
__ADS_1
"Aku menyesal menolak permintaannya Jake untuk menaruh pengawal di teras belakang. Aku terlalu percaya diri kalau aku bisa atasi semua masalah tanpa masalah" Ucap Bryna dengan helaan napas berat.
Amanda menepuk pundaknya Bryna sambil berkata, "Tari anak yang cerdas dan kuat. Dito juga sama. Aku yakin mereka pasti bisa jaga diri dengan baik. Jangan menyalahkan diri kamu terus menerus kayak gini!"
"Amin" Sahut Bryna dengan wajah lesu dan masih penuh dengan kekhawatiran.
Amanda lalu menatap Nehemia Baron untuk berkata, "Kamu dan Noah seperti saudara kembar padahal jarak umur kalian cukup jauh, kan? Noah menelepon Tante sebelum kamu menelepon Tante tadi. Noah juga menanyakan Batari" Sahut Amanda kemudian.
Nehemia hanya tersenyum di depannya Amanda, namun di dalam hatinya ia berucap, itu karena kami mencintai wanita yang sama, Tante.
Mobil Van berwarna putih meluncur masuk ke dalam pekarangan yang sangat luas yang mengelilingi sebuah rumah bergaya modern-klasik. Teman si pengemudi mobil Van itu langsung berkata, "Kau punya hasrat ada wanita ini. Biar aku yang membopongnya ke dalam. Aku takut kalau kau membopongnya lagi, kau tidak akan bisa me menahan dirimu lagi. Kau gendong saja anak kecil itu!"
Si pengemudi yang bertumbuh besar dan tambun itu mendengus kesal. Dan sambil terus mengumpat, ia menggendong Dito dan membawa Dito masuk ke dalam rumah besar bergaya modern-klasik itu.
"Kita taruh di mana mereka? Kita pisahkan atau kita tadi di dalam ruangan yang sama?" Tanya si pria yang bertubuh besar dan tambun.
Si pria yang bertubuh pendek dan cungkring menyahut, "Kita taruh di ruangan yang sama aja dulu. Kita tunggu perintah Bos"
Mereka mengikat Batari di sebuah bangku yang terbuat dari kayu biasa. Dito juga mereka ikat di bangku. Kedua kaki Dito dan Batari pun diikat erat.
Si pendek bertubuh cungkring mendelik ke temannya saat ia melihat tangan temannya mengelus pahanya Batari, sambil berkata, "Jangan kau elus pahanya! Pasang aja lakban itu di bibirnya. Dasar otak mesum.
Si pria bertubuh tinggi dan tambun mendengus kesal dan setelah menempelkan lakban di bibirnya Batari, ia bangkit berdiri sembari berucap, "Lihat temannya bahagia dikit aja kok kamu sewot, sih?!"
"Kau mau mati? Sebelum dapat perintah dari Bos, jangan sentuh wanita itu!"
Setelah melihat sandera mereka telah terikat dengan sempurna, si pria besar tambun dan si pria pendek cungkring melangkah keluar dari dalam ruangan itu dan mengunci pintunya.
Kedua pria yang telah berhasil menculik Dito dan Batari itu bergabung dengan teman-teman mereka untuk makan camilan, minum bir, dan bermain kartu di teras depan.
"Kita tidak bisa berdiam diri seperti ini, Tante. Apa Kak Tari bawa telepon genggamnya?" Tanya Nehemia.
"Tari selalu bawa telepon genggamnya karena, ia selalu menunggu teleponnya Noah" Sahut Amanda.
__ADS_1
"Apakah saya bisa pinjam laptop?" Tanya Nehemia. "Saya akan melacak sinyalnya Kak Tari sebelum telepon genggamnya Kak Tari lowbat dan nggak aktif" Imbuh Nehemia dengan wajah tak sabar.
"Kita ke ruang keluarga. Ayok! Kamu bisa akses internet dari sana" Sahut Bryna.
"Sial! Kenapa kita nggak kepikiran soal ini dari tadi, ya, Bryn? Sahut Amanda sembari berlari menyusul Bryna dan Nehemia Baron.
"Itu karena faktor U. Kita udah kepala lima dan kita panik lagi. Lagian kita cuma merasa kalau Tari dan Dito mengajak kita bermain petak umpet. Secara Tari keponakanku yang cantik itu,kan, suka jahil orangnya" Sahut Bryna.
Nehemia dan Amanda spontan terkekeh geli mendengar kata Batari suka jahil dari mulutnya Bryna.
Nehemia Baron segera menyalakan televisi dan mulai melacak keberadaan sinyal telepon genggamnya Batari Putri Darmawan. Beberapa menit kemudian, Nehemia bangkit berdiri dan berkata, "Saya udah temukan di mana Kak Tari. Ayo kita jemput Kak Tari dan Dito, Tante!"
"Oke" Sahut Amanda dan Bryna sembari berlari menyusul laju larinya Nehemia Baron.
"Kita pakai mobil saja aja. Mobil ini bisa melaju lebih cepat dari mobil biasa" Sahut Nehemia.
"Oke" Sahut Bryna sambil melangkah masuk ke dalam mobil sportnya Nehemia Baron.
Amanda yang duduk di sebelahnya Nehemia Baron memasang sabuk pengaman sembari berkata, "Let's go!"
Nehemia melajukan mobil sport keluaran terbaru dengan senyum geli. Lalu ia berucap, "Saya sekarang paham kenapa Kak Tari selalu ceria dan penuh semangat. Kak Tari dapatkan itu semua dari Mama dan Tantenya"
Amanda menoleh ke Bryna dan mereka berdua tertawa renyah mendengar komentarnya Nehemia Baron.
Batari Putri Darmawan melenguh dan dia mencoba membuka kedua kelopak mata lentiknya yang terasa sangat berat. Saat wanita cantik berkulit putih mulus itu berhasil membuka kedua kelopak matanya, ia terkejut melihat Dito berada di depannya dengan jarak sekita tiga meter dalam keadaan terikat dan tidak sadarkan diri.
Batari sontak bangkit berdiri dan dia langsung menunduk saat ia merasakan ada sesuatu yang menahan dirinya sehingga ia tidak bisa bangkit berdiri.
Batari mengumpat kesal di dalam hatinya saat ia melihat dirinya diikat di sebuah bangku. Batari mencoba mengeluarkan suara untuk membuat Dito membuka mata, namun yang keluar hanya suara, "Emm, emm, emm!!!!!!"
Batari kembali mengumpat di dalam hatinya, sial! mulutku juga dilakban.
Batari lalu menoleh ke kanan dan ke kiri dan bertanya-tanya di dalam hatinya, siapa yang sudah berani menculik aku dan Dito? Kalau sampai aku bisa bebas, aku akan hajar habis-habisan mereka semua.
__ADS_1