Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Butuh Yang Manis


__ADS_3

John Murray mengehentikan aktivitas panasnya dengan seorang wanita muda nan seksi saat pintu kamar pribadinya diketuk oleh seseorang.


John Murray mendengus kesal dan mengumpat beberapa kali sembari memakai kembali celana boxer dan kaos oblongnya. Pria seumuran Barnes Adiwilaga Darmawan itu melangkah menuju ke pintu dengan wajah kesal.


"Ada apa? Ganggu aja!" John Murray melotot ke anak buahnya.


"Maaf, Bos. Tapi, saya membawa berita yang sangat penting" Sahut anak buahnya John Murray yang berdiri di depan pintu kamar pribadinya John Murray dengan wajah panik.


"Ada apa?" John Murray langsung melangkah keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kamar pribadinya.


"Pemberangkatan trailer yang berisi anak-anak di bawah umur yang akan kita berangkatkan ke luar negri subuh nanti, telah digagalkan oleh pihak berwajib" sahut anak buahnya John Murray dengan napas ngos-ngosan.


"Siapa pemimpinnya? Apa Barnes Adiwilaga Darmawan?" John Murray menggeram penuh amarah, matanya pun mulai memerah.


"Bukan, Bos" Sahut anak buahnya.


"Lalu siapa?" Tanya John Murray dengan nada geram.


"Noah Baron" Sahut anak buahnya John Murray dengan wajah ketakutan karena dia bakalan kena hukuman dari bosnya.


"Kalau gitu, kita langsung laksanakan plan B karena, kita gagal dapatkan dana besar di penjualan anak-anak itu, maka kita akan cari dana besar itu dengan cara lain" John Murray langsung berjalan dengan penuh amarah mendahului anak buahnya menuju ke ruang kerjanya.


Anak buahnya John Murray menghela napas lega karena ia luput dari hukuman bosnya.


"Noah! Eh, Mas! Kenapa bisa terluka dan kamu diam aja tadi" Batari mendelik dan saat Batari hendak memakai kembali bajunya, Noah menghentikan tangan Batari, "Kamu mau apa?"


"Masuk kembali untuk mengobati luka kamu dan ......."


Noah melepas paksa baju Batari sembari berucap, "Ini sudah malam. Kamu seorang dokter bukankah tahu kalau mandi terlalu malam, nggak baik untuk kesehatan?"


Batari melotot ke Noah, "Tapi, luka kamu?"


"Lukaku luka kecil kok. Masih bisa bertahan sampai kamu selesai mandi. Aku tadi nggak berniat masuk dan kamu yang menarikku masuk. Kalau kamu inginkan aku, kayaknya harus nunggu sampai lukaku sembuh dulu" Noah tersenyum jahil ke Batari.


Batari semakin melotot ke Noah dengan bersedekap. Noah tertawa pelan karena takut merasakan nyeri di lukanya, lalu Noah melangkah keluar dan berkata, "Kamu minggir dulu di pojok!"

__ADS_1


"Kenapa?" Batari menautkan alisnya, lalu ia merangkul Noah dan berteriak, "Ada hewan apa di belakangku?!"


Noah mendesis kesakitan, lalu berkata, "Nggak ada apa-apa. Cuma, aku tadi kasih kode ke Lopez untuk memasak air. Di sini nggak ada water heater, jadi harus masak air dulu baru bisa mandi pakai air hangat. Aku mau keluar ambil ketel, terus aku akan tuangkan air panas di dalam ketel ke dalam ember barulah nanti kamu kasih air dingin sesuai dengan kehangatan yang kamu inginkan. Kalau kamu inginkan kehangatan tubuhku, aku harus sembuh dulu, hehehehe"


Batari melepas rangkulannya. lalu melangkah ke pojok dengan terus tersenyum malu.


Setelah Noah menuangkan air panas dari ketel ke dalam ember, Noah keluar dari bilik kamar mandi sempit itu dan menutup pintunya sambil berkata, "Mandilah! Aku tungguin kamu di depan pintu persis"


Batari mandi sambil berteriak dari dalam, "Makasih, Sayangku!"


Tidak begitu lama, Batari keluar dari dalam kamar mandi dan bertanya, "Baju kotornya ditaruh di mana?"


"Taruh saja di ember itu!" Noah menunjuk ember yang ada di dalam kamar mandi.


Batari melemparkan baju kotornya ke ember, lalu ia menutup pintu bilik kamar mandi.


Dia lalu menggandeng lengannya Noah untuk naik ke atas, kembali ke rumah.


Batari langsung mengajak Noah masuk ke dalam kamar dan saat Noah duduk di tepi ranjang, Batari mengambil ketel yang masih Noah pegang dan berkata, "Tunggu sebentar! Aku akan masak air karena aku butuh air hangat untuk membasuh badan kamu nanti, dan aku butuh tas medisku untuk mengobati luka kamu"


Dia memasak air dan sambil menunggu air matang dia duduk di meja makan. Tidak begitu lama,.air matang dan dia menuang air di ketel ke dalam baskom dan menambahkan. air dingin sampai ke kehangatan yang pas.


Lopez langsung berlari dan berkata, "Mau dibawa ke kamar Bos, kan?"


Batari menolah ke Lopez dan menganggukkan kepalanya.


"Biar saya yang bawakan" Lopez tersenyum tikus ke Batari dan Batari langsung menyerahkan baskom berisi air hangat ke Lopez sambil berkata, "Makasih. Aku akan ambil tas medisku dulu kalau gitu dan jangan pergi dari sana, aku butuh bantuan kamu untuk mengobati luka Bos kamu!"


"Siap Nyonya Bos!" Sahut Lopez.


Batari mengambil tas medis dan bergegas kembali ke kamar untuk mulai memeriksa lukanya Noah.


Saat Batari masuk ke dalam kamar, Noah masih duduk di tepi ranjang dan telah membuka kaosnya.


Batari meletakkan tas medisnya di sebelah kananya Noah, lalu ia menarik kursi plastik yang ada di depan meja kayu kecil.

__ADS_1


Lopez langsung berkata, "Badan Bos udah saya lap pakai air hangat semuanya. Kecuali di bagian luka"


"Hmm" Sahut Batari.


Noah mendesis kesakitan saat Batari memeriksa.lukanya.


Batari menggelengkan kepalanya dan mengeram kesal, "Luka ini perlu dijahit kok bilang baik-baik saja dan ........" Batari menyentuh keningnya Noah dan semakin menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata dengan wajah kesal, "Kamu demam. Kalau tidak ada aku saat ini, siapa yang merawatmu, haha?! Beruntung, kan, ada.aku saat ini, kan?"


Saat Batari mulai mengomel tiada henti, Noah memberikan kode ke Lopez agar Lopez.meningaklan dia dan Batari. Lopez sontak berlari kecil keluar dari kamarnya Noah tanpa mengeluarkan suara.


Batari menoleh ke samping dan kaget saat ia tidak melihat Lopez, "Lho?! Di mana Lopez? wah, nggak Bos nggak anak buah sama-sama ngeyel! Lopez aku rusuh membantuku menjahit luka kamu kok malah ngilang, hmmmm!!!!" Batari menghela napas panjang lalu ia menoleh ke Noah, "Kamu yang harus membantuku menjahit luka kamu"


"Siap" Sahut Noah dengan wajah meringis menahan sakit dan menahan rasa takut kena Omelan Batari.


"Ambilkan alkohol!" Perintah Batari.


Noah dengan cepat mengambilkan alkohol dan memberikannya ke Batari.


Lalu, Batari memberikan obat antibiotik dan anti nyeri ke Noah, "Minum ini dulu!"


Tanpa protes, Noah meminum langsung kedua pil pahit itu.


Lalu, Batari menatap Noah dengan wajah berpikirnya.


Noah langsung bertanya, "Ada apa?"


"Kamu perlu menggigit sesuatu karena obat anti nyeri yang aku berikan masih akan menyisakan sedikit nyeri saat aku menjahit luka kamu"


"Boleh aku gigit bibir kamu? Bibir kamu itu obat bius paling ampuh bagiku" Noah meringis ke Batari.


"Kalau kamu gigit bibirku, lalu siapa yang menjahit luka kamu?" Batari langsung menjejalkan handuk kering berwarna putih ke mulutnya Noah sambil berucap, "Gigit ini! Kamu boleh remas.bahuku kalau terasa sangat sakit!"


Batari lalu mengambil peralatan medis yang sudah didisinfektan tingkat tinggi.


Noah menggigit keras-keras handuk yang ada di mulutnya dan mencengkeram bahunya Batari.

__ADS_1


Setelah Batari menyelesaikan tugasnya dengan baik, Noah melemas dan langsung melepeh handuknya, menarik tengkuknya Batari sambil berucap, "Aku butuh yang manis-manis untuk menghilangkan rasa pahitnya obat tadi dan rasa nyeri pas dijahit".Dan dia langsung memagut bibir istrinya.


__ADS_2